Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Oksigen yang Hilang
"AIRA!!!"
Teriakan Arkanza menggema di koridor yang kini dipenuhi lidah api. Napasnya mulai tersengal. Kepulan asap hitam masuk ke paru-parunya seperti ribuan jarum tajam. Bintik merah mulai bermunculan di lehernya, namun rasa sakit itu kalah oleh rasa takut kehilangan Aira.
"Tuan! Kita harus keluar sekarang! Plafon di atas sudah mulai retak!" Reno berteriak sambil mendorong kursi roda Syarif Malik yang tak sadarkan diri.
"Bawa Ayah keluar, Reno! Selamatkan dia!" perintah Arkanza sambil terbatuk hebat.
"Tapi Tuan, Anda tidak bisa bernapas tanpa Nona Aira di dekat Anda! Jika Anda masuk lagi ke sana, Anda akan mati!"
"PERSETAN DENGAN PENYAKIT INI!" Arkanza berbalik, menatap Reno dengan mata yang memerah karena asap dan amarah. "Jika dia mati, tidak ada gunanya aku hidup! Bawa Ayah pergi sekarang, itu perintah!"
Reno tidak punya pilihan. Ia segera mendorong Syarif menuju pintu darurat, sementara Arkanza menerjang kembali ke dalam lautan api yang menyala-nyala.
"Aira! Kau di mana?! Jawab aku!"
Arkanza menutupi hidungnya dengan lengan jas, namun tubuhnya mulai melemah. Lututnya bergetar. Pandangannya mengabur saat ia sampai di depan reruntuhan kayu yang terbakar. Di sudut koridor yang tertutup lemari besar yang jatuh, ia melihat ujung gaun putih yang sangat ia kenali.
"Aira..." Arkanza merangkak mendekat. "Aira, bangun!"
Aira tergeletak pingsan karena menghirup terlalu banyak asap. Kepalanya sedikit berdarah karena terkena reruntuhan plafon. Arkanza mencoba mengangkat lemari yang menghimpit kaki Aira, namun tenaganya terkuras. Sesak di dadanya semakin mencekik.
"Ugh... hah... hah..." Arkanza jatuh berlutut di samping Aira. Paru-parunya seolah tertutup rapat.
Dengan sisa kekuatannya, Arkanza menarik Aira ke dalam pelukannya. Ia menempelkan wajahnya ke leher Aira, mencoba mencari sisa-sisa "penawar" dari kulit gadis itu. Kehangatan kulit Aira sedikit meredakan bintik merah di tubuhnya, tapi asap di ruangan itu terlalu pekat.
"Bangun, Aira... aku mohon..." bisik Arkanza, suaranya parau. "Aku belum... memberitahumu... kalau aku mencintaimu... Bukan karena kau obatku... tapi karena kau adalah kau..."
Mata Aira perlahan terbuka sedikit. Ia melihat wajah Arkanza yang membiru tepat di depan matanya. "T... Tuan Arkan? Pergi... selamatkan diri Anda..."
"Tidak tanpa kau," Arkanza tersenyum getir di tengah kabut asap. Ia mengangkat tubuh Aira dengan kekuatan terakhir yang ia miliki. "Kita keluar bersama, atau kita mati bersama di sini."
Tiba-tiba, tawa Dion terdengar dari ujung lorong yang lain. "Romantis sekali! Adikku yang sempurna mati demi seorang putri penjudi!"
Dion muncul dengan wajah yang menghitam karena jelaga, memegang sebuah pipa besi. "Biarkan aku mempercepat kematian kalian!"
Dion mengayunkan pipa itu, namun Arkanza dengan sigap memutar tubuhnya, melindungi Aira dan membiarkan punggungnya sendiri terkena hantaman besi tersebut.
BRAAK!
Arkanza tersungkur, tapi ia tidak melepaskan Aira. "Lari, Aira... lari ke arah jendela!"
"TIDAK! TUAN!" Aira berteriak saat melihat Arkanza dipukul lagi oleh Dion.
Dalam keadaan terdesak, Aira melihat sebuah tabung pemadam api yang terjatuh di dekatnya. Ia meraihnya dengan tenaga yang entah datang dari mana dan menyemprotkan isinya tepat ke wajah Dion.
"AGHHH! MATAKU!" Dion terhuyung ke belakang, jatuh tepat ke arah lantai yang sudah rapuh karena api.
Lantai itu runtuh, membawa Dion jatuh ke lantai bawah yang sudah menjadi lautan api sepenuhnya. Teriakan Dion hilang dalam sekejap ditelan gemuruh api.
Arkanza sudah tidak bisa berdiri lagi. Ia tergeletak lemas dengan napas yang benar-benar berhenti. Aira segera memeluknya, menempelkan bibirnya ke bibir Arkanza, memberikan napas buatan berkali-kali sambil menangis histeris.
"Tuan, bernapaslah! Saya di sini! Oksigen Anda di sini!"
Tepat saat plafon di atas mereka runtuh, Reno kembali dengan tim penyelamat berbaju tahan api. Mereka menarik Arkanza dan Aira keluar melalui jendela tepat sebelum seluruh gedung itu meledak.
...****************...
Di dalam ambulans, jantung Arkanza sempat berhenti berdetak selama beberapa detik. Aira terus memegang tangannya sambil menjerit memanggil namanya. Di rumah sakit, Syarif Malik yang baru saja sadar dari serangan jantungnya, melihat Arkanza didorong masuk ke ruang ICU. Dengan suara lemah, ia memanggil Reno. "Bawa brankas itu ke sini... sebelum aku mati, aku harus memberikan kuncinya pada gadis itu."