Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Obrolan Serius
Matahari baru saja menyembunyikan sinarnya di balik tirai malam. Syafina mengangkat kakinya tinggi-tinggi saat menaiki motor sang adik.
"Sudah? Kalau sudah, pegangan!" titah Dalfas.
Syafina tidak membantah, ia berpegangan erat pada pinggang sang adik. Motor melaju membelah hari yang mulai temaram.
"Alf, nanti stop dulu di penjual martabak, aku mau beli martabak," ujar Syafina setengah berteriak.
"Apa....?" Dalfas balas berteriak, karena suara Syafina kurang jelas.
"Nanti stop di tukang martabak." Kini suara Syafina lebih kuat dan kencang.
"Ohhh...." ujar Dalfas. Kepalanya langsung menggeleng, membuang rasa geli akibat teriakan sang kakak.
Motor itu berhenti tepat di depan gerobak martabak manis dan asin Mang Uhuy. Martabak langganan Syafina sejak ia pulang mondok dari sebuah boarding school di kota udang, dua tahun belakangan.
"Dua kotak ya, Neng?" Mang Uhuy langsung tahu apa yang mau dipesan Syafina, saking sudah berlangganan.
Syafina mengangguk, lalu tersenyum.
"Rasanya seperti biasa atau ingin rasa yang lain?" tanya Mang Uhuy sambil mengaduk adonan martabak.
"Yang asin satu kotak, yang manis pakai ketan dan kelapa."
Tanpa pikir panjang Mang Uhuy mengeksekusi pesanan martabak yang dipesan Syafina.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil warna navy berhenti tepat di depan gerobak martabak Mang Uhuy, di samping motor yang dinaiki Syafina. Sang pengemudi terlihat keluar, sepertinya dia juga akan membeli martabak.
"Martabak asin kesukaan Mama," gumamnya lalu melangkah mendekati gerobak Mang Uhuy.
"Pak, yang asin satu kotak, pisang coklat satu kotak, kelapa ketan satu kotak." Pria bertubuh atletis berwajah rupawan itu membeli martabak sebanyak tiga kotak.
Mang Uhuy mengangguk, tangannya tidak henti mengaduk.
Pria itu berdiri di samping gerobak Mang Uhuy sambil sesekali melihat aksi Mang Uhuy membuat adonan martabak.
Sementara Syafina masih menunggu dengan wajah fokus ke atas pangkuannya, melihat ponsel yang menyala.
"Sudah selesai," ujar Mang Uhuy sambil memberikan kantong yang berisi martabak.
Dalfas sigap meraih kantong itu dan Syafina segera membayar.
"Makasih Mang Uhuy."
"Iya, Neng, sama-sama."
"Ayo," ajak Dalfas. Gerakan tubuhnya posesif. Tangan kanannya menggiring pinggang Syafina sampai tiba di motor. Terlihat gerakannya begitu ingin melindungi Syafina.
Selain sebagai seorang adik, Dalfas punya tugas melindungi saudara kembarnya di manapun berada sesuai perintah sang papa, sejak kepulangan mereka mondok.
Pria bertubuh atletis itu berpindah tempat saat mengetahui bangku di belakang gerobak Mang Uhuy kosong.
Namun, ketika matanya menatap ke depan gerobak, hati sang pria langsung dibakar rasa cemburu.
"Syafina? Benar... dia Syafina," yakinnya sambil menatap tajam ke arah motor yang kini dinaiki Dalfas dan Syafina. Pria itu hendak melangkah maju, sayangnya motor Dalfas sudah melaju.l
Syafina meraih pinggang Dalfas lalu berpegangan tanpa segan.
"Benar dugaanku, Syafina ternyata sudah memiliki kekasih," desahnya kecewa.
Pria bernama Erlaga itu duduk dengan bahu merosot, setelah tadi mendongak untuk melangkah, hanya untuk meyakinkan bahwa gadis muda yang baru membeli martabak itu adalah Syafina.
Wajahnya seketika muram dan kecewa. Sudah dua kali ia melihat gadis kenalannya jalan bersama pria muda yang sama, yang ia yakini sebagai kekasihnya.
Beberapa saat kemudian, motor khas pria itu, berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua dengan cat warna hijau sage. Tidak lupa Dalfas menutup kembali pagar rumah.
Sementara Syafina, langsung memburu ke dalam dengan kantong martabak yang dipegangnya.
"Assalamualaikum. Mama...Papa mana?" Kedatangannya langsung disambut wanita paruh baya, diikuti di belakangnya seorang gadis remaja berusia 10 tahun.
Meskipun yang ditanyanya sang papa, tapi Syafina memberikan kantong martabak itu pada sang mama.
"Waalaikumsalam. Papa sedang mojok di ruang tengah, menunggu kalian pulang," ujar wanita paruh baya, yang tidak lain adalah Syafana.
"Syafina, kalian baru pulang?" Sang Papa muncul dari balik ruang tengah dengan ponsel di tangannya.
