Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Rumah itu berubah sunyi setelah Magrib.
Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang baru. Sunyi yang belum terbiasa dengan status baru dua orang di dalamnya.
Sah.
Satu kata itu seperti menggantung di udara, tidak diucapkan, tapi terasa validasinya di setiap sudut rumah.
Widari berdiri di dekat pintu, merapikan selendang di bahunya. Adam sudah lebih dulu mengenakan sepatu, wajahnya tampak puas dengan caranya sendiri, bukan puas karena segalanya sempurna, tapi karena tahu tanggung jawab kini sudah berpindah tangan.
“Kalau begitu, Nenek dan Kakek pulang,” ujar Widari lembut
Senja yang sejak tadi duduk tegak di sofa, langsung berdiri. Gerakannya refleks karena gugup.
“Sekarang, Nek?”
Widari tersenyum, binar matanya hangat. “Iya. Kalian sudah sah. Tidak perlu ditemani lagi.”
Kalimat itu sederhana, tapi Senja merasa pipinya langsung menghangat.
Adam terkekeh kecil. “Kalau kami masih tinggal, nanti malah mengganggu pengantin baru.”
Pipi yang menghangat seketika memerah. Ia melirik sekilas Sagara yang justru tampak tenang, di balik telingannya yang memerah.
“Nek... Kek...” Senja menggigit bibirnya, ragu. “Terima kasih…”
Widari merapikan sedikit rambut Senja yang terlepas. Gerakannya pelan, seperti ibu yang tidak ingin membuat anaknya terkejut. “Sekarang kamu bukan hanya aman. Kamu di rumahmu sendiri. Kalau capek, bilang. Kalau takut, bilang. Kamu sekarang tidak sendirian," tuturnya.
"Iya, Nek."
Adam tersenyum tipis. “Dan jangan lupa,” katanya pada Sagara, “istri itu bukan proyek penelitian. Jangan dianalisis berlebihan.”
Sagara menatap kakeknya. “Aku tahu.”
Adam menepuk bahu Sagara satu kali. “Jaga baik-baik.”
Sagara mengangguk. Tidak banyak kata. Tapi sorot matanya tegas, penuh makna.
“Bagus. Jangan bikin Nenekmu ini kembali lagi besok pagi.”
Widari mencubit lengan Adam. “Ayo.”
Pintu tertutup. Suara mobil menjauh.
Mobil Adam dan Widari akhirnya keluar dari halaman. Suara mesinnya menjauh perlahan, meninggalkan dua orang dewasa yang tiba-tiba merasa… canggung.
Sunyi kembali turun.
Senja berdiri di ruang tengah, tangannya saling meremas. Ia menoleh ke Sagara, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Status barunya sebagai seorang istri terasa asing di benaknya sendiri.
Sagara berdiri tak jauh darinya. Ia membuka kancing pergelangan kemejanya, satu kebiasaan kecil setiap kali pikirannya sedang bekerja keras.
“Kamu…” katanya akhirnya. “Sudah capek?”
Senja mengangguk cepat. “Sedikit.”
“Bibi sudah membersihkan kamar,” lanjut Sagara. “Kalau kamu mau istirahat.” Kalimatnya datar. Terlalu datar untuk seseorang yang barusan menikah.
Senja melangkah pelan ke arah kamar yang sejak beberapa hari terakhir ditempatinya. Di depan pintu, ia berhenti. Menarik napas. Lalu berbalik, hingga keduanya saling berhadapan dalam ruang jarak yang lebih tipis dari sebelum menikah.
Senja mendongak ragu, mensejajarkan pandangan dengan Sagara yang menjulang tinggi di depannya. “Om…”
“Ya?”
Senja menunduk, entah mengapa malam ini ia merasa sorot mata Sagara lebih dalam dari sebelumnya.
“Malam ini…” Ia terjeda, menelan ludah. “Om… tidur di mana?” Suaranya lebih pelan.
Pertanyaan itu polos, terlampau jujur, tanpa maksud menggoda. Namun, sukses membuat Sagara terdiam satu detik lebih lama. Di kepalanya, berbagai kemungkinan melintas. Ia menatap Senja gadis muda itu yang kini sudah menjadi istrinya dengan mata yang tenang di luar, tapi penuh tarik-ulur di dalam.
“Aku di kamar sebelah," jawabnya dengan tenang.
