Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tiga hari berlalu dengan penuh perhatian. Selama itu pula, Luna dengan setia mendampingi Pratama di ruang VVIP, mengesampingkan seluruh urusan Jati Grup dan menyerahkan kendali operasional sepenuhnya kepada Arini lewat pesan singkat yang tersembunyi.
Dokter akhirnya memberikan izin bagi Pratama untuk pulang.
Luka-lukanya sudah mulai mengering, meski rona biru di wajahnya masih sedikit berbekas.
Sesampainya di kontrakan mereka yang sederhana, suasana terasa begitu hangat.
Pratama duduk di kursi kayu ruang tamu, memandangi sekeliling rumah kecilnya dengan rasa syukur.
Ia melihat Luna yang masih mengenakan daster rumahan dan hijab instan, sedang sibuk di dapur kecil mereka membuatkan teh manis panas.
Luna berjalan mendekat, meletakkan cangkir itu di depan suaminya dengan penuh kasih.
"Diminum dulu Mas, supaya badannya lebih segar," ucap Luna lembut.
Pratama menatap istrinya dalam-dalam. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya.
"Dik, Mas benar-benar minta maaf. Karena Mas masuk rumah sakit, kamu jadi harus libur kerja beberapa hari ini. Padahal kamu kan baru saja pulang dari pelatihan di Bandung."
Luna tersenyum tipis, ia duduk di samping suaminya.
"Sudah Mas, tidak apa-apa. Kepala sekolah sudah mengerti kok, beliau mengizinkan aku libur untuk menjaga Mas. Besok aku sudah mulai mengajar lagi di TK."
Luna mengelus lengan suaminya dengan lembut.
"Tapi, Mas besok masih harus libur dulu ya. Jangan langsung ke ruko. Lusa saja baru Mas mulai jualan lagi, biar badannya benar-benar fit."
Pratama terdiam sejenak, lalu ia meraih tangan Luna dan meminta istrinya untuk duduk lebih mendekat.
Ia menggenggam kedua tangan Luna, menatap mata istrinya dengan tulus.
"Terima kasih ya, Dik. Mas tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu. Kamu sudah mengurus semuanya, bahkan sampai sabar menunggu Mas di rumah sakit semewah itu," ujar Pratama dengan suara rendah.
"Mas merasa menjadi pria yang paling beruntung memiliki istri seperti kamu."
Luna merasakan dadanya sesak karena haru sekaligus bersalah.
Ia ingin sekali jujur bahwa ialah yang mengatur semua kemewahan itu, namun ia belum sanggup merusak kebahagiaan sederhana suaminya.
"Sama-sama, Mas. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai istri," jawab Luna pelan.
Tanpa mereka sadari, di luar kontrakan, sebuah mobil mewah berwarna perak berhenti tidak jauh dari sana.
Noah sedang duduk di dalam mobil, menatap rumah kontrakan itu dengan pandangan benci.
Ia tidak akan membiarkan kemesraan itu bertahan lama.
Suasana di kontrakan kecil Pratama kedatangan tamu tak terduga.
Sebuah motor bebek butut yang suaranya nyaring terdengar berhenti tepat di depan pintu.
"Assalamu’alaikum," sapa Papa Jati sambil menjinjing beberapa kantong plastik berisi buah-buahan dan makanan rumahan.
"Wa’alaikumussalam. Eh, Papa," Luna segera menyambutnya dan mencium tangan ayahnya.
Pratama pun bangkit dengan perlahan untuk menyalami mertuanya.
"Ini ada sedikit buah dan lauk untuk kamu, Pratama. Biar cepat pulih," ucap Papa Jati dengan logat bersahaja, sangat kontras dengan status aslinya sebagai pemilik Jati Grup yang kekayaannya tak berseri.
"Terima kasih, Pa. Repot-repot sekali," jawab Pratama tulus.
Luna menatap meja makan yang masih kosong dan ia ingin memberikan makanan yang lebih bergizi untuk suami dan ayahnya, namun ia juga butuh waktu untuk memberikan instruksi darurat pada Arini.
"Mas, Pa, Luna izin keluar sebentar ya ke depan gang. Mau beli makanan tambahan yang enak untuk kita makan siang bersama," ujar Luna.
