Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
"Apa kau baru saja mengoceh tentang harga diri?" tanya Li Chen sembari melangkah maju.
Ujung sepatunya berdecit di atas lantai kayu yang mengilat. Ia menarik napas pendek, lalu mengembuskannya dengan kasar hingga bahunya bergetar. Matanya menyipit, menatapku seolah-olah aku adalah noda lumpur yang mengotori karpet sutra milik majikannya.
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat," sahutku sembari menggeser kaki kiri sedikit ke belakang.
Tubuhku masih terasa kaku. Denyut di meridianku terasa seperti sengatan listrik kecil yang terus-menerus memprotes gerakanku. Namun, esensi murni dari Jang Gwang yang sudah terserap kini mulai mengalir ke otot-otot kakiku, memberiku fondasi yang jauh lebih stabil daripada manusia biasa.
"Berani sekali sampah sepertimu berdiri tegak di depanku," hardik Li Chen seraya melayangkan pukulan lurus ke arah wajahku.
Serangan itu cepat, namun tidak memiliki niat membunuh yang murni. Ia hanya ingin mempermalukanku. Aku memiringkan kepala ke kanan, membiarkan kepalan tangannya menyambar udara kosong di samping telingaku.
"Kau terlalu lambat untuk ukuran seorang pendekar kota," cemoohku sembari menangkap pergelangan tangannya.
Li Chen terkejut. Ia mencoba menarik tangannya kembali, namun genggamanku terkunci rapat. Kulit telapak tanganku yang kini lebih padat dari baja memberikan tekanan yang membuat tulang pergelangan tangannya berderak kecil.
"Lepaskan!" teriak Li Chen sembari mengayunkan kaki kanannya ke arah pinggangku.
Aku tidak menghindar. Aku justru membiarkan tendangan itu menghantam tulang rusukku. Bunuh tumpul terdengar saat kakinya mendarat, namun bukannya aku yang terjungkal, justru Li Chen yang meringis kesakitan. Rasanya pasti seperti menendang batang pohon besi tua.
"Bagaimana mungkin tubuhmu sekeras ini?" tanya Li Chen dengan nada suara yang mulai bergetar.
"Mungkin karena aku sudah terbiasa dipukuli oleh orang-orang sepertimu," balasku sembari mendorong tubuhnya hingga ia terhuyung ke belakang.
Aku tidak memberikan kesempatan bagi Li Chen untuk mengatur napas. Dengan satu langkah besar, aku sudah berada di hadapannya lagi. Aku melayangkan pukulan pendek ke arah ulu hatinya. Tidak ada energi monster, tidak ada transformasi. Ini murni kekuatan fisik hasil sinkronisasi sistem.
Bugh!
Li Chen tertekuk seperti udang. Wajahnya berubah pucat, dan ia terpaksa berlutut di atas satu kaki sembari memegangi perutnya. Napasnya tersengal-sengal, mencoba mencari oksigen yang seolah hilang dari paru-parunya.
"Sudah cukup bermainnya?" tanyaku sembari menatapnya dari atas.
He Ran yang sedari tadi hanya menonton akhirnya melangkah maju. Suara ketukan sepatunya di lantai kayu terdengar sangat berwibawa, memecah kesunyian yang mencekam di ruangan itu.
"Lihat itu, Li Chen. Kau baru saja dikalahkan oleh seseorang yang kau sebut sampah," ujar He Ran sembari tersenyum dingin ke arah bawahannya.
"Nyonya... dia... dia menggunakan sihir," rintih Li Chen sembari mencoba berdiri kembali.
"Sihir? Kau hanya terlalu sombong hingga lupa bahwa dunia ini luas," sahut He Ran sembari beralih menatapku.
Nyonya besar itu mengamati setiap inci tubuhku. Aku bisa merasakan tatapannya seolah-olah sedang membedah lapisan kulitku untuk mencari rahasia di baliknya.
"Kontrolmu cukup mengesankan, Han," puji He Ran sembari melambaikan tangan ke arah pintu samping. "Bawa dia ke kamar tamu nomor tiga. Berikan dia pakaian yang layak dan obat pemulih tingkat dua."
"Baik, Nyonya," jawab seorang pelayan wanita yang muncul dari balik tirai.
Aku mengikuti pelayan itu, meninggalkan Li Chen yang masih terduduk di lantai dengan tangan yang gemetar. Saat aku melewati lorong yang panjang, sistem memberikan notifikasi yang kutunggu-tunggu.
[Misi Sampingan Selesai.] [Hadiah: Kontrol Esensi meningkat 5%.] [Modul 'Peredam Aura' diaktifkan secara otomatis.]
Rasa panas yang menyelimuti jantungku perlahan mulai mendingin. Aku bisa merasakan aura haus darah yang tadinya liar kini terbungkus rapat oleh sebuah lapisan energi transparan. Ini adalah hal yang kubutuhkan untuk bertahan di tengah Kota Guntur yang penuh dengan ahli bela diri.
Kamarku ternyata sangat mewah. Ada sebuah bak mandi kayu besar yang sudah terisi air hangat di sudut ruangan. Aku segera melepas jubah biruku yang sudah hancur dan masuk ke dalam air. Rasa nyaman menjalar ke seluruh sarafku, meluruhkan rasa lelah yang menumpuk sejak pelarianku dari gua.
