NovelToon NovelToon
Conquer Me

Conquer Me

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa / Bad Boy / Tamat
Popularitas:549.5k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.

Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.

Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?

Conquer me ~》Taklukan aku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24🩷 Bukan siapa-siapa

"Mau yang paket atau milih-milih?" tanya Dea.

"Paket aja. Paket berdua plus ice sama puding tuh." tuduh Rifal diangguki Dea, "oke donatur."

Rifal terkekeh mendengar itu lalu mengeluarkan debit dari dompetnya, dan memijit sejumlah angka password.

Dea cukup menarik alis melihat itu dengan memegang baki berisi pesanan mereka.

"Ice dan puddingnya mau dibawa sekarang, kak?"

Dea mengangguk, "boleh."

"Milih tempatnya yang agak pojokan." Pinta Rifal.

"Biar apa?"

"Ngga biasa terbuka." jawab Rifal sekenanya, ia cukup risih dengan keramaian yang selalu saja ada tatap lebih dari 5 detik terhadapnya.

"Oh oke."

Tak ada yang memulai, atau berpikir harus bicara apa. Karena Dea, rupanya bisa membawa Rifal senyaman itu mendengarkan, dengan sesekali menimpali tanpa sungkan. Apakah karena pernah satu saliva?

Bukan membicarakan hal-hal tabu atau sekolah. Namun segala topik random Dea bicarakan hingga tak terasa makanan di meja ludes mereka makan, termasuk mereview film favorit dan idola. Yang bagi Rifal, asik saja mendengar Dea bercerita, seolah beban yang sedang ia tanggung ia lepas dahulu dari pundak, segala kesedihan yang pernah singgah, cerah untuk sesaat, ketika bersamanya.

Beranjak dari area foodcourt yang semakin ramai, Dea dan Rifal menclok sedikit ke samping dimana area game station berada.

"Aku ngga punya kartunya. Beli aja dulu yang baru sambil isi saldo." Namun Dea menggeleng, ia mengeluarkan dompet dari dalam tas dan selembar kartu pipih, "pake punyaku, tapi saldonya cuma tinggal 5 ribu." kikiknya.

"Ya udah isi aja."

Ayunan langkah mereka mengisi tempat di depan meja kasir. Kembali debit Rifal digesek lagi demi mengisi saldo kartu bermain Dea.

"Main apa dulu..." tapi jelas, Dea sedang tidak bertanya pada Rifal, toh percuma saja jawabnya juga pasti terserah.

Tangannya bukan lagi menggenggam, bahkan sejak keluar dari resto tadi keduanya sudah bergenggaman dengan Dea menuntun menggiring.

You are greattt! Trully dancer!

Kaki-kaki Dea menginjak tombol panel di bawah yang berwarna-warni, sementara matanya fokus ke layar, sesekali ia tertawa dan menoleh pada Rifal, "bisa ngga, cobain...sini." pinta Dea.

"Ngga bisa." jawab Rifal, namun tak menolak saat Dea menarik memaksanya untuk ikut bermain, seirama dengan musik yang dipilih.

Ia tertawa mencibir Rifal, kala kakinya salah pijakan atau melewatkan langkah.

Tidak jomplang, ketika Rifal kini sudah terbawa suasana dan memilih permainan menembak, jelas ia lebih jago dibanding Dea yang justru sesekali menjerit, saat musuhnya mendekat dan menembak balik di permainan virtual.

Permainan satu lawan satu, membuat keduanya saling mencibir satu sama lain ketika poin demi poinnya diperebutkan.

"Ih, curang ih engga tadi kamu gitu!!!" namun tidak menimbulkan pertikaian justru tawa lebih kencang dengan adrenalin yang terpacu.

"Aahh, bentar dulu ihhh..." Dea gemas sampai menggertakan gigi dan kakinya.

"Kalah kan kalah! Yes i'm the winner!" angguk Rifal jumawa. Puas disana, tidak langsung pulang. Menit demi menit yang berlalu membawa langkah mereka benar-benar menghabiskan waktu mencoba segalanya. Padahal...ini bukan kali pertama, bahkan sudah sangat sering, baik Rifal apalagi Dea mengunjungi mall.

Mata Dea masih berbinar melihat pernak-pernik di toko serba pink dengan logo strawberry. Belum banyak barang yang ia pegang, namun sudah hampir tiga kali bolak-balik mengitari setiap raknya.

Ada beberapa jepitan rambut, aksesoris di tangan. Dan grep!

Sebuah topi hangat model kelinci dengan kupingnya yang panjang nemplok di kepala Rifal membuat Dea meledakan tawanya, "belum ada kan, ya...anak motor ciri khasnya begini."

"Kebayang kan, ademnya kalo pas tawuran atau balapan di jalanan kostumnya begini, pake topi kelinci semua." Dea tertawa tergelak tanpa canggung lagi dan hanya disenyumi Rifal.

Dea lantas melepasnya kembali dan menaruh itu di tempatnya, "udah yuk," Ia melirik jam di tangan, "waduh, udah sore juga ternyata."

Kini bukan Dea yang menggiring, namun Rifal yang berjalan selangkah lebih depan, meski jarak mereka hanya sebatas genggaman tangan.

Begitu kan perempuan, di mulut lelah, sudah...tapi tetap saja, sepanjang menyusuri selasar menuju pintu keluar, matanya tetap mengedar.

"Wih, foto box disitu udah jadi ternyata." tunjuk Dea membuat Rifal mengalihkan pandangannya.

