Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan Bima
Dua hari setelah reuni, ponsel Nayara bunyi. Pesan masuk dari nomer yang baru disave.
Bima: Hai Nayara! Ini aku Bima. Gimana kabarnya hari ini?
Nayara menatap layar ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Jantungnya berdegup agak kenceng. Deg-degan.
Nayara membalasnya dengan cepat.
^^^Nayara: Hai Bima! Kabar aku baik, kamu sendiri gimana?^^^
Bima membalas kembali.
Bima: Alhamdulillah aku juga baik. Aku lagi di kantor nih, bosen. Makanya aku chat kamu hehe.
Nayara tertawa pelan saat membaca pesannya, ia merasa lucu karena Bima mengaku bosan, lalu malah chat dirinya.
^^^Nayara: Kerja yang giat dong, jangan chatan mulu wkwk.^^^
Bima: Iya nih. Tapi boleh dong istirahat sebentar. Otak aku sudah pusing lihat angka terus.
Mereka chat sampai satu jam lebih. Membicarakan hal-hal yang ringan. Kerjaan Bima. Kerjaan Nayara. Aldi yang lagi lucu-lucunya. Random banget tapi asik.
Sejak itu Bima chat tiap hari. Pagi sapa good morning. Siang nanya udah makan belum. Sore nanya Aldi lagi ngapain. Malem nanya udah mau tidur apa belum.
Nayara seneng banget. Udah lama dia gak dapet perhatian kayak gini. Rasanya, rasanya hangat gitu di dada.
Seminggu kemudian, Bima nelpon. Pertama kalinya. Nayara kaget pas hp-nya bunyi tengah malem jam sepuluh. Siapa telpon malem-malem?
Nama Bima muncul di layar.
Nayara mengangkatnya cepat.
"Hallo?"
^^^"Hai Nayara! Maaf menganggu malem-malem. Kamu sudah tidur belum?"^^^
Suara Bima terdengar ceria dari seberang.
"Belum kok, malah aku baru mau tidur. Ada apa?"
Nayara bertanya sambil duduk di tepi kasur.
^^^"Nggak ada apa-apa sih. Cuma pengen dengar suara kamu saja." ^^^
Nayara langsung salting. Mukanya kini memerah.
"Kamu bisa saja deh."
^^^"Serius. Aku seharian kerja capek banget. Tapi pas denger suara kamu rasa cepeknya jadi hilang," ^^^
^^^Bima bicara dengan nada yang lembut.^^^
"Kamu lebay banget sih," Nayara ketawa tapi dalem hati seneng banget.
Mereka telponan sampe satu jam. Ngobrol apa aja. Dari hal serius sampe hal yang gak penting banget. Kayak Bima cerita dia tadi siang makan nasi padang terus kepedesan. Nayara ketawa keras denger ceritanya.
^^^"Suara ketawa kamu bagus." ^^^
"Hah? Apaan sih."
^^^"Beneran. Bagus. Bikin semangat." ^^^
Nayara gak tau harus jawab apa. Dadanya hangat. Perasaan aneh lagi. Perasaan yang bikin dia seneng tapi sekaligus takut.
Sejak itu mereka telponan rutin. Hampir tiap malem. Kadang cuma setengah jam, kadang sampe dua jam lebih.
Nayara mulai ngerasa ada yang berubah di hidupnya. Dia mulai nunggu-nunggu chat dari Bima. Mulai kecewa kalau Bima lama bales. Mulai senyum-senyum sendiri baca pesannya.
Bu Siti sama Pak Hasan mulai sadar ada yang aneh sama Nayara.
"Nak, kamu kok akhir-akhir ini sering senyum-senyum sendiri? Ada apa?" Bu Siti nanya suatu pagi pas Nayara lagi nyusuin Aldi.
"Enggak kok Bu. Gak ada apa-apa," Nayara jawab sambil nunduk. Malu.
"Bohong. Ada cowok ya?" Bu Siti langsung to the point.
Nayara kaget. Mukanya langsung merah. "Bu!"
"Iya kan? Siapa? Cerita dong sama Ibu," Bu Siti duduk di samping Nayara dengan muka excited.
Nayara akhirnya cerita tentang Bima. Tentang reuni. Tentang mereka mulai chat rutin.
"Wah, Ibu seneng dengernya. Bima itu anak yang baik. Ibu tau dari cerita kamu dulu waktu SMA," Bu Siti senyum.
"Tapi Bu, aku takut. Takut salah lagi. Takut kayak Gilang," Nayara ngaku dengan jujur.
"Nak, gak semua cowok kayak Gilang. Bima itu beda. Kamu liat aja gimana dia perhatian sama kamu sekarang. Itu tanda dia serius," Bu Siti nenangin.
