Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Untuk Keluarga Alexander
Sementara itu, Keano, Natalie, dan Samantha berdiri di dekat pilar emas, menyesap sampanye sambil memandang sekeliling dengan takjub sekaligus iri.
Keano Alexander berbisik, mata tak lepas dari dekorasi. "Luar biasa. Aku tahu Tuah Sky klan Dominic dan Shiva itu kaya, tapi ini? Ini level kekuasaan yang berbeda. Lihat pilar-pilar itu, Natalie. Itu dilapisi emas murni, bukan sekadar cat."
Natalie memperbaiki posisi kalung berliannya. "Tentu saja, Sayang. Keluarga mereka tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Tapi bayangkan, jika posisi kita lebih kuat di pasar, mungkin pernikahan Samantha nanti bisa melampaui ini. Kita di sini untuk itu, kan? Mencari relasi."
Samantha mencibir sambil melihat ke arah panggung pelaminan yang masih kosong. "Aku penasaran sesempurna apa wanita yang berhasil menjerat Sky. Pasti dia putri menteri atau bangsawan Eropa. Tidak mungkin gadis sembarangan bisa duduk di singgasana semewah itu."
"Itulah bedanya anak yang berbakti dengan anak yang hanya membawa aib. Ingat Evelyn? Jika dia masih di rumah, dia pasti hanya akan merusak reputasi kita di depan tamu-tamu agung ini. Untung saja kita melepaskannya. Dia tidak akan pernah pantas menginjakkan kaki di karpet bulu setebal ini."
Natalie tersenyum licik, mengusap lengan Keano. "Sudahlah, Mas. Jangan bicara seperti itu, bagaimana pun juga dia anak kita. Lupakan saja, malam ini adalah tentang masa depan Samantha. Lihat itu, Tuan Wijaya dari konsorsium tekstil sedang menuju kemari. Pasang wajah terbaikmu, Samantha."
Seorang Pebisnis mendekat, mengangguk hormat pada Keano.
Pebisnis A mendekat. "Ah, Pak Keano! Anda hadir juga. Luar biasa, ya? Saya dengar mempelai wanitanya adalah 'permata tersembunyi' yang selama ini tidak terekspos. Kabarnya, Tuan Sky sendiri yang memohon pada ayahnya agar pernikahan ini dibuat paling megah dalam sejarah dekade ini."
Keano tertawa bangga, mencoba menyamai level. "Tentu, Pak. Cinta memang bisa membuat pria melakukan apa saja. Saya juga selalu memberikan yang terbaik untuk putri kesayangan saya, Samantha. Kami sangat selektif dalam memilih lingkaran pertemanan."
Samantha ikut menimpali. "Kira-kira siapa nama mempelai wanitanya, Pak? Sedari tadi protokoler sangat tertutup soal nama lengkapnya."
Pebisnis A mengerutkan kening heran. "Loh, Anda tidak tahu? Kabarnya dia memiliki nama yang sama dengan putri Anda, Evelyn. "
Gelas sampanye di tangan Natalie bergetar sedikit. Keano membeku, tawa kaku menghiasi wajahnya. "Evelyn? Haha, pasti itu orang yang berbeda. Nama Evelyn cukup umum di kalangan pebisnis. Evelyn yang saya kenal... yah, dia tidak lebih dari seorang pelayan di rumahnya sendiri sebelum pergi entah kemana."
Samantha wajahnya memucat, menatap ke arah pintu besar yang mulai terbuka. "Ma, lihat... Lampu sorotnya mulai bergerak
Suara trompet pengiring pengantin bergema. MC mengumumkan dengan suara bariton yang menggelegar.
MC bersuara di depan MiC. "Hadirin sekalian, sambut lah pasangan malam ini... Tuan Sky Aariz Ghaaziy dan Nyonya Evelyn Savana Alexa.
Pintu besar terbuka. Evelyn muncul dengan gaun pengantin sutra bertabur berlian mikro, memegang lengan Sky dengan anggun. Kecantikannya yang dulu tertutup debu kini bersinar seperti dewi. Seluruh wartawan berebut mengambil foto.
Keano terperangah, matanya membelalak. "Tidak... itu tidak mungkin. Itu... Evelyn? Gadis yang tidak berguna?"
Natalie berbisik histeris. "Bagaimana bisa?! Samantha, bukankah kamu bilang dia sudah hancur di jalanan?!"
Samantha gemetar, melihat para konglomerat kini membungkuk hormat saat Evelyn lewat. "Dia... dia benar-benar menjadi ratu malam ini. Kita datang untuk mencari dukungan, tapi orang yang paling berkuasa di sini adalah orang yang kita injak-injak. "
Lampu gantung kristal yang menjuntai di langit-langit ballroom Grand Asteria memantulkan cahaya keemasan yang megah, menciptakan atmosfer yang hampir terasa magis. Harum bunga lily dan peony segar memenuhi ruangan, berpadu dengan denting gelas sampanye di kejauhan. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan untaian bunga putih premium, Pendeta sudah berdiri dengan tenang, siap memandu momen sakral.
Sky menggenggam jemari Evelyn yang sedikit gemetar. Di bawah sorot lampu spotlight, cincin berlian itu berkilau indah.
