Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cuci mata
Daniel, Roxane, Elena dan Theor pulang jalan kaki dengan kondisi kotor, bau dan lusuh sekali. Mereka berjalan sampai ke sebuah penginapan, sayangnya mereka di tolak karena di kira gelandangan rusuh.
Elena tidak bisa berhenti menertawakan mereka semua, bisa-bisanya seorang putra mahkota dan grand duke di tolak oleh penginapan kecil.
Karena tidak mau membuat keributan, akhirnya mereka berjalan ke arah hutan. Berharap ada danau atau genangan air untuk membasuh wajah, mereka benar-benar kasihan sekali karena tidak ingat membawa kuda.
"Kalau kita pulang jalan kaki yang ada kita akan lumpuh kan." Gerutu Roxane, dia ini seorang Lady bangsawan.
"Sudahlah, kita harus mandi dulu." Ucap Daniel.
"Itu mata air." Celetuk Theor.
"Woahhh air, ayo kita mandi bersama!!." Pekik Elena berlari dengan riang gembira.
Roxane yang melihat itu jadi ikutan berlari, Daniel dan Theor yang melihat bagiamana sikap kekanakan mereka tersenyum. Elena dan Roxane bermain air dan membersihkan segala noda lumpur yang menempel pada tubuh dan pakaian mereka.
"Sedang apa kalian, cepat kesini." Panggil Elena.
"Cepatlah Dane, jangan bilang kau tidak bisa berenang." Ejek Roxane.
Daniel dan Theor mendekat, mereka ikut masuk ke air dan mulai membersihkan diri. Karena mereka laki-laki, jadi mereka membuka pakaian atas mereka tanpa merasa malu. Elena dan Roxane hanya bisa terbengong, sekalian cuci mata dan pikiran mereka supaya jernih.
Elena menatap tubuh Theor yang kekar berotot, otot perut yang sangat menggoda itu membuat Elena nyaris gila. Tapi, bekas luka yang berada di punggung dan dadanya cukup lebar. Sepertinya bukti jika serangan monster pun bisa melukai orang seperti Theor.
"Apa ini tidak apa-apa?." Elena menyentuh bekas luka lebar di punggung Theor.
"Ya, itu sudah lama." Jawab Theor, suaranya hangat hanya untuk Elena saja.
"Syukurlah sudah sembuh, lain kali berhati-hati lah supaya tidak terluka." Elena bersimpati.
"Ya, ini bukan apa-apa." Theor sama sekali tidak mempermasalahkan.
Roxane dan Daniel sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Meskipun sudah saling menerima untuk menikah karena politik, tapi perasaan mereka tidak setara. Daniel cintanya habis pada Isabella, meskipun sekarang sudah di kecewakan tapi dia belum mencintai Roxane layaknya lawan jenis.
Roxane juga tidak lagi terang-terangan menyukai Daniel, dia ingin mengikuti Elena dengan bertingkah jual mahal dan tidak khawatir soal pria. Tapi sikap Roxane yang berubah membuat Daniel heran, dia merasa ada banyak sisi Roxane yang belum dirinya ketahui.
Setelah membersihkan diri, akhirnya mereka kini basah kuyup dan kedinginan. Daniel dan Theor membuat api unggun, Elena dan Roxane meminjam pakaian atas para pria itu sebagai baju ganti sementara karena gaun mereka basah kuyup.
Anehnya pakaian atas milik Daniel dan Theor justru menjadi gaun bagi mereka karena sangat besar. Elena bahkan merasa sedang memakai selimut, tubuhnya jadi hangat seakan sedang di peluk Theor.
"Bagaimana bisa kalian kecil sekali." Celetuk Daniel.
"Hey-hey, yang sopan ya." Julid Elena.
"Kalian saja yang terlalu besar." Roxane juga kesal.
Kruyukkkk
Kruukkkkk
Perut Elena dan Roxane keroncongan, mereka belum makan apapun sejak misi. Daniel dan Theor pergi berburu makanan, mereka makan seadanya dan bermalam di tengah hutan yang dingin sampai esok hari.
Esok harinya, pakaian mereka sudah kering dan mereka merasakan kehangatan matahari pagi. Elena dan Roxane bergegas pergi ke pasar terdekat, mau membeli pakaian baru dan makanan. Yang paling penting adalah makanan karena mereka sangat lapar sekali.
Elena dan Roxane makan dengan sangat lahap sekali, Daniel dan Theor bahkan syok karena meskipun tubuh mereka kecil ternyata perut mereka bisa menampung makanan sebanyak itu.
