Kinara Aulia. Seorang gadis pilihan keluarga Dirgantara, yang akan menjadi istri Kenan, laki-laki tampan, sukses, yang mempunyai segalanya, namun nahasnya. Ia mengalami kecelakaan saat akan menikah dengan wanita pujaannya.
Setelah mengalami kecelakaan, sang wanita yang ia cintai malah meninggalkan dirinya, karena tidak mau mempunyai suami cacat.
Kenan merasa terpuruk, tidak percaya diri. Sampai dimana keluarganya mencarikan istri untuk dirinya.
"Jaga batasan, kamu cuman istri kontrak pilihan keluargaku!" bentak Kenan.
"Aku juga tidak tertarik denganmu, jangan terlalu percaya diri," jawab Kinara Ketus.
•••
Lalu bagaimana kisah mereka? Setelah melewati banyak hal dalam kehidupan mereka?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukacoretan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Berani-beraninya kau!"
Amarah Kenan memuncak, saat setelah Alex menghajar dirinya, tanpa ampun.
"Itu tidak seberapa, bajingan!" hardik Alex.
Rasa amarah Alex sangat besar, karena mendengar cerita Kinara.
Alex dengan Kenan saling menghajar, tanpa berhenti.
"Hentikan, apa yang kalian lakukan!" teriak Aaron.
Aaron memisahkan kedua sahabatnya.
"Sudah, masalah tidak akan selesai, kalo cara menyelesaikannya seperti ini," kata Aaron kesal.
"Katakan dengan bajingan itu, jangan pernah mempermainkan seorang wanita," ucap Alex.
"Sedar tadi, aku menanyakan apa alasanmu, tiba-tiba menghajarku. Tapi kau tidak menjawab, kau terus menghajarku tanpa alasan," ujar Kenan.
"Cih, dasar bajingan!" pekik Alex.
Aaron hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Sudah, jangan banyak bicara, kita selesaikan apa masalahnya," kata Aaron.
"Tenangkan diri kalian dulu," lanjut Aaron.
Kenan dengan Alex, menenangkan dirinya.
"Sudah cukup tenang?" tanya Aaron.
Keduanya mengangguk.
"Oke, jadi apa yang membuatmu menghajar Kenan?" tanya Aaron, menatap Alex.
Alex membuka ponselnya, dan memberikan sebuah rekaman suara Kinara.
Saat di mobil, Alex sengaja merekam percakapan mereka, karena akan dia berikan kepada Kenan.
"Kenan! Yang benar saja!"
Mendengar rekaman suara itu, Aaron tak percaya dengan apa yang dilakukan Kenan.
"Aku benar-benar tidak tahu, kalo Kinara mengetahui ruangan itu," ujar Kenan tak percaya.
"Ceroboh, pantas saja istrimu sampai kecewa seperti itu denganmu," kata Aaron.
Bahkan Kenan syok mendengar rekaman suara itu, ia tidak menyangka kalo Kinara mengetahui ruangan tersembunyi miliknya.
"Pantas saja Alex menghajarmu!" ujar Aaron kesal.
"Dengarkan penjelasanku, dulu," ucap Kenan.
"Apa yang mau kau jelaskan, semuanya sudah jelas," jawab Aaron.
"Malam itu, aku memang masuk kedalam ruangan itu, tapi bukan karena aku masih menginginkan Lana, tapi aku mau membakar ruangan itu, karena aku sudah melupakannya," ujar Kenan.
"Tapi mungkin, Kinara salah paham," lanjut Kenan.
"Alasanmu, sangat tidak masuk akal," ujar Aaron.
"Kau memang bajingan!" pekik Aaron.
Aaron dengan Alex, langsung meninggalkan Kenan sendiri, mereka kesal dengan tingkah Kenan kali ini.
Kelakuan Kenan sudah kelewat batas.
Kenan hanya menghela napas.
"Kenapa tidak kau bakar dari jauh hari, bajingan!"
Kenan memaki dirinya sendiri, karena sudah ceroboh.
Dengan perasaan kesal, kepada dirinya sendiri, Kenan langsung berjalan kearah belakang, guna akan membakar langsung ruangan itu.
"Semuanya menjadi kacau!" gerutu Kenan.
Kenan duduk, menatap foto bersama mantan kekasihnya dulu.
"Seharusnya aku mendengar perkataan sahabatku, untuk melupakan dirimu!"
Kenan menyesal bukan karena Lana, tapi dia menyesal, karena telat mengubur semua kenangannya, dan melukai hati istrinya.
"Kenapa cuman dilihat, apa seberat itu, melupakan masalalu kamu?" cetus Kinara, yang masuk kedalam ruangan itu.
"Sayang, kenapa kamu disini?" tanya Kenan dengan perasaan was-was.
"Kenapa, kaget dengan kedatanganku?" ujar Kinara tersenyum.
"Bu-bukan, ta-tapi..." kata Kenan gugup.
Kinara tersenyum simpul, ia melipatkan tangannya.
"Kalo tidak mau melupakan masalalu kamu, setidaknya jangan memberikan harapan kepada wanita lain," sindir Kinara.
"Sejak bertemu denganmu, aku sudah melupakan Lana," jawab Kenan.
