Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Leon Weiss
Sesampainya di depan rumah Clara, mobil Luca berhenti dengan halus. Luca menoleh ke arah bangku belakang, menatap Greta dan Clara bergantian.
"Aku harus pergi sekarang. Ada perayaan kemenangan tim di The Keg Steakhouse + Bar di pusat kota. Keluarga Norah yang mendanai acaranya, jadi aku harus datang setidaknya sebentar," ucap Luca dengan nada yang terdengar kurang bersemangat, seolah ia lebih memilih tinggal di sana daripada harus bertemu Norah lagi.
"Hati-hati, Luca! Jangan biarkan Norah meracuni minumanmu!" canda Clara sambil melambai. Luca hanya tersenyum tipis, menatap Greta sejenak seolah memastikan gadis itu aman, lalu memacu mobilnya pergi.
Suasana di Dalam Rumah
Clara mendorong pintu depan dengan semangat. "Ibu... Aku pulang..!"
Di dalam ruang tamu yang hangat, Ibu Clara yang duduk di kursi panjang tampak sedang tertawa kecil. Ia sedang mengobrol akrab dengan seorang wanita berseragam medis biru muda perawat yang dikirim Luca untuk mengecek kondisi Greta.
"Eh, kalian sudah sampai?" sapa Ibu Clara. "Perawat ini bilang dia sudah menunggumu, Greta. Dia baik sekali, tadi sempat membantuku membuat teh."
Malam itu, suasana rumah Clara terasa sangat tenang. Mereka semua duduk di meja makan kayu yang sederhana. Menunya adalah Shepherd's Pie hangat yang dibeli Clara saat perjalanan pulang. Mereka makan bersama dalam cahaya lampu kuning yang nyaman. Greta merasa sedikit aneh; ia tidak terbiasa dengan kehangatan seperti ini, terutama dengan orang baru di sekitarnya.
Pemeriksaan di Kamar
Setelah makan malam, mereka beralih ke kamar Clara yang penuh dengan poster band dan tumpukan buku. Perawat tersebut, yang memperkenalkan diri sebagai Suster Martha, meminta Greta duduk di tepi tempat tidur untuk memeriksa lukanya.
Clara duduk di lantai, memperhatikan dengan wajah khawatir saat Suster Martha mulai membuka poni Greta dan membersihkan luka di dahinya dengan kapas alkohol.
"Ini pukulan yang cukup keras, Greta," ucap Suster Martha lembut sambil mengoleskan salep. "Ada memar di punggungmu juga, kan? Buka sedikit jerseynya, saya perlu memastikan tidak ada tulang yang retak."
Greta menurut, wajahnya tampak kaku. Clara meringis melihat bekas kemerahan di punggung Greta.
"Suster, apa lukanya bakal membekas?" tanya Clara cemas.
Suster Martha tersenyum menenangkan. "Lukanya akan sembuh, tapi trauma di dalam biasanya lebih lama.
Setelah Suster Martha selesai membalut luka di dahi Greta dan memastikan memar di punggungnya sudah diberikan salep pereda nyeri, ia membereskan peralatan medisnya ke dalam tas.
"Saya sudah memberikan obat pereda nyeri dan vitamin agar tubuhmu tidak terlalu drop, Greta. Pastikan istirahat yang cukup malam ini," ucap Suster Martha sambil tersenyum ramah. Ia juga sempat memberikan beberapa instruksi kepada Clara mengenai perawatan luka Greta untuk besok pagi.
Suster Martha kemudian berpamitan kepada Ibu Clara di ruang tamu sebelum akhirnya melangkah keluar menuju mobilnya. Suasana rumah pun kembali sunyi, hanya menyisakan Greta dan Clara di dalam kamar yang kini terasa jauh lebih lega tanpa kehadiran orang asing.
Malam yang Larut di Kamar Clara
Clara menghempaskan tubuhnya ke kasur di samping Greta, menatap langit-langit kamar. "Akhirnya... hari yang sangat panjang sudah selesai.
"Kamu harus istirahat sekarang, Greta, supaya luka-lukamu itu cepat sembuh," ucap Clara sambil merapikan bantal di tempat tidur untuk sahabatnya.
Namun, Greta tidak bergeming. Ia terduduk di tepi kasur, matanya menatap kosong ke arah lantai kayu. Pikirannya kembali terseret ke lorong gelap di gudang sekolah tadi rasa dingin dari lantai beton, suara tawa meremehkan Norah, dan rasa sakit saat kepalanya dihantam. Bayangan darah di dalam mimpinya dan darah nyata di kepalanya seolah bercampur aduk, membuatnya sulit bernapas.
Cubit!