"Tapi aku punya Aldi, Bu. Aku janda. Siapa yang mau sama janda punya anak," Nayara nunduk sedih.
"Cowok yang bener itu gak akan masalah sama masa lalu kamu. Dia akan terima kamu apa adanya, termasuk Aldi," Bu Siti pegang tangan Nayara. "Coba aja dulu. Jangan langsung takut. Kasih kesempatan buat Bima buktiin."
Nayara ngangguk pelan. Mungkin ibunya bener. Dia harus kasih kesempatan.
Bulan kedua, Bima mulai video call. Pertama kalinya Nayara liat wajah Bima lagi setelah reuni.
"Hai!" Bima melambaikan tangan di layar dengan senyum lebar.
"Hai," Nayara jawab sambil atur posisi hp biar anglenya bagus.
"Kamu di rumah?" Bima nanya sambil natap layar.
"Iya. Lagi jagain Aldi. Dia lagi tidur siang," Nayara jawab.
"Boleh liat Aldi?" Bima nanya dengan nada excited.
Nayara kaget. "Mau liat Aldi?"
"Iya dong. Pengen tau anaknya Nayara kayak apa. Pasti lucu," Bima bilang.
Nayara arahkan kamera ke Aldi yang tidur pulas di playmat. Mulut sedikit terbuka, pipi chubby, tangan mengepal kecil.
"Lucuuuu banget!" Bima bilang dengan nada gemas. "Mirip kamu pipinya. Chubby."
Nayara ketawa. "Iya. Semua orang bilang gitu."
Mereka video call sampe sejam lebih. Bima cerita tentang proyeknya yang lagi jalan. Nayara cerita tentang klien barunya yang agak ribet. Ngobrol santai kayak udah kenal lama.
"Nayara," Bima manggil tiba-tiba dengan nada serius.
"Iya?"
"Aku boleh jujur gak?"
Nayara deg-degan. "Boleh. Emang kenapa?"
Bima menarik napas dalam. "Aku, aku mulai suka sama kamu. Lagi."
Nayara terdiam. Jantungnya berhenti sedetik.
"Maksudnya?" Nayara bertanya pelan.
"Maksudnya ya aku suka sama kamu. Kayak dulu waktu SMA. Malah sekarang lebih suka," Bima ngaku dengan jujur. Matanya natap Nayara lewat layar hp.
"Tapi, tapi aku, aku punya Aldi. Aku janda. Kamu yakin?" Nayara bertanya dengan suara bergetar.
"Aku gak peduli kamu janda atau apa. Aku suka sama kamu. Sama Nayara yang sekarang. Yang kuat. Yang mandiri. Yang jadi ibu yang hebat buat Aldi," Bima bilang dengan tegas.
Air mata Nayara mulai keluar. "Bima, aku, aku gak tau harus bilang apa."
"Gak usah bilang apa-apa dulu. Aku cuma mau kamu tau perasaan aku. Aku serius denganmu, Nayara. Aku tahu kamu punya masa lalu, tapi aku tidak peduli," Bima ngulang lagi dengan nada lebih lembut.
Nayara ngelap air matanya. "Terima kasih Bima. Terima kasih udah gak masalah sama masa lalu aku."
"Masa lalu itu bikin kamu jadi orang yang sekarang. Dan aku suka Nayara yang sekarang," Bima senyum lembut.
"Aku, aku butuh waktu Bima. Aku masih takut. Takut salah lagi. Takut sakit lagi," Nayara ngaku dengan jujur.
"Aku ngerti. Aku gak akan maksa. Aku akan tunggu. Mau berapa lama pun aku tunggu," Bima bilang dengan sabar.
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin. Kamu itu istimewa Nayara. Buat kamu, aku rela nunggu," Bima tersenyum.
Nayara nangis lagi. Tapi kali ini nangis haru. Baru kali ini ada cowok yang sabar sama dia. Yang mau ngerti posisinya. Yang gak maksa.
Beda banget sama Gilang dulu.
"Terima kasih Bima. Terima kasih udah mau ngerti," Nayara bisik.
"Sama-sama. Sekarang istirahat ya. Udah malem. Aku tutup dulu," Bima bilang.
"Oke. Hati-hati."
"Kamu juga. Mimpi indah."
Video call terputus. Nayara natap layar hp yang udah gelap. Hatinya hangat. Penuh harapan.
Mungkin, mungkin ini kesempatan kedua yang Tuhan kasih buat dia.
Kesempatan untuk bahagia lagi, tapi dengan cara yang bener, Dan Nayara mulai membuka hatinya pelan-pelan. Membuka pintu yang udah lama dia tutup rapat.
Untuk Bima.
Untuk kesempatan baru.
Untuk kebahagiaan yang baru.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