NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Belas

Kepergian Hazel meninggalkan keheningan yang menyakitkan di dalam penthouse yang mewah itu. Aroma parfum Hazel masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma whiskey dan sisa gairah yang kini terasa seperti abu.

Kenneth terdiam di kursinya. Tangan yang tadi memegang gelas dengan begitu kokoh, kini gemetar hebat. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, menyadari bahwa ia baru saja mengusir satu-satunya orang yang menatapnya dengan ketulusan, bukan dengan ketakutan atau rasa hormat yang dipaksakan.

"Brengsek!" Kenneth menggeram, lalu melemparkan gelas kristal di tangannya ke dinding kaca hingga hancur berkeping-keping.

Rasa bersalah mulai merayap di dadanya sesak dan mencekik. Ia teringat bagaimana Hazel memohon padanya untuk tidak meninggalkannya, dan bagaimana ia justru menghancurkan hati gadis itu dengan kata-kata paling kejam yang bisa ia pikirkan.

Untuk pertama kalinya, sang penguasa Queenstown merasa kalah dalam permainannya sendiri.

Namun, di tengah rasa sesal itu, bayangan wajah kakaknya, Kiana, tiba-tiba muncul di benaknya.

Ia teringat sore-sore panjang yang ia habiskan di paviliun, melihat Kiana yang dulunya ceria kini hanya bisa menangis tanpa suara atau menatap kosong ke taman. Ia teringat bagaimana Kiana pernah mencoba melukai dirinya sendiri karena depresi yang disebabkan oleh penolakan dingin Arthur.

Kenneth menyandarkan kepalanya di sofa, menutupi matanya dengan tangan. Air mata yang selama bertahun-tahun ia bendung akhirnya jatuh. Ia menangis bukan hanya karena kehilangan Hazel, tapi karena beban dendam yang ia pikul terasa terlalu berat.

"Kenapa harus adiknya, Kiana?" bisik Kenneth parau di tengah isak tangisnya yang sunyi. "Kenapa aku harus mencintai adik dari orang yang menghancurkan mu?"

Ia terjebak di antara dua cinta yang saling membunuh cintanya pada sang kakak yang menuntut keadilan, dan cintanya pada Hazel yang baru saja ia hancurkan demi keadilan itu.

Kenneth bangkit dengan mata merah, berjalan menuju dinding yang penuh dengan foto Hazel. Ia menyentuh salah satu foto di mana Hazel sedang tersenyum, senyum yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi.

Di satu sisi, ia merasa puas karena Arthur sekarang merasakan penderitaan yang sama dengan Kiana, tapi di sisi lain, ia sadar bahwa dalam menghancurkan Arthur, ia juga menghancurkan dirinya sendiri.

Sementara itu, di dalam mobil Arthur yang melaju kencang, Hazel duduk meringkuk di kursi penumpang. Ia tidak mengeluarkan suara, hanya air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.

Arthur melirik adiknya dengan perasaan hancur. "Hazel... maafkan aku. Aku tidak tahu bajingan itu akan menggunakan mu untuk membalas dendam padaku."

Hazel tetap diam. Ia tidak peduli pada dendam Arthur atau Kiana. Yang ia tahu hanyalah bahwa pria yang ia cintai dengan seluruh jiwanya baru saja mengakui bahwa setiap detik kebersamaan mereka hanyalah sebuah sandiwara berdarah.

Berita tentang konfrontasi maut di penthouse Kenneth dan keterlibatan Hazel dalam dendam masa lalu akhirnya sampai ke telinga orang tua Kenneth.

Tuan dan Nyonya Graciano, yang selama ini mencoba menjalani hidup dengan tenang meski putri mereka hancur, tidak bisa lagi tinggal diam melihat putra mereka berubah menjadi monster yang manipulatif.

Malam itu juga, Kenneth dipanggil ke ruang utama mansion Graciano. Suasananya jauh lebih mencekam daripada saat ia menghadapi Arthur.

"Apa yang kau pikirkan, Kenneth?!" suara Tuan Graciano menggelegar, memecah kesunyian rumah megah itu. "Kami membiarkanmu tumbuh menjadi pria yang kuat untuk melindungi keluarga ini, bukan untuk menjadi bajingan yang menghancurkan gadis polos hanya demi dendam!"

Kenneth berdiri kaku di tengah ruangan, wajahnya tanpa ekspresi, meski matanya masih terlihat merah. "Dia bukan sekadar gadis, Ayah. Dia adalah adik Arthur. Orang yang membuat Kiana kehilangan nyawanya sebelum ia sempat mati."

PLAK!

Satu tamparan keras dari ibunya mendarat di pipi Kenneth. Nyonya Graciano menatap putranya dengan air mata yang mengalir.

"Kiana tidak akan pernah menginginkan ini, Ken! Kau pikir dengan menyiksa Hazel, kakakmu akan sembuh? Kau pikir melihat Hazel hancur akan membuat Kiana kembali tersenyum?" tangis ibunya pecah.

"Kau tidak hanya menghancurkan keluarga Cavanaugh, kau menghancurkan nuranimu sendiri! Kau menggunakan cinta sebagai senjata... itu adalah hal paling rendah yang bisa dilakukan seorang pria."

Tuan Graciano maju, menatap tajam putra tunggalnya. "Aku malu menyebutmu putraku malam ini. Kau telah mencoreng nama Graciano. Arthur memang bersalah karena bersikap dingin, tapi kau... kau melakukan sesuatu yang jauh lebih jahat. Kau mencuri hati seorang gadis hanya untuk kau injak-injak."

"Ayah tidak mengerti..."

"Aku mengerti lebih dari yang kau tahu!" potong ayahnya.

"Aku tahu kau mulai mencintainya, Kenneth. Dan sekarang kau harus hidup dengan kenyataan bahwa kau telah menghancurkan satu-satunya wanita yang bisa membuatmu merasa hidup."

Kenneth terdiam. Kata-kata ibunya tentang "menggunakan cinta sebagai senjata" terngiang-ngiang di kepalanya, menghantam egonya yang keras. Ia menyadari bahwa orang tuanya benar, ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih buruk daripada Arthur yang ia benci.

Sementara itu, di kediaman Cavanaugh, orang tua Hazel yang baru pulang dari luar kota terkejut melihat kondisi putri mereka yang hanya bisa mengurung diri di kamar tanpa mau makan atau bicara.

Arthur berdiri di depan pintu kamar Hazel dengan rasa bersalah yang tak tertahankan, menyadari bahwa kebencian antara dia dan Kenneth telah menelan korban yang paling tidak bersalah.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!