NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seseorang Yang Datang Tanpa Rencana

Hujan turun tanpa aba-aba.

Tadinya langit hanya mendung tipis, seperti menahan sesuatu. Tapi dalam hitungan menit, tetesan air mulai jatuh satu per satu, lalu berubah menjadi deras. Aku yang baru saja keluar dari taman hanya bisa berdiri kaku di bawah atap halte kecil, menatap jalanan yang mulai basah.

Aku selalu benci hujan.

Bukan karena dingin atau ribet, tapi karena hujan selalu datang saat pikiranku sedang penuh. Seolah dunia sengaja ikut menambah berat.

Di halte itu, hanya ada aku dan satu orang lain.

Seorang perempuan duduk di bangku ujung, memegang buku yang sampulnya sudah agak basah. Rambutnya sedikit acak karena angin, dan ia terlihat sibuk mengelap kacamata dengan ujung bajunya.

Aku tidak berniat memperhatikannya, sungguh.

Tapi entah kenapa, ada rasa familiar yang aneh.

Mungkin karena cara dia menatap hujan.

Kosong, tapi bukan kosong yang tenang—lebih seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu, tapi tidak tahu apa.

“Kalau hujannya tambah deras, kayaknya kita bakal lama di sini,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Aku agak kaget.

“Sepertinya iya,” jawabku singkat.

Kami terdiam lagi.

Hanya suara hujan yang mengisi jarak.

“Biasanya orang senang hujan,” lanjutnya pelan.

“Katanya romantis.”

Aku tertawa kecil, tanpa sadar.

“Kalau di film mungkin. Di dunia nyata, hujan lebih sering bikin orang kejebak.”

Dia tersenyum tipis, akhirnya menoleh ke arahku.

“Iya juga.”

Senyumnya tidak lebar, tapi cukup membuat sesuatu di dadaku terasa… bergerak. Bukan perasaan aneh, lebih seperti ingatan yang disentuh pelan.

Aku kembali menatap jalan.

Entah kenapa, berbicara dengan orang asing terasa lebih mudah. Tidak ada beban masa lalu, tidak ada ekspektasi. Hanya dua orang yang kebetulan terjebak di tempat yang sama.

“Kamu sering ke taman itu?” tanyanya.

“Yang di seberang.”

Aku mengangguk.

“Lumayan. Tempatnya sepi.”

“Pantes,” katanya sambil menghela napas kecil.

“Aku juga ke sana kalau lagi pengen mikir.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi rasanya seperti seseorang membaca pikiranku.

Kami tidak saling memperkenalkan nama.

Aneh, tapi tidak terasa perlu.

Aku menatap genangan air di jalan, lalu berkata tanpa benar-benar merencanakan,

“Ada orang yang kamu pikirkan setiap ke sana?”

Dia terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa kecil, kali ini lebih pahit.

“Ada,” jawabnya jujur.

“Tapi aku capek mikirin orang yang bahkan mungkin sudah lupa aku.”

Aku menelan ludah.

Kalimat itu terlalu dekat dengan perasaanku sendiri.

Aku ingin bilang aku juga, tapi tidak keluar.

Sebaliknya, aku hanya mengangguk.

“Kadang kita nggak benar-benar kangen orangnya,” lanjutnya.

“Kita cuma kangen versi diri kita waktu masih sama dia.”

Aku menoleh cepat ke arahnya.

Dia tidak sedang menatapku.

Matanya fokus ke hujan, tapi kata-katanya terasa seperti ditujukan langsung ke dalam kepalaku.

Aku tersenyum kecil.

“Aneh ya. Kita bisa ngerti perasaan orang lain, tapi sering nggak ngerti perasaan sendiri.”

Dia tertawa pelan.

“Karena perasaan sendiri terlalu dekat buat dilihat dengan jelas.”

Hujan mulai mereda.

Pelan-pelan, kendaraan kembali lewat.

Aku sadar, sebentar lagi kami akan pergi ke arah masing-masing, kembali menjadi orang asing. Dan entah kenapa, ada sedikit rasa sayang yang muncul dari kemungkinan itu.

“Aneh ya,” kataku.

“Kita nggak saling kenal, tapi bisa ngobrol kayak gini.”

Dia berdiri, merapikan bukunya.

“Mungkin karena kita sama-sama nggak perlu berpura-pura di depan orang asing.”

Aku ikut berdiri.

“Semoga pikiranmu di taman nanti nggak terlalu berat,” katanya sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum.

“Semoga orang yang kamu pikirkan juga, suatu hari, benar-benar selesai.”

Dia terdiam sebentar.

Lalu mengangguk pelan.

Kami berpisah tanpa nama.

Tanpa janji bertemu lagi.

Aku melangkah pergi dengan perasaan aneh di dada.

Bukan jatuh cinta. Bukan bahagia. Tapi seperti baru saja diingatkan bahwa di luar pikiranku yang penuh luka, masih ada dunia yang bergerak, masih ada orang-orang yang membawa cerita masing-masing.

Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak langsung memikirkan dia.

Aku justru memikirkan satu hal sederhana:

Mungkin penyembuhan tidak selalu datang dari orang yang kita tunggu,

tapi dari orang asing yang datang tanpa rencana, lalu pergi tanpa luka.

Dan entah kenapa,

itu terasa… sedikit melegakan.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!