Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 05: Identitas tidak diketahui
Reggiano tidak menyentuh cangkir teh melati yang disodorkan Seraphine. Ia justru merogoh saku jasnya, mengeluarkan secarik kertas lipat kecil—catatan fisik dari laporan Vince yang ia salin semalam. Ia meletakkannya di atas konter yang bersih, tepat di depan Seraphine.
"Antonio Carlos dan Cecilia Florence," ucap Reggiano, suaranya berat dan penuh selidik.
"Nama-nama itu terdaftar sebagai orang tuamu di satu-satunya arsip yang bisa ditemukan tentang dirimu. Mereka dikabarkan meninggal sepuluh tahun yang lalu."
Reggiano memperhatikan setiap inci ekspresi Seraphine. Sebagai seorang interogator, ia ahli dalam melihat getaran kecil di sudut mata atau perubahan warna kulit yang menandakan kebohongan.
Namun, reaksi Seraphine justru di luar dugaannya.
Seraphine menatap kedua nama itu dengan kening yang sedikit berkerut. Ia tidak tampak tegang, tidak juga tampak sedih. Ia justru terlihat... bingung. Ia mengambil kertas itu, membacanya berulang kali seolah sedang mencoba mengeja bahasa asing yang tidak ia pahami.
"Antonio... Cecilia..." bisik Seraphine pelan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Reggiano dengan mata cokelatnya yang jernih dan jujur. "Nama-nama itu terdengar sangat cantik, Tuan Herbert. Tapi saya tidak mengenal mereka."
Reggiano terpaku. "Apa maksudmu? Mereka terdaftar sebagai orang tuamu dalam catatan sipil. Itu data resmi."
Seraphine memberikan senyum tipis yang terasa getir. Ia meletakkan kembali kertas itu ke atas konter. "Tuan Herbert, anda mencari jejak saya di atas kertas yang dibuat oleh manusia. Tentu saja anda akan menemukan nama-nama untuk mengisi kekosongan itu. Dunia anda membutuhkan label, butuh silsilah agar bisa merasa tenang."
"Lalu siapa mereka?" desak Reggiano. "Jika bukan orang tuamu, mengapa nama mereka ada di sana?"
"Mungkin mereka adalah orang-orang yang pernah memiliki toko ini sebelum saya. Mungkin mereka adalah kenangan yang ingin diingat oleh kota ini," jawab Seraphine lembut. Ia mengelus permukaan kayu konternya. "Tapi bagi saya, nama-nama itu hanya seperti hembusan angin yang lewat. Saya tidak memiliki ayah atau ibu dalam artian yang anda pahami."
Reggiano mengerutkan kening, rasa frustrasinya mulai naik. "Semua orang punya orang tua, Seraphine. Kau tidak muncul begitu saja dari kuncup bunga."
Seraphine tertawa kecil, tawa yang kali ini terdengar lebih seperti desiran daun di musim gugur. "Apakah itu benar-benar mustahil bagi anda? Setelah apa yang anda lihat di gedung organisasi tadi pagi?"
Reggiano terdiam. Logikanya yang selama ini kokoh mulai retak. Ia teringat bagaimana akar tanaman itu melindunginya, sementara Marcus tercekik. Jika Seraphine bisa mengendalikan alam sejauh itu, maka konsep "keluarga" dan "kelahiran" mungkin memang berbeda baginya.
"Berarti kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang mereka?" tanya Reggiano sekali lagi, mencoba mencari celah.
"Saya benar-benar tidak tahu," jawab Seraphine tegas, namun lembut.
"Satu-satunya hal yang saya tahu adalah saya harus berada di sini, merawat tempat ini, dan memastikan orang-orang seperti anda dan Elena memiliki tempat untuk sekadar bernapas."
Ia kemudian mengambil cangkir teh yang tadi ia tawarkan dan mendekatkannya ke tangan Reggiano.
"Jangan mencari akar di tempat yang sudah kering, Tuan Herbert. Jika anda terus menggali masa lalu yang tidak ada, anda akan melewatkan apa yang sedang tumbuh di depan mata anda."
Reggiano akhirnya menerima teh itu, menyesapnya perlahan. Rasa melati yang segar mulai menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, di dalam kepalanya, satu pertanyaan baru muncul. Jika Seraphine tidak tahu siapa orang tuanya, lalu siapa yang menuliskan nama-nama itu ke dalam sistem informasi negara sepuluh tahun yang lalu?
Tiba-tiba, lonceng pintu berdenting lagi.
Bukan pelanggan yang masuk.
Seorang pria tua dengan pakaian compang-camping dan wajah yang tampak sangat pucat berdiri di ambang pintu. Ia membawa sebuah pot kecil yang berisi tanaman yang sudah layu total, hitam dan kering.
"Nona..." suara pria tua itu gemetar.
"Dia tidak mau bangun. Saya sudah melakukan apa yang anda katakan, tapi dia tetap mati."
