"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Elio yang Tega
"Papa pulang!"
Teriakan Cayvion menggema di ruang tengah Mansion Alger yang hening.
Biasanya, jam segini rumah kosong karena anak-anak tidur siang atau main di taman belakang. Tapi hari ini, Cayvion sengaja pulang jam tiga sore. Dia kabur dari kantor yang sudah seperti kapal pecah tanpa nakhoda (dan tanpa sekretaris).
Di tangannya, Cayvion membawa dua kotak besar yang dibungkus kertas kado emas mengkilap. Kotak-kotak itu berat, mahal, dan dijamin ampuh meluluhkan hati siapa pun.
Di karpet berbulu tebal di Zona Hijau, Elio dan Elia sedang duduk. Elia sedang mewarnai buku gambar dengan krayon, sementara Elio sedang menyusun kartu remi menjadi menara tinggi. Hara duduk di sofa dekat mereka, membaca majalah dengan wajah pucat (akting sakitnya masih on point), mengabaikan kedatangan suaminya.
"Lihat Papa bawa apa!" seru Cayvion antusias, berusaha memecahkan es yang membekukan atmosfer rumah. Dia meletakkan dua kotak itu di depan anak-anak.
"Ini buat Tuan Putri Elia," Cayvion menunjuk kotak paling besar. "Boneka beruang Teddy asli dari Inggris. Bulunya lembut, bisa nyanyi, dan matanya dari kancing kristal."
Mata Elia langsung membulat. Krayon di tangannya jatuh. Naluri balitanya bergejolak. Boneka itu besar sekali, mungkin lebih besar dari badannya.
"Dan ini buat Jagoan Papa, Elio," lanjut Cayvion, menepuk kotak yang satu lagi. "Robot Mecha-Z edisi terbatas. Bisa terbang, ada kameranya, dikontrol pakai suara. Papa harus telepon importir khusus buat dapat ini hari ini juga."
Hening sejenak.
Elia menatap kotak boneka itu dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan. Dia perlahan bangkit dari duduknya. Tangan mungilnya terulur ingin menyentuh pita emas di kotak itu.
"Boneka..." gumam Elia tergoda. "Boleh buat Elia, Pa?"
"Boleh dong, Sayang," Cayvion tersenyum lebar, merasa strateginya berhasil. "Ini hadiah ulang tahun kalian yang telat. Papa minta maaf ya soal kemarin. Papa sibuk kerja buat beli ini."
Elia maju selangkah lagi. Senyum Cayvion makin lebar. Mudah, pikirnya. Semua masalah ada harganya.
"Berhenti."
Satu kata itu meluncur dingin dari mulut Elio.
Elia langsung berhenti mendadak, tangannya menggantung di udara. Dia menoleh takut-takut ke arah kakaknya.
Elio tidak melihat ke arah mainan robot canggih di depannya. Dia juga tidak melihat ke arah Cayvion. Dia masih fokus menyusun kartu remi terakhir di puncak menaranya dengan tangan yang stabil.
"Jangan diterima, Elia," kata Elio datar tanpa menoleh.
"Ta-tapi Elio... itu bonekanya lucu..." cicit Elia, matanya masih melirik boneka itu dengan penuh keinginan.
"Itu bukan hadiah," Elio akhirnya menoleh, menatap adiknya tajam. "Itu sogokan. Upeti damai. Kayak di film-film."
"Sogokan?" Elia bingung.
"Papa pikir harga diri kita murah," Elio berdiri, menepuk lututnya. Dia berjalan mendekati kotak robot mahalnya, lalu menendangnya pelan dengan ujung kaki. "Papa pikir janji yang diingkari bisa lunas cuma dibayar pakai plastik mahal ini. Kalau kamu terima boneka itu, berarti kamu setuju kalau Papa boleh bohongin kita lagi kapan-kapan, asal nanti dibeliin mainan. Dari dulu Mami selalu ajarin kita untuk nggak terima sogokan dari siapapun, Elia. Ingat harga diri. Kamu lupa?"