"Oh ya, semenjak bertemu denganku, ya?"
"Bukannya pertama kali kita bertemu, kau membenciku, dan juga menganggap aku sebagai jalang, yang haus akan uang?" ucap Kinara.
Ucapan Kinara, membuat Kenan tak bisa mengatakan apapun, karena memang benar apa yang Kirana katakan.
"Tidak usah gugup, aku tidak akan melukaimu," kata Kinara tersenyum.
"Ayok kit keluar dari sini, kamu harus istirahat," ucap Kenan.
"Tidak, aku masih mau disini," tolak Kinara.
"Kamu harus istirahat, kamu habis keguguran, jangan banyak gerak," ucap Kenan kekeh.
"Aku bilang tidak, ya tidak. Kenan," jawab Kinara.
"Ayok kita keluar," kekeh Kenan.
"Kenapa? Kau takut, aku mengetahui sesuatu lebih dalam, tentangmu dan juga mantan kekasihmu, hah?" ujar Kinara.
"Bukan seperti itu, aku tidak mempunyai rahasia apapun dengan Lana, hanya saja aku mencemaskan dirimu, kamu habis keguguran, dan harus banyak istirahat," jawab Kenan.
"Dan aku kehilangan anakku, gara-gara kamu!" bentak Kinara.
"Jangan lupakan itu!" tegas Kinara.
"Ya, memang benar, aku akar masalah dari semua ini," jawab Kenan pasrah.
"Ceraikan, aku!" pinta Kinara.
"Tidak," tolak Kenan.
"Untuk apa mempertahankan hubungan ini, kalo kamu tidak bisa melepaskan masalalu kamu," ujar Kinara.
"Ayok keluar!" perintah Kenan.
"Tidak!" tolak Kinara.
"Kinara Aulia, keluar!" teriak Kenan.
Mendengar suara keras Kenan, sontak saja Kinara kaget.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kinara langsung berlari keluar dari ruangan itu.
"Sayang, maafkan aku!" ucap Kenan, ia menyesali ucapannya.
Tetapi Kinara tak mendengar panggilan suaminya, hatinya sudah merasakan sakit yang teramat dalam.
"Tega sekali, dia," ucap Kinara, ia menyusut air matanya sembari berlari.
Kinara masuk kedalam kamarnya, tapi bukan kamar miliknya dengan Kenan.
"Sayang, buka pintunya," panggil Kenan.
Kenan mencoba membuka pintunya, namun nihil, Kinara mengunci pintunya.
"Ada apa, lagi ini?" tanya Amira, yang sudah pusing dengan tingkah anaknya.
Kenan hanya menundukan kepalanya, tak menjawab pertanyaan Amira.
"Kamu berbuat ulah lagi, hah?" ujar Amira kesal.
Kenan tidak menjawab, ia langsung meninggalkan Amira, karena pikirannya juga sedang kacau.
"Aku harus menyelesaikan semuanya," gumam Kenan.
Sedangkan disisi lain, Alex sedang merenungi kejadian akhir-akhir ini.
"Kenapa si bajingan itu, datang lagi," ucap Alex kesal.
Ayahnya yang sangat ia benci, beberapa hari yang lalu mendatanginya.
Alex sudah berdamai dengan dirinya sendiri, dan ia sudah melupakan kejadian yang lalu, namun kedatangan ayahnya, membuat dirinya kembali mengingat luka lama.
"Kak, Alex," panggil Tita.
"Tita, ngapain kamu disini?" tanya Alex bingung.
"Sengaja, aku mau memberikan ini," jawab Tita.
Tita membawa sebuah kue buatan dirinya sama Mareta.
"Ini buatan aku sama bunda, meskipun rasanya mungkin tidak seenak toko kue mahal, yang pernah kakak kunjungi," ucap Tita.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan, aku memang suka dengan yang manis-manis," ujar Alex.
"Makanya aku suka denganmu," gumam Alex.
"Syukurlah kalo kak Alex suka," jawab Tita senang.
"Sekali lagi terima kasih, ya. Katakan dengan bundamu," ucap Alex.
"Iya kak," jawab Tita.
"Ayok masuk dulu," ajak Alex.
"Didalam ada siapa, kak?" tanya Tita.
"Tidak ada siapa-siapa, sepi," jawab Alex.
"Tidak apa-apa, kalo kita berdua didalam rumah? Takutnya ada orang yang lihat, terus memfitnah kita," ucap Tita.
"Kenapa harus peduli dengan pandangan orang lain? Ini hidup kita, kita yang berhak memutuskan kehidupan kita," jawab Alex.
"Ayok masuk, aku tidak akan melukaimu," ajak Alex.
Tita mengangguk, lalu ia masuk kedalam rumah Alex, memang sangat sepi, karena dirumah itu hanya ada Alex.
"Ayo duduk," titah Alex.
"Aku mau ambil piring, buat mindahin kue ini," ucap Alex.
Tita mengangguk.
Tita melihat-lihat suasana rumah Alex.
"Apa dia tidak kesepian, ya. Rumah sebesar ini tinggal sendiri," gumam Tita.
***
tolong lanjutkan dulu crita kenan nya jangan lompat2 kak🤭
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚝𝚑𝚞𝚛 𝚓𝚗𝚐𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