Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 TANGISAN DI UTARA DAN GETARAN YIN–YANG
Angin utara bertiup dingin malam itu, menyapu dataran beku Wilayah Chen seperti bilah tak kasatmata. Salju belum turun, namun hawa dingin yang menekan dada menandakan pergantian musim dan sesuatu yang jauh lebih tua dari musim tengah bergerak di balik langit.
Benteng Utara berdiri sunyi.
Di balik dinding batu hitam yang telah menahan serangan bangsa iblis selama ratusan tahun, lentera-lentera menyala redup. Para prajurit berjaga dengan senjata tergenggam erat, seolah naluri mereka merasakan kegelisahan yang tak bisa dijelaskan.
Di kedalaman istana wilayah itu, sebuah kamar kelahiran dipenuhi aroma obat dan darah.
Zhia Xining terbaring di ranjang batu giok, napasnya teratur namun berat. Wajahnya pucat, namun tidak menunjukkan rasa takut tetapi hanya ketenangan yang terlalu dalam untuk dimiliki manusia biasa. Rambut hitamnya tergerai, basah oleh keringat, dan di bawah kulitnya, sesuatu berdenyut pelan… seperti gema jauh dari naga yang tertidur.
Di samping ranjang, Raja Chen Hao berdiri tegak. Tubuhnya tinggi dan kokoh, bahunya lebar seperti gunung. Baju perangnya telah dilepas, namun bekas luka lama di lengan dan lehernya tetap terlihat jelas. Tangannya mengepal bukan karena takut pada darah atau rasa sakit istrinya, tetapi karena langit.
Sejak satu jam lalu, ia merasakan tekanan aneh dari atas benteng.
Bukan aura musuh.
Bukan Qi iblis.
Melainkan sesuatu yang… mengamati.
“Tenanglah,” suara Zhia Xining terdengar lirih namun jernih. “Langit tidak akan turun malam ini.”
Chen Hao menatapnya. “Kau yakin?”
Zhia Xining tersenyum tipis. Senyum itu tidak pernah berubah, sejak hari mereka bertemu hingga hari ini. “Jika ia turun, aku yang akan menahannya.”
Kalimat itu sederhana, namun membuat Chen Hao terdiam. Ia tahu istrinya menyimpan rahasia. Ia tahu darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah manusia biasa. Namun ia tidak pernah bertanya lagi karena di medan perang, ada rahasia yang hanya bisa dijaga dengan kepercayaan.
Jeritan bayi memecah keheningan.
Tangisan itu tidak keras, namun jernih, menembus dinding batu dan menusuk udara malam seperti nada pertama sebuah takdir panjang.
Pada saat yang sama.
Langit di atas Wilayah Utara bergetar.
Awan hitam yang menggantung sejak senja terbelah dua tanpa angin. Di satu sisi, cahaya pucat kebiruan merembes turun, dingin dan tenang. Di sisi lain, semburat keemasan hangat berdenyut, seperti matahari yang terperangkap di balik awan.
Yin dan Yang.
Tidak saling menelan.
Tidak saling menghancurkan.
Mereka berdiri berdampingan.
Para kultivator penjaga benteng tersentak. Kompas Qi di menara pengawas berputar liar, lalu berhenti mendadak—jarumnya menunjuk lurus ke satu titik: istana wilayah.
“Ini...!”
“Apa yang terjadi dengan langit?!”
“Tidak ada aura iblis… tapi tekanan ini...”
Di dalam kamar, Zhia Xining menggertakkan gigi. Tangannya mencengkeram sisi ranjang saat pola cahaya halus muncul di kulit lengannya—sisik samar yang hanya terlihat sesaat sebelum memudar.
Ia mengangkat satu tangan, menekan ke dada bayi yang baru lahir.
Seketika, getaran langit mereda.
Cahaya Yin dan Yang memudar, seolah ditelan malam. Awan kembali menyatu, menyembunyikan anomali yang baru saja muncul.
Tangisan bayi itu melemah, berubah menjadi napas kecil yang teratur.
Chen Hao mendekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat putranya.
Bayi itu tenang. Terlalu tenang.
Kulitnya hangat, namun di sekelilingnya ada kesejukan samar. Napasnya lembut, tapi setiap tarikan dan hembusan seolah mengikuti ritme tertentu bukan ritme manusia, melainkan ritme dunia.
