NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INVESTIGASI BALIK

Jumat pagi, Rajendra datang ke kantor dengan wajah yang lebih segar meski tidurnya hanya empat jam.

Kemarin sore setelah dari Polda, dia langsung ke Bank Mandiri, minta print statement resmi dengan materai dan tanda tangan pejabat, lalu scan dan backup ke beberapa tempat. Cloud storage, flashdisk, hard drive eksternal.

Tidak akan kasih kesempatan kedua untuk mereka bikin dokumen palsu lagi.

Di kantor, Arief dan Rian sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dina baru datang sepuluh menit setelah Rajendra.

"Pagi, bos," sapanya sambil meletakkan tas. "Gimana tidur semalam?"

"Lumayan. Lu?"

"Sama. Gue masih mikirin kemarin. Seriusan itu keluarga lu yang bikin laporan palsu?"

"Hampir pasti."

"Lu gak mau report balik ke polisi?"

Rajendra menggeleng.

"Belum. Gue butuh bukti solid dulu. Kalau gue report sekarang tanpa bukti, mereka bisa bilang gue yang fitnah."

Dina duduk di mejanya, membuka laptop.

"Terus lu mau gimana?"

"Gue akan investigasi. Cari tahu siapa yang submit laporan itu, siapa yang bikin dokumen palsu, bagaimana mereka dapetin akses ke data bank gue."

"Lu mau hire private investigator?"

Rajendra berpikir sebentar.

"Mungkin. Tapi mahal. Gue cek dulu opsi lain."

Ponselnya berdering, panggilan dari nomor tidak dikenal.

Rajendra ragu sebentar, tapi tetap angkat.

"Halo?"

Suara wanita di seberang, pelan, gemetar.

"Mas Rajendra, ini Bu Siti."

Rajendra terdiam sebentar, mengenali suara itu.

Bu Siti, pembantu rumah tangga yang jadi saksi palsu di sidang pertama.

"Bu Siti? Kenapa Ibu telepon saya?"

"Maaf, Mas. Saya... saya harus ngomong sama Mas. Tentang yang terjadi kemarin."

"Kemarin? Maksud Ibu apa?"

"Laporan polisi palsu itu. Saya tahu siapa yang bikin."

Rajendra menegang, langsung berdiri dari kursinya.

"Ibu tahu? Siapa?"

"Bisa kita ketemu? Saya takut kalau ngomong lewat telepon."

"Oke. Dimana?"

"Warung kopi dekat Pasar Minggu. Ibu tahu yang mana?"

"Tahu. Jam berapa?"

"Jam sebelas? Saya cuma bisa sebentar. Kalau ketahuan saya ngomong sama Mas, saya bisa dalam bahaya."

"Baik. Jam sebelas. Saya akan datang."

Sambungan terputup.

Rajendra menatap ponselnya, pikiran berputar cepat.

Dina menatapnya dengan tatapan penasaran.

"Siapa?"

"Bu Siti. Pembantu rumah tangga di rumah kakek dulu. Dia bilang dia tahu siapa yang bikin laporan polisi palsu."

"Serius?"

"Iya. Dia mau ketemu jam sebelas."

"Lu mau gue ikut?"

"Enggak. Lu stay di sini, handle kantor. Gue pergi sendiri."

"Hati-hati, bos. Ini bisa jebakan."

"Gue tahu. Tapi gue harus coba."

Jam sepuluh setengah, Rajendra berangkat naik taksi ke Pasar Minggu.

Warung kopi yang Bu Siti maksud adalah warung kecil di pinggir jalan, meja plastik, kursi kayu, atap seng yang bocor di beberapa tempat.

Rajendra sampai jam sebelas kurang lima menit. Bu Siti sudah duduk di meja pojok, pakai jilbab putih dan baju rumah sederhana, wajahnya pucat dan cemas.

Rajendra duduk di seberangnya.

"Bu Siti."

Bu Siti menatapnya, matanya berkaca-kaca.

"Maaf, Mas. Maaf untuk semuanya. Untuk sidang waktu itu, untuk semua kebohongan saya."

"Sudahlah, Bu. Sekarang Ibu bilang Ibu tahu siapa yang bikin laporan polisi palsu?"

Bu Siti mengangguk pelan.

"Mas Dera. Dia yang suruh orang bikin laporan itu."

"Dera? Ibu yakin?"

"Yakin. Kemarin malam dia datang ke rumah Pak Julian, ketemu sama Nona Jessica. Saya dengar mereka ngobrol di ruang kerja. Pintunya gak ditutup rapat. Mas Dera bilang plannya gagal karena Mas Rajendra bisa buktiin dokumen palsu."

Rajendra mengepalkan tangan di bawah meja.

