mengkisahkan seorang wanita yang di ajak menikah oleh seorang laki laki yang adalah CEO sebuah perusahaan besar di jakarta. yang hanya nya seorang gadis miskin dan sederhana tiba tiba menjadi angsa yang indah.
namun semua tidak berjalan dengan baik, ada rahasia yang tidak pernah di ketahui oleh laki laki yang menikahi nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Hari Yang Baik
Senja yang sedang berdiskusi dengan Fitri untuk pembelian Bunga bunga nya di kagetkan dengan kedatangan Bu Mira dan Pak Herman.
"Wah, sudah selesai ya."Ucap Bu Mira yang sontak membuat kedua fokus wanita itu beralih.
senja lekas berdiri saat ia melihat kedua orang tua Adrian yang datang tiba tiba.
"Om Tante."Sapa senja dengan sopan, ia tampak gugup ketika di pertemukan dengan Kedua orang tua Adrian, sementara Adrian sedang tidak ada bersama nya.
"Kamu hebat sekali sayang, ini kamu sendiri yang mengatur nya?." Tanya Bu Mira di selingkan pujian saat melihat Rak yang terbuat bagus dan rapih.
"Iya Tante. Tante dan Om datang bersama Adrian?." Tanya Senja sembari kepala nya melongokkan keluar mencari sosok Adrian.
"Loh Adrian bukan nya sudah datang, dia yang memberi tahu kami akan datang kesini, sekalian saja Tante dan Om menyusul."Balas nya.
"Oh, belum kelihatan, mungkin masih di jalan."Balas Senja.
"Oh, aku akan mencoba menelepon nya."Balas Bu Mira. Senja pun menyenggir gugup ia mengiyakan.
"Siapa?." Tanya Fitri berbisik.
"Orang tua Adrian."Balas senja berbisik pula.
"Oh calon mertua."Goda Fitri. senja menyenggol Fitri meminta nya diam.
"Adrian akan datang, senja, ayo kita pergi cari makan, kamu belum makan kan?." Tanya Bu Mira.
"Belum kok."
"Kamu."
"Fitri Tante."
"Kamu mau ikut serta?." ajak Bu Mira
"Tidak usah Tante, saya sudah makan."Balas Fitri. Bu Mira pun mengangguk.
"Aku titip ya."Bisik senja pada Fitri. Fitri pun mengacungkan jempol nya mengiyakan.
Senja pun lalu mengikuti Bu Mira dan Pak Herman keluar untuk menuju ke restoran. Senja yang saat itu tidak ada Adrian bersamanya hanya mencoba untuk tetap tenang. Toh ia juga butuh belajar, karena bukan hanya sekarang, nanti ia akan lebih sering lagi berinteraksi dengan kedua orang tua Adrian.
"Senja, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan."Ucap Pak Herman saat mobil yang membawa mereka mulai berjalan.
"Apa Om?." Tanya senja penasaran.
"Tentang pernikahan kamu dengan Adrian, Apa kamu sudah siap menikah dengan Adrian?." Tanya Pak Herman.
Pertanyaan yang sangat mendadak dari pak Herman membuat Senja terdiam beberapa saat memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan.
"aku mengikut saja dengan Pak Adrian."
"Pak?."
"Eh maksud Mas Adrian." Senja lekas memperbaiki cara memanggil nya.
Mendengar jawaban Senja, Pak Herman dan Bu Mira pun tersenyum semangat, karena itu berarti Senja dan Adrian akan segera menikah.
Saat sampai di restoran, semua tampak menunggu Adrian datang. "Pa, Ma." Sapa Adrian saat ia sampai dan duduk di kursi. Adrian menatap senja lalu mengabaikan nya, masih teringat senja yang hari ini bertemu dengan laki-laki di depan mata nya.
"Ah Kamu datang juga."
"Apa yang ingin Papa dan Mama bicarakan?." Tanya Adrian.
"Ya tentang pernikahan kamu dan senja, Papa dan Mama sudah putuskan Minggu depan kalian akan menikah?."Ucap Bu Mira.
"Apa?." pekik senja dan Adrian berbarengan.
"Kenapa dengan kalian?." Bu Mira mengerut kan kening nya.
"Gak apa apa Tante, cuman tidak menyangka saja akan secepat itu."Balas senja tertawa kecil untuk menghilangkan ke canggungan nya.
"Tapi kamu setuju kan senja?."
Senja mengangguk sembari tersenyum melirik Adrian, yang tentu tatapan itu berisi begitu banyak kata yang ingin Senja lontarkan.
"Baik lah ma, Aku setuju Minggu depan."Balas Adrian dengan tegas.
Senja yang mendengar kata setuju dari Adrian pun hanya menelan saliva nya.
"Bagus, pokok nya kalian tenang saja, Papa dan Mama akan mengurus semua nya, kalian tahu beres saja. Iya kan Pa?."
"Iya, sesuatu yang baik itu tidak boleh lama lama, harus di segerakan." Saut Pak Herman.
"Secepat ini aku akan menikah dengan pria menyebalkan ini, Tuhan jika dia memang jodoh ku, biarkan semua terjadi. Tapi kalau bukan takdir ku, pakai cara mu saja pisahkan kami." Gumam Senja di dalam hati nya.