NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Reuni yang Menyakitkan Mata

​Pagi itu dimulai dengan kecanggunggan yang manis di kediaman Adhitama.

​Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai, jatuh tepat di atas ranjang besar tempat dua manusia itu terlelap. Nala membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia sadari adalah aroma musk dan tembakau yang samar. Itu aroma tubuh Raga.

​Nala menahan napas saat menyadari posisinya. Ia tidur di sisi kiri kasur, sementara Raga di sisi kanan. Jarak di antara mereka cukup jauh, bisa memuat dua orang lagi, tetapi fakta bahwa mereka berbagi selimut yang sama membuat jantung Nala berdebar kencang. Ia menoleh perlahan. Sisi kasur Raga sudah kosong. Seprainya dingin, menandakan pria itu sudah bangun sejak lama.

​Nala menghela napas lega sekaligus sedikit kecewa. Ia bangkit dan merapikan tempat tidur itu, sebuah kebiasaan lama yang sulit hilang meski kini ia adalah nyonya rumah.

​Saat ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun rumah berbahan sutra berwarna biru laut, ia melihat Raga sudah duduk di sofa dekat jendela. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran pagi. Topeng peraknya sudah terpasang sempurna, menutupi wajah kirinya, menciptakan dinding pembatas yang ia bangun setiap pagi.

​"Selamat pagi, Tuan," sapa Nala sopan.

​Raga menurunkan korannya sedikit. "Pagi. Ada undangan untukmu di meja itu."

​Nala mengerutkan kening. Ia berjalan menuju meja nakas yang ditunjuk Raga. Di sana tergeletak sebuah amplop berwarna merah muda norak dengan aroma parfum menyengat yang sangat ia kenal.

​Itu surat dari Nyonya Siska.

​Tangan Nala sedikit gemetar saat membuka amplop itu. Isinya singkat dan bernada memerintah.

​Nala, datanglah ke rumah siang ini untuk acara minum teh. Ayahmu ingin tahu kabar pernikahanmu. Jangan lupa bawa uang, perusahaan sedang butuh suntikan dana. Datang sendiri saja, jangan bawa suamimu yang menakutkan itu.

​Nala meremas kertas itu. Perasaan mual tiba-tiba menyerang perutnya. Baru tiga hari ia pergi, mereka sudah menagih uang. Dan kalimat terakhir itu benar-benar menghina Raga.

​"Ada apa?" tanya Raga datar. Ia tidak menoleh, tapi telinganya tajam menangkap suara kertas yang diremas.

​Nala buru-buru menyembunyikan surat itu di balik punggungnya. "Bukan apa-apa, Tuan. Hanya surat dari Ibu Siska. Mereka meminta saya datang berkunjung siang ini."

​"Kau mau pergi?" tanya Raga lagi.

​"Saya harus pergi. Kalau tidak, mereka akan terus meneror lewat telepon atau bahkan datang ke sini membuat keributan," jawab Nala pelan. Ia menunduk, menatap lantai karpet yang bermotif rumit. "Saya akan pergi sendiri naik taksi."

​Hening sejenak di ruangan itu. Hanya suara denting cangkir kopi Raga yang diletakkan kembali ke tatakannya.

​"Siapkan bajumu yang paling mahal," perintah Raga tiba-tiba.

​Nala mendongak bingung. "Maaf?"

​"Aku akan menemanimu," ucap Raga santai, seolah ia baru saja memutuskan menu makan siang dan bukan memutuskan untuk keluar dari pertapaannya.

​"Tapi Tuan, di surat ini mereka bilang..." Nala ragu untuk melanjutkan.

​"Mereka bilang jangan bawa monster ini?" potong Raga dengan senyum sinis di sudut bibirnya.

​Nala terdiam, wajahnya pucat. Raga ternyata tahu isi surat itu tanpa perlu membacanya.

​"Justru karena itu aku akan datang," lanjut Raga. Ia memutar kursi rodanya mendekati Nala. Tatapan matanya tajam dan berkilat jenaka namun berbahaya. "Aku ingin melihat wajah mereka saat melihatmu datang bukan sebagai pembantu yang menyedihkan, tapi sebagai istri Raga Adhitama. Kita akan beri mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

​Siang harinya, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Aristha.

​Kehadiran mobil mewah yang harganya belasan miliar rupiah itu langsung menarik perhatian para tetangga. Satpam rumah Aristha yang biasanya tertidur di pos jaga langsung melompat bangun dan membukakan gerbang dengan gugup, mengira ada pejabat negara yang datang berkunjung.

​Di dalam mobil, Nala meremas tangannya yang berkeringat dingin.