"Mereka ngomong apa lagi?"

"Mas Dera marah. Dia bilang harusnya lebih hati-hati bikin dokumen palsu. Nona Jessica takut, dia bilang dia gak mau lanjut lagi, terlalu berbahaya. Tapi Mas Dera bilang mereka sudah terlanjur, gak bisa mundur."

"Dera bilang dia akan coba cara lain?"

Bu Siti mengangguk.

"Iya. Tapi saya gak dengar detail. Mereka sadar saya ada di luar, jadi mereka tutup pintu."

Rajendra diam, memproses semua informasi ini.

"Kenapa Ibu mau cerita ke saya sekarang? Kemarin Ibu jadi saksi untuk mereka."

Bu Siti menunduk, air mata mulai turun.

"Karena saya gak tahan lagi, Mas. Pak Dimas orang baik. Beliau gak pernah jahat sama saya. Gak pernah telat bayar gaji. Selalu hormati saya. Dan sekarang keluarga beliau hancurkan nama baik beliau dengan bilang beliau gila. Itu gak adil."

Dia menghapus air matanya dengan ujung jilbab.

"Dan Mas Rajendra juga cucu kesayangan Pak Dimas. Saya lihat gimana Pak Dimas sayang sama Mas. Saya gak bisa diam aja lihat Mas dijatuhkan dengan cara kotor."

Rajendra merasakan sesuatu hangat di dadanya.

"Terima kasih, Bu. Serius. Ini berarti banyak buat saya."

"Tapi saya gak bisa jadi saksi resmi, Mas. Kalau saya ngaku di pengadilan, saya bisa dipecat, gak dapat pesangon, bahkan bisa dituntut balik. Saya cuma bisa kasih tahu Mas informasi ini, tapi Mas harus cari bukti sendiri."

"Saya paham. Ini sudah cukup membantu."

Bu Siti berdiri.

"Saya harus pulang sebelum mereka curiga. Hati-hati, Mas. Mas Dera itu... dia bukan orang sembarangan. Dia bisa lakuin apa aja untuk dapat apa yang dia mau."

"Saya akan hati-hati. Ibu juga. Jangan sampai ketahuan Ibu bicara sama saya."

Bu Siti mengangguk, lalu pergi cepat.

Rajendra duduk sendirian beberapa menit, menatap gelas kopi di depannya yang tidak tersentuh.

Sekarang dia tahu. Dera yang di balik semua ini. Dera yang bikin dokumen palsu, laporan palsu, semua setup untuk jatuhkan dia.

Tapi tahu bukan berarti bisa buktikan.

Dia butuh bukti fisik. Bukti yang bisa dibawa ke polisi atau pengadilan.

Rajendra menelepon Hartono.

"Pak Hartono, saya dapat info. Dera yang bikin laporan polisi palsu kemarin."

"Dari mana Anda tahu?"

"Bu Siti, pembantu rumah tangga di rumah keluarga, dengar mereka ngobrol. Tapi dia gak bisa jadi saksi resmi karena takut."

Hartono diam sebentar.

"Kalau dia gak bisa jadi saksi, informasi ini gak bisa dipakai di pengadilan. Kita butuh bukti lain."

"Saya tahu. Makanya saya telepon Bapak. Saya butuh saran, gimana cara dapat bukti kalau seseorang bikin dokumen palsu?"

"Sulit. Tapi ada beberapa cara. Pertama, trace siapa yang submit dokumen ke polisi. Minta polisi cek CCTV atau log administrasi. Kedua, cek digital forensic. Dokumen palsu pasti dibuat pakai software tertentu, ada metadata yang bisa di-trace. Ketiga, cari orang dalam yang terlibat. Biasanya untuk bikin dokumen palsu secanggih itu, mereka butuh orang yang ngerti sistem perbankan atau punya akses ke template resmi."

Rajendra mencatat mental semua itu.

"Untuk digital forensic, Bapak kenal ahli yang bisa bantu?"

"Kenal. Tapi mahal. Minimal sepuluh juta untuk satu kasus."

Rajendra menghitung budget di kepala. Dana perusahaan masih ada, tapi kalau dipakai untuk ini, operational bisa terganggu.

"Saya pikir dulu, Pak. Terima kasih."

"Sama-sama. Oh ya, satu lagi. Putusan sidang dua minggu lagi. Fokus ke itu dulu. Kalau Anda menang sidang, posisi Anda lebih kuat untuk fight balik."

"Baik, Pak."

Sambungan terputus.

Rajendra pulang ke kantor jam dua belas lewat. Tim sudah pada makan siang.

Dina menatapnya begitu masuk.

"Gimana? Dapat info?"