“Namanya…” Chen Hao ragu sejenak, lalu berkata dengan suara mantap,
“Chen Long.”
Saat nama itu terucap, sesuatu di dalam tubuh bayi itu berdenyut.
Bukan kekuatan.
Belum.
Hanya fondasi.
Zhia Xining memejamkan mata, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti tubuhnya. Dalam batinnya, ia merasakan dua garis takdir berpilin di dalam darah putranya—satu panas seperti matahari purba, satu dingin seperti malam tanpa bulan.
Darah naga telah bangun…
Darah Yang masih tersegel…
Ia menoleh ke arah Chen Hao. “Dengarkan aku baik-baik.”
Nada suaranya berubah. Bukan suara istri. Bukan suara permaisuri. Melainkan suara seseorang yang pernah berdiri di hadapan langit.
“Anak ini tidak boleh dibawa ke ibu kota,” katanya. “Tidak sekarang. Tidak sebelum waktunya.”
Chen Hao mengangguk tanpa ragu. “Wilayah Utara akan menjadi dunianya.”
“Dan kau,” lanjut Zhia Xining pelan, “harus mengajarinya satu hal lebih dulu dari pedang dan strategi.”
“Apa?”
“Menahan diri.”
Chen Hao terdiam. Ia memahami makna itu lebih dari siapa pun. Di medan perang, sering kali yang bertahan hidup bukan yang paling kuat—melainkan yang tahu kapan tidak mengayunkan senjata.
Di kejauhan, lonceng peringatan di benteng berbunyi satu kali. Bukan tanda bahaya, melainkan penanda pergantian jam jaga.
Namun jauh di ibu kota Kekaisaran Yin, seorang penasehat tua tiba-tiba membuka matanya dari meditasi. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Getaran tadi…” gumamnya. “Bukan iblis. Bukan dewa.”
Ia menatap ke arah utara, ke tempat yang tak terlihat oleh mata fana.
“Apakah… takdir baru telah lahir?”
Kembali di Wilayah Chen, Chen Long tertidur pulas di pelukan ibunya. Tidak ada aura kuat yang bocor dari tubuh kecil itu. Tidak ada cahaya. Tidak ada tanda keajaiban.
Hanya denyut jantung yang stabil.
Namun jauh di dalam tubuhnya, dua arus Yin dan Yang mulai mengalir pelan, belajar hidup berdampingan.
Dan dunia, tanpa menyadarinya, telah menerima seorang anomali.
Fajar belum menyingsing ketika lonceng kedua berbunyi di Benteng Utara.
Kali ini bukan penanda jam jaga.
Suara itu panjang dan berat tiga dentang berurutan tanda kedatangan utusan kekaisaran.
Chen Hao berdiri di puncak dinding benteng, mantel bulu serigala di bahunya berkibar pelan. Di bawah sana, gerbang utama terbuka perlahan. Barisan prajurit utara berdiri rapi, tombak menancap ke tanah beku, mata mereka tajam namun terkendali.
Dari balik kabut pagi, rombongan berkuda muncul.
Bendera Kekaisaran Yin berkibar di depan latar hitam dengan simbol bulan perak. Jumlah mereka tidak banyak, hanya dua belas orang, namun aura yang menyertai mereka membuat udara terasa lebih berat.
Di tengah rombongan, seorang pria tua mengenakan jubah istana turun dari kudanya. Rambutnya memutih, wajahnya kurus, namun matanya jernih dan dalam mata seseorang yang telah hidup terlalu lama di bawah bayang-bayang kekuasaan.
Penasehat Agung Luo Wen.
Chen Hao menyipitkan mata. Jadi kaisar mengirimnya…
Ia turun dari dinding benteng dan berjalan menyambut, langkahnya mantap. Tidak ada sikap tunduk berlebihan. Di Wilayah Utara, kesetiaan ditunjukkan dengan darah, bukan punggung yang di bungkukkan.
“Raja Chen,” Luo Wen menyapa, menangkupkan tangan. “Kami datang membawa dekrit.”
Chen Hao membalas penghormatan dengan singkat. “Utara selalu terbuka untuk titah kekaisaran.”
Namun di balik kata-katanya, pikirannya waspada. Waktu kedatangan ini terlalu tepat.
...BERSAMBUNG...
...****************...