NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Rahasia yang terbelah

Di dalam bengkel motor milik paman Ken yang pengap, Miyuki duduk di atas tumpukan ban bekas.

Cahaya lampu gantung yang bergoyang membuat bayangannya tampak gemetar di dinding. Aku berdiri di depannya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.

"Sekarang, jelaskan padaku semuanya," kataku sambil menunjukkan pita di tanganku.

"Pria tadi memanggilku 'Jembatan'. Dan dia bilang pita ini seharusnya sudah musnah. Apa maksudnya?"

Miyuki mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab menatap pita itu dengan ngeri.

"Pita itu bukan sekadar kain, Alexian," bisik Miyuki.

"Pita itu....pita itu pengait Alexian.Kakakku terjebak di tempat yang nggak masuk akal. Disana tidak pernah Gelap dan tidak pernah Pagi." lanjut Miyuki terengah-engah.

"Sisi Lain?" Ken menyela sambil memegang kunci inggris dengan bingung.

"Maksudmu seperti dunia paralel?"

Miyuki mengangguk pelan.

"Ada sebuah organisasi kuno yang menyebut diri mereka The Eraser (Para Penghapus). Mereka percaya bahwa percampuran antara dunia mimpi dan dunia nyata adalah anomali yang berbahaya. Mereka bertugas menghapus siapa pun yang memiliki 'koneksi' kuat, termasuk wanita di mimpimu itu."

Aku tertegun.

"Jadi wanita itu... dia benar-benar ada? Dia tidak sedang bermimpi, tapi dia terperangkap di sana?"

"Benar," lanjut Miyuki.

"Dan kau, Alexian... kau adalah satu-satunya orang di dunia nyata yang secara tidak sengaja menangkap sinyalnya melalui lensa kamera ponselmu. Foto yang kau ambil itu adalah 'pintu' yang tidak sengaja kau buka. Para Penghapus itu ingin menghancurkan pita yang kau pegang, karena selama pita itu ada, jembatan itu tetap terbuka. Dan jika jembatan itu terbuka, The eraser itu bisa menyeberang ke dimensi dimana Wanita itu berada."

"Lalu kenapa kau berpura-pura menjadi dia?" tanyaku.

suaraku sedikit meninggi.

Miyuki menunduk, air mata kembali menetes.

"Karena aku adalah adiknya. Aku Miyuki yang asli, manusia biasa. Kakakku, dia yang ada di mimpimu, namanya adalah Sayuri. Dia sudah hilang dan terjebak disana selama sepuluh tahun. Orang-orang berjaket hitam itu memaksaku. Mereka bilang jika aku bisa memancingmu keluar dan mengambil pitanya, mereka akan melepaskan kakakku."

Aku merasa duniaku runtuh. Jadi, wanita yang kucintai di balik kabut senja itu bernama Sayuri. Dan dia sudah menderita selama sepuluh tahun di dunia yang tak tersentuh waktu.

"Tapi mereka berbohong," isak Miyuki.

"Setelah mereka mendapatkan pitanya, mereka akan membunuhmu, membunuhku, dan membakar 'jembatan' itu agar Sayuri terhapus selamanya dari ingatanmu dan Aku adiknya."

Ken meletakkan kunci inggrisnya ke meja dengan dentang keras.

"Lex,ini cukup mengerikan sih. kita harus menyelamatkan Sayuri. Kita harus mencari cara untuk menarik Sayuri keluar sebelum orang-orang berjaket kulit itu merobohkan jembatannya."

Aku menatap pita jingga di tanganku. Kain ini terasa lebih berat sekarang. Bukan hanya karena rahasia yang dibawanya, tapi karena sekarang aku tahu, Sayuri sedang menungguku di jembatan taman itu, berharap aku bukan sekadar penonton di dalam mimpinya.

Aku duduk bersandar pada dinding bengkel yang dingin dan lembap. Bau oli mesin yang menyengat menusuk hidungku, namun itu jauh lebih baik daripada aroma sakura palsu yang dibawa Miyuki ke hotel tadi.

