NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta di Atas Luka

Undangan itu tergeletak begitu saja di atas meja rias, sebuah kartu berwarna gading dengan aksen emas yang memancarkan kemewahan tanpa cela. Perayaan ulang tahun ke-60 perusahaan keluarga Aris bukan sekadar pesta biasa; itu adalah panggung besar tempat citra keluarga dipertaruhkan. Di sana, Aris harus muncul sebagai suksesor yang stabil, dan kestabilan itu hanya bisa divalidasi oleh kehadiran istri yang sempurna di sisinya.

​Arini menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun malam berwarna midnight blue itu membalut tubuhnya dengan pas, memberikan kesan elegan namun tetap sopan. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak pucat sekaligus dingin. Sejak pertengkaran hebat beberapa hari lalu, Arini benar-benar menutup diri. Ia bicara seperlunya, bergerak seperlunya, dan tidak lagi membuang energi untuk mencari perhatian Aris.

​Pintu kamar terbuka. Aris masuk dengan tuxedo hitam yang membuatnya tampak sangat berwibawa. Langkahnya terhenti tepat di belakang Arini. Untuk beberapa saat, keheningan di ruangan itu terasa sangat mencekik. Aris tak bisa memungkiri bahwa istrinya tampak luar biasa cantik malam ini, namun ada yang hilang dari sorot matanya—binar kekaguman yang biasanya ditujukan padanya kini telah padam total.

​"Mobil sudah siap di depan," ujar Aris pelan. Ia mendekat, mengeluarkan sebuah kalung berlian dari sakunya. "Ibu ingin kamu memakai ini. Warisan dari nenek."

​Arini terdiam. Ia tahu ini bukan pemberian tulus, melainkan instruksi dari Ibu Sofia untuk menjaga martabat keluarga di mata kolega. Ia berbalik badan, membiarkan Aris memasangkan kalung itu. Jemari Aris yang dingin bersentuhan dengan kulit lehernya, mengirimkan sensasi yang membuat Arini memejamkan mata sesaat. Dulu, sentuhan seperti ini akan membuatnya melayang. Sekarang, ia hanya merasakan kekosongan yang hambar.

​"Terima kasih, Mas," ucap Arini datar setelah kalung itu terpasang. "Ayo berangkat. Kita tidak boleh terlambat untuk sandiwara terbesar tahun ini."

​Aris mengeraskan rahangnya mendengar kata "sandiwara" itu. Ia ingin membalas, tapi sadar dialah yang pertama kali mengajarkan istilah itu kepada istrinya. Tanpa sepatah kata, ia menawarkan lengannya, dan Arini menyambutnya dengan gerakan mekanis yang sempurna. Mereka keluar dari rumah itu seperti pasangan ideal, meski di dalam hati masing-masing, ada jurang yang semakin dalam.

​Aula besar hotel bintang lima itu telah disulap menjadi ruang dansa yang megah. Aroma bunga lili segar bercampur dengan wewangian mahal para tamu. Begitu Aris dan Arini melangkah masuk, perhatian hampir seluruh tamu tertuju pada mereka.

​"Ingat, tetaplah di sampingku. Banyak kolega ayahku yang memperhatikan," bisik Aris tepat di telinga Arini. Tangannya merangkul pinggang Arini dengan posesif—sebuah gerakan yang di mata orang lain adalah kasih sayang, namun bagi Arini hanyalah bentuk kendali.

​"Jangan khawatir, Mas. Aku sudah melatih senyum ini berjam-jam. Tidak akan ada yang tahu kalau kita sebenarnya cuma dua orang asing," balas Arini dengan senyum profesional yang paling manis.

​Selama satu jam pertama, Arini menjalankan tugasnya tanpa cela. Ia menyapa para pemegang saham, berbincang ringan dengan istri pengusaha, dan memastikan gelas Aris selalu terisi. Ibu Sofia tampak mengangguk puas dari kursi kehormatannya. Namun, ketenangan itu hancur saat kerumunan di pintu masuk terbelah.

