NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Media mulai menyerang

Pagi itu, Bima terbangun oleh getaran ponsel yang tak henti-hentinya. Layar menampilkan puluhan notifikasi dari berbagai aplikasi dari pesan, panggilan tak terjawab, dan tautan berita yang dikirim bertubi-tubi. Dadanya mendadak sesak. Ia tahu, gelombang baru telah datang.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka salah satu tautan. Judulnya mencolok, huruf-huruf tebal memenuhi layar: “Toko Manisan Legendaris Diduga Langgar Standar Kesehatan: Fakta atau Rekayasa?” Di bawahnya, foto toko mereka terpampang jelas, diambil dari sudut yang membuat bangunan itu tampak kusam dan suram. Narasi yang menyertainya penuh kalimat bersayap, seolah netral, namun diam-diam menanamkan kecurigaan.

Bima menghela napas panjang. Media telah masuk ke dalam pusaran konflik ini. Dan ketika media mulai menyerang, pertarungan tak lagi sekadar soal kebenaran, melainkan juga persepsi.

Ia segera menuju ruang tengah. Ayah dan ibunya sudah duduk di sana, wajah mereka tegang. Di meja, sebuah koran lokal terbuka lebar. Judul besar di halaman depan mengulang isu yang sama. Kali ini, ditambah kutipan dari “sumber anonim” yang mengaku pernah melihat praktik tidak higienis di dapur mereka.

“Ini sudah keterlaluan,” gumam ibu Bima, suaranya bergetar. “Kenapa mereka begitu kejam?”

Ayahnya menutup mata sejenak, seolah menahan beban yang terlalu berat. “Karena kebenaran saja tidak cukup jika tidak disuarakan dengan benar,” katanya pelan.

Bima tahu, ini adalah fase paling berbahaya. Sekali opini publik terbentuk, membalikkan arah arus akan menjadi perjuangan panjang. Ia segera menghubungi beberapa teman yang bekerja di dunia jurnalisme dan komunikasi. Dalam benaknya, satu tujuan mengkristal: mereka harus menguasai narasi sebelum narasi itu sepenuhnya dikuasai pihak lawan.

Tak butuh waktu lama, beberapa wartawan lokal mulai berdatangan ke toko. Mikrofon dan kamera menyorot etalase permen, rak-rak kaca, dan wajah-wajah yang berusaha tetap tenang. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, sebagian bernada investigatif, sebagian lagi nyaris menuduh.

“Apakah benar ada penggunaan bahan berbahaya di sini?”

“Bagaimana tanggapan Anda terhadap laporan anonim yang beredar?”

“Apakah toko ini dilindungi oleh pihak tertentu sehingga lolos dari sanksi?”

Bima merasakan amarahnya bergejolak, namun ia memaksa diri untuk tetap terkendali. Ia menjawab dengan lugas, menunjukkan dokumen uji laboratorium, izin usaha, dan sertifikat kelayakan kesehatan. Ayahnya menambahkan penjelasan tentang proses produksi, sementara ibunya memperagakan cara mereka menjaga kebersihan dapur.

Beberapa wartawan tampak terkesan, namun Bima sadar, apa yang terekam kamera belum tentu sama dengan apa yang akan ditulis.

Dan firasat itu terbukti.

Sore harinya, berita-berita yang muncul di berbagai portal daring lebih banyak menyoroti dugaan ketimbang fakta. Kata “diduga” dan “masih diselidiki” digunakan berulang, menciptakan kesan bahwa toko mereka berada di ambang skandal besar. Kolom komentar pun dipenuhi hujatan dan spekulasi liar.

Bima membaca satu per satu komentar itu, merasakan dadanya perih. Ada yang menuduh, ada yang mengejek, ada pula yang menyarankan agar toko mereka ditutup selamanya. Namun di antara semua itu, terselip beberapa pesan dukungan dari pelanggan setia yang percaya pada integritas keluarga mereka. Pesan-pesan itulah yang membuat Bima bertahan.

Malam itu, Bima mengunggah sebuah video di akun media sosial toko. Ia berbicara langsung ke kamera, tanpa naskah, tanpa efek berlebihan. Suaranya tenang, namun penuh ketegasan. Ia menceritakan sejarah toko, nilai-nilai yang dipegang keluarga mereka, serta fakta-fakta yang selama ini diabaikan media. Di akhir video, ia berkata, “Kami tidak sempurna, tapi kami jujur. Dan kami siap diperiksa kapan pun.”