​"Tenanglah," suara berat Raga terdengar di sampingnya. "Kau gemetar seperti daun tertiup angin."

​Nala menoleh. Raga duduk dengan tenang di sebelahnya. Pria itu mengenakan setelan jas formal berwarna biru tua yang dijahit khusus, membuatnya terlihat sangat berwibawa dan mengintimidasi. Topeng peraknya berkilau terkena pantulan cahaya matahari.

​"Saya takut, Tuan. Saya tidak pernah kembali ke rumah ini sebagai tamu," aku Nala jujur. "Selama ini saya hanya diperlakukan sebagai barang yang tidak diinginkan."

​Raga mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit. Ia tidak menggenggam tangan Nala, melainkan hanya menepuk punggung tangan gadis itu pelan. Sentuhan itu terasa aneh, kaku, tapi menenangkan.

​"Mulai detik ini, kau bukan lagi barang. Kau adalah milikku. Dan tidak ada orang yang boleh merusak milikku," ucap Raga tegas.

​Pintu mobil dibuka oleh sopir pribadi Raga.

​Nala turun lebih dulu. Penampilannya hari ini benar-benar memukau. Ia mengenakan dress selutut berwarna putih gading dengan potongan elegan yang memperlihatkan leher jenjangnya. Kakinya dibalut sepatu hak tinggi Christian Louboutin dengan sol merah yang ikonik, dan sebuah tas tangan Hermes kecil menggelantung anggun di lengannya. Rambutnya digerai indah bergelombang, dan wajahnya dipoles makeup natural yang membuatnya terlihat segar dan berkelas.

​Ia bukan lagi Nala si upik abu. Ia terlihat seperti putri bangsawan yang tak tersentuh.

​Para pelayan rumah Aristha yang mengintip dari jendela dapur ternganga tak percaya. Mereka nyaris tidak mengenali gadis yang tiga hari lalu masih mencuci piring di dapur belakang dengan baju lusuh itu.

​Sopir kemudian membantu mengeluarkan kursi roda Raga dan membantu tuannya turun. Raga duduk tegak di kursi rodanya, memancarkan aura dominasi yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.

​"Ayo," ajak Raga singkat.

​Mereka berjalan menuju pintu utama. Pintu itu terbuka lebar. Tuan Bramantyo, Nyonya Siska, dan Bella sudah berdiri di sana menyambut. Awalnya wajah mereka penuh senyum palsu, mengira Nala datang membawa cek uang yang tebal. Namun senyum itu luntur seketika saat melihat siapa yang datang bersama Nala.

​Wajah Bramantyo memucat. Nyonya Siska mundur selangkah dengan mata melotot. Dan Bella... mata gadis itu membelalak lebar, menatap Nala dengan campuran rasa iri dan tak percaya.

​"Selamat siang, Ayah, Ibu," sapa Nala dengan suara tenang yang baru ia pelajari dari Raga.

​"Tuan Raga..." sapa Bramantyo terbata-bata, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Ka-kami tidak menyangka Anda akan ikut datang. Kami kira... Nala datang sendiri."

​"Istri saya bilang dia merindukan rumah lamanya. Sebagai suami yang baik, tentu saya harus menemaninya," jawab Raga datar. Suaranya bergema di teras rumah itu, dingin dan tajam seperti silet.

​Bella tidak bisa melepaskan pandangannya dari penampilan Nala. Gaun itu, sepatu itu, tas itu... Bella tahu persis berapa harganya karena ia sering melihatnya di majalah fashion. Itu adalah barang-barang yang selama ini Bella impikan tapi tidak dibelikan ayahnya karena perusahaan sedang krisis. Bagaimana bisa Nala memilikinya hanya dalam tiga hari?

​Dan pria di kursi roda itu... Bella melirik Raga. Memang topengnya menyeramkan, dan kakinya lumpuh. Tapi aura kekayaan dan kekuasaan yang menguar darinya begitu kuat. Raga terlihat jauh lebih tampan dan powerful daripada rumor yang beredar. Tidak ada air liur yang menetes atau tingkah gila seperti yang digosipkan orang. Dia terlihat seperti raja kegelapan.

​"Mari... silakan masuk," ajak Nyonya Siska, berusaha mengembalikan ketenangannya meski tangannya gemetar.

​Mereka duduk di ruang tamu. Suasananya sangat canggung. Nala duduk di samping Raga, sementara keluarga Aristha duduk di sofa seberang.

​"Nala, buatkan kopi untuk Ayahmu dan Tuan Raga. Kau tahu takarannya kan?" perintah Nyonya Siska tiba-tiba, kebiasaan lamanya muncul begitu saja karena gugup.

