Az Kim Alexandria nama gadis itu, wajahnya yang tenang, tatapannya yang tajam sikapnya yang dingin, membuat salah satu CEO miliarder terkenal di kota Seattle merasa terhantui oleh paras gadis itu.
Siapakah sebenarnya gadis itu?
Tanpa gadis itu ketahui ada seseorang yang ingin mengetahui rahasia apa yang dia sembunyikan.
Jangan lupa teman-teman readers beri Coment, like and Votenya yaaaa🙋😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terperangkap di tubuhnya 3
Gadis berkacamata dengan rambut ikal nampak berani menghadapi Katty dan teman-temannya. Dia melipat tangannya, dia mengambil napas lalu dia menatap jijik Katty. "Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur apalagi dengan gadis tanpa otak seperti kalian."
Wajah Katty melongo mendengarnya.
"Siapa lagi gadis kampungan ini?" Dengan senyum tipis gadis berkacamata itu memperbaiki gagang kacamatanya.
"Gadis culas pecundang sepertimu seharusnya...." Mata besarnya menatap Andria. "Ugh sudahlah aku hanya memberikan komentar apa adanya." Gadis berkacamata itu lalu melenggang pergi seperti tidak terjadi apa-apa.
"Sinting." Kata Katty memutar matanya. Dia memperbaiki rambutnya yang pirang lalu kembali menatap andria.
"Sampai dimana perbincangan kita tadi Andria?" Tanpa memperdulikan Katty, Andria berlalu meninggalkannya. "Mereka semua gila." gumam Andria.
"Apakah termasuk aku?" Chris berlari dan sudah berada di sisi Andria berjalan di sampingnya.
"Jika kau mau saja." kata Andria datar tanpa memandang Chris, dia terkekeh geli.
"Kau mau pulang Andria?" tanyanya.
Andria kemudian mengangguk.
"Mau pulang bersama? hari ini aku bawa sepeda." kata Chris antusias. Andria menatapnya perlahan.
"Ban sepedaku bocor dan teralisnya terlepas, jadi aku naik bis hari ini."
"Oh ya." Chris tersenyum kecut.
"Ok Andria sampai nanti." Dia melambai kepada Andria ketika bis yang ditunggu Andria sudah tiba.
~
Beberapa foto terkirim di ponsel Alec, memperlihatkan Andria yang berjalan dengan Chris dan Andria yang naik bis. Alec memperhatikan foto-foto itu yang masuk ke ponselnya ketika dia lagi rapat.
"Harvey lanjutkan rapat, berikan laporannya nanti." Dia berjalan keluar dari ruang rapat dengan ditemani beberapa pria berpakaian hitam yang selalu mengikutinya. Beberapa orang yang dijumpainya menyapanya sedikit menunduk.
"Oh, shit ! dia keluar !" Jenat merapikan rambut mouve champagnenya yang di gerai. Dia berjalan cepat agar nampak menonjol diantara pegawai kantor lainnya.
Dia tersenyum manis sambil menyapa Alec. Ashley yang melihatnya menaikkan alisnya sembari menggeleng padanya.
"Mencoba keberuntunganku boleh saja kan." Senyum genitnya menyala.
Alec berjalan tanpa memperdulikan sapaan mereka. "suasana hatinya sepertinya sedang buruk." Kata Ashley kepada Jenat yang melekat di meja kerja kecewa karena Alec tidak sedikitpun berbalik menatapnya.
"Ya, sepertinya begitu." Matanya tidak lepas dari kepergian Alec, dia memainkan rambutnya, memikirkan sesuatu agar dia mendapatkan perhatian Mr. Alec.
~
Andria tidak langsung pulang kerumah nyonya Weltson, dia berjalan-jalan ke sentral park dan duduk begitu saja menikmati pemandangan, dia mencari truk makanan yang biasanya, tetapi truk makanan itu nampaknya tidak berdagang hari ini. dengan malas Andria berdiri kembali menyusuri taman, seketika langkahnya terhenti. Ponselnya berdering dia menatap nomor yang tidak dikenalnya. Andria lalu mengangkatnya.
"Halo."
"Sepertinya suasana hatimu kurang baik, mau makan siang bersamaku?"
Andria mengernyitkan alisnya, kembali menatap nomor yang tertera. Dia berdesis, pria itu lagi, sialan! dia betul-betul menggangguku. pikir Andria.
"Tidak." Lalu menutup ponselnya. Matanya mengelilingi taman itu dan seketika dia menatap mobil Mercedes hitam sedang terparkir tidak jauh darinya.
Andria menatap gusar pria yang baru saja keluar dari mobilnya, tanpa sadar Andria mundur, dia betul-betul tidak ingin terlibat dengan pria itu.
"Sinting." Dia menggelengkan kepalanya hendak berbalik, tetapi tangannya sudah dicekal dengan cepat.
"Kau mau kemana Andria?" Alec menarik tangannya hingga tubuh Andria sedikit terhempas.
"Lepaskan tanganku !" desisnya.
"Kita makan siang." Kata Alec menatap Andria tajam.
"Aku tidak ingin makan siang denganmu." Ucap Andria dengan menggertakkan giginya menahan amarahnya.
"Tapi aku mau !" Kata Alec keras kepala.
Beberapa orang pejalan kaki memperhatikan mereka. Tetapi Alec sama sekali tidak perduli.
Andria menarik tangannya meskipun terasa sakit.
"Lepaskan aku, brengsek ! Kau tuli ya, aku tidak ingin terlibat denganmu !"
Alec tersenyum miring. "Sudah terlambat Andria, karena aku sudah terlibat denganmu."
Andria mengambil langkah menjauh darinya meskipun tangannya masih dipegang oleh Alec. "Kau sinting, lepaskan aku atau aku akan teriak !" Ancamnya.
Alec tersenyum. "Teriaklah, aku ingin melihat wajahmu ketika teriak minta tolong." Dia lalu menarik Andria keras, hingga tubuhnya menempel ke tubuh Alec. Andria begitu terkejut, dia menyerang Alec dengan tangan yang lainnya hendak meninju wajahnya tetapi lagi-lagi tangannya kembali terperangkap di kedua tangan alec.
Mereka saling menatap, andria mencoba melepaskan tangannya tapi dipegang kuat olehnya.
"Kau betul-betul keras kepala Andria."
"Kau sinting !" desisnya.