Video itu menyebar cepat. Dalam beberapa jam, ribuan orang menontonnya. Banyak yang mulai mempertanyakan pemberitaan media dan menuntut klarifikasi yang lebih berimbang.

Namun, di balik layar, tekanan justru semakin meningkat.

Seorang kenalan ayah Bima yang bekerja di pemerintahan datang membawa kabar kurang menyenangkan. “Ada dorongan dari atas agar kasus ini diperbesar. Ada kepentingan politik yang bermain,” katanya hati-hati. “Kalian harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.”

Kata-kata itu seperti pisau dingin yang menyentuh tengkuk. Bima menyadari, ini bukan lagi sekadar persaingan bisnis. Mereka telah terseret ke dalam pusaran kekuasaan, di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh kepentingan.

Beberapa sponsor kecil menarik diri. Kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk penyediaan camilan sehat ditunda tanpa batas waktu. Bahkan, pemasok bahan baku mulai ragu untuk mengirimkan barang, khawatir ikut terseret isu.

Toko yang dulu ramai kini kembali sepi. Setiap denting bel pintu terasa seperti anugerah kecil di tengah kesunyian.

Di tengah tekanan itu, Bima hampir goyah. Suatu malam, ia duduk sendirian di dapur, menatap adonan gula yang mengental perlahan. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Apa semua ini sepadan?” bisiknya pada diri sendiri.

Namun, bayangan wajah ayah dan ibunya terlintas di benaknya—kerutan lelah, tangan kasar karena kerja keras, dan cinta tulus yang tak pernah surut. Ia tahu, menyerah berarti mengkhianati semua pengorbanan itu.

Keesokan harinya, Bima mengambil langkah berani. Ia mengirimkan hak jawab resmi ke berbagai media, disertai bukti-bukti lengkap dan kronologi kejadian. Ia juga menghubungi lembaga independen untuk melakukan audit terbuka. Semua hasil pemeriksaan akan dipublikasikan tanpa sensor.

Langkah itu mengundang risiko besar, namun juga membuka peluang untuk membalik keadaan.

Perlahan, beberapa media mulai memuat sisi lain dari cerita. Judul-judul baru bermunculan, lebih berimbang, lebih hati-hati. Meski belum sepenuhnya memulihkan reputasi mereka, setidaknya badai mulai menunjukkan celah.

Bima berdiri di depan toko, menatap jalan yang basah oleh sisa hujan. Di kejauhan, suara kendaraan berlalu-lalang, seolah dunia tetap berjalan tanpa peduli pada pergulatan kecil mereka. Ia menarik napas dalam-dalam.

Media boleh menyerang, fitnah boleh berulang, tapi selama ia masih mampu berdiri dan berbicara, ia tak akan membiarkan kebenaran terkubur.

Dan di balik awan kelabu, Bima yakin, selalu ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan.

Keyakinan itu yang membuatnya bangkit keesokan pagi dengan semangat yang tidak sepenuhnya padam. Walau kelelahan masih menempel di wajahnya, ia memaksa diri untuk kembali berdiri di balik etalase, menyambut pelanggan yang datang dengan senyum setulus mungkin. Baginya, senyum itu bukan sekadar keramahan, melainkan bentuk perlawanan terhadap ketakutan.

Namun hari itu, suasana toko terasa lebih sunyi dari biasanya. Langkah-langkah kaki terdengar lebih jarang, dan suara tawa anak-anak yang dulu mengisi ruangan kini hampir tak ada. Bima memperhatikan setiap pelanggan yang masuk, melihat keraguan di mata mereka sebelum memilih permen. Beberapa bahkan hanya bertanya harga, lalu pergi tanpa membeli apa pun.

“Tidak apa-apa,” bisik Bima dalam hati. “Ini hanya sementara.”

Di sudut toko, ayahnya tengah berbincang dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket sederhana. Wajah pria itu tampak ragu, namun sorot matanya jujur. Setelah beberapa menit, pria itu mengangguk mantap, lalu menjabat tangan ayah Bima.

“Aku percaya sama Pak Wijaya,” katanya lantang. “Dari dulu kualitas di sini nggak pernah berubah. Media boleh bicara apa saja, tapi pengalaman saya sendiri sudah cukup.”

Kata-kata itu terdengar seperti embun di tengah terik. Bima merasakan dadanya menghangat. Ia menyadari, di tengah badai, selalu ada orang-orang yang masih memegang kepercayaan.

