Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Pesta di Atas Luka
Undangan itu tergeletak begitu saja di atas meja rias, sebuah kartu berwarna gading dengan aksen emas yang memancarkan kemewahan tanpa cela. Perayaan ulang tahun ke,60 perusahaan keluarga Fikar bukan sekeder pesta biasa, itu adalah panggung besar tempat citra keluarga dipertaruhkan. Di sana, Fikar harus muncul sebagai suksesor yang stabil, dan kestabilan itu hanya bisa divalidasi oleh kehadiran istri yang sempurna di sisinya.
Kiki menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun malam berwarna midnight blue itu membalut tubuhnya dengan pas, memberikan kesan elegan namun tetap sopan. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak pucat sekaligus dingin. Sejak pertengkaran hebat beberapa hari lalu, Kiki benar,benar menutup diri. Ia bicara seperlunya, bergerak seperlunya, dan tidak lagi membuang energi untuk mencari perhatian Fikar.
Pintu kamar terbuka. Fikar masuk dengan tuxedo hitam yang membuatnya tampak sangat berwibawa. Langkahnya terhenti tepat di belakang Kiki. Untuk beberapa saat, keheningan di ruangan itu terasa sangat mencekik. Fikar tak bisa memungkiri bahwa istrinya tampak luar biasa cantik malam ini, namun ada yang hilang dari sorot matanya, binar kekaguman yang biasanya ditujukan padanya kini telah padam total.
“Mobil sudah siap di depan,” ujar Fikar pelan. Ia mendekat, mengeluarkan sebuah kalung berlian dari sakunya. “Ibu ingin kamu memakai ini. Warisan dari nenek.”
Kiki terdiam. Ia tahu ini bukan pemberian tulus, melainkan instruksi dari Ibu Sofia untuk menjaga martabat keluarga di mata kolega. Ia berbalik badan, membiarkan Fikar memasangkan kalung itu. Jemari Fikar yang dingin bersentuhan dengan kulit lehernya, mengirimkan sensasi yang membuat Kiki memejamkan mata sesaat. Dulu, sentuhan seperti ini akan membuatnya melayang. Sekarang, ia hanya merasakan kekosongan yang hambar.
“Terima kasih, Mas,” ucap Kiki datar setelah kalung itu terpasang. “Ayo berangkat. Kita tidak boleh terlambat untuk sandiwara terbesar tahun ini.”
Fikar mengeraskan rahangnya mendengar kata “sandiwara” itu. Ia ingin membalas, tapi sadar dialah yang pertama kali mengajarkan istilah itu kepada istrinya. Tanpa sepatah kata, ia menawarkan lengannya, dan Kiki menyambutnya dengan gerakan mekanis yang sempurna. Mereka keluar dari rumah itu seperti pasangan ideal, meski di dalam hati masing,masing, ada jurang yang semakin dalam.
Aula besar hotel bintang lima itu telah disulap menjadi ruang dansa yang megah. Aroma bunga lili segar bercampur dengan parfum mewah para tamu. Begitu Fikar dan Kiki melangkah masuk, perhatian hampir seluruh tamu tertuju pada mereka.
“Ingat, tetaplah di sampingku. Banyak kolega ayahku yang memperhatikan,” bisik Fikar tepat di telinga Kiki. Tangannya merangkul pinggang Kiki dengan posesif, sebuah gerakan yang di mata orang lain adalah kasih sayang, namun bagi Kiki hanyalah bentuk kendali.
“Jangan khawatir, Mas. Aku sudah melatih senyum ini berjam,jam. Tidak akan ada yang tahu kalau kita sebenarnya Cuma dua orang asing,” balas Kiki dengan senyum profesional yang paling manis.
Selama satu jam pertama, Kiki menjalankan tugasnya tanpa cela. Ia menyapa para pemegang saham, berbincang ringan dengan istri pengusaha, dan memastikan gelas Fikar selalu terisi. Ibu Sofia tampak mengangguk puas dari kursi kehormatannya. Namun, ketenangan itu hancur saat kerumunan di pintu masuk terbelah.
