NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.27

Ketegangan di dalam posko tidak pecah juga tidak mereda. Ia hanya berubah bentuk, dari sunyi waspada menjadi sunyi yang menunggu alasan untuk meledak. Dan di tengah semua itu, Wati terbangun.

“Eh?” katanya dengan suara parau khas orang baru ditarik dari mimpi yang setengah matang. Matanya menyipit, mencoba memahami dunia yang masih terlalu terang untuk jam segini. “Kenapa rame?”

Kalimat itu, sederhana dan polos, terdengar seperti pertanyaan dari dimensi lain. Dimensi di mana tidak ada pintu terbanting, tidak ada alat berkedip merah, tidak ada bau tanah basah yang terasa salah tempat.

“SETAN, WATI!” teriak Palui.

Suara itu keluar begitu saja, refleks, mentah, dan jujur. Tidak ada niat menakut-nakuti. Tidak ada bumbu dramatis. Hanya hasil akhir dari akumulasi panik yang tidak punya tempat lain untuk keluar.

“Oh,” jawab Wati tenang. Terlalu tenang. “Kirain sahur.”

Beberapa orang menutup wajah. Beberapa menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. Beberapa lagi mengeluarkan tawa kecil yang cepat mati di tenggorokan. Tidak ada yang benar-benar waras. Juned menatap Wati lama. Dalam kepalanya, ia sempat berpikir bahwa kalau suatu hari ada penelitian tentang manusia yang kebal sugesti horor, Wati bisa jadi subjek utama. Bukan karena berani. Tapi karena pikirannya terlalu lurus untuk belok ke arah mistis. Sebelum ada yang sempat menjelaskan apa pun.

DUK. DUK. DUK.

Terdengar suara langkah kaki yang berat, pelan dan teratur dari luar posko. Semua tubuh kembali menegang. Kali ini lebih cepat. Tidak ada fase menyangkal. Tidak ada “mungkin angin” atau “bisa jadi kucing”. Otak mereka sudah terlalu lelah untuk bernegosiasi dengan logika. Langkah itu terdengar jelas mengitari posko sebanyak tiga putaran dengan tidak terburu-buru juga tidak terseret. Seolah pemilik langkah itu tahu persis bahwa mereka ada di dalam. Dan tahu juga bahwa tidak satu pun dari mereka, akan cukup berani atau cukup bodoh untuk keluar.

“Jangan buka pintu,” bisik Udin.

Suaranya rendah, tapi tegas. Seperti komando militer versi mahasiswa KKN dengan IPK pas-pasan.

“Kita nggak buka,” sahut Susi cepat.

“Kalau ada yang manggil,” tambah Juleha, nadanya seperti doa yang sedang dipanjatkan setengah sadar.

“JANGAN JAWAB,” kata semua orang hampir bersamaan. Untuk pertama kalinya malam itu, mereka kompak tanpa debat.

Langkah kaki berhenti meninggalkan suara sunyi. Sunyi yang berbeda dari sebelumnya, Ini bukan sunyi menunggu, Ini sunyi yang seolah mengamati.

“Ani…” Suara itu terdengar lirih, pelan juga dekat, tepat dari arah luar jendela.

Ani membeku, seolah namanya bukan dipanggil, tapi ditarik keluar dari tubuhnya. Bahunya kaku. Matanya membesar. Napasnya tercekat di tengah. Semua mata langsung menoleh ke arahnya.

“Aku… aku nggak jawab,” katanya cepat. Terlalu cepat. Seperti orang yang merasa perlu menyatakan sumpah sebelum dituduh. Tangannya refleks mencengkeram lengan Ithay, kukunya menekan tanpa sadar.

“Ani…”

Suara itu terdengar leebih dekat lagi. tidak keras dan tidak juga seram, justru terlalu lembut untuk situasi seperti ini. Dan itu yang membuat bulu kuduk berdiri. Ithay menarik Ani ke samping, menjauh dari jendela.

“Jangan,” bisiknya. “Apa pun itu.”

“Ani… ayo…”

Surya mulai gemetar. Bukan gemetar halus. Tapi gemetar yang terasa sampai ke gigi. Ia menutup mulutnya dengan tangan, takut bunyi napasnya terlalu keras.

“Kenapa… kenapa namanya dia?” bisiknya.

“Karena dia kepo,” jawab Bodat pelan. “Setan juga kesel.”

Kalimat itu nyaris lucu. Dalam kondisi lain, pasti memancing tawa. Tapi sekarang, hanya membuat Ani makin pucat.

“Ani…”

PRANG!

Sesuatu jatuh dari atap, bukan benda besar. Tapi cukup keras untuk membuat debu berjatuhan dari langit-langit. Butiran halus melayang di udara, terlihat jelas dalam cahaya lampu yang masih galau. Wati seketika menjerit. Palui hampir pingsan, ia benar-benar sempat terduduk dengan napas terengah, tangannya meraba lantai mencari pegangan yang tidak ada. Anang secara refleks mengangkat panci. Tidak jelas untuk apa. Sebagai senjata? Sebagai tameng? Sebagai simbol bahwa ia siap menghadapi apa pun dengan peralatan dapur?.