Tak lama kemudian, ponsel Bima bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya singkat, namun membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Aku punya informasi penting soal siapa yang memulai semua fitnah ini. Kalau kamu mau dengar, datanglah ke Taman Sagara pukul delapan malam.

Bima menatap layar cukup lama. Nalurinya berteriak waspada, tapi rasa ingin tahu dan harapan akan kebenaran mendorongnya untuk menerima tawaran itu. Ia membalas singkat: Aku akan datang.

Sepanjang hari, pikirannya melayang pada pesan misterius itu. Siapakah pengirimnya? Apakah ini jebakan, atau justru kunci untuk membuka simpul kebohongan?

Malam tiba dengan cepat. Langit Kota Sagara diselimuti awan tipis, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih lembap. Bima melangkah memasuki taman, jantungnya berdegup kencang. Ia melihat bangku-bangku kosong, pepohonan yang bergoyang pelan, dan sebuah sosok berdiri di dekat kolam kecil.

Sosok itu menoleh saat mendengar langkahnya. Seorang perempuan muda, mengenakan jaket gelap dan topi, wajahnya sebagian tertutup bayangan. Matanya tajam, namun penuh kehati-hatian.

“Kamu Bima?” tanyanya.

“Iya. Kamu yang mengirim pesan?” balas Bima.

Perempuan itu mengangguk. “Namaku Nara. Aku jurnalis lepas.”

Bima terkejut. “Jurnalis?”

“Aku sudah lama mencium kejanggalan dalam pemberitaan tentang toko keluargamu,” lanjut Nara. “Terlalu terkoordinasi, terlalu cepat, dan terlalu rapi. Seolah ada skenario besar di baliknya.”

Mereka duduk di bangku taman. Nara membuka tasnya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan rekaman suara di ponselnya. “Aku mendapatkannya dari sumber yang tidak bisa kusebutkan. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada pihak yang membayar beberapa media kecil untuk menggiring opini.”

Bima menahan napas. “Siapa?”

“Seorang pengusaha manisan yang punya koneksi politik kuat,” jawab Nara. “Dia ingin menjatuhkan bisnismu, sekaligus membersihkan jalan untuk ekspansi besar-besaran. Tapi ada satu nama lain yang muncul berulang kali.”

Nara menyebutkan nama yang membuat Bima terdiam—mantan karyawan ayahnya, seseorang yang dulu mereka percayai sepenuh hati.

“Dia jadi perantara,” lanjut Nara. “Mengumpulkan gosip, memelintir fakta, lalu menyebarkannya dengan bumbu kebohongan. Dia tahu persis seluk-beluk toko kalian, jadi fitnahnya terdengar meyakinkan.”

Bima menggenggam tangannya sendiri. Ingatan tentang pria itu berkelebat—senyum ramah, sikap patuh, dan ucapan terima kasih setiap akhir bulan. Tak pernah terlintas bahwa pengkhianatan bisa datang dari orang sedekat itu.

“Aku ingin membongkar ini,” kata Nara mantap. “Tapi aku butuh bukti lebih kuat. Dan aku butuh kerja sama kamu.”

Bima menatap langit, mencari keberanian. “Aku siap. Apa pun risikonya.”

Malam itu, sebuah aliansi sunyi terbentuk di bangku taman yang sepi. Dua orang dengan tujuan sama: menyingkap kebenaran.

Hari-hari berikutnya, Bima dan Nara bergerak diam-diam. Mereka mengumpulkan testimoni, menyusuri jejak transaksi, dan memetakan jaringan yang terlibat. Setiap potongan informasi terasa seperti serpihan cahaya kecil, perlahan merangkai jalan di tengah gelap.

Di rumah, Bima tidak menceritakan semua ini pada orang tuanya. Ia tak ingin menambah beban di pundak mereka. Namun, setiap malam sebelum tidur, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa pulang kabar baik.

Tekanan media masih berlanjut, namun kini Bima tidak lagi merasa sendirian. Ada Nara, ada segelintir pelanggan setia, dan ada keyakinan yang semakin menguat bahwa kebenaran, seberapa pun pahitnya, akan menemukan jalannya.

Di tengah badai fitnah dan intrik politik, Bima melangkah maju, menembus kabut dengan tekad yang tak lagi rapuh. Ia tahu, cahaya itu memang ada—dan ia semakin dekat untuk meraihnya.

Dan tanpa ia sadari, langkah-langkah kecilnya menuju kebenaran akan menyeretnya ke pusaran peristiwa yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, namun juga lebih menentukan nasib hidupnya dan seluruh Kota Sagara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!