“Oh.” Senja mengangguk cepat. Lalu, dengan wajah polosnya, ia bertanya, “Berarti… Om tidak sekamar denganku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa niat apa pun, tapi efeknya membuat Sagara sedikit kesulitan menarik napas.
“Iya,” jawabnya tenang. “Belum.”
Senja mengangguk lagi. Lalu, setelah dua detik, ia bertanya dengan nada yang sama polosnya. “Aku kira sudah boleh... Kalau sudah menikah… bukannya biasanya sekamar?”
Sagara memalingkan wajah sebentar. Bukan karena malu, lebih karena menahan senyum yang hampir muncul. “Itu… bisa dibicarakan,” katanya akhirnya.
“Oh.” Senja menunduk. Pipinya hangat. “Aku cuma… bertanya.”
“Aku tahu.”
Senja mengangguk lagi. Kali ini lebih pelan. “Terima kasih.”
“Kalau butuh apa pun,” tambah Sagara, “pintu kamarku tidak terkunci.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat jantung Senja berdebar tidak karuan.
Sagara berbalik, berjalan menuju kamarnya sendiri. Langkahnya mantap, terlihat tenang.
Senja langsung masuk kamar, lalu bersandar pada pintu yang tertutup. Tangannya menekan dada yang berdebar tak karuan. Ia menarik napas panjang.
Istri.
Satu kata itu berputar-putar di kepalanya. Statusnya sah. Tidak ada lagi batas hukum. Segala bentuk sentuhan tidak akan dilarang. Sagara berhak atas dirinya. Dan justru karena itu, semuanya terasa lebih besar.
Pandangannya jatuh ke ranjang. Pikirannya tiba-tiba terbang sembarangan, membayangkan satu kemungkinan yang umumnya terjadi dalam pernikahan. Ia segera menyetuh pipinya yang memerah.
"Kalau Om memintanya, aku harus apa?"
Di kamar sebelah, Sagara menutup pintu dengan pelan. Ia bersandar sesaat, menunduk. Pikirannya melayang. Bayangan yang tidak ia undang, tapi datang begitu saja.
Malam itu. Kulit Senja yang hangat. Tubuh polos yang mempercayakan dirinya tanpa banyak kata. Napas terengah, genggaman, pencapaian puncak nikmat yang membuat dunia seolah berhenti.
Tubuh refleks Sagara menegang. Ia menghembuskan napas keras.
“Tidak,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Ia berhak. Ia lelaki dewasa, sehat, normal.
Tapi tanggung jawab bukan soal apa yang boleh, melainkan apa yang dipilih untuk ditahan.
Ia membuka kancing kerah, menuang segelas air, meminumnya sampai habis, menenangkan diri. Kemudian menuju kamar mandi, dia butuh air dingin untuk mengusir denyutan di tubuhnya.
Di kamar Senja, gadis itu berganti pakaian tidur dengan tangan sedikit gemetar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lampu tidur yang redup.
Sunyi terasa berbeda sekarang. Tidak menakutkan. Tidak juga kosong.
Ia berbaring, menarik selimut sampai dada.
Di kepalanya, wajah Sagara muncul. Bukan sebagai pria yang menuntut, tapi pria yang menahan diri. Dan entah kenapa, itu membuat dadanya terasa hangat.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.
Senja duduk tegak. “I-iya?”
Pintu terbuka sedikit. Sagara berdiri di sana, membawa segelas susu hangat. “Kamu belum minum,” katanya singkat.
“Oh.” Senja menerima gelas itu dengan dua tangan. “Terima kasih, Om.”
“Habis itu tidur.”
“Iya.”
Sagara hendak berbalik, lalu berhenti. “Senja.”
“Ya?”
“Kalau kamu sulit tidur… tidak apa-apa.”
Kalimatnya menggantung. Tidak dijelaskan lebih jauh. Tidak perlu, karena gadis itu paham.
Senja mengangguk kecil, lalu berkata pelan. “Kalau Om juga tidak bisa tidur... aku juga tidak apa-apa.” Ia menunduk, jemarinya meremas ujung selimut. "Kamarku tidak terkunci."
Sagara mengangguk, lalu menutup pintu pelan.
Malam ini, dua pintu tertutup rapat. Dua hati berdebar di ruangan berbeda.
Sah, tanpa bersentuhan. Dekat, tanpa tergesa. Tidak ada janji berlebihan. Pernikahan mereka tidak dimulai dengan tuntutan, melainkan dengan kesabaran.
Bersambung~~
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..