NovelToon NovelToon
Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Yang Hamil Aku, Yang Kau Nikahi Dia

Status: tamat
Genre:Obsesi / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.

"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.

Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.

Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.

Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.

"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.

Gelap.

Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.

"Kevin Pratama... Karina Adelia..."

Senyumnya tajam. Berbahaya.

"Permainan baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - KENCAN PERTAMA YANG TIDAK SEMPURNA

DUA MINGGU SETELAH REKRUTMEN - JAKARTA

Akselia sedang melatih kelas sore ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Rangga.

[Aku ke Jakarta akhir pekan ini untuk koordinasi instruktur baru. Mau makan malam? Kali ini bukan meeting kerja. Kencan beneran.]

Jantung Akselia berdegup lebih cepat. Kencan beneran. Bukan diskusi kerja yang disembunyikan di balik profesionalitas. Jemarinya melayang di atas keyboard ponsel antara mau menulis dan ragu.

Tapi dia sudah janji pada diri sendiri, dia akan coba.

[Oke. Kapan dan di mana?]

[Sabtu malam? Aku yang atur tempat. Surprise.]

[Aku tidak suka surprise.]

[Aku tahu. Makanya aku coba bikin kamu suka. :)]

Akselia menggelengkan kepala, tersenyum geli. Emotikon senyum pertama dari Rangga yang selalu formal.

***

SABTU MALAM - APARTEMEN AKSELIA

Akselia berdiri di depan lemari, menatap isi lemari yang mayoritas kaus olahraga dan celana training. Tidak ada gaun. Tidak ada baju kencan.

"Kenapa aku tidak punya baju normal?!" gerutunya frustasi.

Ponselnya berdering. Video call dari Sari dan Rina seperti punya indera keenam.

"Kak Akselia! Sudah siap?!" tanya Rina excited.

"Tidak! Aku tidak punya baju!"

"Tenang! Kami sudah prediksi ini!" Sari tertawa. "Cek pintu depan. Kami kirim paket tadi siang."

Akselia buru-buru buka pintu, ada kotak besar dengan pita. Di dalamnya, dress sederhana warna navy biru, tidak terlalu formal tapi tetap elegan. Plus sepatu hak rendah yang nyaman.

"Kalian... kapan kalian..."

"Kami tahu Kakak pasti bingung. Jadi kami belikan. Ukurannya pas kok, kami sudah hapal." Sari tersenyum bangga lewat layar.

Akselia terharu. "Terima kasih. Kalian yang terbaik."

"Sekarang pakai! Dan kirim foto!" perintah Rina.

Setelah pakai dress itu, Akselia menatap refleksinya di cermin. Asing. Dia sudah lama tidak pakai gaun. Tapi tidak jelek. Justru bagus.

Dia foto dan kirim ke grup.

Rina: [CANTIK BANGET KAK!]

Sari: [Pak Rangga pasti jatuh cinta makin dalam!]

Pak Dharma: (tiba-tiba masuk grup) [Pantas. Tapi tetap bawa pepper spray.]

Akselia tertawa membaca pesan Pak Dharma. Tipikal mentor yang protektif.

***

RESTORAN TEPI DANAU - MALAM HARI

Rangga menjemput dengan mobil, dan saat melihat Akselia keluar dari apartemen, matanya melebar.

"Kamu... kamu cantik sekali."

Akselia merasa pipinya panas. "Terima kasih. Kamu juga rapi."

Rangga mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana kain hitam, simpel tapi tampan.

Di perjalanan, mereka ngobrol ringan tentang perkembangan instruktur baru, tentang progres cabang Surabaya yang akan buka bulan depan. Nyaman, seperti biasa.

Tapi ketika sampai di restoran, Akselia terkejut.

Restoran mewah tepi danau dengan pemandangan lampu kota yang memantul di air. Meja sudah dipesan di area terbuka dengan lilin dan bunga mawar.

"Rangga ini... ini terlalu mewah..."

"Aku tahu kamu tidak suka yang berlebihan. Tapi, tolong biarkan aku lakukan ini. Sekali saja." Rangga membukakan pintu mobil. "Kamu layak diperlakukan istimewa."

Akselia turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Ini sangat berbeda dari kencan pertamanya dengan Kevin dulu yang di kafe murah.

Terlalu berbeda.

Terlalu... sempurna?

***

DI MEJA RESTORAN

Mereka duduk berhadapan. Pelayan membawakan menu. Akselia membuka menu dan tersentak melihat harganya.

"Rangga, ini terlalu mahal..."

"Akselia." Rangga meletakkan menurun. "Tolong jangan khawatir soal harga. Ini kencan pertama kita. Aku mau ini spesial."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi. Pesan apa yang kamu mau."

Akselia akhirnya pesan pasta sederhana dan jus jeruk, pilihan termurah di menu. Rangga pesan steak.

Saat menunggu makanan, percakapan mengalir lancar tentang masa kecil mereka, cita-cita dulu, hal-hal lucu yang pernah terjadi.

"Aku dulu pengen jadi astronot," kata Rangga sambil tertawa. "Sampai SMP aku masih serius. Baru sadar di SMA aku takut ketinggian."

Akselia tertawa. "Serius? Astronot tapi takut ketinggian?"

"Ironis kan? Makanya akhirnya aku jalani bela diri. Kaki tetap di tanah."

Mereka tertawa bersama dan untuk beberapa saat, Akselia lupa semua kekhawatirannya.

Sampai...

Makanan datang. Dan di tengah makan, seorang perempuan tiba-tiba mendekat ke meja mereka.

"Rangga?"

Rangga mengangkat kepala dan wajahnya berubah. Pucat.

Perempuan itu cantik rambut panjang bergelombang, gaun merah menyala, makeup sempurna.

"Dinda?" gumam Rangga pelan.

Akselia langsung tahu, ini mantan tunangan Rangga.

KONFRONTASI TAK TERDUGA

Dinda tersenyum, senyum yang tidak tulus. "Lama tidak ketemu. Kamu di Jakarta? Kukira kamu masih di Bandung."

"Iya ada urusan." Rangga terlihat sangat tidak nyaman.

Dinda melirik Akselia, tatapan menilai dari atas ke bawah. "Dan ini pacar barumu?"

"Aku Akselia." Akselia mengulurkan tangan tegas, tidak terintimidasi.

Dinda menjabat tangannya dengan malas. "Dinda. Mantan tunangannya." Dia menekankan kata 'tunangan' dengan sengaja.

"Dinda, kami sedang makan malam. Kalau kamu tidak keberatan..." Rangga mencoba sopan mengusir.

"Oh, tentu. Aku tidak akan ganggu kencan kalian." Dinda tersenyum lagi, kali ini lebih kejam. "Tapi Rangga hati-hati ya. Jangan sampai dia juga... kamu tahu lah kayak aku."

Kalimat itu seperti tamparan.

Rangga berdiri cepat. "Dinda, cukup."

"Apa? Aku cuma ngingetin." Dinda mengangkat bahu tidak peduli. "Bye, Rangga. Semoga hubungan kalian lebih awet dari kita."

Dia pergi dengan langkah anggun, meninggalkan keheningan canggung di meja.

Rangga duduk kembali, wajahnya merah campuran malu dan marah. "Akselia, maaf. Aku tidak tahu dia akan ada di sini..."

"Tidak apa-apa." Akselia mencoba terlihat tenang, tapi hatinya tidak tenang. "Itu... itu tunanganmu yang kamu cerita?"

"Ya. Dia yang selingkuh dengan sahabatku." Rangga menghela napas frustasi. "Aku tidak tahu dia di Jakarta. Terakhir kudengar dia di Bali."

Akselia mengangguk, tapi pikirannya kacau. Dinda cantik. Sangat cantik. Dan cara dia menatap Rangga tadi seperti masih ada sesuatu di sana.

Apa Rangga benar-benar sudah move on? Atau dia masih punya perasaan pada Dinda?

Sisa makan malam jadi canggung. Mereka mencoba melanjutkan percakapan, tapi kehadiran Dinda seperti bayangan yang menggantung di antara mereka.

***

DI MOBIL - PULANG

Perjalanan pulang hening. Rangga fokus menyetir, sesekali melirik Akselia yang menatap keluar jendela.

"Akselia," panggilnya pelan. "Aku tahu kencan ini jadi kacau. Maaf."

"Bukan salahmu. Kamu tidak bisa kontrol siapa yang ada di restoran."

"Tapi tetap ini kencan pertama kita dan..." Rangga menghela napas, "...jadi tidak sempurna gara-gara dia."

Akselia menoleh. "Rangga, boleh aku tanya sesuatu?"

"Apa saja."

"Kamu, apakah masih punya perasaan sama Dinda?"

Rangga langsung injak rem, mobil berhenti mendadak di pinggir jalan. Dia menatap Akselia dengan tatapan tidak percaya.