Sky berbisik lembut, menatap mata Evelyn. "Jangan gugup. Mulai detik ini, dunia tidak akan menyentuhmu tanpa melewati aku lebih dulu. Kau aman, Evelyn."
Sky perlahan menyematkan cincin itu ke jari manis Evelyn. Seketika, riuh rendah suara tamu undangan pecah.
Paman Azam berteriak penuh semangat. "Itu keponakanku! Akhirnya, Raja Es kita luluh juga! Hajar, Sky!"
Paman Zack tertawa lebar sambil menepuk Rion di sebelahnya. "Lihat itu! Mereka pasangan paling serasi abad ini. Jangan lupa honeymoon yang jauh, Sky. "
Di barisan depan, Shyla menutup mulutnya dengan tangan, air mata membasahi pipinya yang kemerahan.
Shyla terisak pelan. "Kak Evelyn cantik sekali... Aku tidak menyangka Kak Sky bisa menatap seseorang selembut itu."
Rion menepuk bahu sepupunya dengan lembut. "Sudahlah, Shyla. Jangan menangis terus, nanti riasanmu luntur."
Leta terkekeh namun matanya menatap haru. "Biarkan saja, Rion. Ini kan momen langka. Lihat Steven dan Tiffany, mereka sampai berdiri hanya untuk memotret."
Steven menimpali tanpa mengalihkan mata dari kamera yang dia bawa. "Tentu saja! Ini sejarah besar bagi keluarga kita!"
Di sudut lain, Langit menggenggam erat tangan Angel. Keduanya menatap putra mereka dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan bangga.
Angel menghapus air mata dengan tisu. " Langit, lihat putra kita... dia benar-benar sudah dewasa. Dia memilih wanita yang tepat."
Langit mengangguk pelan, suaranya sedikit serak. "Dia mewarisi matamu, tapi cara dia melindungi Evelyn... itu benar-benar sifat laki-laki keluarga kita."
Namun, di sudut meja VIP yang cukup dekat dengan pelaminan, suasana terasa membeku. Keano Alexander terpaku dengan wajah pucat pasi. Di sampingnya, Natalie mencengkeram tas tangannya hingga kuku-kukunya memutih, sementara Samantha menatap panggung dengan tatapan tidak percaya sekaligus iri.
Suara Samantha bergetar karena marah dan iri. "Ayah... itu Evelyn? Tidak mungkin. Bagaimana bisa dia berdiri di sana? Menikahi pewaris tunggal keluarga nomor satu di negara ini?"
Natalie berbisik tajam pada Keano. "Keano, jelaskan padaku! Apa kau tau tentang ini?"
Napas Keano memburu, matanya tidak lepas dari Evelyn. "Aku... aku tidak tahu. Dia membuang marga Alexander. Dia memutus hubungan denganku. Bagaimana mungkin putri yang aku anggap sudah 'mati' justru duduk di atas takhta yang bahkan tidak bisa kita sentuh?"
Natalie terlihat gelisah. "Ini bencana! Jika Sky tahu bagaimana kita memperlakukannya dulu, kita akan hancur dalam semalam!"
Keano mengepalkan tangan di bawah meja. "Diam, Natalie. Jangan sampai ada yang curiga. Dia tetap anakku... meskipun dia menganggap ku musuh. Kita harus mencari cara agar dia tidak membuka mulutnya di depan keluarga Sky."
Di atas pelaminan, Evelyn sempat melirik ke arah meja keluarga Alexander. Tidak ada dendam di matanya, hanya ketenangan yang dingin—sebuah pernyataan bisu bahwa dia telah menang, dan dia tidak lagi membutuhkan pengakuan dari mereka.
Sementara itu, Jauh di atas atap gedung seberang, Arthur menatap tajam ke arah layar besar yang menampilkan wajah bahagia Sky dan Evelyn dari monitor canggih nya. Matanya sedikit memerah karena menahan tangis. Itu adalah sejarah baru untuk nya--- dimana dia bisa menyaksikan janji setia kedua orang tuanya--- dia ada disana--- di dalam rahim ibunya.
Arthur menekan tombol headset-nya, suaranya dingin namun penuh kasih. "Tahan perasaanmu, Elvira... Aku bisa mendengar napas mu yang sesak dari sini. Ingat tujuan kita!"
Suara Elvira di balik intercom, bergetar karena tangis. "Tapi Kak... Daddy terlihat sangat tampan, dan Mommy... dia begitu cantik. Aku ingin sekali memeluk mereka dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja."
"Belum saatnya. Fokus! Kita datang dari masa depan bukan untuk menangis di pojokan. Ingat kehancuran yang kita lihat di garis waktu asli? Darah, pengkhianatan, dan perpisahan mereka? Kita di sini untuk memastikan sejarah itu tidak terulang
Elvira menghela napas panjang, mencoba tegar. "Aku mengerti. Aku akan tetap di posisiku di dalam ballroom."
Arthur tersenyum tipis. "Bagus. Tugas kita adalah memastikan Ayah dan Ibu selalu bahagia. Kehancuran yang kita lihat di masa depan harus kita ubah dari sekarang. Biarkan mereka menikmati dansa pertama mereka... sementara kita menjaga mereka dari bayang-bayang."
•
•
•
BERSAMBUNG