Seraphine segera beranjak dari hadapan Reggiano, wajahnya berubah menjadi sangat prihatin.
"Oh, Tuan Gable... bawa dia ke sini."
Reggiano memperhatikan dari sudut matanya saat Seraphine mengambil pot itu. Saat tangan Seraphine menyentuh tanah yang kering itu, Reggiano bersumpah ia melihat cahaya hijau redup yang berpendar dari sela-sela jarinya.
Reggiano masih memegang cangkir teh melatinya ketika pria tua bernama Gable itu melangkah lebih dalam ke arah konter. Pria itu berjalan tertatih, membawa pot tanaman layunya dengan tangan gemetar. Namun, saat ia melewati posisi berdiri Reggiano, langkahnya mendadak mati.
Bau amis laut dan oli industri yang biasanya melekat pada penghuni distrik utara tercium dari pakaian Gable. Pria tua itu menoleh perlahan, berniat menyapa siapa pun yang ada di sampingnya, namun saat matanya menangkap siluet jas abu-abu mahalnya dan kilatan kacamata perak Reggiano, wajahnya mendadak pucat pasi.
Pot di tangan Tuan Gable bergetar hebat hingga tanah keringnya berceceran ke lantai kayu yang bersih.
Reggiano tidak menoleh sepenuhnya. Ia hanya melirik sedikit dari sudut matanya, sebuah tatapan yang dingin, datar, dan tanpa emosi jenis tatapan yang biasanya menjadi hal terakhir yang dilihat oleh target-targetnya.
Gable ternganga.
Mulutnya terbuka seolah ingin meneriakkan sesuatu, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ingatannya melesat ke sebuah malam berhujan di dermaga nomor sembilan, bertahun-tahun lalu. Ia ingat pria ini. Pria yang berdiri di atas genangan darah tanpa setetes pun noda di sepatunya. Pria yang menghancurkan dunianya hanya dengan satu tarikan pelatuk yang sunyi.
"Tuan Gable? Ada apa?" tanya Seraphine lembut. Ia menyadari perubahan suasana yang mendadak membeku, seolah suhu di dalam toko turun secara drastis.
Gable tidak menjawab. Lututnya melemas. Ia mundur selangkah, menabrak rak bunga kecil di belakangnya. Matanya yang merah dan penuh ketakutan terus terpaku pada Reggiano, seolah-olah jika ia berkedip, nyawanya akan melayang saat itu juga.
Reggiano meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan bunyi klunting yang pelan namun terdengar seperti dentum lonceng kematian bagi Gable.
"Anda sepertinya menjatuhkan sesuatu, Pak Tua," ucap Reggiano. Suaranya rendah, bariton, dan penuh intimidasi yang terselubung.
Gable gemetar hebat. Ia buru-buru berlutut, mengabaikan punggungnya yang sakit, untuk memunguti serpihan tanah dengan tangan gemetar. Ia sama sekali tidak berani mengeluarkan suara. Kebencian ada di sana, tersembunyi di balik pupil matanya yang melebar, namun rasa takut yang primitif jauh lebih mendominasi. Ia tahu siapa Reggiano Herbert. Dan ia tahu, di tempat sesunyi ini, tidak akan ada yang bisa menolongnya jika sang Eksekutor memutuskan untuk membungkamnya selamanya.
"Nona... saya... saya tiba-tiba merasa tidak enak badan," bisik Gable, suaranya hampir tidak terdengar. Ia meletakkan pot layunya di lantai, tidak berani mendekati konter karena itu berarti harus melewati Reggiano.
"Maafkan saya. Saya harus pergi."
Tanpa menunggu jawaban Seraphine, pria tua itu berbalik dan lari keluar toko dengan langkah yang terhuyung-huyung, seolah-olah sedang dikejar oleh iblis. Lonceng pintu berdenting kacau saat pintu itu terbanting menutup.
Keheningan kembali menyelimuti toko.
Seraphine menatap pintu yang tertutup, lalu beralih menatap Reggiano yang kembali menyesap tehnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Dia sangat ketakutan," ucap Seraphine pelan. Ia berjalan keluar dari balik konter, mendekati tempat Gable tadi berdiri, dan memungut pot tanaman yang ditinggalkan.
"Dia melihat anda seolah-olah anda adalah hantu yang datang untuk menagih hutang nyawa."
Reggiano tidak menatapnya. "Banyak orang di kota ini yang takut pada bayangannya sendiri, Nona Florence. Mungkin dia hanya salah mengenali orang."
"Orang bisa salah mengenali wajah, Tuan Herbert, tapi tidak dengan aura," sahut Seraphine. Ia berdiri di samping Reggiano, menatap pot tanaman layu itu dengan sedih.
"Aroma logam di sekeliling anda mendadak menjadi sangat tajam saat dia masuk. Seperti pedang yang baru saja ditarik dari sarungnya."
Reggiano meletakkan cangkirnya yang kini sudah kosong. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Jika benar aku adalah 'pedang' yang dia takuti?"
