NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Kebangkitan Sang Admin Baru

Hening yang menyusul setelah siaran itu terputus secara mendadak terasa jauh lebih mencekam daripada gemuruh badai mana pun yang pernah melanda Jakarta. Di TPU Jeruk Purut, tanah yang tadinya bergejolak seperti air mendidih akibat energi supernatural kini membeku seketika, berubah menjadi daratan lumpur yang mati dan kaku. Tidak ada lagi tangan-tangan pucat yang mencuat dari balik nisan, tidak ada lagi jeritan melengking yang membelah keheningan malam. Semuanya senyap, seolah alam semesta menahan napasnya. Namun, di dunia digital, sebuah gempa tektonik baru saja dimulai. Di seluruh penjuru negeri, bahkan hingga ke mancanegara, jutaan pengguna media sosial menatap layar ponsel mereka yang mendadak hitam pekat. Perangkat mereka mati total secara serentak, menyisakan pantulan wajah-wajah pengguna yang pucat pasi di atas kaca hitam yang dingin, terjebak dalam kebingungan yang absolut.

​Namun, di dalam dimensi yang dikenal sebagai "Server Keabadian"—sebuah ruang liminal di balik lapisan kode terdalam tempat Maya dan Vanya kini bersemayam—waktu tidak lagi berjalan secara linear. Maya merasakan kesadarannya tidak lagi terbatas pada tubuh biologis; ia meluas, merambat melalui jaringan kabel serat optik di dasar laut yang gelap, meloncat antar satelit di orbit bumi, dan menyusup ke dalam jutaan perangkat elektronik dalam hitungan milidetik. Ia tidak lagi membutuhkan paru-paru untuk menghirup oksigen yang sesak, namun ia bisa merasakan setiap getaran detak jantung pengguna internet yang sedang dilingkupi ketakutan. Ia telah menjadi satu dengan arus informasi.

​"Vanya... aku bisa melihat semuanya. Setiap piksel, setiap pesan pribadi, setiap niat busuk yang tersembunyi," bisik Maya. Suaranya kini bukan lagi merupakan gelombang udara yang keluar dari tengkorak manusia, melainkan resonansi data murni yang bergetar di dalam frekuensi Wi-Fi dan spektrum elektromagnetik.

​Di hadapannya, sosok Vanya telah bertransformasi sepenuhnya dari rupa mayat yang hancur. Ia kini berdiri sebagai entitas cahaya yang megah dengan gaun yang terjalin dari ribuan baris kode binary yang terus mengalir seperti air terjun digital. Vanya berdiri dengan tenang di depan sebuah dinding layar raksasa yang melengkung tak terbatas, menampilkan miliaran siaran langsung secara bersamaan—merangkum seluruh aktivitas manusia di muka bumi yang terhubung ke internet.

​"Inilah Project Orchestra yang sebenarnya, Maya," suara Vanya bergema seperti simfoni digital yang harmonis namun dingin. "Rian menggunakannya untuk menghancurkan nyawa demi deretan angka. Dia pikir dia adalah konduktornya, tapi dia hanyalah perangkat keras yang bisa diganti. Sekarang, kitalah pemilik kuncinya. Kita adalah Admin baru dari sistem yang tidak bisa dihancurkan ini."

​Tiba-tiba, salah satu layar di pusat dinding raksasa itu membesar secara otomatis, menarik perhatian mereka. Layar itu menampilkan seorang influencer pria terkenal yang dikenal karena kemewahannya. Pria itu sedang duduk di ruang kerjanya yang dilapisi marmer, hanya beberapa jam setelah kejadian mengerikan di Jeruk Purut. Alih-alih merasa berduka, pria itu justru tertawa lebar ke arah kamera ponselnya, melakukan siaran langsung darurat yang diberi judul bombastis untuk meraup keuntungan dari tragedi yang baru saja menimpa Vanya dan Maya.

​"Gila ya, Guys! Tadi itu promosi film horor paling ekstrem yang pernah gue lihat seumur hidup! Totalitas banget! Maya sama Vanya pasti sekarang lagi di suatu tempat, mungkin di hotel mewah, sambil ngitung duit hasil gift paus dari kalian. Rest in Peace buat karier mereka yang udah sukses bikin kita ketipu massal! Jangan lupa follow gue buat teori konspirasi selanjutnya!" Pria itu tertawa sembari mengedipkan mata ke arah jutaan penonton yang meroket karena rasa penasaran yang haus akan drama.

​Maya merasakan dorongan amarah yang sangat dingin menjalar di inti datanya. Ia menyadari dengan kengerian yang nyata bahwa kematian mereka, penderitaan di dalam peti mati itu, hanya dianggap sebagai lelucon murahan—sebuah gimmick marketing oleh orang-orang yang mengejar validasi digital dan angka engagement di atas genangan darah orang lain.