​Seorang wanita masuk dengan gaun sutra merah menyala. Cantik, tajam, dan penuh percaya diri. Begitu mata wanita itu bertemu dengan mata Aris, Arini bisa merasakan tubuh suaminya menegang seketika. Rangkulan tangan Aris di pinggangnya perlahan melonggar, seolah pria itu baru saja ditarik paksa dari dunia nyata.

​"Itu dia," bisik hati Arini. Tanpa perlu diperkenalkan, ia tahu siapa itu. Clara.

​Clara berjalan lurus ke arah mereka. Langkah sepatu hak tingginya terdengar seperti dentuman genderang perang. Ia sama sekali tidak melirik Arini, seolah Arini hanyalah benda mati di dekat Aris.

​"Halo, Aris. Lama tidak bertemu," ucap Clara dengan suara serak yang intim.

​Aris berdehem, mencoba menguasai suaranya. "Clara. Aku tidak tahu kamu akan hadir."

​"Ayahku dapat undangan, dan aku pikir, kenapa tidak? Aku merindukan suasana seperti ini... dan mungkin, merindukan orang-orang di sini," Clara tersenyum penuh arti, lalu matanya beralih ke Arini dengan tatapan menilai yang merendahkan. "Dan ini pasti... istrimu? Arini, bukan? Menantu pilihan Ibu Sofia yang tersayang."

​Arini merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap berdiri tegak. "Senang bertemu denganmu, Clara. Mas Aris memang sempat bercerita tentang teman lamanya," jawab Arini tenang, meski tangannya di balik gaun terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

​Clara tertawa kecil, suara tawa yang merdu namun menyakitkan. "Teman lama? Oh, Aris, apakah itu cara kamu mendeskripsikan kita sekarang?"

​Aris tampak sangat tidak nyaman. Matanya melirik tamu-tamu yang mulai berbisik. "Clara, ini bukan tempat yang tepat untuk membahas masa lalu," tegasnya, meski ada sisa kelembutan yang tertinggal dalam nadanya—kelembutan yang tak pernah ia berikan pada Arini.

​"Kenapa tidak? Bukankah pesta ini merayakan keberhasilan? Dan keberhasilan terbesarmu, Aris, adalah meyakinkan semua orang bahwa kamu bahagia dengan... pilihan ini," Clara menunjuk Arini dengan pandangan menghina. "Padahal kita tahu, kamu hanya sedang menjalankan hukuman karena tidak berani melawannya saat itu."

​Arini merasa oksigen di sekitarnya habis. Ia menoleh ke arah Aris, berharap pria itu akan membela harga dirinya. Namun, Aris hanya diam membisu dengan rahang mengeras. Diamnya Aris adalah jawaban yang lebih pedih dari kata-kata Clara.

​"Maaf, Clara," Arini akhirnya angkat bicara, suaranya jernih membelah ketegangan. "Sepertinya kamu salah paham. Pernikahan bukan tentang hukuman, tapi tentang komitmen. Dan sejauh yang aku tahu, aku adalah wanita yang berdiri di sini dengan nama belakang Aris dan restu penuh keluarganya. Masa lalu mungkin indah, tapi tetap saja, itu adalah tempat yang sudah ditinggalkan."

​Clara tampak terkejut. Sebelum ia sempat membalas, Ibu Sofia mendekat dengan tongkatnya, memberikan perlindungan otoritas pada Arini. Aris segera menggandeng tangan Arini, menariknya menjauh. Namun, saat mereka menjauh, Arini sempat menoleh ke belakang dan melihat Clara masih menatap punggung Aris dengan tatapan penuh kemenangan. Arini sadar: Aris menariknya pergi bukan untuk melindunginya, melainkan untuk melarikan diri dari emosinya sendiri.

​Perjalanan pulang di mobil terasa seperti perjalanan menuju keheningan abadi. Aris mengemudi dengan kecepatan tinggi, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Begitu sampai di rumah dan pintu tertutup, Arini tidak tahan lagi. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dengan kasar, mengabaikan nyeri di kakinya.

​"Kenapa kamu diam saja tadi, Mas? Kenapa kamu membiarkan dia mempermalukanku seolah aku ini pencuri di hidupmu?" tanya Arini, suaranya pecah.