"Ahhhhh kenyang nyaaa~~." Elena bahagia.
"Aku jadi mengantuk, kita akan pulang menggunakan kereta kuda kan?." Roxane sudah tidak memakai rambut palsu, rambut merahnya berkibar indah.
"Kita beli saja satu kereta kuda." Usul Elena.
Akhirnya mereka mengumpulkan sisa uang saku mereka, sisanya masih bisa untuk membeli satu kereta kuda dan perbekalan makan serta air minum. Akhirnya mereka pulang naik kereta kuda, dengan Theor dan Daniel yang menjadi kusir secara bergantian.
Sekitar 5 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di mansion Elena. Di sana sudah ramai sekali pasukan berbaris, bahkan ada Marques Bexxa juga. Melihat Elena and the gank sudah kembali, mereka langsung berlari mendekat dengan heboh.
"Elena!!!." Duke berlari memeluk Elena, begitupun dengan Marques Bexxa.
"Ayah? ada apa?." Heran Elena.
"Darimana saja kau hah? Kusir yang mengantar kalian datang menjemput, tapi disana sudah tersisa abu dan kalian tidak di temukan dimana pun. Dimana kalian bersembunyi? apa kau tau betapa khawatirnya Ayah." Duke terlihat sangat kacau.
"Kami tidur di hutan karena penginapan menolak kita." Jujur Elena.
"Apa? penginapan mana yang berani__
"Tenanglah Ayah, itu karena kondisi kita yang terlihat seperti gelandangan. Intinya kita semua baik-baik saja, dan yang lebih penting kita menemukan sesuatu yang mengejutkan." Ucap Elena.
"Benar, setelah ini saya akan meminta rapat penting dengan yang mulia Kaisar terkait hal ini." Ucap Daniel.
"Syukurlah kalian baik-baik saja." Marques Bexxa lega.
Setelah semua kembali ke rumah masing-masing, akhirnya rapat darurat di gelar di istana. Semua pejabat penting datang, Roxane dan Elena istirahat dan tidur sampai puas.
Pembahasan kali ini sangat berat karena menyinggung soal praduga bersekutu dengan Iblis, kanibalisme dan kaum sesat. Situasi ruang rapat sangat mencekam sekali, mereka mendesak Kaisar agar segera memburu Isabella dan antek-anteknya.
"Sampai detik ini jejak isabella berhenti di gereja yang sudah terbakar hangus itu. Jika berdasarkan kemungkinan yang ada, pasti mereka sudah keluar dari wilayah kekaisaran dan bersembunyi di wilayah lain." Ucap Kaisar.
"Apa artinya akan di lepas begitu saja?." Ucap Daniel, dia tidak puas.
"Bukan, mereka pasti akan muncul lagi dalam waktu dekat. Karena itu kita perketat saja penjagaan wilyah sampai mereka menampakan diri lagi." Ucap Kaisar.
"Tapi bagiamana jika saat mereka muncul kekuatan mereka sudah sangat besar? atau mereka sudah berhasil bersekutu dengan iblis dan menganut sihir hitam? kita semua akan dalam bahaya jika itu terjadi." Ucap Duke Denilen.
"Benar, yang mulia. Jika mengulur waktu maka bencana besar akan menghancurkan umat manusia." Ucap Marques Bexxa.
"Aku mengerti ketakutan kalian, tapi jika kita mengejar mereka pasti mereka akan terus bersembunyi seperti belut. Karena itu kita harus fokus pada keamanan kita dari dalam terlebih dahulu, sambil menunggu informasi dari tim pengintai mengenai mereka. Jika kita gegabah justru kita akan hancur lebih cepat." Ucap Kaisar, memberikan pesan tersirat (bisa saja ada musuh dalam selimut).
Semuanya langsung terdiam saling lirik, apa Kaisar mencurigai seseorang? apa diantara mereka benar-benar ada mata-mata dan pengkhianat?. Mengingat seorang pendeta agung saja bisa berkhianat, maka bisa saja dugaan Kaisar itu benar.
Rapat di tutup dengan keputusan Kaisar untuk tetap tenang dan terstruktur. Tidak perlu gegabah atau bersikap buru-buru, Kaisar memanggil Putra mahkota, Grand Duke, Duke dan Marquez ke ruang kerjanya untuk membahas masalah ini lebih lanjut.
Karena diantara semua pejabat yang ada, hanya mereka saja yang bisa di percaya dan kemungkinan tidak berakhianat. Duke adalah teman akademi Kaisar saat muda, sedangkan Marquez adalah teman akrab mendiang Grand Duke alias Ayah dari Theor.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