"Foto yuk!" ajak Dea, tak urung membuat Rifal mengiyakan. Menunggu sejenak, sebab di dalam sana masih ada pengunjung lain. Dea justru notice dengan rambut Rifal yang sedikit berantakan menurutnya, Dea menyisir itu dengan jarinya merapikan, "sorry." Ujarnya.

Gorden terbuka menampakkan tiga orang remaja perempuan yang baru saja keluar dengan cekikikan.

Dea dan Rifal masuk ke dalam, gadis itu menurunkan tas di gendongan begitupun milik Rifal setelah sempat menutup gorden.

Lantas Dea mengatur setting, latar dan sebagainya termasuk pencahayaan.

"6 gaya ya. Kamu jangan kaku begitu..." tawa Dea.

"Bawaan lahir, De.." jawab Rifal tak terima disebut kaku.

"Oke...oke siap." Jawab Dea.

Awalnya Dea mengambil posenya mengedipkan matanya sebelah dengan tangan berkacak pinggang sebelah, sementara Rifal hanya diam menunjukan kedua jarinya. Namun di foto berikutnya, Rifal tiba-tiba mengecup pipi Dea, membuat Dea terdiam ketika di pose memeletkan lidahnya.

Tak lagi peduli dengan jepretan cepat itu, Dea menoleh ke arah Rifal dimana Rifal sudah tersenyum, lalu dengan gerakan terarah, Rifal memajukan kembali bibirnya dan mengecup bibir Dea, lagi.

Sementara Dea mendadak kaku disana, "kok kamu kaku gitu, bawaan lahir ya?" tembak Rifal, pemuda itu meraup tasnya dan tas Dea dari bawah, sebab apa...sebab sesi foto box telah selesai.

Sementara Dea masih mematung dengan menelan salivanya sulit, bahkan ia masih mengatur sirkulasi oksigen di paru-parunya sambil mengayunkan langkah keluar box.

Hasil jepretan foto keluar, dan well....

Rifal terkekeh renyah, sementara Dea, "kalo kamu ngga mau simpen, biar aku yang simpen."

Foto pertama, lolos sensor. Sementara foto kedua hawa panas mulai menyerang wajah Dea. Sebab pipinya berhasil dikecup Rifal disana, foto ketiga Dea menoleh pada Rifal, dan foto keempat dan kelima berhasil membuat lututnya tremor, dimana bibir Rifal telah sukses mengecup bibir Dea. Dan foto keenam Rifal yang mengecup kening Dea.

"Mau pulang sekarang?" tanya Rifal diangguki Dea yang mendadak jadi diam, "iya. Pulang."

Bedanya, kali ini Dea tak lagi mencak-mencak, atau bahkan berniat melepaskan genggaman tangan Rifal darinya, justru....keduanya saling menggenggam tangan sampai parkiran.

Foto itu terpotong-potong, menjadi 6 bagian, Dea mengambil foto satu, dua dan enam. Sementara sisanya Rifal.

Dea tak mau menyimpan potret kedua bibir itu saling menyatu. Meski dari ketiga foto itu, masih ada foto yang menunjukan kemesraan mereka yang bukan siapa-siapa ini.

.

.

.

.

.

1
dheey
gemes banget sumpah sama critanya. beneran abg banget. ekwkwkwkw... kan jadi flash back waktu skolah. wkwkwkw
Poetri
slalu the best
Tiffany_Afnan
menjadi orang lain agar tdk jdi keset ya de.. bertahan hidup versimu kah ??
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Dewi Susanti
bagus
Tiffany_Afnan
Semoga kelak kau lebih sukses diatas mereka² para pembullymu. dan dberi keberuntungan menyaksikan pembalasan Tuhan terhadap meraka. 💪/Smile/
Tiffany_Afnan
/Panic//Panic//Hammer//Hammer/
Tiffany_Afnan
paling benci sama yg namanya bullying !! klo tau ada yg dibully, auto gerak mulut, tangan, kakiku !! ndak suka aku! /Cleaver//Cleaver/🤸🏻‍♀️🤸🏻‍♀️🤸🏻‍♀️
Susanti
di igeh udah muncul judul baru, kok blom nongol dilapak ini teh
Narto Aja
ooohhh noooo🤣🤣👍
El aisya
oh jadi si Rere
El aisya
kalau Dea tau udah ketahuan pasti malunya sampe ubun ubun🤣🤣
El aisya
di bayar berapa itu si sopir Ama kernetnya 🤣🤣🤣
Shinta Apriyani
setiap kali habis baca rasanya ikut bahagia ikut seneng..berasa jd tokoh utama..bgtu selesai baca kembali kedunia nyata..langsung jungkir balik dunianya..🤭
Rika O Amir
blm ada cerita baru ya 🤭
El aisya
ternyata gitu ya orang yg langgeng hubungannya karna memang saling menerima sifat pasangannya, mau cowok itu emosian atau apalah bahasanya tempramen dia tetep setia, karna cinta 🥰🥰
El aisya
awal baca nama kak manik aku kira cewek 🤣
El aisya
ya ampunnnnnn udah seminggu keknya aku baru baca update nya teteh,, kemarin2 lagi jadi orang sok sibuk gag bisa baca Dea Ama om Ipal,, wes kangen pwolll🥰🥰
Mymy Zizan
the best
Vike Kusumaningrum 💜
Dulu kenyang digombalin Cupid, sekarang makin gencar atau berkurang gombalnya Cup ? 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!