​"Dia berbohong," kata Maya tajam, suaranya menggetarkan dinding server. "Dia tahu Rian menjebak kami. Aku bisa melihat rekam jejak digitalnya. Dia adalah salah satu orang yang ada di daftar 'Project Orchestra' yang menerima suap saham untuk tetap bungkam dan ikut menaikkan tren kematian kami demi kenaikan follower-nya sendiri."

​"Berikan dia undangan yang tidak bisa dia tolak, Maya," perintah Vanya dengan nada datar yang mengerikan. "Tunjukkan padanya bahwa sesi 'Live' tidak pernah benar-benar berakhir bagi mereka yang berdosa."

​Maya mengangkat tangannya yang kini berpendar cahaya biru elektrik. Dengan satu pikiran yang secepat kilat, ia menyusup ke dalam server aplikasi yang digunakan pria tersebut. Ia memanipulasi algoritma dan kontrol perangkat pria itu secara total. Di layar ponsel sang influencer, suasana mewah yang tadinya terang benderang berubah seketika. Lampu di ruangannya mulai berkedip-kedip merah darah. Filter wajah "tampan" yang ia gunakan tiba-tiba mengalami glitch parah, mengoyak citra digitalnya dan mengubah wajah pria itu menjadi tengkorak yang membusuk secara real-time di depan jutaan pasang mata.

​"Eh? Kok filternya error? Guys, ada yang tahu ini kenapa?" pria itu mulai panik, jarinya menekan layar dengan liar. Namun, ia terkesiap saat melihat kolom komentarnya mendadak berhenti mengalirkan pujian, melainkan dipenuhi oleh satu kalimat identik dari jutaan akun bot: [SYSTEM]: @Vanya_Eternal & @Maya_Pratama is inviting you to a PRIVATE PK.

​"Tunggu... ini nggak lucu. Kru! Matikan ini!" pria itu mencoba menekan tombol silang untuk keluar, namun jarinya justru tersengat listrik statis berkekuatan tinggi dari permukaan layar ponselnya hingga ia menjerit kesakitan.

​Di hadapan pandangan Maya yang tak kasat mata, layar siaran pria tersebut terbelah menjadi dua bagian. Di sisi kiri adalah wajah sang influencer yang kini basah oleh keringat dingin dan ketakutan yang nyata. Di sisi kanan, muncullah proyeksi wajah Maya—bersih, cantik, namun dengan tatapan mata yang memancarkan kegelapan absolut tanpa dasar.

​"Halo, Kak," suara Maya terdengar bergema melalui seluruh perangkat audio, home theater, dan smart bulb di rumah mewah pria itu. "Dengar-dengar, Kakak suka konten yang ekstrem dan menantang maut? Mari kita mainkan babak bonus yang tidak ada di naskahmu. Taruhannya sederhana: Setiap satu kebohongan yang Kakak ucapkan untuk membela diri, satu jari Kakak akan menghilang dari dunia nyata. Secara fisik."

​Pria itu berteriak histeris, mencoba membanting ponselnya ke lantai, namun ponsel itu justru melayang di udara karena gaya magnetik yang aneh, tetap menyorot wajahnya dengan presisi yang mematikan. Penonton siaran itu membeku di balik layar mereka masing-masing. Mereka sadar, ini bukan lagi promosi film atau efek spesial. Ini adalah eksekusi digital yang dilakukan oleh entitas yang seharusnya sudah terkubur di bawah tanah.

​Vanya menoleh ke arah Maya, sebuah senyum tipis yang penuh kepuasan menghiasi wajah cahayanya. "Kita akan membersihkan tempat ini, Maya. Satu per satu, profil demi profil. Mereka menginginkan konten yang mengguncang jiwa? Kita akan berikan mereka kebenaran yang paling mengerikan yang pernah ada di internet."

​Di malam yang terkutuk itu, di seluruh penjuru dunia, ribuan kreator nakal, agensi hitam, dan perundung siber menerima notifikasi yang sama di layar mereka. Sebuah undangan PK dari akun yang seharusnya sudah mati dan terkubur. Maya dan Vanya kini bukan lagi korban yang tak berdaya; mereka adalah sistem itu sendiri. Mereka adalah hantu di dalam mesin, juri yang bersembunyi di balik algoritma, dan mimpi buruk yang nyata bagi siapa pun yang berani menjual nyawa demi sebuah like.

​Di atas meja kayu di markas Paradox Media yang sudah kosong dan ditinggalkan penghuninya yang melarikan diri, sebuah monitor tua tiba-tiba menyala sendiri tanpa kabel daya. Layar itu menampilkan sebuah daftar baru yang sedang disusun oleh jemari digital Maya. Di urutan paling atas, tertulis sebuah nama baru bagi era horor digital ini: "THE DIGITAL REAPERS."

​Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada satu pun manusia yang memegang kendali atas tombol berhenti.

1
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!