Di sampingku, Miyuki adik dari wanita di mimpiku masih menunduk dengan bahu yang bergetar karena kedinginan.

"Ken, di gedung tua ini apakah Kamar mandinya masih bisa dipakai? " Tanyaku pada Ken menatap ke seluruh ruangan.

"Masih bagus kok Lex" jawab Ken.

"Oh iya Ken, Satu lagi, apa kau punya Handuk di gedung ini?. " tanyaku lanjut meminta handuk kepadanya.

"Hmm... tunggu biar aku lihat dulu" jawabnya naik ke lantai 2.

Saat Ken sibuk mencari Handuk itu, sesekali aku melihat ke arah Miyuki. Rasa amarahku kini berganti menjadi rasa kasihan dan peduli.

Melihatnya Kedinginan membuatku tidak tega untuk meluapkan emosi karena kebohongannya dihotel tadi.

"Ada Lex, ini!". ucap Ken memberikan handuk itu padaku.

"Apa ada pakaian wanita, Ken? Kalau bisa yang ukurannya pas dengan Miyuki," tanyaku lagi, sedikit mendesak.

"Hmm... kayaknya ada. Paman punya anak perempuan, umurnya kira-kira dua tahun di bawahku," jawab Ken sambil menengadah ke langit-langit, seolah sedang memutar kembali memori di kepalanya.

"Tunggu sebentar, biar aku mencarinya lagi ke atas! " Lanjut Ken sebelum akhirnya naik lagi ke Lantai 2.

"Apa yang mau kau lakukan, Alexian? Apa kau mau berniat buruk padaku?" tanya Miyuki sambil menyilangkan tangan untuk menutupi dadanya.

"Jangan mikir aneh-aneh!" ucapku tegas, mencoba mengalihkan pandangan agar ia tidak semakin salah paham.

Tak lama kemudian, Ken kembali dari lantai dua. Ia membawa celana panjang dan kaus hitam, lengkap dengan dalaman yang ia selipkan dengan rapi di dalam lipatan pakaian agar tidak terlihat. Ia berjalan menghampiri kami yang masih terduduk di ruang bengkel.

"Ini, Lex," ucap Ken sambil menyerahkan pakaian itu padaku.

"Ini, ambillah. Segeralah mandi, aku tahu kau kedinginan. Air hujan yang menyerap di tubuhmu bisa membuatmu sakit nanti," ucapku sambil menyodorkan pakaian itu.

Miyuki yang tadinya tampak waspada, kini mulai melunakkan tatapannya. Kecurigaannya perlahan memudar melihat niat tulus kami.

"Terima kasih," ucap Miyuki pelan sembari mengambil pakaian itu dari tanganku.

"Hei... dalamannya sudah kuselipkan di bagian dalam, ya!" celetuk Ken tiba-tiba.

Kalimat itu membuatku tersentak dan refleks menundukkan kepala karena malu.

"Dasar mesum!" balas Miyuki dengan tatapan sinis.

"Kamar mandinya di mana?" tanya Miyuki sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling bengkel.

"Ayo, biar aku tunjukkan jalannya, Nona," canda Ken, mencoba mencairkan suasana yang tadinya tegang menjadi lebih santai.

"Hmm... awas kalau kau berani macam-macam padaku," ancam Miyuki, tetap memasang tatapan waspada.

"Tidak, tidak! Aku bukan orang seperti itu. Ayolah..." Ken tertawa kecil sembari menuntun Miyuki menuju kamar mandi yang ada di lantai dua.

Saat Ken dan Miyuki sudah berada di lantai dua, kini tinggal aku yang terduduk merenungi setiap kejadian yang baru saja kualami. Pikiranku melayang pada gedoran brutal di pintu kamar 704 tadi.