Cayvion ternganga. Senyum di wajahnya lenyap seketika. Dia menatap putranya dengan tak percaya.
"Elio, Papa tidak bermaksud begitu," sanggah Cayvion cepat. Dia berlutut agar sejajar dengan anaknya. "Ini bukan sogokan. Ini tanda sayang Papa. Papa benar-benar menyesal soal kemarin."
"Kalau Papa menyesal, Papa harusnya datang dan minta maaf. Bukan ngasih barang," potong Elio tajam.
Elio menarik tangan Elia yang masih ragu-ragu. "Mundur, Elia. Kita punya harga diri. Kita nggak bisa dibayar pakai boneka."
Elia menatap boneka itu sekali lagi dengan tatapan sedih, lalu menatap wajah kakaknya yang serius. Akhirnya, Elia menarik tangannya kembali. Dia mundur dan bersembunyi di belakang punggung Elio.
"Nggak mau," kata Elia pelan pada Cayvion. "Elia nggak mau boneka Papa. Elia mau Papa yang kemarin janji jemput, tapi nggak datang."
Cayvion merasa dadanya sesak. Ditolak klien sudah biasa. Ditolak investor sering. Tapi ditolak anak sendiri saat dia sudah berusaha keras? Rasanya seperti ditinju tepat di ulu hati.
"Dengar, Nak," Cayvion mencoba menggunakan logika, senjata andalannya. "Papa itu CEO. Papa punya ribuan karyawan yang nasibnya tergantung sama Papa. Kemarin itu ada rapat darurat. Papa lupa waktu karena saking banyaknya pekerjaan. Itu manusiawi, kan? Papa cuma lupa."
Elio menggeleng pelan. Tatapannya menembus pertahanan Cayvion. Tatapan itu terlalu dewasa untuk bocah lima tahun.
"Papa salah," kata Elio.
Bocah itu maju selangkah, menatap lurus ke manik mata ayahnya.
"Papa bukan lupa. Papa cuma nggak utamain kita. Itu beda. Kita nggak penting bagi Papa"
JLEB.
Kalimat itu menghantam Cayvion telak. Lebih sakit daripada saat dia menginjak LEGO tengah malam.
"Kalau Papa lupa napas, Papa mati. Papa nggak pernah lupa napas, kan? Karena napas itu penting," lanjut Elio dengan logika mematikan yang selalu diajarin maminya. "Papa nggak lupa rapat. Papa nggak lupa pakai dasi. Papa cuma lupa kita. Artinya, kita nggak penting buat Papa. Kita cuma pilihan cadangan kalau Papa lagi nggak sibuk."
Elio berbalik badan, menggandeng tangan Elia.
"Ayo Elia, kita main di kamar aja. Di sini bau plastik mahal tapi nggak ada gunanya."
Si kembar berjalan pergi menaiki tangga. Hara, yang sejak tadi hanya diam menonton dari sofa, akhirnya menutup majalahnya.
Dia menatap suaminya yang masih berlutut kaku di depan dua kotak kado yang kini terasa seperti sampah tak berharga.
"Skakmat, Pak," ujar Hara pelan, lalu berdiri dan menyusul anak-anaknya ke atas.
Cayvion ditinggal sendirian di ruang tengah yang luas dan mewah itu. Dia menatap robot canggih dan boneka beruang itu. Uang puluhan juta yang dia gesekkan tadi pagi terasa sia-sia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan untung-rugi, Cayvion Alger menyadari satu hal yang menakutkan:
Logika bisnis tidak laku di rumah ini. Uang tidak bisa membeli maaf. Dan dia baru saja kalah telak dari bocah lima tahun yang lebih paham arti prioritas daripada dirinya.
Hara benar-benar mengerikan mendidik anaknya.
Cayvion mengacak rambutnya frustrasi.
"Sialan," gumamnya pada kesunyian rumah. "Aku harus putar otak. Cara biasa nggak akan mempan."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri