NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Retak Yang Tak Terduga (Bab Mira)

Kota itu menyambut Mira dengan hujan tipis.

Ia turun dari taksi sambil memeluk tasnya erat. Bangunan apartemen di depannya menjulang tinggi, sama seperti lima tahun lalu ketika ia pertama kali datang bersama suaminya, Rafi.

Bedanya sekarang…

Ia datang tanpa kabar.

Tanpa pemberitahuan.

Tanpa harapan berlebihan.

Hanya ingin memastikan sesuatu yang beberapa minggu terakhir mengganggu pikirannya.

Rafi berubah.

Telepon jarang diangkat.

Pesan dibalas singkat.

Suara selalu terburu-buru.

Awalnya Mira mencoba mengerti.

Kerja sibuk.

Tekanan tinggi.

Jarak memengaruhi perasaan.

Tapi naluri seorang istri… jarang salah.

Ia berdiri di depan pintu apartemen, tangannya sedikit gemetar saat menekan bel.

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu.

Menekan lagi.

Masih sunyi.

Mira mengeluarkan kunci cadangan yang dulu diberikan Rafi “untuk keadaan darurat”.

Tangannya berhenti di depan lubang kunci beberapa detik.

“Kalau aku salah…?” bisiknya pelan.

Lalu ia memutar kunci.

Pintu terbuka.

Aroma parfum asing langsung terasa.

Bukan aroma rumah.

Bukan aroma dirinya.

Suara tawa perempuan terdengar dari dalam.

Ringan. Manja. Terbiasa.

Langkah Mira terhenti di ruang tamu.

Tasnya jatuh pelan ke lantai.

Di sofa, Rafi duduk berdekatan dengan seorang wanita muda. Rambut panjang, pakaian santai, seolah tempat itu memang miliknya.

Rafi menoleh duluan.

Wajahnya pucat seketika.

“Mira…?”

Suara itu tidak terdengar seperti suara seseorang yang tidak bersalah.

Wanita di sampingnya ikut menoleh, lalu berdiri canggung. “Mas… ini siapa?”

Mira tidak menjawab.

Ia hanya menatap.

Lama.

Tidak marah.

Tidak menangis.

Hanya menatap.

“Sudah berapa lama?” tanyanya akhirnya, suaranya sangat pelan.

Rafi berdiri cepat. “Kamu salah paham—”

Mira menggeleng kecil. “Jangan bohong. Aku cuma tanya… sudah berapa lama?”

Sunyi.

Wanita itu mulai mundur perlahan. “Aku… aku pergi dulu…”

Rafi tidak menahannya.

Pintu tertutup.

Dan ruangan itu menyisakan dua orang yang pernah saling percaya sepenuhnya.

Mira berjalan pelan ke meja makan. Ia melihat dua cangkir kopi. Dua piring.

Hidup yang berjalan tanpa dirinya.

“Kamu bilang kamu sibuk kerja,” katanya lirih.

Rafi mencoba mendekat. “Mira, dengar dulu—”

Mira mengangkat tangan pelan. “Jangan sentuh aku.”

Itu pertama kalinya suaranya terdengar tegas.

“Kapan kamu mulai bosan?” tanyanya.

“Aku tidak bosan—”

“Kapan kamu berhenti menghormati pernikahan kita?”

Rafi terdiam.

Tidak ada jawaban yang cukup.

Mira menutup mata sebentar. Napasnya bergetar, tapi ia tidak menangis.

“Lucu ya,” katanya pelan, “Aku sibuk bertahan. Kamu sibuk mencari pengganti.”

Rafi akhirnya berkata, “Aku kesepian…”

Mira tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tawa yang kosong.

“Kita semua pernah kesepian.”

Ia menatap langsung ke mata suaminya.

“Tapi tidak semua orang memilih mengkhianati.”

Beberapa menit kemudian, Mira duduk di sofa. Jarak mereka jauh. Seperti dua orang asing.

“Aku datang karena ingin pulang,” katanya pelan. “Ternyata rumahnya sudah tidak ada.”

Rafi mencoba berbicara lagi, “Kita masih bisa memperbaiki—”

Mira menggeleng.

Tidak marah. Tidak dramatis.

Hanya keputusan.

“Yang rusak bukan hubungan kita,” katanya. “Yang rusak… kepercayaan.”

Sunyi panjang memenuhi ruangan.

Hujan di luar terdengar lebih jelas sekarang.

Mira berdiri perlahan. Ia mengambil tasnya dari lantai.

“Aku tidak akan berteriak. Tidak akan membuat drama.”

Rafi menatapnya dengan mata lelah. “Lalu kamu mau apa?”

Mira menjawab tanpa ragu.

“Aku pergi… dengan harga diriku tetap utuh.”

Ia berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Terima kasih pernah menjadi rumah. Meski akhirnya kamu memilih merobohkannya sendiri.”

Pintu tertutup.

Di luar, hujan belum berhenti.

Mira berdiri di trotoar beberapa saat tanpa bergerak. Air hujan membasahi rambutnya, tapi ia tidak peduli.

Tangannya gemetar saat akhirnya menekan nomor di ponselnya.

Aruna.

Telepon berdering beberapa kali sebelum diangkat.

“Halo, Mira?”

Suara Aruna hangat. Tenang. Rumah.

Mira menutup mata.

“Aku… boleh pulang ke kota kalian?” suaranya pecah untuk pertama kalinya.

Aruna tidak bertanya panjang.

“Selalu.”

Mira menahan napas, lalu tersenyum kecil di tengah hujan.

Untuk pertama kalinya sejak pintu apartemen itu terbuka—

Ia tidak merasa sendirian.

Malam itu kota terasa lebih dingin dari biasanya. Mira berdiri di depan apartemen suaminya dengan tangan gemetar, kunci cadangan masih menggantung di jarinya. Nafasnya pendek-pendek. Sudah tiga hari suaminya bilang lembur. Sudah tiga hari juga pesan Mira cuma dibalas satu kata.

“Kerja.”

Satu kata. Datar. Kosong.

Pintu terbuka pelan. Ruang tamu redup, cuma lampu meja yang nyala. Bau parfum perempuan langsung menusuk hidung. Bukan parfumnya. Bukan aroma rumah mereka dulu.

Langkah Mira berhenti.

Dari dalam kamar terdengar suara tawa kecil… suara perempuan.

Hatinya jatuh. Bukan jatuh lagi. Hancur.

Ia berjalan mendekat seperti orang kehilangan arah. Tangannya dingin, tapi dadanya panas. Pintu kamar setengah terbuka. Dan di situlah semuanya runtuh.

Suaminya… bersama perempuan lain.

Waktu seperti berhenti.

Mira tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak apa-apa. Ia cuma berdiri. Diam. Seperti patung yang lupa cara hidup.

Suaminya yang pertama menyadari keberadaannya. Wajahnya pucat.

“Mira… kamu… kok—”

Kalimatnya mati sendiri.

Perempuan itu buru-buru menutup tubuh dengan selimut. Tatapan Mira kosong menatap mereka berdua. Hampa. Tidak ada amarah, tidak ada air mata. Itu yang justru membuat suasana makin sesak.

“Udah berapa lama?” suara Mira pelan, serak, hampir tak terdengar.

Suaminya mendekat. “Aku bisa jelasin—”

“Jangan.” Mira menggeleng pelan. “Aku cuma nanya… udah berapa lama.”

Sunyi panjang.

“… beberapa bulan.”

Jawaban itu seperti pisau pelan yang ditarik dari luka.

Mira tertawa kecil. Aneh. Pahit.

“Lucu ya… aku masih mikirin kamu makan atau nggak… tidur cukup atau nggak…” suaranya bergetar, “sementara kamu… lagi sibuk bagi waktu.”

Perempuan itu mencoba bicara, “Saya—”

Mira mengangkat tangan tanpa melihatnya. “Nggak usah. Kamu nggak punya kewajiban jelasin apa pun ke aku.”

Ia menatap suaminya lagi. Mata mereka bertemu. Dan di situ, Mira tahu… semuanya benar-benar selesai.

“Aku capek,” katanya pelan. “Capek jadi satu-satunya yang berusaha.”

Suaminya mencoba menyentuh tangannya. Mira mundur satu langkah.

“Jangan sentuh aku. Sekali aja jangan.”

Tangannya gemetar sekarang. Air mata akhirnya jatuh juga. Tapi Mira tidak menghapusnya.

“Aku pernah ninggalin sahabatku demi ikut kamu ke kota ini,” suaranya pecah. “Aku pernah percaya kamu itu rumah.”

Sunyi.

“Sekarang aku ngerti… aku cuma tamu.”

Ia meletakkan kunci apartemen di meja dekat pintu.

Bunyi kecil itu terdengar seperti penutup bab panjang hidupnya.

“Aku nggak akan ribut. Nggak akan drama,” Mira berkata lirih. “Aku cuma… selesai.”

Ia berbalik.

Langkahnya pelan tapi pasti. Setiap langkah terasa berat, tapi ia tidak berhenti. Begitu pintu tertutup di belakangnya, barulah tubuhnya goyah.

Tangannya menutup mulut, menahan suara tangis yang pecah tanpa ampun.

Di luar apartemen, hujan turun tipis. Mira berjalan tanpa arah. Sampai akhirnya ia berhenti di trotoar kosong, membiarkan air hujan bercampur dengan air matanya.

Ia mengeluarkan ponsel. Nama Aruna muncul di layar.

Jarinya ragu… lalu menekan panggil.

Beberapa detik kemudian suara Aruna terdengar di seberang.

“Halo? Mira? Kamu di mana? Suaramu kenapa?”

Tangisan Mira pecah tanpa bisa ditahan.

“Na… aku pulang ya…” suaranya terputus-putus. “Aku… udah nggak punya siapa-siapa lagi di sini.”

Hening sejenak, lalu suara Aruna lembut tapi tegas.

“Denger ya. Kamu masih punya aku. Kamu pulang aja. Alamat rumahku sama. Jangan mikir apa-apa. Datang.”

Mira menutup mata. Dadanya sesak tapi hangat di saat yang sama.

“Na…”

“Iya?”

“Makasih… masih ada.”

Aruna menghela nafas pelan. “Kita sama-sama pernah hancur, Mir. Jadi kita sama-sama ngerti… rasanya ditinggal.”

Mira mengangguk walau tak terlihat.

“Datang ya,” lanjut Aruna. “Anak-anak juga bakal seneng kamu balik. Rumah ini nggak terlalu besar… tapi cukup buat orang yang butuh tempat pulang.”

Telepon ditutup.

Mira menatap langit malam yang basah. Untuk pertama kalinya sejak masuk apartemen itu… ia merasa masih bisa bernapas.

Langkahnya berbalik arah.

Menuju rumah yang bukan miliknya… tapi terasa seperti satu-satunya tempat yang benar.

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!