Shanum adalah seorang gadis desa yang di besarkan di keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai seorang OB di sebuah perusahaan terbesar di kota Metropolitan. Karena kecerdasan yang di miliki Shanum ia selalu mendapatkan beasiswa hingga ke Perguruan Tinggi. Namun sayang semua yang ia dapat tidaklah cuma-cuma. Di balik Beasiswa yang di dapat Shanum ternyata ada niat terselubung dari sang Donatur. Yaitu ingin menjodohkan sang Putra dengan Shanum padahal Putranya sudah memiliki Istri. Apakah Shanum bersiap menerima perjodohan itu! Dan Apakah Shanum akan bahagia jika dia di poligami??? Ikuti terus ceritanya.... Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sudaryanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Hai, Shanum... " sapa Lia saat masuk ke ruang UGD.
"Eh, Mbak Lia. Ada apa! Tumben nyamperin kesini." tanya Shanum.
"Makan siang yuk. Udah jam istirahat nih." ajak Lia.
"Oh iya Mbak, sebentar. Lagi nanggung nih. Aku periksa pasien itu dulu. Soalnya baru masuk. " ucap Shanum.
"Ok, aku tunggu."
Shanum melanjutkan kegiatan, sedangkan Lia duduk menunggu Shanum menyelesaikan tugasnya. Tak butuh waktu lama Shanum pun selesai. Dan mereka keluar untuk makan siang.
"Kamu mau makan apa Num?" tanya Lia. Saat mereka sudah duduk di meja kantin. Shanum mulai membaca menu yang di tulis di selembar kertas yang ada di meja.
"Aku pesen soto ayam plus nasi, sama kerupuk aja mbak, dan minumnya es teh." Ucap Shanum.
"Kamu itu, hobinya makan kerupuk aja.. Tar jadi kayak kerupuk. Garing!!!! Ucap Lia, meledek Shanum.
"Emang kalo makan kerupuk bisa garing, Mbak! Tanya Shanum.
"Kalo garing malah enak Mbak, gak perlu di jemur." Tawa Shanum.
"Eh Num, tadi kok kayaknya aku lihat suami kamu ada di sini deh. Dia masuk ke ruangan Dokter Doni. Apa suami kamu sedang sakit ya!" tanya Lia.
"Apa iya mbak, aku malah gak tau kalo Mas Bisma sakit. Tadi pagi pas aku berangkat, sepertinya baik-baik saja!! Malah hari ini berangkat ke kantor." terang Shanum.
"Tapi tadi beneran lho, suami kamu. Walaupun aku baru ketemu hanya sekilas tapi aku masih ingat wajahnya." ucap Lia lagi.
"Ya, udah nanti aku tanya kan sama Mas Bisma."
"Eh, Num. Kalo di lihat-lihat, wajah suami kamu kok kayaknya gak asing ya?" tanya Lia kembali. "Mirip seperti anaknya Bu Aisyah. Direktur rumah sakit ini." Lia mencoba untuk mengingat wajah Bisma.
"Ah, masak sih?" ucap Shanum.
"Iya, tapi Anaknya Bu Aisyah sudah lama menghilang, sejak tragedi kecelakaan waktu itu. Kamu masih ingat gak kecelakaan. Enam bulan lalu!"
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Shanum.
"Nah setelah itu beliau langsung menghilang. Dan aku denger-denger katanya lumpuh!!"
"Gitu ya. Udah ah gak usah bahas masalah orang. Sekarang kita makan. Cacing dalam perutku udah meronta-ronta minta makan." ujar Shanum yang sudah gak sabaran ingin menikmati menu yang ada di hadapannya.
"Ok, selamat makan."
Keduanya pun menikmati makan siang di selingi obrolan seputar pasien. Tak lama jam makan siang pun habis. Shanum yang sedang datang bulan, membuatnya sedikit santai. Iya jadi bisa menikmati makan siang tanpa harus buru-buru bagi waktu.
Kini kedua wanita itu pun sudah kembali ke tempat tugas masing-masing.
"Hai, Shanum." panggil Dokter Doni.
"Eh, Dokter. Ada apa ya manggil saya? Ada yang bisa saya bantu!" tanya Shanum.
"Oh, gak! Saya cuma mau kasi tau kamu. Kamu kira-kira mau ngambil Dokter Spesialis gak? Mumpung ada lowongan itu. Lumayan, program beasiswa dari rumah sakit." ujar Doni.
"Oh, kalo untuk masalah itu belum saya pikirkan Dok. Soalnya saya juga baru lulus kemarin. Pengen istirahat dulu mikirnya." ucap Shanum sambil tersenyum. Walaupun Dokter tidak bisa melihat senyum Shanum, tapi itu bisa tergambar dari matanya.
"Kamu tadi sudah makan siang?" tanya Doni.
"Sudah Dok." jawab Shanum.
