Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prediksi Terkonfirmasi
Hujan di Yogyakarta malam ini turun dengan agresif.
Bukan gerimis romantis yang biasa mengiringi lagu-lagu patah hati di kafe Malioboro, melainkan hujan badai yang membawa aroma petrichor yang menguar tajam, bercampur dengan dingin yang menusuk tulang.
Di dalam sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir lima ratus meter dari rumah Sekar, KMA Rangga Wisanggeni mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke setir berlapis kulit.
AC mobil menyala pelan, menciptakan embun di kaca jendela, mengaburkan pandangan ke arah jalan desa yang becek.
Di kursi penumpang, seorang pria kurus dengan jaket hoodie hitam duduk sambil membersihkan kuku dengan ujung pisau lipat.
Dia adalah "Si Belut", spesialis pencurian aset perusahaan yang biasa disewa untuk sabotase industri.
"Kau yakin gadis itu menyimpan barangnya di gudang belakang?" tanya Rangga. Suaranya rendah, namun sarat dengan ketidaksabaran.
Si Belut terkekeh pelan, suara yang terdengar seperti gesekan amplas kasar. "Tenang saja, Den Mas. Saya sudah mengamati pola tiga hari ini. Jam sepuluh malam, lampu bengkel belakang mati. Dia tidur seperti mayat. Penjaga tua itu, Pak Man, biasanya tertidur di pos depan setelah minum wedang jahe."
Rangga menatap bangunan rumah joglo Sekar yang tampak samar di kejauhan.
"Ingat instruksinya," desis Rangga, matanya menyipit tajam.
"Kotak kayu jati berukir motif Kawung. Isinya enam tabung kaca. Jangan sampai pecah. Itu aset masa depan yang akan membuatku duduk di kursi Menteri Perdagangan."
"Beres. Dan bayarannya?"
"Dua kali lipat kalau kau berhasil membawa kotak itu tanpa membangunkan si cah ayu," Rangga melempar amplop cokelat tebal ke pangkuan Si Belut.
"Sisanya setelah barang ada di tanganku."
Si Belut menyeringai. Dia mengenakan masker hitam, lalu keluar dari mobil, menyatu dengan kegelapan malam dan tirai hujan yang deras.
Sementara itu, di dalam laboratorium daruratnya, Sekar Ayu Prameswari sedang tidak tidur.
Dia berdiri di depan meja kerja stainless steel, mengenakan sarung tangan lateks tebal dan kacamata pelindung.
Lampu ruangan dia matikan, hanya mengandalkan cahaya dari lampu sorot kecil bertenaga baterai yang terfokus pada objek di hadapannya.
Suara hujan di atap terdengar bising, tapi bagi otak Sekar, itu adalah white noise yang sempurna untuk fokus.
Di depannya, enam tabung reaksi berjejer rapi di dalam kotak kayu jati motif Kawung.
Persis seperti ciri-ciri yang dia "bocorkan" secara tidak sengaja saat menelepon Pak Man di teras kemarin sore, saat dia tahu ada mata-mata Rangga yang mengawasi dari warung seberang.
"Analisis morfologi," gumam Sekar pelan. Suara batiniah profesornya mengambil alih.
Tanaman di dalam tabung itu tampak cantik. Daunnya lebar, berwarna hijau tua dengan bulu-bulu halus yang berkilauan seperti beludru jika terkena cahaya.
Sekilas, sangat mirip dengan tanaman obat langka yang sedang dia bawa kehadapan Sultan kemarin.
Namun, di bawah lensa pembesar yang dipakai Sekar, "bulu halus" itu adalah mimpi buruk biologis.
Trichomes.
"Struktur jarum silika berujung runcing," batin Sekar, mengagumi mekanisme pertahanan alam yang kejam itu.
"Setiap helai bulu ini adalah ampul hipodermik alami. Begitu tersentuh kulit, ujungnya patah dan menyuntikkan koktail racun."
Sekar mengambil pinset, memindahkan satu tanaman kecil itu dengan kehati-hatian tingkat tinggi.
Ini adalah Laportea decumana, atau yang dikenal penduduk lokal sebagai Daun Gatal Gajah, varietas yang sudah dimutasi di Ruang Spasial.
Sekar telah melakukan rekayasa genetika sederhana di dalam ruang dimensinya.
Dia meningkatkan konsentrasi Asam Format dan Histamin dalam kelenjar racun tanaman ini hingga 300%.
"Efek neurotoksin lokal," analisis Sekar dingin.
"Menyebabkan sensasi terbakar, gatal ekstrem yang bertahan 48 jam, dan pembengkakan jaringan epidermis. Tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat orang ingin mengelupas kulitnya sendiri."
Sekar tersenyum miring.
Senyum yang tidak akan pernah dia tunjukkan di depan Arya atau Sultan.
"Mas Rangga ingin mencuri 'harta karun'? Silakan."
Dia menutup kotak kayu jati itu dengan hati-hati. Klik.