​Nala secara refleks hendak berdiri. Kebiasaan dua puluh satu tahun menjadi pelayan di rumah ini tidak bisa hilang dalam semalam. Tubuhnya bergerak otomatis mendengar perintah itu.

​Namun, sebuah tangan menahan lengannya.

​Raga menahan Nala agar tetap duduk. Cengkeramannya lembut namun menahan.

​"Maaf, Nyonya Siska," ucap Raga pelan tapi penuh penekanan. "Sepertinya Anda salah paham. Istri saya datang ke sini sebagai tamu, bukan sebagai pelayan."

​Siska terdiam, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Ta-tapi Nala biasa melakukannya..."

​"Itu dulu," potong Raga tegas. "Sekarang, tangan istri saya terlalu berharga untuk menyeduh kopi di dapur yang sempit. Bukankah kalian punya banyak pelayan? Suruh mereka yang bekerja. Atau apakah keluarga Aristha sudah bangkrut sampai tidak mampu menggaji pelayan lagi?"

​Bramantyo buru-buru menengahi dengan tawa canggung. "Benar, benar. Biar pelayan saja. Nala, kau... kau terlihat sehat, Nak."

​"Saya baik-baik saja, Ayah," jawab Nala singkat.

​Suasana kembali hening. Mata Bella terus menatap kalung berlian kecil yang melingkar di leher Nala. Itu berlian asli. Kilauannya menyakitkan mata Bella.

​"Nala," kata Bella dengan nada sinis yang ditutup-tutupi tawa kecil. "Kau terlihat... berbeda. Pakai baju mahal begitu, apa kau tidak merasa seperti badut? Maksudku, kau kan tidak terbiasa pakai barang branded. Hati-hati, nanti tasnya lecet kalau kau bawanya sembarangan."

​Nala menatap kakaknya. Dulu, kata-kata seperti itu akan membuatnya menunduk malu dan merasa rendah diri. Tapi sekarang, ia merasa kasihan pada Bella. Bella terlihat menyedihkan dengan rasa irinya.

​"Terima kasih kekhawatirannya, Kak," jawab Nala tenang. "Tuan Raga yang membelikan semuanya. Beliau bilang, lecet sedikit tidak masalah, tinggal beli yang baru. Uang bukan masalah bagi suami saya."

​Rahang Bella mengeras. Ia merasa ditampar oleh kata-kata itu.

​"Ehem," Bramantyo berdeham keras, mencoba mengalihkan topik ke tujuan utamanya. "Begini Tuan Raga... kedatangan Nala ke sini sebenarnya kami harapkan bisa membawa kabar baik. Perusahaan kami sedang butuh dana cair untuk operasional bulan ini. Sesuai perjanjian pernikahan..."

​"Ah, uang," sela Raga, menyandarkan punggungnya ke kursi roda dengan santai. "Saya sudah transfer pelunasan hutang pokok kalian pagi ini. Silakan cek rekening perusahaan."

​Mata Bramantyo berbinar tamak. "Benarkah? Terima kasih, Tuan Muda! Terima kasih banyak!"

​"Tapi," lanjut Raga, membuat senyum Bramantyo membeku di wajahnya. "Itu adalah pembayaran terakhir."

​"Apa maksud Anda?" tanya Siska tajam.

​"Saya sudah melunasi hutang kalian. Saya sudah memberikan modal. Itu artinya, Nala sudah lunas," kata Raga dingin. Matanya menatap satu per satu anggota keluarga itu dengan tatapan membunuh. "Mulai hari ini, Nala tidak punya kewajiban apa pun lagi pada keluarga Aristha. Dia tidak perlu mengirim uang bulanan, dia tidak perlu datang kalau dia tidak mau, dan dia tidak perlu menuruti perintah kalian."

​"Tapi dia anak kami!" seru Siska tidak terima. "Darah daging kami!"

​"Dia adalah anak yang kalian jual," koreksi Raga kejam. "Dan saya adalah pembelinya. Jadi hak kepemilikan ada di tangan saya sepenuhnya. Kalian sudah menerima bayarannya, jadi berhentilah bersikap seolah kalian masih memilikinya."

​Raga menoleh pada Nala. Nala menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Raga akan memutus rantai yang membelenggunya secepat ini. Raga tidak hanya memberinya uang, tapi memberinya kebebasan dari rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.

​"Ayo pulang, Nala," ajak Raga. "Udara di sini terlalu pengap untukku. Bau keserakahan terlalu menyengat."

​Raga memutar kursi rodanya. Nala segera berdiri, siap mendorong suaminya.