Pratama menganggukkan kepalanya dan mengijinkan istrinya.
"Hati-hati, Dik."
Luna melangkah keluar, menyusuri gang sempit dengan langkah terburu-buru. Namun, di balik pohon besar di ujung gang, sebuah kamera ponsel terus membidiknya.
Juwita, mantan istri Pratama yang haus harta, ternyata sedang mengintai.
Ia sangat penasaran dari mana Pratama bisa membayar biaya rumah sakit mewah tempo hari.
Sesampainya di pinggir jalan raya, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Luna.
Arini turun sejenak untuk membukakan pintu. Tanpa curiga, Luna segera masuk ke dalam mobil tersebut untuk menuju ke sebuah restoran ternama guna memesan makanan kelas atas.
Cekrek! Cekrek!
Juwita berhasil mengabadikan momen itu. Matanya membelalak kaget.
"Lho? Itu kan Luna? Kenapa dia naik mobil mewah itu lagi? Dan lihat penampilannya, dia tampak seperti orang yang berbeda!" gumam Juwita dengan senyum licik.
Tanpa membuang waktu, Juwita segera menyalakan motor bututnya.
Dengan sisa tenaga mesin yang terseok-seok, ia berusaha tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan sambil terus mengikuti ke mana mobil mewah Luna melaju.
"Habis kamu sekarang, Luna. Akan aku bongkar semua kebohonganmu di depan Pratama!" desis Juwita penuh kemenangan.
Juwita melihat mobil Luna berhenti di rumah makan terkenal.
Ia segera memarkirkan motor bututnya di seberang sebuah restoran mewah yang tampak kontras dengan penampilannya.
Matanya yang licik terus mengintai ke dalam restoran melalui dinding kaca besar di lantai bawah.
Di sana, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir copot.
Luna, wanita yang ia kenal sebagai guru TK miskin, sedang berdiri tegak dengan aura yang sangat berbeda.
Ia tampak memberikan instruksi tegas kepada Arini.
Gerak-gerik Luna sangat berwibawa, jauh dari kesan wanita lemah yang selama ini Juwita bayangkan.
"Jadi, dia CEO?" bisik Juwita dengan tangan gemetar memegang ponsel yang terus merekam.
"Selama ini dia membohongi Pratama? Wah, ini berita besar!"
Juwita melihat Arini kemudian bergegas naik ke lantai atas membawa beberapa map dokumen penting, sementara Luna tetap di lantai bawah, duduk di sebuah meja sudut sambil menunggu pesanannya selesai.
Tiba-tiba, seorang pelayan pria dengan wajah cemas menghampiri meja Luna.
Pelayan itu membungkuk dan membisikkan sesuatu yang membuat Luna mengernyitkan dahi.
"Ada apa?" tanya Luna, suaranya terdengar cukup keras.
Pelayan itu menunjuk ke arah lorong belakang menuju area parkir pribadi, seolah ada masalah teknis yang membutuhkan bantuan Luna secara langsung.
Tanpa curiga, Luna bangkit berdiri dan mengikuti pelayan tersebut. Namun, tepat saat ia melangkah masuk ke lorong yang sepi dan jauh dari jangkauan CCTV utama, dua pria bertubuh kekar muncul dari balik pintu darurat.
"MMMMPPHH!!"
Sebuah tangan besar dengan sapu tangan beraroma menyengat seketika menutup mulut Luna.
Luna mencoba berontak, namun kekuatan kedua pria itu terlalu besar.
Kesadarannya mulai menipis akibat pengaruh obat bius yang ada di sapu tangan tersebut.
Dalam hitungan detik, mereka menyeret tubuh Luna yang sudah lemas dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil hitam yang sudah menunggu dengan mesin menyala di pintu belakang restoran.
Mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan lokasi.
Sementara itu, di seberang jalan, Juwita masih tetap di atas motornya sambil terus memperhatikan pintu depan restoran. Ia mengira Luna masih berada di dalam.
"Lama sekali dia di dalam. Sambil nunggu, aku periksa lagi rekaman tadi. Pratama pasti akan langsung menceraikannya kalau tahu istrinya adalah bos besar yang penuh rahasia," gumam Juwita dengan senyum kemenangan.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan hidupnya, baru saja diculik tepat di bawah hidungnya.