Haura, seorang gadis pengantar bunga yang harus kehilangan kesuciannya dalam sebuah pesta dansa bertopeng. Saat terbangun Haura tak menemukan siapapun selain dirinya sendiri, pria itu hanya meninggalkan sebuah kancing bertahtakan berlian, dengan aksen huruf A di dalam kancing itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MGTB And CEO BAB 24 - Jaga Bicaramu
Malam itu, Haura meminta pada kedua anaknya untuk tidur bersama dirinya. Bukan tanpa alasan, melainkan ingin membicarakan seseorang yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ayah mereka.
"Apa benar ayah Adam ayah kami Bu?" tanya Azzura, ia tidur disebelah kanan sang ibu, sementara Azzam disebelah kiri.
Haura merentangkan kedua tangannya sebagai bantalan sang anak.
"Bagaimana kalau iya, apa Azzura bahagia?" tanya Haura menyelidik.
"Tentu saja Azzura bahagia, tapi kenapa ayah pergi lagi? kenapa ayah tidak tinggal bersama kita? Zura merasa hangat sekali tiap ayah Adam memeluk Zura erat," celoteh Azzura apa adanya, khas anak kecil yang bercerita sesuai isi hati, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Namun mendengar itu, Haura tersenyum kecut.
"Bagaimana denganmu Zam? apa Azzam bahagia bertemu dengan ayah?" tanya Haura pada anak sulungnya.
Azzam tak langsung menjawab, ia memeluk erat ibunya lebih dulu.
"Bagaimana dengan ibu? apa ibu bahagia bertemu dengan ayah?" jawab Azzam, yang malah balik bertanya.
Dan Haura tak bisa menjawab apa-apa. Jika boleh jujur, ia akan memilih untuk tidak bertemu dengan pria itu lagi, selama-lamanya.
"Azzam hanya akan bahagia, jika ibu bahagia," terang Azzam dan Azzura mengangguk setuju.
"Jika ibu melarang kalian untuk menemui ayah, apa kalian akan menurut?" tanya Haura dan kedua anaknya mengangguk dengan kompak.
Namun melihat itu, bukannya merasa bahagia, Haura malah merasa begitu egois.
"Maafkan ibu Nak," ucap Haura lalu memeluk kedua anaknya erat.
Entahlah, Haura benar-benar bingung harus bagaimana. Namun yang pasti, kini ia hanya akan memastikan sesuatu, benarkah pria yang bernama Adam itu adalah ayah dari kedua anaknya.
"Jadi Zura tidak boleh bertemu dengan ayah lagi Bu?" tanya Azzura memastikan.
Dan Haura menggigit bibir bawahnya kuat, bingung. Apalagi saat melihat kedua mata Azzura yang menatapnya dengan penuh harap.
"Azzura, jangan desak ibu, ayah sudah bertahun-tahun meninggalkan kita, ibu hanya belum bisa memaafkan itu." Azzam yang menjawab, dan akhirnya Azzura bisa terima.
"Iya Bang," jawab Azzura patuh, lalu memeluk erat tubuh sang ibu.
Malam itu, Haura terus terjaga. Meski Azzam dan Azzura sudah terlelap, ia masih betah menatap langit-langit kamar.
"Ya Allah, aku sudah mencoba ihklas, namun kini malah rasa takut yang menghantuiku," gumam Haura pelan.
Ia memang tak bisa merubah yang sudah terjadi, kesalahan Adam padanyapun tak bisa dihapus dari hidupnya.
Namun kini Haura begitu takut, takut Adam akan mengambil kedua anaknya dengan paksa. Sama seperti saat Adam merenggut kesuciannya dengan paksa.
Bahkan kini, Haura begitu takut membiarkan kedua anaknya untuk keluar rumah. Takut, jika Azzam dan Azzura keluar, maka mereka tidak akan kembali lagi.
Haura, takut ditaraf yang paling akut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya.
Haura memutuskan untuk mengantar kedua anaknya kesekolah. Bahkan Haura mengatakan, jika nanti ia pula yang akan menjemput mereka.
Berulang kali pula Haura berkata, jangan ikut orang lain selain ibu.
Mendengar itu, Azzam dan Azzura cukup tahu, bahkan jika ayah mereka yang menjemput, mereka tidak boleh ikut.
"Baik Bu," jawab Azzam dan Azzura patuh.
Dan Haura bisa bernapas lega.
Setelah itu, Haura segera bergegas ke rumah sakit dan melakukan tes DNA yang kemarin sudah ia rencanakan.
Haura tidak tahu, jika semua gerak-geriknya pagi itu diperhatikan terus oleh Adam.
"Ternyata, kamu belum memaafkanku Haura," gumam Adam yakin.
