Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Mengambil langkah
Malam mulai datang, Anisa terlihat lelah, gadis itu duduk di tepi ranjang kecilnya, helaan nafas terasa berat, seolah ia tidak sanggup lagi ada di dalam pekerjaannya, tapi ia bingung harus mengambil keputusan yang seperti apa.
Kalau ia keluar dari tempat kerjanya, bagaimana dengan ibunya yang ada di kampung, bagaimana dengan biaya hidup yang selama ini ia tanggung sendiri, Anisa tidak enak jika harus merepotkan kedua orang tuanya, karena sedari dulu ia sudah mandiri.
"Ya Allah aku harus bagaimana?"
Di tengah-tengah kegundahan hatinya, tiba-tiba saja handphone-nya berdering, Anisa segera melirik, nama Zaki terpampang jelas di layar handphone-nya. Entah kenapa melihat nama itu yang memanggil dada Anisa sedikit menghangat.
"Assalamualaikum ," suara Zaki terdengar lembut.
"Walaikum salam," sahut Anisa berat, seolah menahan sesuatu yang dari tadi ia pendam sendirian.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Zaki pelan.
Anisa terdiam beberapa detik helaan napas terdengar pelan. "Seperti biasa Mas, majikan," ungkap Anisa.
"Masih belum selesai ya?" tanya Zaki.
"Sepertinya belum, aku merasa serba salah, apa yang aku kerjakan seolah tidak pernah benar," cerita Anisa.
Zaki terdiam sejenak, dadanya terasa berat, mendengar suara Anisa, gadis itu tidak mengeluh, ia hanya sekedar bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam pekerjaannya.
"Nis, bukannya aku sudah bilang," kata Zaki akhirnya. "Kalau kamu tidak kuat, keluar saja," lanjutnya kembali.
"Tapi aku bingung Mas," sahut Anisa dengan cepat.
"Bingung kenapa?" tanya Zaki.
Anisa tersenyum kecut. "Kalau aku berhenti bekerja," kata Anisa ia belum selesai bicara tapi Zaki sudah menimpali.
"Sudah jangan pikirkan itu," potong Zaki. "Aku ada, dan aku tidak akan membiarkanmu, tidak nyaman atau selalu merasa diawasi," jelas Zaki mempertegas.
"Mas, tapi di sini kamu belum juga dapat kerjaan," ungkap Anisa.
"Iya kamu betul, tapi itu kemarin, tadi pagi aku dapat panggilan kerja di kota ini tempatnya dekat dengan kosan," sahut Zaki.
Entah kenapa mata Anisa berbinar, mendengar penuturan lelaki itu, ada perasaan lega yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Mas, kamu tidak sedang bohong kan?" tanya Anisa.
"Untuk apa aku bohong, dan kebetulan aku ingin cerita tentang hal ini juga padamu," pungkas Zaki.
Kali ini Anisa benar-benar, tersenyum hatinya merasa bahagia melihat Zaki mendapatkan pekerjaan lagi. "Ah, syukurlah aku lega dengar itu," sahut Anisa.
"Maka dari itu, aku juga ingin menyegerakan rencana kita, aku tidak mau menunda Nis," ucap Zaki.
Anisa terdiam lagi, ia sedikit terkejut mendengar ucapan itu, lagi-lagi Zaki menunjukkan keseriusannya, dan itulah yang membuat Anisa semakin yakin, dan menerabas semua hambatan yang merintangi cinta keduanya.
"Jika memang kau serius, maka segera halalkan diriku," ungkap Anisa.
Ditantang seperti itu, bukannya menghindar justru Zaki malah menunjukkan kesiapannya, bahkan ia tidak peduli dengan pekerjaan yang baru saja ia lakoni, bagi Zaki kesempatan memiliki Anisa tidak akan datang untuk kedua kali.
"Nis, kamu yakin dengan ucapanmu?" tanya Zaki memastikan.
"Aku yakin," sahut Anisa.
"Baiklah, besok kau resign dari pekerjaanmu, dan aku akan menjemputmu di depan pintu gerbang majikanmu," ungkap Zaki dengan nada semangat.
"Baiklah, jika memang ini takdir ku, aku akan keluar dan menikah denganmu," kata Anisa.
Malam ini dua sejoli itu memutuskan untuk melangkah ke dalam kehidupan yang lebih serius, meskipun percakapannya itu dimulai lewat telepon, tidak ada yang salah bagi mereka yang memiliki waktu terbatas seperti ini.