Sembari berendam, aku mencoba memanggil jendela status untuk melihat perkembangan terakhir.
[Nama: Han Wol] [Tahap: Asura Crawler (Sinkronisasi 100%)] [Fisik: Tubuh Asura Tahap Awal (Kepadatan Tulang +30%)] [Status: Penyamaran Aktif]
"Setidaknya aku punya modal untuk turnamen besok," gumamku sembari menatap pantulan wajahku di air.
Wajahku tidak banyak berubah, namun ada ketajaman di mataku yang tidak ada sebelumnya. Aku bukan lagi pemuda ringkih yang bisa ditindas hanya karena tidak memiliki bakat kultivasi.
Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk dengan pelan.
"Siapa?" tanyaku sembari bersiap untuk melompat keluar dari bak mandi jika terjadi sesuatu.
"Ini saya, pelayan yang tadi," sahut suara wanita dari balik pintu. "Nyonya He Ran ingin menyampaikan pesan bahwa malam ini akan ada jamuan makan malam untuk para perwakilan divisi. Anda diharapkan hadir."
"Jamuan makan malam?" tanyaku sembari mengernyitkan dahi.
"Benar, Tuan. Ini adalah acara penting untuk memperkenalkan para kandidat kepada mitra bisnis Nyonya," jelas pelayan itu lagi.
Aku menghela napas panjang. Sepertinya He Ran benar-benar ingin memamerkanku sebagai aset berharganya. Namun, ada satu hal yang mengusik pikiranku sejak tadi. Jika ada monster lain di kota ini seperti yang dikatakan sistem, apakah mereka juga akan hadir di jamuan itu?
Malam pun tiba dengan cepat. Aku mengenakan jubah hitam baru dengan sulaman perak di bagian kerah, pemberian dari He Ran. Pakaian ini terasa jauh lebih nyaman dan pas di tubuhku. Saat aku berjalan menuju aula utama, aku bisa merasakan suasana kota yang semakin riuh di luar sana.
Aula jamuan sudah dipenuhi oleh orang-orang penting. Aroma teh mahal dan makanan lezat memenuhi udara, namun yang lebih menarik bagiku adalah kumpulan energi yang bertebaran di ruangan ini. Ada banyak kultivator di ranah Formasi Inti yang hadir di sini.
He Ran berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh beberapa pria paruh baya yang terlihat sangat kaya. Saat matanya bertemu denganku, ia memberikan isyarat agar aku mendekat.
"Ini dia, jagoan baruku yang kutemukan di pegunungan utara," ucap He Ran sembari memperkenalkanku kepada tamu-tamunya.
Aku membungkuk sopan, menjaga ekspresi wajahku agar tetap datar. Namun, saat aku menegakkan tubuh, mataku terpaku pada sosok pria yang duduk di sudut ruangan yang remang-remang. Pria itu memakai jubah kelabu kusam dan sedang sibuk mengunyah daging paha ayam dengan rakus.
Sistem tiba-tiba bergetar hebat di dalam kepalaku.
[Peringatan! Esensi 'Blood Hound' terdeteksi pada individu di sudut ruangan.] [Tingkat bahaya: Tinggi.]
Pria itu tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia menoleh perlahan ke arahku, lalu menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata. Di balik matanya yang sayu, aku bisa melihat kilatan merah yang sangat mirip dengan milikku.
Ia menjilat sisa lemak di jarinya, lalu memberikan isyarat tangan seolah-olah sedang memotong lehernya sendiri ke arahku.
"Sepertinya kau sudah menemukan teman baru, Han," bisik He Ran sembari mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Apakah dia salah satu perwakilanmu juga?" tanyaku tanpa melepaskan pandangan dari pria itu.
"Bukan. Dia adalah perwakilan dari Sekte Langit Hitam, saingan terberatku," jawab He Ran dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah menjadi serius. "Berhati-hatilah, dia punya kebiasaan memakan lawan bicaranya secara harfiah."
Aku menelan ludah, merasakan adrenalin mulai mengalir kembali. Turnamen ini ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan sebelumnya. Bukan hanya karena para kultivator kuat, tapi karena ada monster lain yang sedang mengincar nyawaku.
Jamuan makan malam baru saja dimulai, namun aku sudah merasa seperti berada di tengah medan perang. Tepat saat pelayan mulai menghidangkan menu utama, seorang pria besar dengan bekas luka di dahi masuk ke aula dengan langkah yang tergesa-gesa.
Ia berlutut di depan He Ran sembari mengatur napasnya yang memburu.
"Nyonya, ada laporan darurat dari gerbang kota," lapor pria itu dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke seluruh ruangan.
"Ada apa?" tanya He Ran sembari mengerutkan kening.
"Pasukan penegak Sekte Awan Azure telah mengepung kediaman ini. Mereka menuntut agar kita menyerahkan pembunuh Tetua Jang Gwang dalam waktu satu jam, atau mereka akan melakukan penggeledahan paksa!"
Seluruh tamu di aula mendadak hening. Semua mata kini tertuju padaku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.