"Baguslah, jangan sampai sibuk kerja jadi lupa makan siang. " ucap Doni.
"Bagaimana keadaan UGD amankan?" Tanyanya lagi.
"Aman Dok. Kalo gitu saya pamit kerja lagi ya Dok." pamit Shanum.
"Ok.. Ok... Maaf ganggu aktivitas kamu." ucap Doni sungkan.
"Iya, Dok gak papa." Shanum pun kembali ketempat kerjanya.
******
Shift pagi pun berakhir, kini Shanum pun bersiaplah-siap untuk pulang, pekerjaan hari ini benar-benar cukup melelahkan baginya. Shanum yang saat ini sedang berganti baju di bagian loker, di kejutkan oleh Rihana.
"Heh melamun aja." Rihanna memegang pundak Shanum.
"Astagfirullah, Mbak anna! Bikin kaget aja." ucap Shanum.
"Heeeee. Maaf. Kamu udah mau pulang?" tanya Rihanna.
"Iya nih mbak. Mbak baru mau masuk ya?" tanya Shanum.
"Iya, Mbak hari ini masuk malam. Karena tadi pagi Mbak ada acara, makanya tukaran Shift sama temen." jawab Rihanna.
"Gimana kabar, Ayah sama Bunda Mbak? Sehat semua kan? Tanya Shanum.
" Alhamdulillah, kabar mereka sehat semua." ucap Rihanna.
"Syukurlah, kalo gitu, soalnya akun belum sempat nelpon lagi." ujar Shanum.
"Gimana sama rumah tangga kamu!" tanya Rihanna. "Apa ada perubahan, sikap suamimu?"
"Yah masih sama seperti itu Mbak, masih dingin kayak kulkas." ucao Shanum sendu.
"Yang sabar ya Num. Nanti pasti ada saatnya dia berubah. Oh ya, istri pertamanya gimana. Apa udah pulang dari luar negeri! Aku denger-denger katanya seorang model ya!" tanya Rihanna.
"Belum Mbak, kalo untuk masalah pekerjaannya sih aku kurang tau."
"Kalo dia, belum pulang. Itu kesempatan buat kamu Num. Untuk meraih cinta suami kamu." Rihanna memberi semangat untuk Shanum.
"Boro-boro Mbak, bikin dia jatuh cinta. Lawong ketemu aja ngajakin ribut mulu. Lihat aku aja seperti orang alergi." ucap Shanum.
"Kamu, jangan pesimis gitu dong. Kamu udah coba buka cadar kamu di depan dia?" tanya Rihanna.
"Belum, Mbak. Sebelum dia yang meminta, maka aku gak bakalan buka cadar aku di depan dia mbak."
"Padahal kalo sampai dia lihat wajah kamu, aku jamin pasti dia klepek-klepek, dan gak mau lepas dari kamu." goda Rihanna.
"Ah, Mbak bisa aja. Ya udah Mbak, aku pulang dulu ya. Takutnya kemalaman, tar Paksu meradang pula." ucap Shanum bercanda.
"Iya lah, yang udah punya Paksu. Hati-hati di jalan ya Bu' tri alias buk istri." goda Rihanna.
Setelah berpamitan dengan Rihanna, Shanum pun keluar dari ruang ganti. Menuju ke pintu utama. Sesampainya di depan gedung, Shanum terkejut melihat mobil yang ia kenal sedang parkir, tak lama kaca jendela pun terbuka.
"Masuk," ucap Bisma dengan wajah datarnya.
Shanum pun langsung masuk tanpa berani membantah. Hatinya mulai ketar-ketir, menghadapi sang suami yang selalu bersikap dingin padanya.
"Ngapain aja kamu di dalam? Kok lama sekali!!! " tanyanya ketus.
"Maaf, Mas. Aku gak tau kalo Mas jemput." ujar Shanum sambil menunduk.
"Jemput atau tidaknya aku, bukan berarti kamu bisa berleha-leha. Kalau sudah jamnya pulang ya langsung pulang, jangan ngobrol terus. Kamu tau ini sudah jam berapa? Rawan buat perempuan seperti kamu untuk pulang larut malam." omel Bisma panjang kali lebar.
Tidak biasanya Bisma akan semarah itu pada Shanum, namun entah kenapa! suasana hatinya kali ini sedang buruk. Apakah karena cemburu.
"Iya, Maaf Mas." ucap Shanum yang masih saja terus menunduk sambil meremas ke dua tangannya.
"Kamu itu bisanya cuma minta maaf aja, kamu tau saya menunggu kamu sudah setengah jam di depan. Sampai saya melewatkan makan malam." ucap Bisma yang masih kesal dengan Shanum.
"Ayo jalan Zam." perintah Bisma.
sambil menunggu jadwal therapy ada baiknya kaki bisma tetap di pijat oleh shanum
lanjut kak