Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama yang Gagal Total
Setelah resepsi pernikahan yang kemegahannya sanggup menyaingi pesta rakyat, Nara Amelinda akhirnya sampai pada titik paling kritis dalam hidupnya yaitu pintu kamar utama apartemen Arga Wiratama.
Statusnya kini resmi. Di mata negara, agama, dan seluruh pengikut Instagram yang memberikan like pada foto viral mereka, Nara adalah istri Arga. Namun, di dalam kepalanya, Nara merasa lebih seperti tawanan perang yang baru saja dijebloskan ke sel isolasi yang sangat mewah dan beraroma kayu manis.
"Masuklah," ujar Arga singkat, sambil meletakkan kunci apartemen di atas meja konsol.
Nara melangkah masuk dengan kaku. Kebaya putihnya masih melekat erat, membuatnya sulit bernapas atau mungkin sesaknya napas itu karena keberadaan Arga yang kini sedang melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka.
"Jadi... ini kamarnya?" tanya Nara basa-basi, padahal ia sudah pernah melihat kamar ini saat survei pindahan kemarin.
"Iya... Kamar mandi ada di sebelah kiri. Kamu bisa mandi duluan untuk membersihkan... segala sesuatu yang menempel di wajah kamu itu," jawab Arga sambil menunjuk tumpukan makeup tebal Nara.
Nara mencebik.
"Ini namanya look flawless, Arga! Bukan sesuatu yang 'menempel'. Tapi ya sudahlah, aku emang butuh lepas sanggul ini sebelum kepalaku benar-benar meledak."
Nara masuk ke kamar mandi dan menghabiskan waktu hampir satu jam. Ia sengaja melama-lamakan diri, menyikat gigi sampai tiga kali, dan memakai piyama satin panjang paling sopan yang ia punya, iya piyama bergambar beruang kutub yang sangat jauh dari kesan "malam pertama".
Saat keluar, Nara mendapati Arga sudah duduk di tepi tempat tidur dengan laptop di pangkuannya.
"Arga, kita baru aja sah jadi suami istri dan kamu masih... kerja?" Nara melongo.
Arga mendongak.
"Saya perlu memeriksa laporan arus kas untuk meeting besok pagi pukul delapan. Secara fungsional, tidur adalah kebutuhan, tapi laporan ini adalah urgensi."
"Oke pak Audit silahkan lanjut, saya mau istirahat."
Nara berjalan menuju tempat tidur besar itu dengan ragu.
"Terus kita... tidurnya gimana?"
Arga menutup laptopnya pelan. Ia bangkit, mengambil dua bantal guling panjang, lalu menyusunnya tepat di tengah-tengah kasur.
"Ini apa?" Nara mengerjap.
"Ini adalah Zis (Zona Intimidasi Sipil)," jelas Arga tanpa dosa.
"Sebuah pembatas fisik untuk memastikan tidak ada pelanggaran wilayah selama kita tidur. Kamu di sisi kiri, saya di sisi kanan. Jangan melewati batas guling kecuali ada bencana alam yang mengharuskan kita melakukan evakuasi bersama."
Nara ingin tertawa, tapi ia sadar Arga sangat serius.
"Kamu beneran mau bikin Tembok Berlin di atas kasur ini? Ya ampun, Arga, aku ini istri kamu, bukan tetangga yang lagi sengketa tanah!"
"Secara kontrak, kita setuju untuk tidak melakukan kontak fisik yang tidak perlu, kan? Guling ini adalah implementasi dari pasal tersebut," Arga merebahkan diri, memunggungi Nara.
Nara naik ke kasur dengan dongkol, ia menyelimuti dirinya rapat-rapat.
Keheningan malam itu terasa begitu mencekam hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman meriam.
"Nara," panggil Arga tiba-tiba.
"Apa?" sahut Nara ketus.
"Bau sabun kamu... terlalu kuat. Baunya seperti pabrik permen stroberi yang baru saja meledak. Ini mengganggu sensor penciuman saya untuk masuk ke fase tidur REM."
Nara membalikkan badannya menghadap guling pembatas.
"Bagus dong! Daripada bau kamu, baunya kayak ruangan operasi! Terlalu bersih sampai aku takut mau napas, takut nanti oksigennya kena tagihan biaya steril!"
Arga menghela napas panjang.