Dallas lega melihat kedua anak kembarnya pulang dengan utuh dan selamat, terutama terhadap Syafina.
Dallas memang begitu khawatir jika melepas anak gadisnya di luaran terlalu lama. Untuk itu, sejak kepulangan Syafina dan Dalfas mondok di boarding school di kota Cirebon dua tahun lalu, Dallas mengutus Dalfas menjadi pengawal pribadi untuk Syafina.
Beruntung, mereka kuliah di Universitas negeri yang sama setelah keluar dari pondok, sehingga Dallas tidak terlalu khawatir melepas Syafina di luaran, sebab ada Dalfas yang siap menjadi pengawal untuk saudari kembarnya.
Namun, kekhawatiran kini muncul kembali, setelah Dalfas memutuskan ingin daftar Akmil di Magelang.
Bulan depan Dalfas sudah mulai pendaftaran. Dan harus terbang ke Magelang. Kuliahnya terpaksa break sementara. Dan kini Dallas bingung, bagaimana dengan Syafina setelah Dalfas tidak lagi bersamanya?
Setelah berdiskusi panjang dengan sang istri, Dallas akhirnya menemukan ide. Namun, ide itu masih ia simpan rapat. Dan sepertinya belum ada waktu yang tepat untuk dibicarakan pada Syafina.
Suasana malam di rumah itu kian hangat, setelah kepulangan kedua anak kembarnya dari kampus yang sama.
"Papa, Fina bawa martabak manis kesukaan Papa dan Mama," ujar Syafina.
Dallas berbinar saat sang putri membawa makanan favoritnya. Dia langsung memburu martabak yang sudah Syafana siapkan di atas meja makan.
Dua kotak martabak itu ludes dalam waktu yang singkat. Mereka begitu bahagia menikmati makanan yang sederhana itu, tidak peduli kalau makanan lain sudah terhidang di atas meja sebagai menu makan malam.
***
Pagi menjelang, setelah sarapan pagi, Dallas sebagai kepala keluarga tiba-tiba bicara serius pada Syafina.
Syafina dan Dalfas diminta hadir di ruang keluarga.
Tidak menunggu lama kedua anak kembar mereka sudah berada di ruang keluarga. Syafina sudah memasang wajah tegang, begitupun Dalfas.
"Papa ingin bicara serius sama kalian." Dallas memulai bicara, wajahnya serius. Semua mata menatap ke arah Dallas, tidak sabar ingin tahu apa yang akan disampaikan pria paruh baya di depanya.
"Bulan depan Dalfas akan daftar Akmil, tugas kamu sebagai pengawal pribadi saudari kembarmu selesai. Kamu fokus di Akmil."
Dalfas mengangguk, ia memang sudah bertekad ingin melanjutkan jejak sang papa yang sebentar lagi akan pensiun dari militernya.
"Dan Syafina."
Wajah Syafina mendongak, menatap sang papa. Ia tidak sabar mendengar apa yang akan dibicarakan sang papa.
"Papa punya kenalan, teman satu leting papa dulu."
Kening Syafina mengkerut dalam. "Maksud Papa, Papa mau jodohin Syafina sama Om-om tua seumuran Papa?"
Dallas menggeleng. "Bukan Sayang, tapi papa ingin bersilaturahmi dengan keluarga leting papa, sekaligus berkenalan dengan salah satu anaknya. Anaknya mantan bawahan papa, lho. Dia salah satu prajurit yang paling papa kagumi. Karena...."
"Papa mau jodohin Fina, ya? Fina nggak mau. Fina masih mau kuliah Papa!" protes Syafina mendengus.
"Bukan mau menjodohkan, kita akan silaturahmi. Apakah tadi kurang jelas kalau Papa bilang mau silaturahmi?" tekan Dallas.
Syafina mendelik, baginya niat sang papa sudah terbaca, bahwa ajakannya bukan silaturahmi biasa, melainkan....
Dallas dan Syafana saling lempar tatap, sementara Dalfas terlihat berat hati, karena sebentar lagi akan meninggalkan Syafina, saudari kembar yang sangat ia sayangi.
Hai, mohon maaf Author baru launching kisah baru Erlaga dan Syafina. Tentu saja setelah melewati berbagai pertimbangan yang cukup menyita waktu, dan beruntung salah satu pembaca setia saya ada yang mengingatkan tentang Syafina, bahwa Syafina dan saudara kembarnya dalam salah satu bab di kisah Yoda dan Amira, diceritakan akan pergi mondok ke salah satu boarding school di kota Cirebon.
Sehingga, di sini Syafina adalah sosok gadis muda berhijab. Di akhir kisah Arkala dan Syapala, sudah direvisi, bab pertemuan Erlaga dan Syafina, Syafina adalah gadis berhijab.
Untuk Kak Citra Marwah, makasih banyak sudah mengingatkan. Love sekebon untuk kakak termasuk pembaca semua. 🥰🥰🥰🥰🥰
Mohon maaf atas keterlambatan launching, semoga dengan kisah baru, kalian juga menyukai karya ini.