Seorang wanita masuk dengan gaun sutra merah menyala. Cantik, tajam, dan penuh percaya diri. Begitu mata wanita itu bertemu dengan mata Fikar, Kiki bisa merasakan tubuh suaminya menegang seketika. Rangkulan tangan Fikar di pinggangnya perlahan melonggar, seolah pria itu baru saja ditarik paksa dari dunia nyata.
“Itu dia,” bisik hati Kiki. Tanpa perlu diperkenalkan, ia tahu siapa itu. Clara.
Clara berjalan lurus ke arah mereka. Langkah sepatu hak tingginya terdengar seperti dentuman genderang perang. Ia sama sekali tidak melirik Kiki, seolah Kiki hanyalah benda mati di dekat Fikar.
“Halo, Fikar. Lama tidak bertemu,” ucap Clara dengan suara serak yang intim.
Fikar berdehem, mencoba menguasai suaranya. “Clara. Aku tidak tahu kamu akan hadir.”
“Ayahku dapat undangan, dan aku pikir, kenapa tidak? Aku merindukan suasana seperti ini... dan mungkin, merindukan orang,orang di sini,” Clara tersenyum penuh arti, lalu matanya beralih ke Kiki dengan tatapan menilai yang merendahkan. “Dan ini pasti... istrimu? Kiki, bukan? Menantu pilihan Ibu Sofia yang tersayang.”
Kiki merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia tetap berdiri tegak. “Senang bertemu denganmu, Clara. Mas Fikar memang sempat bercerita tentang teman lamanya,” jawab Kiki tenang, meski tangannya di balik gaun terkepal kuat hingga kuku,kukunya memutih.
Clara tertawa kecil, suara tawa yang merdu namun menyakitkan. “Teman lama? Oh, Fikar, apakah itu cara kamu mendeskripsikan kita sekarang?”
Fikar tampak sangat tidak nyaman. Matanya melirik tamu,tamu yang mulai berbisik. “Clara, ini bukan tempat yang tepat untuk membahas masa lalu,” tegasnya, meski ada sisa kelembutan yang tertinggal dalam nadanya, kelembutan yang tak pernah ia berikan pada Kiki.
“Kenapa tidak? Bukankah pesta ini merayakan keberhasilan? Dan keberhasilan terbesarmu, Fikar, adalah meyakinkan semua orang bahwa kamu bahagia dengan... pilihan ini,” Clara menunjuk Kiki dengan pandangan menghina. “Padahal kita tahu, kamu hanya sedang menjalankan hukuman karena tidak berani melawannya saat itu.”
Kiki merasa oksigen di sekitarnya habis. Ia menoleh ke arah Fikar, berharap pria itu akan membela harga dirinya. Namun, Fikar hanya diam membisu dengan rahang mengeras. Diamnya Fikar adalah jawaban yang lebih pedih dari kata,kata Clara.
“Maaf, Clara,” Kiki akhirnya angkat bicara, suaranya jernih membelah ketegangan. “Sepertinya kamu salah paham. Pernikahan bukan tentang hukuman, tapi tentang komitmen. Dan sejauh yang aku tahu, aku adalah wanita yang berdiri di sini dengan nama belakang Fikar dan restu penuh keluarganya. Masa lalu mungkin indah, tapi tetap saja, itu adalah tempat yang sudah ditinggalkan.”
Clara tampak terkejut. Sebelum ia sempat membalas, Ibu Sofia mendekat dengan tongkatnya, memberikan perlindungan otoritas pada Kiki. Fikar segera menggandeng tangan Kiki, menariknya menjauh. Namun, saat mereka menjauh, Kiki sempat menoleh ke belakang dan melihat Clara masih menatap punggung Fikar dengan tatapan penuh kemenangan. Kiki sadar, Fikar menariknya pergi bukan untuk melindunginya, melainkan untuk melarikan diri dari emosinya sendiri.
Perjalanan pulang di mobil terasa seperti perjalanan menuju keheningan abadi. Fikar mengemudi dengan kecepatan tinggi, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Begitu sampai di rumah dan pintu tertutup, Kiki tidak tahan lagi. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dengan kasar, mengabaikan nyeri di kakinya.
“Kenapa kamu diam saja tadi, Mas? Kenapa kamu membiarkan dia mempermalukanku seolah aku ini pencuri di hidupmu?” tanya Kiki, suaranya pecah.