"Dapat. Dera yang bikin semua ini. Tapi gak ada bukti yang bisa gue pakai."

"Terus gimana?"

"Gue harus cari cara dapat bukti. Tapi belum tahu caranya."

Arief yang mendengar dari mejanya ikut bicara.

"Bos, kalau mau trace dokumen digital, gue bisa bantu. Gue punya temen yang ahli digital forensic. Dia bisa analisis metadata dokumen, cari tahu kapan dibuat, pakai software apa, di komputer mana."

Rajendra menatapnya.

"Serius?"

"Serius. Dia freelancer. Biasanya kerja untuk kasus-kasus fraud di perusahaan. Fee-nya negotiable."

"Bisa arrange meeting?"

"Bisa. Gue hubungi dia sekarang."

Arief meraih ponselnya, menelepon seseorang.

Nada sambung berbunyi beberapa kali, lalu seseorang angkat.

"Yo, Arif. Ada apa?"

"Bro, lu lagi sibuk? Gue ada case yang perlu bantuan lu. Digital forensic."

"Case apa?"

"Dokumen palsu. Perlu di-trace siapa yang bikin, kapan, pakai tools apa."

"Bisa. Tapi lu tahu kan fee gue?"

"Berapa?"

"Lima juta per case. Kalau kompleks bisa naik."

Arief melirik Rajendra, Rajendra mengangguk.

"Oke. Bisa ketemu kapan?"

"Besok Sabtu gue free. Jam berapa?"

"Jam dua siang?"

"Deal. Lu kirim location."

"Siap."

Sambungan terputus.

Arief menatap Rajendra.

"Besok Sabtu jam dua. Nama dia Bima. Dia jago banget. Pernah bantuin gue trace hacker yang nyerang website klien lama gue."

"Thanks, Rief. Serius."

"Sama-sama, bos."

Sore itu mereka kerja seperti biasa. Monitor order, handle customer service, koordinasi dengan seller dan Bambang untuk pengiriman.

Order hari ini dua puluh tiga. Traffic naik terus. Conversion rate stabil di tiga koma lima persen.

Semuanya berjalan baik dari sisi bisnis.

Tapi Rajendra tidak bisa sepenuhnya fokus. Pikirannya terus ke Dera, ke rencana jahat yang masih belum sepenuhnya dia ketahui, ke bahaya yang mungkin datang kapan saja.

Jam enam sore, semua orang pulang. Rajendra tinggal sendirian di kantor lagi.

Dia membuka laptop, browsing artikel tentang cara melindungi diri dari fitnah dan dokumen palsu.

Membaca tentang hak-hak korban fitnah, cara lapor ke polisi, cara menggugat balik secara perdata.

Semakin dia baca, semakin dia sadar betapa rumitnya sistem hukum di Indonesia.

Butuh waktu. Butuh uang. Butuh tenaga.

Dan Dera tahu itu. Makanya dia pakai taktik ini. Bukan untuk menang langsung, tapi untuk menguras energi dan resource Rajendra sampai dia menyerah.

Tapi Rajendra tidak akan menyerah.

Dia sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang.

Ponselnya bergetar, pesan dari Dina.

"Bos, gue liat ada artikel baru tentang LokalMart di blog startup. Positive. Lu mau gue forward?"

"Forward aja."

Beberapa detik kemudian, link masuk.

Rajendra buka, membaca artikel itu.

Judul: "LokalMart: Harapan Baru untuk UMKM Indonesia"

Isi artikel membahas konsep LokalMart, interview singkat dengan salah satu seller yang happy dengan platform, dan prediksi bahwa LokalMart bisa jadi game changer untuk produk lokal.

Rajendra tersenyum kecil.

Ditengah semua masalah, setidaknya ada orang di luar sana yang appreciate apa yang mereka bangun.

Orang yang percaya dengan visi mereka.

Dan itu cukup untuk bikin dia tetap jalan.

Rajendra menutup laptop, mematikan lampu, keluar kantor.

Jakarta malam seperti biasa. Ramai, bising, penuh dengan kehidupan yang tidak pernah berhenti.

Rajendra berjalan ke halte bus, naik bus yang lewat, duduk di pojok, menatap jendela.

Besok ketemu Bima. Semoga bisa dapat bukti.

Dua minggu lagi putusan sidang. Semoga menang.

Dan setelah itu, apapun yang Dera rencanakan, dia akan siap.

Atau setidaknya, dia berharap dia siap.

[ END OF BAB 25 ]

1
mini
aduh akubkurang srek thor gda chemistry sama dina😁✌️
aidios: hahaha iya kak maaf ya, memang jalan ceritanya ini lebih fokus ke balas dendamnya si rajendra 🤣
total 1 replies
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!