Nadia merupakan cewek cupu yang sering menjadi korban bullying. Hingga akhirnya ia harus meregang nyawa di toilet sekolah.
Namun tiba-tiba matanya kembali terbuka dengan jiwa yang berbeda.
Aurora merupakan seorang ketua mafia yang terkenal sadis dan kejam. Namun dia harus meregang nyawa ditangan anak buahnya sendiri.
Betapa kagetnya Aurora saat menyadari jika jiwanya telah berpindah pada sosok gadis lemah dan cupu.
Sebuah ingatan masuk kedalam memorinya. Tangannya terkepal begitu melihat penderitaan tubuh yang ia tempati.
Dia berjanji akan membalas semua penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh.
Siapakah sebenarnya Nadia?
Bagaimana Aurora membalas semua perbuatan orang-orang yang sudah membuat Nadia menderita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang mulai terkuak
"Aku harus menyelidikinya dengan jelas. Tapi kalau aku memang saudara kembar Nadia, kenapa aku bisa ada di Amerika?" gumam Nadia bingung.
Malam semakin larut, namun kedua matanya masih enggan terpejam. Jadi dia memutuskan untuk bangun.
Nadia mengganti piyama yang ia pakai dengan kaos dan juga celana. Tak lupa juga menggunakan jaket agar tidak kedinginan.
Nadia akan menyusup ke rumah Laura. Siapa tahu dia bisa mendapatkan petunjuk disana.
Mencari alamat Laura sangat mudah baginya. Sayangnya dia tidak memiliki kendaraan. Mau tidak mau dia hanya bisa mengandalkan dua kakinya.
Berbekal ponsel ditangannya, akhirnya Nadia tiba juga di rumah Laura. Nadia menyelidiki kondisi rumah itu sebelum memasukinya.
Rumah Laura tergolong mewah. Ada tiga orang pembantu, dua orang penjaga rumah dan satu orang supir yang saat ini berada di rumah.
Nadia membobol rekaman cctv yang terpasang di rumah itu. Dengan begitu ia bisa lebih waspada dalam melangkah.
Rumah Laura dikelilingi oleh tembok setinggi dua meter. Nadia mencari cara agar bisa masuk kedalam rumah itu dengan mudah.
Nadia tidak mungkin lewat gerbang depan. Ada dua pengawal yang berjaga disana.
Senyum Nadia mengembang saat melihat pohon mangga yang tumbuh di belakang rumah Laura. Pohon manga itu tumbuh dibelakang tembok. Namun batangnya menjalar kedalam.
Nadia memanjat pohon itu dengan mudah. Dari kecepatannya dapat dipastikan jika Nadia ahli memanjat. Dengan hati-hati Nadia melangkah diatas dahan.
Bruk!
Akhirnya Nadia berhasil masuk kedalam pagar. Kemudian dengan perlahan dia berjalan kearah pintu belakang.
Nadia berharap pintu itu bisa dibuka. Namun Nadia lupa jika dia tidak membawa satu alat pun yang dapat ia pakai.
Lagi-lagi keberuntungan mendatanginya. Ditempat jemuran ada gaun putih yang tidak diangkat. Dia memakai gaun itu untuk menakuti para pengawal yang menjaga di depan.
Dua orang penjaga sedang duduk di pos. Keduanya berbincang ditemani saru teko kopi hitam dan terang bulan. Tidak lupa dengan rokok ditangan masing-masing.
"Kira-kira Nona Laura kemana ya, kok sampai larut gini belum pulang?" tanya penjaga yang bernama Parto a.
"Kamu ini kayak tidak tahu saja tingkahnya. Bukankah hari-hari memang jarang pulang kerumah," jawab temannya yang bernama Damar.
"Kok nggak nikah saja sih. Padahal umurnya kan sudah kepala empat. Memangnya nggak pengen apa punya suami sama anak?"
"Kalau menikah kan cuma satu pria. Kalau gini kan Non Laura bisa ganti-ganti setiap hari."