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Tapi dia cantik. Dan cara dia menatapmu..."

"Akselia." Rangga melepas sabuk pengaman, menghadap Akselia sepenuhnya. "Dengarkan aku. Dinda itu masa lalu. Masa lalu yang menyakitkan yang sudah aku tinggalkan. Kalau aku masih punya perasaan padanya, aku tidak akan pernah konfesi ke kamu. Aku tidak akan ajak kamu kencan."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi." Rangga menggenggam tangan Akselia lembut. "Kamu yang aku mau. Bukan dia. Bukan siapa pun. Cuma kamu."

Akselia menatap mata Rangga, mencari kebohongan. Tapi yang dia lihat hanya ketulusan.

"Oke," katanya pelan. "Aku percaya."

Rangga tersenyum lega, mengecup punggung tangan Akselia sekilas sangat lembut, penuh hormat. "Terima kasih."

***

DEPAN APARTEMEN AKSELIA

Rangga mengantar sampai depan pintu apartemen.

"Maaf kencan pertama kita tidak sempurna," katanya sambil berdiri di hadapan Akselia.

"Tidak ada kencan yang sempurna." Akselia tersenyum. "Dan meski ada drama Dinda, aku tetap senang. Senang ngobrol denganmu. Senang lihat kamu gugup pesan makanan." Dia tertawa mengingat Rangga yang salah sebut menu berkali-kali karena gugup.

Rangga ikut tertawa. "Aku memang gugup. Ini kencan pertamaku setelah tiga tahun."

"Sama. Ini kencan pertamaku setelah... setelah semuanya."

Mereka saling pandang dan ada momen hening yang penuh arti.

Rangga melangkah sedikit lebih dekat. "Boleh aku..."

"Belum." Akselia meletakkan jari di bibir Rangga, menghentikannya. "Pelan-pelan, ingat?"

Rangga tersenyum, senyum yang penuh pengertian. "Pelan-pelan. Aku ingat."

"Tapi..." Akselia berjinjit sedikit, mengecup pipi Rangga cepat, "...terima kasih untuk malam ini."

Rangga terdiam, menyentuh pipinya yang baru dicium, lalu tersenyum lebar. "Itu... itu lebih dari cukup."

Akselia masuk ke apartemen dengan senyum di wajah dan untuk pertama kalinya, dia yakin dia membuat keputusan yang benar.

1
N Wage
kok 5 tahun yg lalu sih Thor,umur Aksa sj 5 THN + masa hamil+menikah setelah 2 THN kejadian yg menyakitkan bagi akkselia itu.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
Asyatun 1
keren banget thoor
Lienaa Likethisyow
terimakasih atas ceritanya thor..goodjob👍👍👍..tetap semangat💪💪💪/Heart//Heart/
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Arin
/Heart/
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Nada She Embun
puas banget Thor... makasih atas cerita yg terbaik inii😍
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Erchapram
Masih ada extra part, ditunggu ya... Terima kasih.
Nada She Embun
happy ending.. 😭.. makasih Thor... 😍
Nada She Embun: mantap thorr
total 2 replies
Nada She Embun
soo sweet.. 😍
Dew666
☀️☀️☀️☀️☀️
Nada She Embun
lebih baik d cintai.... kamu akan belajar menumbuhkan cinta juga... 💜
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ealahhh, gak boleh rangga nyium tapi dia yg nyosor, 🤭🤭🤭
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
Erchapram: Wkwwkwk... malu malu meong 🤣🤣🤣
total 1 replies
mini
tapi Kevin ktemu akselia dalam keadaan yang tidak sehebat sekarang dr awal dia udah cinta, cuma emang Krn redfleg, tapi skrg kan dia udh sadar😁✌️
Dew666
💜💜💜💜
vj'z tri
pelan pelan sajaaaaaaaa 🎉🎉🎉
Lienaa Likethisyow
mosok karo rangga to thor???/Speechless//Speechless/
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
Lienaa Likethisyow: wes manut njenengan ae thor🤭🤭🤣🤣
total 2 replies
N Wage
seru sekali...sampai nahan nafas😁
semangat❤️
Asyatun 1
lanjut
Lienaa Likethisyow
aq merasa ada diantara penonton yg bersorak bahagia dan menangis bahagia karenamu Akselia👍👍👍...selamat Akselia jadi juara dalam hidup dan ring..💪💪💪tetap semangat thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!