"Aduh!" Greta tersentak, memegangi pipinya yang baru saja ditarik gemas oleh Clara. "Sakit, Clara!"
"Habisnya kamu melamun terus! Greta... kamu dengar aku tidak, sih?" Clara berkacak pinggang, menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Ahh, iya... apa, Clara? Maaf, aku hanya sedikit lelah," jawab Greta terbata, mencoba kembali ke kenyataan.
Clara tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi sangat jail. Ia mencondongkan wajahnya, hanya beberapa senti dari wajah Greta. "Aku tahu kamu bukan cuma memikirkan luka itu. Kamu lagi membayangkan Kapten Luca yang sedang dikelilingi cewek-cewek di pesta steak itu, kan? Hayo, mengaku!"
"Tidak, aku tidak..."
"Halah! Jangan bohong," goda Clara sambil menyenggol lengan Greta berkali-kali. "Lihat deh, kamu masih betah banget pakai jersey besar itu. Aromanya masih bau Luca, ya? Pasti rasanya seperti sedang dipeluk sama dia sepanjang malam. Duh, Greta, kalau aku jadi kamu, jersey ini tidak akan aku cuci sampai lulus sekolah!"
"Clara! Berhenti bicara sembarangan!" Greta mencoba menutupi wajahnya yang mulai terasa panas dengan kerah jersey yang kebesaran itu, namun hal itu justru membuat aroma parfum Luca yang maskulin semakin menusuk indra penciumannya.
"Cieee, wajahnya merah! Sudah sana, tidur sambil peluk jersey 'keramat' itu," tawa Clara meledak.
Clara naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya sendiri. "Aku biarkan lampunya nyala ya, Greta. Biar kalau kamu bangun tengah malam karena mau minum atau... mau mencium bau jersey Luca lagi, kamu nggak perlu gelap-gelapan," ledeknya untuk terakhir kali sebelum memejamkan mata.
Di luar, angin Kanada menderu pelan, membawa mereka menuju hari esok hari yang masih abu-abu.
Matahari pagi di Kanada bersinar cerah, namun bagi Greta dan Clara, pagi itu adalah bencana kecil. Mereka seharusnya sudah duduk manis di dalam kelas sepuluh menit yang lalu.
Penyebabnya? Clara.
"Duh, Greta... tunggu!" keluh Clara sambil memegangi perutnya yang mulas, wajahnya pucat pasi. "Ini pasti gara-gara poutine ekstra pedas kemarin sore! Perutku rasanya seperti sedang ada konser rock di dalam!"
"Aku sudah bilang jangan pakai saus tambahan, Clara!" sahut Greta yang terpaksa berlari kecil sambil terus menarik lengan sahabatnya. Jersey Luca masih tersimpan rapi di dalam tasnya, rencananya akan dikembalikan hari ini.
Begitu sampai di gerbang sekolah yang hampir tertutup, mereka melihat Mr. Miller—petugas keamanan sekolah yang terkenal galak dan hobi memberikan detensi—sedang berdiri membelakangi mereka sambil mencatat sesuatu.
"Sekarang!" bisik Greta.
Mereka berdua melakukan gerakan menyelinap yang sangat tidak anggun. Clara, dengan satu tangan memegangi perut dan tangan lainnya menjinjing tas, berlari zig-zag di balik deretan loker. Mereka berputar-putar melewati lorong olahraga, naik tangga darurat, hingga akhirnya sampai di depan pintu kelas mereka dengan napas yang terputus-putus.
"Aman... kita... aman..." bisik Clara sambil mengatur napasnya yang habis.
Begitu pintu kelas terbuka, suara gesekan kursi dan bisikan langsung berhenti. Semua mata tertuju pada Greta dan Clara yang masih terengah-engah. Di barisan depan, Norah dan Revelyn memberikan tatapan yang bisa dibilang lebih tajam dari silet; Norah bahkan menyentuh perban di dahinya sambil mendelik benci, seolah menyalahkan Greta atas luka itu.
"Silakan duduk, kalian berdua. Syukurlah kalian sampai sebelum diskusi inti dimulai," ucap Ms. Jennie dengan nada menyejukkan.
Saat Greta berjalan menuju barisan belakang, Luca Blight yang sudah duduk di sana dengan wajah sedikit mengantuk—mungkin efek acara semalam—langsung menegakkan punggungnya. Ia menarik kursi di sebelahnya dengan gerakan sigap, memberi isyarat agar Greta duduk di sana.
"Sini," bisik Luca pendek, matanya menatap Greta dengan perhatian yang tidak bisa disembunyikan.
