Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Tertangkap Basah
Setelah tujuh jam perjalanan yang terasa seperti bertaruh nyawa bagi Dimas, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah sederhana namun asri di jantung desa. Begitu kaki Dimas menyentuh tanah, ia langsung menyeka keringat dingin di dahinya. Dengkulnya yang gemetar hebat tak bisa ia sembunyikan, membuat postur tubuhnya tak lagi setegak biasanya.
Dimas benar-benar kehilangan wibawa akademisnya di hadapan jalanan bebatuan yang licin, tikungan tajam yang nyaris mustahil, serta tanjakan curam yang membuatnya berkali-kali menahan napas. Ia baru menyadari, gelar profesor sekalipun tidak berguna saat menghadapi medan ekstrem kampung halaman Zora.
Zora menatap calon suaminya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maaf ya, Mas... jalannya memang sangat sulit."
"Neng, ini kuncinya. Mobilnya disimpan di sini saja, aman kok," ucap seorang pria yang usianya tampak tak jauh berbeda dari Dimas, atau mungkin sedikit lebih tua. Penampilannya terlihat bersahaja dengan kulit yang terpapar matahari, tipikal penduduk lokal yang tangguh.
"Oh, iya. Nuhun nya, A Irpan sudah menjemput kami di jalan raya tadi. Kalau tidak ada Aa, mungkin saya dan Mas Dimas tidak akan pernah sampai ke sini," balas Zora dengan senyum tulus yang membuat dada Dimas berdesir aneh.
Pemuda bernama Irpan itu terkekeh sambil menyerahkan kunci mobil itu. Dimas terpaksa menggunakan jasa Irpan karena ia menyerah di tengah jalan raya; ia tak sanggup membawa SUV-nya membelah jalanan setapak yang hanya berupa susunan batu tajam dengan jurang tanpa pembatas di sisinya.
"Sami-sami, Neng. Ya sudah, A Irpan pulang dulu ya. Nanti kalau mau pulang, hubungi Aa lagi, biar Aa antar sampai jalan raya," ucap Irpan dengan nada akrab yang menurut Dimas... terlalu akrab.
"Tunggu, A!"
Zora merogoh tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan mengepalkannya ke tangan Irpan. "Ini, A. Buat beli rokok."
"Eh, Neng, tidak usah. Aa ikhlas menolong kawan lama," tolak Irpan halus.
"Tidak apa-apa, A. Saya juga ikhlas memberikan ini. Tolong diterima ya, A," desak Zora dengan nada memohon.
Irpan akhirnya mengangguk dengan senyum tipis yang tampak manis di wajahnya. Melihat interaksi itu, batin Dimas seketika bergolak. Ada rasa dongkol yang merayap di sela-sela rasa mualnya. Ia ingin sekali bersikap posesif atau sekadar memberikan tatapan intimidasi andalannya, namun tenaganya seolah sudah terkuras habis oleh mabuk perjalanan. Ia hanya bisa berdiri bersandar pada badan mobil sambil memperhatikan dengan mata menyipit.
"Kenapa, pak? Masih pusing?" tanya Zora lembut saat Irpan sudah menjauh.
Dimas menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya yang masih tak karuan. "Siapa laki-laki itu? Kenapa dia menatapmu seolah dia adalah pahlawan yang baru saja menyelamatkan tuan putri dari naga?"
Zora tertawa kecil, suara tawa yang begitu bening di tengah sejuknya udara desa. Ia mendekat, memegang lengan Dimas untuk membantunya berjalan menuju teras rumah.
"Dia itu...."
"Ah sudahlah, ayo cepat kita ke rumah.Aku sudah ingin rebahan."Balas Dimas.
*
Langkah Zora terhenti di depan sebuah bangunan yang berdiri kokoh namun tampak sunyi. Dengan jemari yang bergetar hebat, ia mencoba memasukkan kunci ke lubang gembok yang sudah sedikit berkarat. Rumah panggung itu, dengan dinding dan alas papan kayu yang sedikit menghitam dimakan usia, adalah saksi bisu tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Creeek...
Begitu pintu terbuka, bau pengap yang pekat langsung menyeruak, menusuk indra penciuman. Udara dingin yang terperangkap lama di dalam sana seolah membawa kembali fragmen-fragmen kenangan masa lalu. Zora berdiri terpaku di ambang pintu, menatap ruang tengah yang kosong. Terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini adalah setahun lalu, tepat saat Idulfitri, saat rindu pada mendiang orang tuanya tak lagi terbendung.
"Pak Dimas... Bapak ke rumah Uwa saya dulu saja ya? Saya mau membersihkan rumah ini sebentar," ucap Zora tanpa menoleh, suaranya terdengar serak menahan haru.
Dimas melangkah masuk, mengabaikan debu yang mulai menempel di sepatu kulit mahalnya. Ia menatap sekeliling; langit-langit rumah yang tinggi dan lantai kayu yang berderit setiap kali dipijak. Alih-alih merasa risih, Dimas justru merasa sedang memasuki bagian terdalam dari jiwa Zora.
