Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lampu merah.
Hingga beberapa waktu kemudian, Vera tetap bekerja seperti biasanya, begitu juga Arjuna. Sementara Diana, sibuk belajar membuat kue sambil bekerja di restoran pak Adi. Yang memiliki empat restoran tersebar di dua kota besar.
Sampai dengan hari ini Rehan dan Kevin belum mengetahui, siapa istri Arjuna. Begitu rapat Arjuna menyembunyikan tentang Vera pada kedua sahabatnya, agar Diana tak bertemu dengan Rehan.
" Sejak menikah , Juna Tidak pernah lagi ikut nongkrong bersama kita." ucap Kevin pada Rehan
" Mungkin dia lagi sibuk produksi anak." sahut Rehan membuat Kevin tertawa.
" Juna sudah menikah, kapan kau menyusul dia?" tanya Kevin.
" Kau pun kapan?" Rehan balik bertanya dengan perasaan kesal.
" Padahal jodohmu sudah ada, kau saja yang kebanyakan menolak. Menunggu Diana, nyatanya sudah bertahun-tahun kau tidak lagi bertemu dengan dia."
Rehan hanya diam. Terakhir kali ia bertemu dengan vera, justru membuatnya harus kehilangan jejak Diana lagi.
" apa, yang kau harapkan dari Diana. Mungkin saja dia sudah melupakan mu." ujar Kevin
" Kenapa kau ini sok tau sekali?" kesal Rehan.
" Bukan sok tahu, lagian untuk apa kamu menunggu dia? Apa kau akan menikahi Diana?"
Rehan memutar matanya jengah, andai ia menjawab sudah pasti Kevin akan menertawakan dirinya.
" Juna, seolah tau kalau kita akan menyelidiki dia, menyebalkan sekali."
" Dia,memang agak lain sedikit." sahut Kevin kemudian tertawa kembali.
Sebenarnya Rehan dan Kevin sudah beberapa kali bertanya pada pak Sutomo. Tapi, pak Sutomo sama seperti Juna yang menyembunyikan siapa istri Juna sebenarnya.
" aku akan kembali ke kantor sekarang." ucap Rehan Dengan perasaan lesu.
Kevin mengangkat kedua bahunya, ia juga akan kembali ke kantornya. Di perjalanan menuju kantor tepatnya di lampu merah, Rehan melihat sosok tak asing di sana.
" Diana..." guman Rehan.
Saat Rehan hendak memastikan perempuan itu adalah Diana, lampu berubah berwarna hijau. Mobilnya hendak lurus, sementara
perempuan yang mirip Diana berbelok ke kanan.
" mustahil..itu Diana.? Tapi...mirip"
Isi kepala Rehan mulai di hantui oleh wajah penuh kesedihan Diana. Entah sampai kapan ia bisa melupakan kejadian beberapa tahun silam.
" Ah, bukan. Pasti hanya mirip saja" ucap Rehan yang menepis pikirannya.
Rehan kembali fokus pada kemudi mobilnya, tetap saja yang dia ingat wajah Diana. Yang penuh dengan air mata beberapa tahun silam.
Kurang lebih sudah sepuluh tahun kejadiannya, dia adalah pelaku. Tapi, dia sendiri yang tidak bisa melupakan.
" Rehan dari mana saja kamu?" tanya Lina saat ia hendak masuk ke dalam mobilnya.
" Makan siang, ada apa?" tanya Rehan.
Lina mendengus kesal, ia meminta anaknya pulang sekarang juga. Rehan sudah tau apa yang akan di bahas. Tapi pria ini tetap menurut pada mamanya.
" perjodohan, lagi? Setiap tahun harus membahas hal yang sama." ucap Rehan yang merasa kesal.
Perjodohan dengan orang yang sama, yang katanya sampai saat ini menunggu keputusan dari Rehan. padahal sudah berulang kali Rehan menolak perjodohan dengan Rehan , sungguh ia tak menyangka keluarga itu masih tetap mengajukan. Perjodohan yang sudah berulang kali ia tolak.
" Apa mereka tidak punya urat malu? sudah di tolak berkali-kali masih juga tetap kekeh untuk melanjutkan perjodohan konyol ini." sungut rehan
" Rehan ini demi kebaikan kamu, selama ini mama belum pernah lihat kamu dekat dengan gadis manapun." ucap Lina.
Rehan Tidak menjawab ia hanya menghembuskan nafas berat.
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.