​Aris melepaskan dasinya dengan frustrasi. "Aku tidak ingin membuat keributan di depan kolega Ayah, Arini! Apa yang kamu mau? Aku mengusirnya dan memperjelas bisik-bisik orang?"

​"Bukan itu!" Arini berbalik dengan mata basah. "Aku cuma butuh kamu berdiri di sampingku sebagai suamiku. Bukan aksesori untuk ibumu. Kamu bahkan tidak berani menatap matanya. Kamu terlihat menyesali nasibmu karena tidak bisa memilikinya!"

​"Cukup, Arini!" bentak Aris. Suaranya menggelegar, membuat Arini tersentak. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Kamu masuk ke sini karena uang keluargamu butuh diselamatkan. Jadi jangan berakting seolah kamu adalah korban perasaan!"

​Kalimat itu lebih tajam dari semua hinaan Clara. Arini tertawa getir. "Uang. Selalu itu. Kamu benar, Mas. Aku masuk karena butuh uang. Tapi aku memberikan jiwaku, waktuku, dan usahaku untuk jadi istri yang baik. Sedangkan kamu? Kamu cuma memberikan sisa-kemarahanmu padaku."

​Arini mendekat, meski tubuhnya gemetar. "Malam ini aku sadar, meski aku pakai kalung warisan nenekmu, aku tetap orang asing. Kamu merangkulku, tapi pikiranmu memeluk Clara. Katakan, Mas... kalau kontrak ini berakhir besok, apa kamu akan langsung lari padanya?"

​Aris terdiam. Matanya menatap Arini dengan intensitas menakutkan, namun ia tidak bisa menjawab. Keheningan itu adalah konfirmasi terakhir yang Arini butuhkan. Arini menarik napas panjang, yang terasa berat sekaligus membebaskan. Ia membuka pengait kalung berlian itu dengan jemari yang tak lagi gemetar. Logam dingin itu terlepas, diletakkannya di atas meja marmer dengan bunyi denting tajam.

​"Kalung ini milik keluargamu, Mas. Dan martabat di dalamnya juga cuma milik keluargamu," ucap Arini tenang.

​"Apa maksudmu?" tanya Aris.

​"Maksudku, mulai malam ini, sandiwara ini berubah aturannya. Aku tetap jadi istrimu di depan Ibu Sofia karena aku menghargai beliau. Aku akan hadir di acara perusahaan karena kontrak," Arini menatap mata Aris tanpa takut. "Tapi di dalam rumah ini, aku bukan lagi istrimu. Aku bukan orang yang menunggumu pulang, bukan orang yang menyiapkan makanmu, dan aku tidak peduli lagi apakah kamu merindukan Clara atau tidak."

​Aris terperangah. Ia belum pernah melihat Arini setegas ini. "Arini, jangan kekanak-kanakan..."

​"Tidak, Mas. Ini mudah," potong Arini. "Kamu cinta masa lalu, aku cinta bayangan yang salah. Sekarang bayangannya hilang. Kamu mau kebebasan? Aku kasih. Aku pindah ke kamar tamu mulai malam ini. Anggap saja kita rekan bisnis yang terpaksa berbagi kantor."

​Arini berbalik dan menaiki tangga tanpa menoleh. Langkahnya terasa lebih ringan, meski hatinya remuk. Ia tidak lagi memohon divalidasi. Aris berdiri sendirian di ruang tamu luas itu, menatap punggung Arini yang menghilang. Untuk pertama kalinya, Aris merasakan sesuatu yang asing menjalar: rasa kehilangan yang nyata. Ia baru saja dapat "kebebasan" yang ia tuntut, tapi kenapa rasanya justru seperti kekalahan telak?

​Lampu ruang tamu yang temaram memantulkan cahaya pada kalung berlian di meja—benda mati yang kini terasa sangat sunyi. Malam itu, pernikahan mereka memasuki babak baru: babak di mana salah satu dari mereka sudah tidak lagi memiliki rasa untuk diperjuangkan.

1
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!