"Tidurlah. Besok kita harus bangun pukul enam."
"Nggak mau! Aku mau main HP sampai pagi!"
"Pukul 23.00 adalah batas maksimal penggunaan gawai agar siklus sirkadian kita tidak terganggu. Matikan ponsel kamu, Nara."
Tengah malam, drama yang sebenarnya dimulai. Nara, yang punya kebiasaan tidur seperti baling-baling helikopter, mulai bergerak liar. Guling "Tembok Berlin" itu dengan mudah ia tendang hingga jatuh ke lantai.
Tanpa sadar, kaki Nara meluncur ke wilayah Arga dan mendarat tepat di atas perut Arga.
Arga tersentak bangun, ia membeku. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, ia melihat Nara yang mendengkur tipis, wajahnya menghadap ke arahnya. Tangan Nara entah bagaimana sudah berada di dekat bantal Arga.
Arga mencoba memindahkan kaki Nara dengan sangat hati-hati, seperti sedang menjinakkan bom. Namun, saat ia memegang pergelangan kaki Nara, gadis itu justru menggumam dalam tidurnya.
"Arga... robot... kaku..." gumam Nara tak jelas.
Arga tertegun. Kata "robot kaku" yang keluar dari bibir mungil Nara dalam keadaan tidak sadar itu entah mengapa tidak terasa seperti ejekan kali ini. Justru, itu terdengar seperti sebuah keluhan manja yang langsung menghantam telak logika pertahanan Arga.
Alih-alih memindahkan kaki Nara kembali ke zona asalnya, tangan Arga justru menetap di pergelangan kaki gadis itu. Kulit Nara terasa halus dan hangat, sangat kontras dengan suhu kamar yang dingin.
"Robot kaku ini sekarang adalah suamimu, Nara," bisik Arga sangat pelan, seolah sedang melakukan pengakuan dosa pada kegelapan malam.
Ada dorongan aneh yang melampaui segala perhitungan risikonya. Arga, pria yang hidupnya selalu berdasarkan skema dan bagan alir, tiba-tiba memutuskan untuk melakukan tindakan paling impulsif dalam hidupnya.
Perlahan, ia menggeser tubuhnya sendiri, melewati batas kasur yang tadi ia buat dengan sangat sombong.
Ia menarik tubuh Nara dengan sangat lembut agar lebih mendekat.
Nara, yang merasa mendapatkan sumber panas alami, justru semakin merapat. Ia menggeliat pelan, menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Arga, mencari posisi ternyaman di sana.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Arga berpacu liar. Jika ini adalah mesin, sensor peringatan di kepalanya pasti sudah berteriak
"System Overload!".
Napas Nara yang hangat menerpa kulit lehernya, sementara aroma stroberi dari rambut gadis itu kini memenuhi seluruh indra penciumannya.
Nara bergerak lagi, kali ini tangannya yang tadi berada di dekat bantal, kini melingkar pasrah di dada Arga, menggenggam sedikit kaus pria itu.
"Dingin..." gumam Nara pelan, suaranya serak khas orang tidur.
Tanpa sadar, Arga melingkarkan tangannya di pinggang Nara, menarik gadis itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Ia menarik selimut tebal itu untuk membungkus mereka berdua dalam satu kepompong yang hangat.
Arga menunduk sedikit, menatap wajah Nara yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Dalam cahaya temaram, ia bisa melihat bulu mata Nara yang lentik dan bibirnya yang sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, Arga merasa bahwa ada sesuatu yang tidak bisa diaudit oleh angka yaitu Kedekatan ini.
Ia memberanikan diri mengecup puncak kepala Nara dengan sangat lama. Bukan sebagai syarat akad nikah, bukan untuk kamera fotografer, tapi karena ia memang ingin melakukannya.
"Persetan dengan aturan bantal," gumam Arga pelan.
"Secara termodinamika, berbagi panas tubuh adalah cara paling efisien untuk melawan kedinginan."
Nara tidak membalas, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya pada Arga, membuat sang "robot kaku" akhirnya menyerah pada kantuk dengan sebuah senyum tipis yang tulus menghiasi wajahnya. Malam pertama yang ia kira akan dihabiskan dengan menghitung detak jam dinding, justru berubah menjadi malam paling tenang yang pernah ia rasakan.