​"Tunggu!" teriak Bella.

​Bella berdiri, berjalan mendekati Raga dengan langkah yang dibuat-buat. Ia memasang wajah paling manis yang ia punya, mengabaikan keberadaan Nala seolah adiknya itu transparan.

​"Tuan Raga..." ucap Bella dengan suara mendayu, mencoba menggoda. Tangannya menyentuh lengan jas Raga. "Saya Bella. Kakak Nala. Sebenarnya... sayalah tunangan Anda yang asli. Nala hanya menggantikan saya karena saya sakit kemarin. Saya rasa ada kesalahpahaman besar. Tidakkah Tuan ingin mengenal saya lebih jauh? Saya lulusan desain dari Paris, saya pintar, dan saya bisa membantu bisnis Tuan, tidak seperti Nala yang tidak lulus kuliah dan bodoh."

​Nala ternganga melihat keberanian kakaknya. Bella terang-terangan menggoda suaminya di depan matanya sendiri!

​Raga menghentikan kursi rodanya. Ia menatap tangan Bella yang menyentuh jasnya, lalu menatap wajah gadis itu. Tatapannya dingin, menusuk, dan penuh penilaian yang merendahkan.

​"Kau Bella Aristha?" tanya Raga.

​"Ya, Tuan," jawab Bella penuh harap, membusungkan dadanya, berpikir pesonanya berhasil.

​Raga mendengus jijik, lalu menepis tangan Bella dari lengannya seolah ada kotoran yang menempel di sana.

​"Aku sudah melihat fotomu di klub malam," ucap Raga tajam di depan wajah Bella. "Kau punya mata yang serakah dan jiwa yang kosong. Kau membuangku saat kau pikir aku sampah. Sekarang kau menginginkanku saat tahu aku punya emas. Wanita sepertimu... bahkan tidak pantas menjadi pelayan yang membersihkan roda kursiku."

​Wajah Bella memucat, lalu memerah padam. Air mata kemarahan dan rasa malu menggenang di matanya. Ia belum pernah dihina sedemikian rupa seumur hidupnya, apalagi di depan Nala.

​"Dan satu lagi," tambah Raga, suaranya lantang agar didengar Bramantyo dan Siska. "Nala mungkin tidak lulus kuliah, tapi dia memiliki kelas dan harga diri yang tidak akan pernah bisa kau beli dengan ijazah Parismu itu. Dia berlian yang kalian buang ke lumpur, dan sekarang dia milikku."

​Setelah mengatakan itu, Raga memberi isyarat pada Nala. "Jalan."

​Nala mendorong kursi roda Raga keluar dari rumah itu dengan kepala tegak. Ia tidak menoleh lagi ke belakang. Ia meninggalkan ayah yang tamak, ibu tiri yang jahat, dan kakak yang iri hati. Punggungnya terasa ringan, seolah beban ratusan kilo baru saja diangkat.

​Saat mereka sampai di mobil dan pintu tertutup, memisahkan mereka dari dunia luar, Nala akhirnya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

​Tangannya gemetar, tapi kali ini bukan karena takut. Melainkan karena rasa lega yang luar biasa.

​"Terima kasih, Tuan," bisik Nala tulus.

​Raga tidak menatapnya. Ia sibuk melepaskan sarung tangan kulitnya yang tadi disentuh Bella, seolah ingin membuangnya nanti.

​"Jangan berterima kasih. Aku hanya tidak suka melihat investasiku diganggu orang lain," jawab Raga dengan nada ketus seperti biasa.

​Tapi Nala melihatnya. Sudut bibir Raga terangkat sedikit, sangat tipis, membentuk senyum samar yang hanya muncul saat pria itu merasa puas.

​"Dan kau..." ucap Raga lagi, kali ini menoleh menatap Nala. "Tadi kau cukup berani di sana. Kau tidak menangis."

​"Saya belajar dari yang terbaik," jawab Nala berani.

​Raga mengangkat alisnya. "Siapa?"

​"Anda, Tuan. Anda mengajarkan saya bahwa rasa takut bisa membuat orang patuh, tapi harga diri membuat orang segan."

​Raga tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih lepas dari sebelumnya, bukan tawa mengejek, melainkan tawa penghargaan.

​"Kau belajar dengan cepat, Istri Kecil. Sangat cepat."

​Mobil itu melaju meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut, membawa Nala pergi dari masa lalunya yang kelam menuju masa depan yang masih penuh misteri. Di kejauhan, Nala melihat rumah masa kecilnya semakin mengecil di kaca spion, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan sakit hati. Ia merasakan kebebasan.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!