Dan tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk Anisa, gadis itu benar-benar terharu, di dua bulan perkenalannya dengan Zaki, akhirnya keduanya benar-benar siap untuk melangkah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, matahari bersinar dengan cahaya keemasannya, sinarnya menghangat menembus ke tubuh Zaki yang kali ini tengah berjalan menuju ke restoran. Langkah Zaki sedikit melambat, di dalam perjalanan ia sudah menyiapkan perkataan agar nanti dihadapan atasannya ia tidak salah berucap.
"Bismillah, semoga dapat ijin," ucap Zaki.
Ia melangkah lebih cepat, dan sesampainya di restoran Zaki langsung menuju ke ruangan manager, sejak semalam seusai telepon dengan Anisa Zaki sudah tanya-tanya dulu dengan karyawan lain, dan jalan satu-satunya harus meminta ijin langsung, meskipun ia belum tahu hasilnya nanti.
Ruang manager. Langkah Zaki terhenti di depan tulisan yang menggantung di pintu bagian atas itu, Zaki langsung mengetuk pintu, tiga ketukan. Hingga terdengar suara dari dalam.
"Masuk."
Zaki membuka pintu itu pelan. Ia sedikit menundukkan kepalanya. "Selamat pagi Pak," ucap Zaki lembut.
"Selamat pagi juga, silahkan duduk," sahut manager itu.
Sunyi sebentar hingga akhirnya Zaki memecah pembicaraan. "Sebelumnya Zaki minta maaf Pak, mungkin kedatangan saya kali ini sedikit menganggu aktifitas Bapak.
Manager itu menyatukan alisnya seolah masih penasaran dengan maksud dan tujuan karyawan barunya itu. "Ada apa kamu datang ke ruanganku?"
"Begini Pak, sebenarnya tujuanku kali ini, ingin mengajukan cuti," ucap Zaki.
Manager itu langsung mengerutkan Alisnya. "Apa cuti? Bukannya kamu baru masuk satu hari."
"Iya Pak, saya mengerti," sahut Zaki.
“Alasannya?”
Zaki menarik napas. Ada jeda kecil. Tapi suaranya tidak goyah. “Saya mau mengurus pernikahan, Pak.”
Ruangan itu mendadak hening. Manager menatapnya beberapa detik. “Kamu serius kerja di sini, kan?”
“Sangat serius, Pak.”
“Lalu kenapa mendadak?”
“Karena saya tidak mau perempuan yang mau saya nikahi terus merasa sendirian menghadapi hidupnya.”
Manager itu terdiam, lalu berbicara kembali. “Dia lagi ada masalah?”
“Saya tidak bisa membiarkan dia bertahan di tempat yang membuat dia merasa kecil. Kalau saya mau jadi suaminya, saya harus berdiri dulu untuk dia.”
Kalimat itu keluar tanpa dibuat-buat, bukan heroik, tapi terlihat tulus. Manager itu bersandar di kursinya, ada rasa iba dengan keseriusan lelaki yang memiliki tekad baik itu.
“Kamu tahu kerja di dapur ini keras, kan?”
“Tahu, Pak.”
“Gajinya juga tidak besar.”
“Saya tahu.”
“Masih mau lanjut?”
Zaki mengangguk mantap. “Selama itu halal dan cukup buat mulai hidup, saya mau, Pak.”
Suasana kembali hening, dan manager itu akhirnya mengambil keputusan, sedikit lama dan itu hampir membuat jantung Zaki tidak karuan.
“Kamu ambil tujuh hari, dan setelah itu? Jangan sampai saya dengar kamu setengah-setengah kerja.”
Zaki menunduk hormat, seolah berterima kasih atas kebijakan yang tengah dilakukan oleh pria berusia kisaran 40 tahun itu.
“Terima kasih, Pak.”
"Sama-sama," sahutnya ramah.
Zaki akhirnya keluar dari ruangan itu, dadanya terasa lebih lapang. Bukan karena izin sudah dikabulkan. Tapi karena hari ini, untuk pertama kalinya Ia tidak hanya menenangkan Anisa dengan kata-kata, tapi karena ia mulai berani mengambil langkah.
Dan saat Zaki keluar ruangan itu, manager kembali menerima telepon, dari sahabatnya. "Gimana kerja ponakanku?"
"Ah, ponakanmu itu baru sehari udah ijin, mana ingin menikah lagi," sahut manager itu.
"Udah beri saja ijin, dia anak yang baik dan teliti," kata pria diseberang sana, dia tidak membicarakan Zaki banyak, namun ia tahu jika keponakannya itu sedang menghadapi masalah yang cukup besar.
Bersambung ....
Sore semoga suka ya