NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di hadang

Ruoling menghela nafas lega karna sepanjang jalan tidak berpapasan dengan orang-orang yang membencinya, tapi ia tahu belum bisa benar-benar tenang karna perjalananya menuju kediamannya masih jauh.

Kediaman Putra mahkota serta anak-anak yang lain sengaja di pisahkan cukup jauh serta dekat dengan kediaman Kaisar dan Permaisuri supaya lebih mudah mengamankannya jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.

Baik Ruoling atau semua orang yang ingin mengunjungi atau kembali hanya memiliki satu jalur dengan pengawalan yang ketat, tapi beruntungnya Ruoling sudah keluar tanpa di interogasi.

"Aku tidak boleh lemah," Ruoling mengingatkan dirinya sendiri sambil terus berjalan, tapi tiba-tiba saja ada tangan kasar membekap mulutnya dari belakang.

Ruoling terkejut, refleks memukul tangan itu dengan kekuatan penuh. Tapi tenaga orang itu sangat kuat hingga perlawanan tidak memiliki pengaruh.

“Sialan!” suara seorang pemuda terdengar marah. “Diam, kau!”

Ruoling tidak menyerah walau sudah di bentak, ia mencoba menjerit karna merasa bekapan tangan pemuda itu di depan mulutnya tidak kencan.

Tapi sayanya suaranya tertahan. Ruoling masih tidak menyerah dengan memberontak, tapi tenaganya kalah dengan sosok yang menyeretnya dengan paksa ke bagian yang jarang dilewati orang.

Begitu mereka sampai di tempat yang cukup tersembunyi, tangan itu kasar mendorongnya hingga membuatnya tersungkur di tanah.

Ruoling berbalik dengan cepat, menatap sosok yang menyeretnya dengan marah. Ia tidak terlalu terkejut mengetahui orang yang berani memperlakukannya seperti itu, tapi walau begitu ia tidak akan menampilkan ekspresi ketakutan.

Ruoling dengan suara datar berkata, "jangan menguji kesabaranku! Selama ini aku sudah cukup bersabar–"

"Maka emosilah lalu mengadu pada Permaisuri," sela pemuda itu malah menantang Ruoling yang masih duduk di tanah. "Sebenarnya itu adalah hari yang kami tunggu dari lama."

"Dasar pengecut!" Ruoling tidak bisa menahan emosinya lalu buru-buru mendekati pria itu."Jika aku melaporkan semua ini kau dan teman-temanmu hanya bersandiwara seolah menjadi korbannya!"

"Justru itu serunya," balas pria itu menahan emosinya karna di sebut pengecut. "Di sini kami puas menyiksamu maka di sana kami juga puas melihatmu di hukum oleh Permaisuri."

"Benar-benar pengecut karna berteman dan mengatur kejahatan bersama dengan para gadis!" Ruoling tertawa melihat raut pria di depannya mengelap. "Tapi sebenarnya aku masih tidak mengerti alasan kau bersama mereka melakukan ini semua padaku! Jika

Kalian masih menyalahkan aku karna apa yang sudah ibuku lakukan, pada ayah atau anggota keluargamu yang lain maka kau salah sasaran."

"Dari awal tidak ada yang salah sasaran," tba-tiba di balik pohon besar berjalan dua orang perempuan yang juga sangat di kenali mendekati Ruoling.

Tiba-tiba saja salah satu dari mereka mendorongnya hingga Ruoling mundur beberapa langkah yang di balasnya dengan yang sama. "Jika ibuku memang bersalah maka dia sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya!"

"Ingin mengancamku? Apa kau berani?" Feixue memasang wajah angkuh di depan Ruoling yang mengepalkan kedua buku tangannya. "Selamanya kau harus menderita sekalipun wanita sialan itu sudah menjadi abu!"

"Apa kau pikir aku tidak berani?" Ruoling dengan cepat berdiri, menatap wanita itu marah. "Ingat statusmu di sini jauh di bawahku jadi harusnya kau bersikap sopan!"

"Maksudmu aku harus bersikap sopan pada anak wanita yang sudah membunuh semua anggota keluargaku yang hadir di acara itu? Jangan bermimpi! Aku pastikan hidupmu tidak akan pernah tenang!"

"Kau..." Ruoling menggeleng pelan tidak ingin melanjutkan anggapannya tentang perempuan yang masih menatapnya marah karna tidak bisa berdamai dengan kenyataan.

Sebenarnya semua orang di kerajaan ini terutama yang menyalahkannya atas kehilangan anggota keluarganya seolah-olah hidupnya ada di tempat yang sama. Mereka menyerangnya diam-diam, tapi tentu saja Ruoling membalas mereka.

"Aku rasa apa yang kalian lakukan ini akan berakhir sia-sia jadi aku pergi aja." Ruoling tidak ingin memperpanjang masalah memutuskan untuk menjauh, tapi baru dua langkah tangannya sudah di tahan oleh perempuan yang jaraknya paling dekat dengannya, Feixue. “Lepaskan aku!”

"Jangan harap kau bisa pergi begitu saja tanpa mendapatkan pelajaran dari kami!" Lalu dengan cepat sebuah tamparan mendarat keras di pipinya, membuat tubuhnya terhuyung.

Ruoling tidak akan kalah lalu membalas menampar Feixue dengan kuat lalu mengalihkan pandangannya pada dua orang yang setia mengekori Feixue. "Jangan pikir karna kalian mengancamku dengah menyakiti Ruoyi maka aku akan takut!"

"Sialan, beraninya kau melukaiku!"

"Kau pikir kau siapa?" Ruoling maju mendekati Feixue, menantang sahabat adiknya dengan tajam. "Jika mau aku bisa mengusir kalian semua dari sini, tapi karna menghargai kebaikan anggota keluarga kalian serta adikku, sampai saat ini aku tidak pernah melakukannya!"

"Dan aku pikir aku juga takut dengan ancaman kosongmu itu?" Balas Feixue tak ingin kalah. "Bekas Tampa dan dua sahabatku akan menjadi bukti atas apa yang sudah kau lakukan padaku!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!