Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
makin bengkak
Langkah Rayya semakin melambat. Setiap menapak satu anak tangga, rasa nyeri di pergelangan kakinya kian tajam, seolah ada denyut yang memukul dari dalam. Ketika ia berhenti sejenak untuk mengatur napas, pandangannya jatuh pada pergelangan kaki sendiri, bengkaknya kini terlihat jelas, kemerahan, bahkan sepatu yang ia kenakan terasa semakin sempit.
Rayya mencoba memaksakan diri melangkah lagi, namun baru satu langkah, tubuhnya goyah. Ia segera berpegangan pada pagar pembatas, napasnya tertahan menahan sakit. Kali ini ia sadar, bukan hanya sulit, ia benar-benar tidak sanggup melanjutkan perjalanan.
Tommy yang berada di sampingnya ikut berhenti. Wajahnya tampak pucat, keringat mengalir deras di leher dan pelipisnya. Napasnya belum juga kembali teratur sejak tadi. Ia menatap kaki Rayya, lalu menatap wajah Rayya yang berusaha terlihat tegar.
“Kayaknya… kakimu makin parah,” ucap Tommy lirih, nada suaranya bercampur cemas dan kelelahan.
Rayya mengangguk pelan. Ia tidak ingin menyangkal lagi. Rasa sakit itu sudah terlalu nyata.
Tommy mengepalkan tangannya, jelas sedang berpikir keras. Ia menoleh ke bawah, ke arah jalur yang sudah dilalui rombongan lebih dulu. Setelah beberapa detik, ia mengambil keputusan.
“Aku turun dulu,” katanya akhirnya.
“Aku cari tour guide. Siapa tahu ada solusi… tandu atau apa pun.”
Rayya sempat hendak menolak.
“Kamu nanti jadi capek, Tom…”
“Nggak apa-apa,” potong Tommy cepat, meski jelas tubuhnya sendiri sudah menuntut istirahat.
“Kita nggak bisa nekat kayak gini.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Tommy mulai menuruni anak tangga dengan langkah tergesa, sesekali menoleh memastikan Rayya tetap berdiri di tempat aman.
Rayya ditinggalkan sendirian di tengah jalur trekking, hanya ditemani suara angin dan pemandangan teluk yang kini tak lagi terasa indah. Ia menarik napas panjang, berusaha tetap berdiri, meski kakinya berdenyut hebat.
Beberapa langkah di belakang, Devan yang sejak tadi mengamati akhirnya berhenti. Pandangannya tertuju pada Rayya yang kini sendirian, tubuhnya bersandar pada pagar, wajahnya menegang menahan sakit. Tanpa berkata apa-apa, Devan mempercepat langkahnya, mendekat, bukan untuk mengambil alih, melainkan untuk memastikan Rayya baik - baik saja saat ini.
Devan berlutut perlahan di hadapan Rayya, memastikan posisinya stabil di anak tangga yang sedikit melebar. Nada suaranya tetap tenang, profesional, tanpa sedikit pun nada memaksa, namun cukup tegas untuk membuat Rayya akhirnya mengalah.
“Ray, aku nggak bermaksud ikut campur,” ucap Devan pelan.
“Tapi kalau dibiarkan, bengkaknya bisa makin parah. Kita jauh dari kapal, jauh dari dokter. Setidaknya aku ingin memastikan kondisi kakimu.”
Rayya menggigit bibirnya. Ia masih menyimpan kesal, pada situasi, pada Wilona, bahkan pada Devan sendiri. namun rasa nyeri yang terus berdenyut membuat egonya perlahan luruh. Ia mengangguk kecil.
“baiklah,” ucap rayya pada akhirnya.
Devan mengangguk. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia membuka tali sepatu Rayya. Tangannya besar, namun gerakannya begitu terkendali, seolah takut memberi tekanan berlebih. Rayya refleks menahan napas ketika sepatu itu terlepas, rasa nyeri menyambar tajam begitu kakinya bebas.
Devan berhenti sejenak.
“Sakit?” tanyanya.
Rayya mengangguk lagi, kali ini lebih jujur.
Kaos kaki Rayya dilepas perlahan. Ketika pergelangan kakinya terlihat jelas, Devan menghela napas tipis. Bengkaknya memang cukup parah, lebih besar dari yang ia bayangkan, kulitnya tampak menegang.
“Ini keseleo cukup serius,” ujar Devan lirih, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.