Siapa mereka? The Eraser? Nama itu terdengar seperti dongeng, namun luka lecet di lenganku dan tatapan haus darah pria berjaket hitam itu terasa begitu nyata.

"Mona akan sampai sebentar lagi," suara Ken tiba-tiba mengejutkanku.

Ia baru saja turun dari lantai dua dan sekarang sedang mondar-mandir di dekat pintu besi, menggenggam ponselnya seolah itu adalah senjata satu-satunya.

"Terima kasih, Ken. Maaf aku harus menyeretmu ke dalam kekacauan ini," bisikku serak.

"Namanya sahabat ya harus saling bantu, Kalau kau mati ya aku ikut mati, Mati demi kawan itu keren Lex, Iya gak?? "

Tak lama kemudian, ketukan berpola yang ditunggu terdengar. Ken segera membuka pintu, dan Mona menyelinap masuk dengan wajah pucat. Ia masih memakai seragam resepsionis hotel kami, meski tertutup jaket denim yang kebesaran.

Bersamaan dengan itu, Miyuki muncul dari tangga. Ia berjalan mendekati kami sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, wajahnya tampak lebih segar namun tetap menyimpan kecemasan.

Mona mematung saat matanya bertemu dengan mataku. Ia melihat kekacauan di wajahku, lalu beralih menatap Miyuki dengan tatapan tidak percaya.

"Lex..." Mona menghampiriku, suaranya tercekat.

"Manajer sedang gila, Lex. Polisi sudah datang ke hotel karena laporan kerusakan kamar, tapi orang-orang berjaket hitam itu... mereka bergerak lebih cepat dari polisi. Mereka menggeledah lokermu, Lex. Mereka membuang semua barangmu seolah sedang mencari benda yang sangat berharga!!."

Aku refleks menggenggam pergelangan tangan kananku. Pita jingga itu.

"Ini yang mereka cari," kataku sambil menunjukkan gelang pita itu pada Mona.

"Miyuki bilang ini adalah 'Jembatan'. Dan wanita di mimpiku... Sayuri... dia sekarang terjebak di Sisi lain."

Mona duduk di hadapanku, napasnya perlahan mulai teratur. Ia menatap pita itu dengan ngeri sekaligus takjub.

"Jadi selama ini kau tidak sedang berhalusinasi. Mimpi-mimpi itu, foto yang kamu ambil... itu semua adalah panggilan darurat dari Sayuri?"

Aku mengangguk.

Ada rasa sesak yang menyesakkan dada saat aku menyebut nama itu. Sayuri. Nama yang selama ini terasa asing namun kini terasa sangat sakral di lidahku.

"Mereka ingin menghapus Sayuri dari ingatanku, Mona. Dan Miyuki digunakan sebagai umpan untuk mengambil pita ini dariku. Jika pita ini hancur, Sayuri akan terperangkap di 'Sisi Lain' selamanya tanpa ada yang mengingatnya lagi."

Aku berdiri, mencoba mengabaikan rasa letih yang menarik-narik tubuhku. Rasa letih ini bukan lagi karena mimpi, tapi karena tanggung jawab yang sekarang kupikul.

Aku menatap mereka satu per satu. Mona yang cerdas, Ken yang setia, dan Miyuki yang terjepit di antara ketakutan dan rasa bersalah.

"Aku tidak bisa hanya bersembunyi di sini," ucapku tegas.

"Jika mereka sudah mulai menggeledah lokerku, artinya mereka akan segera melacak tempat ini. Kita harus tahu bagaimana cara menarik Sayuri keluar dari sana sebelum jembatan itu benar-benar runtuh."

Aku memejamkan mata sejenak. Di balik kegelapan kelopak mataku, aku seolah melihat langit jingga yang abadi itu lagi. Sayuri berdiri di ujung jembatan, menatapku dengan harapan yang memudar.

Tunggu aku, Sayuri, bisikku dalam hati.

Kali ini, aku tidak akan hanya melihatmu. Aku akan membawamu pulang.

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!