Fikar melepaskan dasinya dengan frustrasi. “Aku tidak ingin membuat keributan di depan kolega Ayah, Kiki! Apa yang kamu mau? Aku mengusirnya dan memperjelas bisik,bisik orang?”
“Bukan itu!” Kiki berbalik dengan mata basah. “Aku Cuma butuh kamu berdiri di sampingku sebagai suamiku. Bukan aksesori untuk ibumu. Kamu bahkan tidak berani menatap matanya. Kamu terlihat menyesali nasibmu karena tidak bisa memilikinya!”
“Cukup, Kiki!” bentak Fikar. Suaranya menggelegar, membuat Kiki tersentak. “Kamu tidak tahu apa,apa tentang perasaanku. Kamu masuk ke sini karena uang keluargamu butuh diselamatkan. Jadi jangan berakting seolah kamu adalah korban perasaan!”
Kalimat itu lebih tajam dari semua hinaan Clara. Kiki tertawa getir. “Uang. Selalu itu. Kamu benar, Mas. Aku masuk karena butuh uang. Tapi aku memberikan jiwaku, waktuku, dan usahaku untuk jadi istri yang baik. Sedangkan kamu? Kamu Cuma memberikan sisa,kemarahanmu padaku.”
Kiki mendekat, meski tubuhnya gemetar. “Malam ini aku sadar, meski aku pakai kalung warisan nenekmu, aku tetap orang asing. Kamu merangkulku, tapi pikiranmu memeluk Clara. Katakan, Mas... kalau kontrak ini berakhir besok, apa kamu akan langsung lari padanya?”
Fikar terdiam. Matanya menatap Kiki dengan intensitas menakutkan, namun ia tidak bisa menjawab. Keheningan itu adalah konfirmasi terakhir yang Kiki butuhkan. Kiki menarik napas panjang, yang terasa berat sekaligus membebaskan. Ia membuka pengait kalung berlian itu dengan jemari yang tak lagi gemetar. Logam dingin itu terlepas, diletakkannya di atas meja marmer dengan bunyi denting tajam.
“Kalung ini milik keluargamu, Mas. Dan martabat di dalamnya juga Cuma milik keluargamu,” ucap Kiki tenang.
“Apa maksudmu?” tanya Fikar.
“Maksudku, mulai malam ini, sandiwara ini berubah aturannya. Aku tetap jadi istrimu di depan Ibu Sofia karena aku menghargai beliau. Aku akan hadir di acara perusahaan karena kontrak,” Kiki menatap mata Fikar tanpa takut. “Tapi di dalam rumah ini, aku bukan lagi istrimu. Aku bukan orang yang menunggumu pulang, bukan orang yang menyiapkan makanmu, dan aku tidak peduli lagi apakah kamu merindukan Clara atau tidak.”
Fikar terperangah. Ia belum pernah melihat Kiki setegas ini. “Kiki, jangan kekanak,kanakan...”
“Tidak, Mas. Ini mudah,” potong Kiki. “Kamu cinta masa lalu, aku cinta bayangan yang salah. Sekarang bayangannya hilang. Kamu mau kebebasan? Aku kasih. Aku pindah ke kamar tamu mulai malam ini. Anggap saja kita rekan bisnis yang terpaksa berbagi kantor.”
Kiki berbalik dan menaiki tangga tanpa menoleh. Langkahnya terasa lebih ringan, meski hatinya remuk. Ia tidak lagi memohon divalidasi. Fikar berdiri sendirian di ruang tamu luas itu, menatap punggung Kiki yang menghilang. Untuk pertama kalinya, Fikar merasakan sesuatu yang asing menjalar, rasa kehilangan yang nyata. Ia baru saja dapat “kebebasan” yang ia tuntut, tapi kenapa rasanya justru seperti kekalahan telak?
Lampu ruang tamu yang redup memantulkan cahaya pada kalung berlian di meja, benda mati yang kini terasa sangat sunyi. Malam itu, pernikahan mereka memasuki babak baru, babak di mana salah satu dari mereka sudah tidak lagi memiliki rasa untuk diperjuangkan.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.