NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku melihatMu

Hari ini cuaca cerah. Aku membuka story Hana dan langsung mengenali tempat itu terlalu familiar untuk diabaikan. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Tanpa berpikir panjang, aku membalas story-nya.

“Hana… lagi di Bandung?”

Tak lama, balasannya muncul.

“Iya, ka. Lagi ajak anak-anak ke sini sama suamiku. Berangkat habis subuh, jadi jam segini udah sampai.”

Aku melirik jam di ponsel. 13.15 WIB.

Entah kenapa, rasa penasaran itu muncul begitu saja. Bukan niat apa-apa—setidaknya begitu yang kuceritakan pada diriku sendiri.

“Habis ini mau ke mana, han?”

Tempat yang ia sebutkan tadi tak jauh dari lokasi kerjaku. Pikiran itu membuat dadaku terasa hangat sekaligus sesak.

“Nanti mau ke mall. Mau makan malam di sana.”

Aku terdiam sejenak, lalu mengetik singkat, seaman mungkin.

“Oh iya… happy fun ya, han.”

Aku menatap layar cukup lama setelah pesan itu terkirim. Ada jarak yang tak tertulis di antara kami jarak yang kupahami, tapi tetap terasa.

Sore sepulang kerja, tanpa banyak pertimbangan, aku langsung bergegas ke mall yang tadi disebut Hana. Jaraknya hanya lima belas menit dari kantorku. Aneh rasanya di kota sebesar ini, kenapa tempat kami berada bisa sedekat itu? Padahal dunia terasa luas, tapi jarak antara kami justru begitu sempit… dan menyakitkan.

Tiba di mall, aku berjalan tanpa tujuan yang jelas. Kakiku membawaku berkeliling, masuk ke toko pakaian, melihat-lihat sepatu, menatap etalase yang memantulkan bayanganku sendiri. Aku mampir ke beberapa toko, sekadar mengusir gugup. Kalau ada yang benar-benar menarik, baru kubeli. Selebihnya… hanya alasan agar aku terlihat seperti pengunjung biasa, bukan seseorang yang datang karena satu nama.

Ponselku sesekali kugenggam. Seperti kebiasaan Hana, ia selalu membagikan potongan kecil hidupnya ke story. Dan benar saja—pukul 17.30, ia sudah berada di mall ini.

Dadaku menghangat sekaligus menegang. Aku menelan ludah. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan antara ingin melihatnya dari jauh dan berharap tidak bertemu sama sekali. Aku sadar, kehadiranku di sini adalah kesalahan kecil yang sengaja kubiarkan terjadi. Bukan untuk menyapanya, bukan untuk menyapa masa lalu… hanya ingin memastikan bahwa dia nyata, tidak sekadar nama di layar.

Aku berjalan lebih pelan sekarang. Setiap wajah perempuan yang lewat membuat jantungku melonjak sesaat, lalu jatuh lagi saat kusadari itu bukan dia. Aku mulai bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya kucari? Senyum? Bayangan? Atau hanya rasa bahwa aku masih bisa merindukannya?

Aku menunduk, menarik napas panjang. Raka, kataku dalam hati, ini bodoh. Tapi kakiku tetap melangkah. Di antara keramaian, tawa, dan langkah orang-orang yang sibuk dengan hidup mereka masing-masing, aku berdiri sebagai penonton.

Mencintai dalam diam. Datang tanpa ingin terlihat. Hadir tanpa hak untuk menyapa. Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar mengerti:

kedekatan ini bukan anugerah melainkan ujian.

Dan akhirnya… aku melihatnya dari belakang.

Baju yang ia kenakan persis seperti di video story yang tadi ia unggah. Warna soft pink, sederhana, tenang seolah memang diciptakan untuknya.

Pashmina yang senada jatuh rapi di bahunya. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Tapi entah kenapa, dadaku terasa sesak.

Aku memperlambat langkah. Anak-anak itu berjalan di sekelilingnya. Dua laki-laki, satu perempuan. Aku mencocokkan semuanya dengan cepat warna baju mereka, postur tubuh, cara mereka berjalan. Lalu wajah itu… meski hanya dari samping, aku tahu. Tidak perlu waktu lama untuk memastikan.

Itu benar-benar dia.

Hana.

Tanganku refleks menggenggam ponsel lebih erat, seolah butuh pegangan agar aku tidak goyah. Ada perasaan aneh yang menyerbu bersamaan: senang, kagum, dan perih semuanya bertumpuk tanpa sempat kupilah satu per satu.

Ia tampak baik-baik saja. Bahkan lebih dari itu ia tampak bahagia.

Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tidak mendekat. Tidak menyapa. Tidak berniat terlihat. Aku hanya… mengamati. Seperti orang asing yang kebetulan mengenal setiap detail masa lalu seseorang. Di momen itu, aku sadar betul aku tidak kehilangan Hana hari ini.

aku hanya menyadari bahwa selama ini, aku memang tidak pernah memilikinya.

Dan entah kenapa, menyadari itu secara langsung, melihatnya dengan mata kepala sendiri… terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar membayangkannya dari layar ponsel.

Tiba-tiba, seorang laki-laki menghampiri mereka.

Langkahnya santai. Tangannya terulur, menggenggam bahu Hana sebentar gestur kecil, tapi cukup jelas. Aku tak perlu menebak siapa dia. Dari caranya berdiri di samping Hana, dari bagaimana anak-anak langsung merapat, aku tahu… itulah suaminya.

Mereka lalu berjalan bersama, masuk ke sebuah resto. Lampu hangat di dalamnya menyala, pintu kaca terbuka, lalu tertutup kembali. Sederhana. Biasa saja. Tapi bagiku, pemandangan itu seperti garis batas yang digambar tegas di depan mata.

Aku menunduk, menatap ponselku.

19.00 WIB.

Aku terdiam. Tanpa kusadari, aku sudah berdiri di tempat ini begitu lama. Mengamati. Menunggu. Entah apa yang sebenarnya kutunggu. Sebuah keajaiban? Atau hanya pembenaran atas rasa bodohku sendiri? Mall mulai ramai oleh suara orang-orang yang bersiap makan malam. Tawa, obrolan, langkah kaki semuanya berjalan normal. Hanya aku yang terasa seperti tertinggal di satu titik.

Aku menarik napas panjang. Di hadapanku, Hana melanjutkan hidupnya. Dan di sini, aku akhirnya paham… bahwa aku tak sedang mengejarnya

aku hanya belum bisa pergi.

Tanpa terasa, mataku berkaca-kaca.

Ada sesuatu yang selama ini kupikir sudah lama selesai, ternyata masih tinggal di dadaku. Baru malam ini aku benar-benar mengerti.

Bukan karena aku tak pernah bertemu perempuan baik. Bukan karena aku takut berkomitmen.

Tapi karena ada satu nama yang diam-diam tak pernah benar-benar kulepaskan.

Selama ini aku mengira kegagalan percintaanku hanya soal waktu, kesibukan, atau ketidakcocokan. Nyatanya, ada ganjalan kecil yang kupelihara sendiri sepotong tanya yang tak pernah kucari jawabannya, rasa yang kusimpan rapi tanpa keberanian untuk menutupnya.

Dan malam ini… semua itu berdiri di depanku, nyata.

Hana bahagia. Dengan hidupnya. Dengan keluarganya. Sedangkan aku akhirnya tahu, bukan Hana yang menahanku melainkan aku sendiri yang terlalu lama tinggal di masa lalu. Aku menyeka mata, menegakkan langkah. Tak ada lagi yang perlu kutunggu. Tak ada lagi yang perlu kupahami. Mungkin aku harus bersiap melepaskannya.

Namun… apakah aku benar-benar mampu?

Entah kenapa, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal, berdenyut pelan di kepalaku

keinginan untuk mendengar penjelasan itu langsung dari Hana.

Bukan untuk mengubah apa pun.

Bukan untuk merebut apa yang bukan milikku.

Hanya untuk menenangkan hati yang terlalu lama menyimpan tanya. Tapi kemudian aku terdiam.

Apakah itu pantas? Ataukah ini hanya caraku menunda perpisahan yang seharusnya sudah selesai?

Diam-diam aku memotret mereka sekeluarga.

Dan diam-diam, aku memotret Hana sendiri Di detik itu aku sadar aku tidak baik-baik saja.

Aku keluar dari mall, tapi kakiku menolak pulang. Hati ini terlalu penuh, pikiranku kacau. Wajah Hana terus muncul di depan mata tersenyum, tertawa bersama anak-anaknya terlalu nyata untuk diabaikan.

Aku menepi di bangku outdoor, menatap orang-orang yang tertawa, berjalan normal. Dan aku… hanya berdiri, terjebak dalam perasaan yang tak bisa kulawan. Ponsel berdering, story baru dari Hana, tapi aku tak berani membuka.

Frustasi ini menempel, menyesakkan. Dunia terlalu terang, dan aku terjebak dalam bayangan masa lalu yang tak bisa kulupakan. Aku melangkah tanpa arah, menahan diri dari pulang sambil bertanya dalam hati, “Kenapa Hana masih menguasai pikiranku?”

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!