Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Baru dalam Diam
Kata sah itu masih menggantung di udara ketika semuanya perlahan kembali bernapas. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak bahagia. Hanya helaan napas panjang yang dilepaskan satu per satu, seperti baru saja melewati sesuatu yang besar dan sunyi.
Aku menunduk. Tanganku dingin. Dadaku terasa penuh oleh perasaan yang belum sempat kutamai.
Schevenko duduk tidak jauh dariku. Posisi kami masih sama seperti sebelum ijab kabul. Tidak berubah. Tidak mendekat. Seolah pernikahan barusan tidak otomatis menghapus batas yang selama ini ada—dan anehnya, itu membuatku sedikit lebih tenang.
Penghulu pamit setelah doa singkat. Ayah mengantarnya sampai pintu, lalu kembali ke ruang tamu. Ibuku duduk di sampingku, mengusap lenganku pelan.
“Minum dulu,” katanya lembut.
Aku mengangguk dan menerima segelas air. Tenggorokanku terasa kering, seperti sejak tadi aku lupa bernapas dengan benar.
Beberapa saat kami hanya duduk. Sunyi yang tidak canggung, tapi juga tidak akrab. Sunyi yang penuh makna.
Schevenko akhirnya membuka suara.
“Pak… Bu…”
Nada suaranya tetap tenang, tapi aku bisa menangkap ada kehati-hatian di sana.
“Saya ingin bicara sebentar.”
Ayah menoleh.
“Silakan.”
Schevenko menghela napas pelan sebelum melanjutkan.
“Kalau diperbolehkan, hari ini juga saya ingin membawa Zahra ke catatan sipil. Sekalian mengurus pendaftaran kuliahnya. Biar semuanya rapi.”
Aku refleks menoleh ke arahnya. Hari ini juga?
Ibuku tidak langsung menjawab. Ia menatap ayahku, seolah memberi ruang untuknya bicara lebih dulu.
Ayah diam sejenak. Tatapannya berpindah dari Schevenko, lalu kepadaku. Pandangannya bukan pandangan ragu—lebih seperti pandangan orang tua yang sedang melepaskan sesuatu dengan sadar.
“Keputusan ada padamu,” kata ayah akhirnya.
“Kamu tidak perlu meminta izin lagi.”
Aku menahan napas.
“Ia,” ayah melanjutkan sambil menatap Schevenko dengan serius,
“sudah jadi tanggung jawabmu sekarang.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi berat. Aku merasakan sesuatu menggeser posisinya di dalam dadaku—bukan sakit, bukan takut, tapi kesadaran yang nyata.
Schevenko mengangguk dalam-dalam.
“Baik. Terima kasih… Ayah. Terima kasih sudah percaya.”
Aku tersentak kecil.
Ayah?
Aku menoleh cepat ke Schevenko. Ia tetap menunduk hormat, seolah kata itu keluar begitu saja tanpa direncanakan. Tapi dampaknya ke diriku terasa besar. Ada rasa kaget, ada rasa asing, dan ada sesuatu yang hangat tapi juga membuatku gugup.
Ayah tidak menegurnya. Tidak pula tersenyum berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil, seolah menerima kata itu tanpa perlu diperpanjang.
Lalu ayah menoleh padaku.
“Zahra.”
“Iya, Yah?”
“Kemas bajumu,” katanya tenang.
“Tidak usah bolak-balik lagi. Kasihan juga Mas Schevenko.”
Ibuku terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. Tapi aku tahu, keputusan itu sudah bulat.
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
Aku berdiri, langkahku terasa sedikit goyah saat menuju kamar. Di belakangku, aku mendengar suara Schevenko.
“Zahra,” katanya.
“Tidak usah banyak-banyak. Sedikit saja.”
Aku menoleh.
“Oke.”
Kamar itu menyambutku dengan aroma yang sudah sangat kukenal. Tempat tidur, lemari, meja belajar—semuanya masih sama. Tapi aku tahu, setelah hari ini, kamar ini bukan lagi tempatku pulang setiap hari.
Aku membuka lemari dan menatap isinya. Tanganku bergerak ragu. Aku mengambil pakaian secukupnya. Beberapa buku. Alat tulis. Barang-barang kecil yang terasa penting tapi tidak bisa kujelaskan alasannya.
Aku sengaja tidak membawa semuanya. Seolah dengan meninggalkan sebagian, aku masih punya alasan untuk kembali—meski aku tahu, hidup tidak selalu bekerja seperti itu.
Tas kututup. Tidak berat. Tapi perasaanku iya.
Ketika aku kembali ke ruang tamu, semuanya sudah siap. Ayah berdiri dekat pintu. Ibuku memegang tanganku lebih lama dari biasanya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Aku mencoba tersenyum. Gagal. Air mataku justru jatuh lebih dulu.
Aku memeluk ibuku. Erat. Tanpa kata. Tangisku pecah di bahunya, seperti anak kecil yang akhirnya sadar bahwa rumah tidak selalu bisa dibawa pergi.
“Bu…” suaraku bergetar.
Ibuku mengusap punggungku, menahan tangisnya sendiri.
“Pergilah. Kamu tidak meninggalkan kami. Kamu hanya melangkah.”
Ayah mendekat. Ia menepuk pundakku pelan.
“Kamu anak yang kuat,” katanya singkat, tapi penuh makna.
Lalu ayah menoleh ke Schevenko. Tatapannya tajam, tapi tidak mengancam.
“Aku percayakan padamu, Mas.”
Schevenko mengangguk mantap.
“Saya jaga.”
Ayah menoleh kembali kepadaku.
“Berangkatlah.”
Aku mengangguk. Kakiku melangkah keluar rumah dengan perasaan campur aduk. Pintu itu tertutup perlahan di belakangku. Tidak dibanting. Tidak ditahan. Hanya ditutup—seperti satu bab yang selesai tanpa perlu dijelaskan panjang-panjang.
Perjalanan menuju catatan sipil terasa sunyi. Aku duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang bergerak mundur. Kota terlihat sama, tapi aku merasa seperti orang baru yang belum tahu di mana harus berdiri.
Schevenko tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menoleh, memastikan aku baik-baik saja.
Urusan catatan sipil berjalan lancar. Terlalu lancar, sampai aku nyaris tidak sempat merasa gugup. Tanda tangan demi tanda tangan. Nama demi nama. Sampai akhirnya, semua selesai.
Status itu kini bukan hanya sah di hadapan agama, tapi juga tercatat.
Setelah itu, kami langsung menuju tempat pendaftaran kuliah. Jantungku berdebar lebih kencang kali ini. Ini bukan tentang pernikahan—ini tentang diriku sendiri.