Seraphine tidak menjauh. Ia justru menyentuh lengan jas Reggiano dengan jemarinya yang hangat. "Pedang tidak memiliki kehendak, Tuan Herbert. Ia hanya mengikuti tangan yang memegangnya. Pertanyaannya adalah... siapa yang memegang tanganmu? Dan sampai kapan kau akan membiarkan mereka menggunakannya?"
Reggiano menoleh, menatap mata Seraphine yang dalam. Untuk pertama kalinya, ia merasa pertahanannya mulai goyah. Bukan karena ancaman, tapi karena kelembutan yang tidak seharusnya ada untuk orang seperti dirinya.
Reggiano terpaku di tempatnya berdiri. Pertanyaan Seraphine tentang siapa yang memegang tangannya terasa jauh lebih mematikan daripada moncong senjata Marcus pagi tadi. Untuk pertama kalinya, perisai emosional yang ia bangun selama sepuluh tahun sebagai Eksekutor retak.
Ia bisa merasakan kehangatan dari jemari Seraphine yang masih menyentuh lengan jasnya, sebuah kontras yang menyakitkan dengan dinginnya logam pistol yang tersembunyi di balik pinggangnya. Aroma melati dari teh yang mengepul di antara mereka kini terasa mencekik, seolah-olah bunga-bunga di dalam toko itu sedang menatapnya, menghakiminya atas setiap nyawa yang telah ia cabut.
"Anda tidak perlu menjawabnya sekarang, Tuan Herbert," bisik Seraphine lagi, suaranya selembut sutra namun setajam belati.
Reggiano menarik lengannya dengan sentakan kecil yang hampir kasar. Ia memundurkan langkah, menciptakan jarak fisik yang lebar di antara mereka. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh kegelisahan yang ia coba tutupi dengan tatapan tajam.
"Anda terlalu banyak berasumsi, Nona Florence," ucap Reggiano, suaranya kembali menjadi sangat formal, kaku, dan dingin.
"Dunia saya tidak sesederhana kehidupan tanaman anda. Di luar sana, tidak ada matahari yang cukup untuk menyinari semua orang. Seseorang harus tetap berada di kegelapan agar orang-orang seperti anda dan Elena bisa tidur dengan tenang."
Seraphine tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap Reggiano dengan tatapan yang sangat dalam tatapan yang seolah berkata bahwa ia tahu Reggiano sedang membohongi dirinya sendiri.
Reggiano meraih topi fedora-nya yang tergeletak di atas konter kayu. Ia memakainya dengan gerakan cepat, menarik tepian topinya hingga bayangannya menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan mata peraknya yang mulai goyah.
"Terima kasih atas tehnya," ucapnya tanpa nada. "Saya rasa... kunjungan saya sudah selesai."
Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti dentuman drum di telinganya sendiri. Ia merasa perlu segera keluar dari toko ini sebelum ia melakukan kesalahan fatal, seperti berlutut dan menceritakan segala dosanya pada wanita ini.
Lonceng di atas pintu berdenting sekali lagi, kali ini bunyinya terdengar sumbang di telinga Reggiano.
Begitu ia melangkah keluar ke trotoar, udara dingin distrik timur menyambutnya. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang aroma mentega dan mawar yang masih memenuhi paru-parunya. Namun, bayangan wajah Tuan Gable yang pucat pasi dan tatapan penuh kutukannya masih membekas jelas di benak Reggiano.
Ia masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintunya hingga suara debum nya menggema di jalanan yang sepi. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia hanya duduk di sana, mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.
"Sial," umpatnya pelan.
Di spion tengah, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Kacamata perak yang biasanya membuatnya tampak cerdas dan berwibawa, kini terasa seperti topeng yang sangat berat. Ia teringat bagaimana tangannya tadi terasa sangat kotor saat bersentuhan dengan kulit bersih Seraphine.
Ia adalah pedang.
Dia benar.
Tapi pedang yang sudah terlalu banyak berkarat oleh darah hingga ia lupa bagaimana rasanya menjadi sebatang baja yang murni.
Reggiano akhirnya menyalakan mesin mobilnya. Ia menginjak pedal gas, melesat meninggalkan Flower’s Patisserie seolah-olah ia sedang melarikan diri dari TKP pembunuhan. Namun, kali ini, ia bukan lari dari polisi atau organisasi, melainkan lari dari cermin yang baru saja disodorkan Seraphine ke depan wajahnya.
Di belakangnya, di dalam toko, Seraphine masih berdiri mematung di samping cangkir teh Reggiano yang masih tersisa separuh. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pinggiran cangkir porselen itu. Seketika, bunga melati yang ada di dalam teh itu mekar sepenuhnya, lalu layu dan hancur menjadi debu dalam hitungan detik.
"Dia melarikan diri lagi seperti waktu itu...," bisik Seraphine pada ruangan yang kosong.