“kamu tidak boleh terlalu memaksanya lagi.” sambung devan.
Rayya menatap wajah Devan yang kini tampak begitu fokus. Tidak ada ekspresi dingin, tidak ada jarak emosional seperti biasanya. Yang ada hanya perhatian murni. Entah mengapa, hal itu justru membuat Rayya semakin gugup.
“Aku pijat sedikit ya,” lanjut Devan sambil menatap Rayya, meminta persetujuan.
“Bukan buat nyembuhin, tapi buat ngurangin tegangnya. Tapi… jujur, ini bakal sakit.” ucap devan dengan penuh kesungguhan.
Rayya menelan ludah. Ia sudah bisa membayangkan rasanya. Namun ia tahu, Devan tidak akan menawarkan sesuatu yang sembarangan.
“Lakukan saja,” jawabnya pelan.
“Aku siap.”
Devan mengangguk.
“Kalau nanti nggak kuat, bilang. Atau…” ia ragu sepersekian detik,
“…kamu bisa berpegangan sama aku.” ucap devan dengan wajah yang serius.
Rayya sempat terdiam. Tawaran itu sederhana, namun entah mengapa terdengar begitu intim di telinganya. Ia melirik tangan Devan, lalu kembali menatap wajahnya. Ada keraguan, ada rasa canggung, namun juga ada kepercayaan yang tak ingin ia akui.
“Aku… pegangan ya,” ucap Rayya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
Devan berdiri sedikit lebih dekat, lalu memberikan lengannya. Rayya menggenggam lengan itu perlahan, jari-jarinya menegang. Otot lengan Devan terasa kokoh di bawah sentuhannya, hangat, stabil. Sentuhan itu saja sudah cukup membuat jantung Rayya berdetak lebih cepat.
“ kamu sudah Siap?” tanya Devan sekali lagi.
Rayya mengangguk. ia terihat sudah pasrah.
Devan mulai memijat perlahan, menekan titik-titik tertentu di sekitar pergelangan kaki. Baru tekanan pertama saja, Rayya langsung terisak kecil, refleks menggenggam lengan Devan lebih erat.
“Sakit…dev” napasnya tercekat.
“Aku tahu,” jawab Devan lembut.
“Tarik napas. Ikuti aku.”
Tanpa sadar, Rayya mengikuti irama napas Devan. Setiap kali tekanan bertambah, jari-jarinya semakin mencengkeram. Tubuhnya sedikit condong ke depan, hampir bersandar sepenuhnya pada Devan.
Devan tetap fokus, namun ia tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa jarak mereka kini sangat dekat. Ia bisa merasakan napas Rayya di lengannya, bisa merasakan getaran kecil setiap kali Rayya menahan rasa sakit. Ada sesuatu yang bergerak pelan di dadanya, perasaan yang sudah lama ia kubur rapat.
“Sedikit lagi,” ucap Devan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.
Rayya mengangguk, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Lanjut… nggak apa-apa.”
Beberapa detik kemudian, Devan menghentikan pijatannya. Ia menarik tangannya perlahan, lalu mendongak menatap Rayya.
“Coba gerakkan sedikit,” katanya.
Rayya menggerakkan pergelangan kakinya perlahan. Masih sakit, namun denyutnya tidak setajam tadi. Ia menghela napas lega tanpa sadar.
“sudah Sedikit mendingan,” ucapnya jujur.
Devan tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali ia tunjukkan, dan entah mengapa, Rayya menangkapnya dengan jelas.
“Kamu nggak bisa lanjut turun dengan kondisi begini,” kata Devan kemudian, kembali serius.
"tommy sedang cari bantuan," sahut rayya.
“Begitu Tommy balik atau guide datang, kita harus ambil opsi paling aman.” balas devan.
Rayya mengangguk. Tangannya masih bertumpu di lengan Devan, dan untuk sesaat, tak satu pun dari mereka berusaha menjauh. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin yang lembut, sementara di antara mereka, ada keheningan yang terasa berbeda, bukan canggung, melainkan penuh makna yang belum berani disebutkan.
Untuk pertama kalinya, Rayya menyadari satu hal yang membuat dadanya bergetar pelan:
di saat ia paling rapuh, Devan ada di sana, bukan sebagai bayangan masa lalu, bukan sebagai rekan kerja, tetapi sebagai seseorang yang benar-benar menjaga.