"Huek...kalau aku mau jijik. Biarpun Non Laura cantik, kalau seperti itu aku nggak mau."
"Memangnya siapa juga yang mau sama kamu?"
"Itu kan cuma umpama. Lagian aku juga sudah punya istri dan dua orang anak."
"Aku_"
"Hiiii hi hi hi hi hi"
"To...kamu dengar sesuatu nggak?"
"Kok tangan aku merinding."
"Bang.... Bang...."
Parto sama Damar mencari asal suara. Mereka keluar dari dalam pos. Tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada sesosok perempuan bergaun putih di atas balkon. Entah bagaimana caranya Nadia bisa sampai di atas.
"Hi hi hi hi hi..."
"Kunti!" teriak dua penjaga itu heboh.
Nadia hendak meloncat kebawah. Melihat hal tersebut membuat Parto dan Damar pingsan di tempat. Sejak menjadi penjaga di rumah ini baru kali ini mereka bertemu dengan kuntilanak.
Nadia meloncat kebawah dengan mulus. Kemudian mencari kunci yang ada di dalam pos penjaga. Untung kuncinya ada.
Nadia masuk kedalam rumah dengan mulus. Kemudian mencari kamar yang sekiranya ditempati oleh Laura. Tujuannya di lantai dua.
Ceklek!
Nadia masuk kedalam kamar yang ia yakini sebagai kamar Laura. Kamarnya luas. Berbagai merek kosmetik terpajang di meja rias.
Nadia membuka laci dan juga lemari yang ada didalam kamar. Siapa tau Laura mempunyai bukti tentang identitas dirinya.
Namun dilaci dan lemari tidak ia temukan. Kemudian ia melihat sebuah brangkas di bawah ranjang.
Brangkas tersebut butuh password untuk membukanya. Namun dengan lihat Nadia mampu membukanya.
Deg!
Nadia menemukan beberapa foto dan juga bukti jika dia dan Nadia asli bersaudara. Tubuhnya luruh kelantai.
"Jadi kami memang kembar?" gumam Nadia shock.
Kini ia teringat masa-masa saat ia masih kecil. Sejak kecil ia tidak mengenal seorang ibu. Tapi kasih sayang Lionel sebagai seorang papa tidak ia ragukan.
Nadia membawa semua bukti yang ia temukan bersamanya. Lalu ia pun meninggalkan rumah itu dengan jiwa yang agak terguncang.
Keesokan harinya Nadia berangkat ke sekolah dengan wajah kuyu dam pucat. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan tentang identitasnya.
"Lo sakit, Nad?" tanya Saskia khawatir.
"Enggak."
"Tapi muka Lo pucat banget. Gimana kalau Lo ijin aja. Gua antar lo pulang."
"Nggak usah. Terimakasih."
Nadia meletakkan kepalanya diatas meja. Rasanya ia tidak memiliki semangat.
Mella dan kedua temannya memandang Nadia dengan mata berbinar. Otak kecil mereka sepertinya memiliki cara untuk mempermalukan Nadia di depan kelas.
"Hai temen-temen...ada yang lagi capek tuh. Pasti semalam lembur sampai pagi," celetuk Mella dengan suara keras.
"Lembur apa emang?" tanya Abram.
"Biasa...nemenin Om Om."
"Sama dong kalau gitu. Semalam aku ikut ronda sama Om Om. Capek banget. Sekarang saja aku pengen banget tidur."
"Beda dodol! Sentak Mella dengan kasar."
"Abram betul dong mel. Gua juga semalem ikut ronda. Maklum sekarang maling makin meresahkan,"ucap Daffin membela Abram.
"Gua nggak ngomong sama kalian. Nggak usah ikut campur deh!"
"Lo ngomong keras banget. Kita semua tahu kau lo nggak pernah suka sama Nadia."
"Berisik?!
Suara dingin Nadia membuat temanya-temanya diam.