Melihat perlakuan istimewa itu, Norah meremas pulpennya hingga buku jarinya memutih. Kemarahannya hampir meledak, namun terhenti ketika pintu kelas diketuk dari luar. Seorang guru lain memanggil Ms. Jennie untuk berbincang sejenak di koridor.
Beberapa menit kemudian, Ms. Jennie kembali masuk, namun kali ini ia tidak sendirian.
Kehadiran Leon Weiss
Seorang pria melangkah masuk di belakang Ms. Jennie, dan seketika itu juga, suasana kelas menjadi hening yang penuh kekaguman.
Pria itu memiliki paras yang tampan dengan struktur wajah khas Korea yang tegas namun halus, sangat mirip dengan fitur wajah Greta. Kulitnya bersih, matanya tajam namun teduh, dan ia mengenakan setelan smart casual kemeja charcoal yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang elegan. Rambut hitamnya tertata rapi namun terkesan natural.
"Halo semuanya. Nama saya Leon Weiss," ucapnya dengan suara bariton yang tenang. "Senang bisa bergabung di Jarvis High."
Sekejap saja, suasana kelas pecah. Norah dan Revelyn yang tadinya sibuk mendelik benci pada Greta, kini malah sibuk merapikan rambut dan duduk tegak, mencoba menarik perhatian Leon.
"Leon, silakan pilih kursi yang kosong," ujar Ms. Jennie sambil menunjuk ke arah barisan belakang.
Ketegangan di Barisan Belakang
Leon berjalan melewati lorong meja dengan langkah yang tenang. Tatapannya tertuju lurus ke arah Greta yang duduk di samping Luca. Saat Leon mendekat, Luca secara tidak sadar meletakkan lengannya di sandaran kursi Greta, sebuah gerakan posesif yang sangat kentara.
Leon berhenti tepat di meja kosong yang berada di sisi lain Greta. Sebelum duduk, ia menoleh ke arah Greta dan memberikan senyum tipis yang hanya ditujukan untuknya.
"Hai," sapa Leon pelan, hampir berupa bisikan. "
Greta membeku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena terpesona seperti murid lainnya, tapi karena rasa bingung yang luar biasa.
Luca yang duduk tepat di sebelah Greta tidak bisa mengabaikan reaksi gadis itu. Ia menyadari bagaimana tubuh Greta menegang dan matanya terpaku pada Leon. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dada Luca sesuatu yang sangat mirip dengan kecemburuan.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Greta, memperpendek jarak di antara mereka.
"Ada apa, Greta?" bisik Luca pelan, suaranya terdengar sedikit berat dan tajam, memberikan kesan protektif sekaligus menyelidiki. "Kenapa melihatnya sampai seperti itu?"
Greta tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia segera mengalihkan pandangan dari Leon dan menatap Luca dengan bingung. "Ah, tidak... tidak apa-apa, Luca. Hanya saja... wajahnya terasa tidak asing," jawab Greta dengan suara yang sedikit bergetar.
Luca hanya menyipitkan mata, tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, namun ia kembali duduk tegak sambil tetap sesekali melirik Leon dengan tatapan waspada.
Sementara itu, di barisan depan, suasana tidak kalah panas, namun karena alasan yang sangat berbeda. Revelyn tampak tidak bisa diam ia terus merapikan seragamnya dan mencuri pandang ke arah belakang, tempat Leon duduk.
"Norah...!" bisik Revelyn dengan nada posesif yang tertahan. "Leon milikku! Pokoknya dia harus jadi milikku, ya? Kamu kan sudah punya Luca!"
Norah menoleh ke arah sahabatnya dengan muka jengkel yang sangat kentara. Ia mendengus kasar. "Jangan konyol, Revelyn. Lihat saja penampilannya, dia jauh lebih berkelas daripada cowok-cowok di sini. Dan soal Luca..." Norah melirik ke belakang, melihat Luca yang sedang berbisik pada Greta, "...dia harus tahu kalau ada saingan sekarang."
"Tapi Leon untukku!" rengek Revelyn tanpa suara.
Norah tidak membalas lagi, ia hanya memutar bola matanya.
Aura kompetisi mendadak terasa sangat kuat dan dingin, memenuhi ruang kelas yang sempit itu. Luca bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Leon, pria itu tidak menatap Greta dengan kekaguman dangkal seperti murid laki-laki lainnya. Tatapan Leon terasa memiliki "hak milik", seolah ia mengenal Greta lebih jauh daripada siapa pun di ruangan ini.
Matahari siang menyinari kelas itu, namun bagi Luca, bayangan yang dibawa Leon Weiss terasa jauh lebih gelap dan mengancam daripada yang bisa dibayangkan siapa pun.
oke lanjut thor.. seru ceita nya