"Nanti saja bersihkan rumahnya, Zora. Kamu juga harus istirahat, perjalanan tadi sangat melelahkan," sahut Dimas lembut. Ia tidak tega melihat punggung kecil Zora yang tampak rapuh di tengah rumah yang gelap itu.
Zora menggeleng pelan, ia mengusap permukaan meja kayu tua yang kini tertutup debu tebal. "Tidak apa-apa, Pak. Saya ingin menyapa 'rumah' saya dengan layak. Ayo, saya antar Bapak ke rumah Uwa dulu. Jaraknya hanya beberapa rumah dari sini."
Dimas terdiam sejenak. Ia melihat tekad yang keras di mata gadis itu,sebuah kemandirian yang dulu sempat membuatnya kagum, namun kini justru membuatnya ingin melindungi lebih dalam.
"Aku tidak akan membiarkanmu bekerja sendirian di sini," ucap Dimas mutlak, nada bicaranya kembali menunjukkan sisi posesifnya. "Jika kamu bersikeras ingin membersihkannya sekarang, maka aku akan tinggal di sini. Membantumu."
Zora terbelalak. "Tapi Pak... baju Bapak bisa kotor. Dan di sini tidak ada AC atau fasilitas seperti di Bandung."
Dimas hanya melepas jam tangan mewahnya dan melipat lengan kemejanya hingga ke siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. "Zora, aku datang ke sini untuk menjadi bagian dari hidupmu, bukan untuk menjadi tamu agung. Sekarang, di mana sapunya?"
Zora terpana. Untuk sesaat, ia lupa akan rasa lelahnya. Pria di hadapannya ini benar-benar serius dengan ucapannya. Dimas tidak hanya menerima dirinya, tapi juga menerima asal-usulnya yang paling sederhana.
Rumah panggung yang semula sunyi itu mendadak riuh. Dimas, yang biasanya hanya memegang mikroskop atau tumpukan jurnal penelitian, kini tampak canggung memegang sapu lidi panjang.
"Pak, cara menyapunya bukan ditekan seperti itu, nanti debunya malah terbang ke mana-mana," protes Zora sambil tertawa kecil melihat gaya kaku Dimas.
Dimas mendengus, mencoba mengatur napasnya. "Zora, secara aerodinamika, tekanan yang konsisten seharusnya bisa mengumpulkan partikel debu ini di satu titik."
"Ini membersihkan lantai kayu, Pak, bukan sedang praktikum fisika!" Zora merebut sapu itu, namun Dimas menahannya. Alhasil, mereka sempat tarik-menarik sapu hingga posisi mereka menjadi sangat dekat.
Napas Dimas yang hangat menerpa dahi Zora. Suasana yang tadinya penuh tawa mendadak berubah menjadi intens. Dimas menatap wajah Zora yang sedikit cemong karena debu di bagian pipi. Tanpa suara, Dimas mengangkat tangan kirinya, mengusap noda hitam itu dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Wajahmu kotor," bisik Dimas. Suaranya rendah, menciptakan getaran yang membuat jantung Zora berdegup kencang.
Zora terpaku, ia tak sanggup memalingkan wajah. "P-Pak Dimas juga... rambut Bapak kena sarang laba-laba."
Dimas tersenyum tipis,sebuah senyum yang sangat jarang diperlihatkan di ruang kelas. Bukannya menjauh, ia justru semakin mendekatkan wajahnya. "Biarkan saja. Yang penting rumah ini segera rapi agar tunanganku bisa istirahat dengan nyaman."
Zora tersipu, ia segera berbalik untuk memeras kain pel, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Mereka melanjutkan pembersihan itu dengan saling melempar candaan ringan. Dimas yang biasanya dingin, kini tak ragu membantu mengangkat lemari kecil atau menyikat sudut jendela, sesekali ia sengaja menggoda Zora dengan mengejutkannya dari balik pintu.
Untuk sesaat, beban hidup Zora seolah terangkat. Di rumah tua ini, ia tidak lagi merasa kesepian. Ada sosok pria yang begitu megah namun rela merendah demi menemaninya memunguti serpihan masa lalu.
"Nah, sudah lumayan bersih. Tinggal teras depan," ucap Zora sambil menyeka keringat di pelipisnya.
Dimas berdiri di belakangnya, menatap punggung Zora dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia merasa puas melihat binar bahagia di mata gadis itu. Dimas kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Zora secara spontan, menaruh dagunya di bahu gadis itu.
"Kamu senang aku ikut kesini?" Bisiknya lirih
Zora mematung, kehangatan tubuh Dimas merambat ke punggungnya. Baru saja Zora ingin membalas ucapan itu dengan sebuah kalimat manis, sebuah suara berat dari arah pintu depan yang terbuka lebar memutus suasana romantis mereka.
"Zora..."
Bersambung...
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