Juned menyalakan kameranya berharap kameranya bisa berfungsi untuk merekam kejadian sekarang. Ia menekan tombol power dengan lama tapi layarnya tetap hitam.

“Kalau ini mati bareng kita,” gumamnya, lebih ke diri sendiri, “aku rela.”

Kalimat itu terdengar seperti doa paling putus asa yang pernah diucapkan seseorang pada benda elektronik.

TOK. TOK. TOK.

Tiga ketukan kini tepat di pintu depan dengan pelan dan sopan. Semua membeku, tetapi sangat jelas bahwa ketukan itu bukan seperti teror atau seperti ancaman. Justru seperti tamu yang sangat menghargai norma sosial, bahkan di tengah malam yang penuh kepanikan. Dalam kepala mereka, suara Pak Kades bergaung jelas. Bukan suara mistis. Bukan suara gaib. Tapi suara nyata dari hari pertama KKN, ketika beliau tersenyum ramah dan berkata dengan nada bercanda tapi serius.

Ketukan berhenti. Beberapa detik berlalu seperti menit dan beberapa menit terasa seperti jam.

“Mas… ini sandal siapa ketinggalan?”

Suara itu adalah bapak-bapak yang terdengar normal. Nada suaranya datar, sopan, sedikit bingung, bukan suara yang biasanya muncul dalam cerita horor yang hadir dengan bisikan.

Semua saling melempar pandang satu sama lain.

“Jangan,” bisik Udin.

“Jangan percaya,” sahut Juleha.

“Kalau itu warga?” tanya Paijo ragu.

Logika mencoba bangkit pelan meski tertatih.

“Kalau itu jebakan?” balas Susi.

Logika langsung duduk lagi.

TOK. TOK.

“Mas… maaf ganggu. Sandalnya ada di depan.”

Palui menangis meski tidak dengan suara keras. Tapi hanya isakan kecil yang keluar tanpa izin. Ia menutup wajahnya.

“Aku mau pulang.”

Kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun. Lebih seperti permohonan pada semesta. Akhirnya Udin berdiri. Dengan wajahnya pucat, tangannya dingin, lIa berjalan ke pintu. Setiap langkah terasa terlalu keras di telinganya sendiri. Tangannya berhenti di gagang pintu.

“Sedikit aja,” katanya pelan. “Kalau aneh, langsung tutup.”

Tidak ada yang menyanggah. Tidak ada yang menyetujui dengan lantang. Semua hanya menahan napas. Pintu dibuka sedikit, cahaya senter masuk, membelah gelap ruangan seperti garis tipis antara waras dan panik. Seorang warga berdiri di luar. Bapak-bapak umur sekitar lima puluhan. Pakai kaus lusuh dan sarung dengan wajah datar dan ditangan kanannya memegang sandal jepit.

“Oh,” katanya. “Anak KKN, ya? Sandalnya jatuh dari jemuran.”

Tidak ada yang langsung bereaksi seolah otak mereka perlu waktu untuk memproses fakta bahwa malam yang barusan hampir membuat mereka gila, berujung pada sandal jepit.

“ITU SANDAL WATI!” teriak Bodat.

Wati menunduk.

“Oh iya,” katanya polos.

Beberapa orang tertawa terbahak. Beberapa tertawa sambil menangis. Beberapa hanya terduduk lemas, punggung bersandar ke dinding, napas panjang keluar seperti balon kempes. Pak warga itu menggaruk kepala.

“Maaf ya, Mas. Kirain penting. Soalnya tadi jatuhnya keras.”

Tidak ada yang bisa menjawab dengan kalimat utuh. Setelah pintu ditutup kembali, setelah sandal kembali ke pemiliknya, setelah lampu stabil dan tidak berkedip lagi, mereka duduk diam.

Malam terasa kosong. Tidak ada ancaman, tidak ada suara,tidak ada misteri baru. Dan di situlah mereka sadar satu hal. Desa ini mungkin tidak berhantu. Tidak ada setan yang memanggil nama, tidak ada makhluk yang mengitari posko,tidak ada energi gaib yang mengincar mereka satu per satu.

Tapi sugesti?

Sugesti bisa melakukan semua itu tanpa wujud, bisa membuat langkah kaki dari warga jadi ritual mistis. Sandal jatuh jadi pertanda, nama dipanggil jadi ancaman.

Sugesti bisa membuat manusia saling menularkan ketakutan sampai logika memilih mundur. Dan malam itu, mereka tahu, kalau sugesti dibiarkan, mereka bisa gila duluan.

...🍃🍃🍃🍃...

Bersambung…

1
Ai_Li
Untung ga dihitung pakai hati hehehe
Ai_Li
baca ini jadi inget momen saya KKN waktu itu
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!