Lalu memutar kemudinya ketika melihat Haura yang sudah masuk ke dalam taksi.
Haura ke rumah sakit sedangkan Adam ke Malik Kingdom.
"Bagaimana dengan Monica?" tanya Adam dengan suaranya yang dingin.
"Dia sudah menanda tangani surat gugatan cerai anda Tuan, kini hanya tinggal proses persidangan. Tak sampai lama, 1 bulan ini anda dan Monica sudah bisa bercerai," jawab Luna rinci.
Dan Adam tak bertanya lagi tentang wanita itu.
"Mulai akuisisi perusahaan Darius, ku rasa sekarang waktu yang tepat untuk membalas perbuatannya dimasa lalu."
"Baik Tuan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah AIG School.
Azzam dan Azzura langsung jadi pembicaraan.
Pengakuan Adam tentang Azzam dan Azzura sebagai kedua anaknya begitu menarik perhatian. Banyak desas desus yang berterbangan.
Namun sebelum berita itu bergulir semakin deras, pihak sekolah sudah bertindak tegas. Jika ada pembulian, penghasutan, ataupun tindakan yang mengganggu berjalannya proses belajar, maka orang itu akan terkena skors, dan bisa jadi akan dikeluarkan dari sekolah ini.
Setelah pengumuman itu keluar, keadaan sekolah jadi lebih stabil.
Semua mulut seolah terkunci untuk mengulik kehidupan Azzam dan Azzura.
"Zam, ayo ke perpustakaan," ajak Julian saat jam istirahat tiba.
"Makan dulu, aku lapar," rengek Arnold yang perutnya sudah keroncongan, saat ini jam istirahat pertama, jam 10 pagi.
"Kalian ingin mengajakku?" tanya Azzam dengan tatapannya yang dingin.
"Kamu tidak mau?" tanya Julian heran.
"Ku pikir, kalian sudah tidak mau berteman denganku," balas Azzam apa adanya.
Mendengar itu, Julian dan Arnold malah terkekeh.
"Kenapa bicara seperti itu? apa tentang om Adam dan ibumu? ayah dan ibuku juga bercerai, dan aku baik-baik saja, kita berteman menerima satu sama lain, bukan untuk saling menjatuhkan," jawab Julian apa adanya.
Azzam menatap kedua temannya itu secara bergantian, lalu mulai tersenyum seperti sedia kala.
"Ayo cepat, kita ke kantin, aku lapar," rengek Arnold.
"Iya iya, tapi kita jemput Zura dan Arrabela dulu," Tawar Azzam, dan kedua temannya menyetujui.
Kelas anak laki-laki dan perempuan memang dipisah, meski mereka dijenjang yang sama.
Dengan segera, mereka bertiga menjemput Azzura dan Arrabela.
Hingga kini, kelima bocah itu jalan bersamaan menuju kantin.
"Apa benar kamu dan Azzam anaknya pamanku? berarti kita saudara," ucap Arrabela memulai pembicaraan.
Azzura tak menjawab dengan kata-kata, hanya senyumnya yang semakin melebar. Bukan apa-apa, Azzura masih merasa belum leluasa untuk membicarakan tentang ayahnya itu. Terlebih, sang ibu masih marah pada ayah mereka, begitulah yang ada dibenak Azzura.
"Tapi bagaimana bisa Uncle Adam memiliki anak dari orang lain, sementara dia sudah punya istri, tante Monic namanya," jelas Arrabela apa adanya.
Dan mendengar itu, langkah kelima anak ini langsung terhenti.
"Apa jangan-jangan, sebenarnya kalian adalah anak-anak tante Monic yang menghilang sejak kecil, lalu ditemukan oleh ibu kalian yang sekarang, ibu Haura," ucap Arrabela lagi sesuai tebakannya.
Namun mendengar itu, Azzam merasa geram.
"Jaga bicaramu Arra, jangan sembarangan membicarakan tentang ibuku," balas Azzam dengan nada dingin, dilihatnya wajah sang adik yang berubah sendu. Azzam makin merasa geram.
Lalu tanpa babibu, Azzam langsung menarik tangan Azzura dan meninggalkan begitu saja Arrabela, Julian dan Arnold.
"Mulutmu lancang sekali, apa kami pernah membicarakan tentang kedua orang tuamu?" tanya Julian dengan ketus pada Arrabela.
"Azzam, Zura! tunggu!" teriak Arnold.
Lalu Julian dan Arnold segera menyusul Azzam dan Azzura, meninggalkan Arrabela yang tercenung di sana.
"Bukan seperti itu maksudku," gumam Arrabela penuh sesal.
Ia lalu ikut berlari, dan menyusul keempat temannya untuk meminta maaf.