Kunci sederhana. Mudah dibobol.
Sekar meletakkan kotak itu di atas meja kerja, tepat di bawah sorotan cahaya bulan yang remang-remang dari ventilasi kaca.
Terlihat sangat menggoda. Seolah berteriak: Ambil aku.
Dia melepas sarung tangan lateksnya, membuangnya ke tempat sampah medis, lalu berjalan menuju kamar tidurnya yang terhubung langsung dengan lab.
Dia merebahkan diri di kasur, menarik selimut batik sampai dada.
Tangan kirinya meraba pola benih padi di jari manisnya.
Sekar memejamkan mata, mengatur napasnya menjadi ritme lambat dan teratur.
Bioteknologi bukan hanya soal memanipulasi tanaman, tapi juga memanipulasi fisiologi tubuh sendiri.
Dia menurunkan detak jantungnya hingga 50 bpm.
Dia tidak tidur. Dia menunggu mangsa masuk perangkap.
Sementara itu, Si Belut bergerak dengan kelincahan seekor kucing liar. Dia melompati pagar tembok setinggi dua meter dengan mudah, mendarat tanpa suara di atas tanah becek halaman belakang.
Hujan membantunya menyamarkan jejak kaki.
Dia merapat ke dinding kayu.
Matanya yang terlatih memindai jendela nako.
Terkunci.
Namun, itu bukan masalah bagi pencuri veteran sepertinya.
Dengan seutas kawat baja tipis, dia mencungkil selot jendela dalam hitungan detik.
Klik.
Terbuka.
Si Belut menyeringai di balik maskernya. Terlalu mudah.
Gadis desa ini benar-benar amatir dalam mengamankan aset miliaran.
Dia melompat masuk ke dalam ruangan.
Aroma di dalam ruangan itu unik. Bukan bau oli atau kayu, tapi bau steril seperti rumah sakit, bercampur dengan aroma tanah humus yang segar.
Dia menyalakan senter kecil dengan mode redup. Sinarnya menyapu ruangan.
Rak-rak berisi botol cairan berwarna-warni. Mikroskop.
Tumpukan buku tebal, dan di sana, di tengah meja kerja utama... kotak itu.
Kotak kayu jati motif Kawung.
Jantung Si Belut berdesir girang. Ini uang termudah yang pernah dia dapatkan.
Dia melangkah mendekat. Matanya sempat melirik ke arah pintu penghubung yang sedikit terbuka. Di kamar sebelah, dia bisa melihat siluet tubuh perempuan yang tertidur pulas di bawah selimut. Napasnya teratur.
"Mimpi indah, Nona Manis," batin Si Belut mengejek.
"Terima kasih sumbangannya."
Dia meraih kotak kayu itu. Beratnya pas. Terasa solid dan mahal.
Tanpa membuang waktu untuk membuka isinya, dia memasukkan kotak itu ke dalam tas ransel anti-air yang dia bawa.
Misi selesai.
Si Belut keluar melalui jendela yang sama, menutupnya kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa, lalu menghilang di balik derasnya hujan malam.
Lima menit kemudian.
Di dalam kamar yang gelap, mata Sekar terbuka.
Tidak ada kekagetan. Tidak ada kepanikan. Hanya ketenangan telaga yang dalam.
Dia bangun, menyibakkan selimut, dan berjalan santai ke arah meja kerjanya.
Kotak kayu jati itu sudah hilang.
Sekar mengambil tablet yang dia sembunyikan di laci bawah.
Layar menyala, menampilkan rekaman Night Vision dari kamera mikro yang dia minta Arya pasang di sela-sela balok kayu atap.
Di layar, terlihat jelas sosok berjaket hoodie mengambil kotak itu.
Wajahnya tertutup masker, tapi postur tubuhnya terekam jelas.
"Gerakan efisien. Profesional," komentar Sekar, seolah sedang menilai kinerja asisten lab.
Dia menggeser layar ke rekaman kamera luar. Mobil sedan hitam yang parkir di ujung jalan.
Plat nomornya tertutup lumpur, sengaja, tapi Sekar mengenali model velg mobil itu.
Velg custom impor Italia.
Hanya ada tiga orang di Jogja yang memilikinya, dan salah satunya adalah sepupu Arya yang flamboyan itu.
"Prediksi terkonfirmasi.
Subjek: KMA Rangga Wisanggeni," gumam Sekar.
Sekar berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah brankas besi tua yang tersembunyi di balik tumpukan karung pupuk.
Di dalamnya, tersimpan kotak kayu jati lain. Identik dengan yang dicuri.
Bedanya, kotak ini memiliki segel biometrik yang dia beli dari pasar gelap teknologi menggunakan akun anonim hasil penjualan "Benang Serat Emas".
Sekar menempelkan jempolnya.
Beep.
Kotak terbuka.
Enam tabung berisi Pudak Wangi asli, harta karun genetika Keraton, berdiri dengan anggun, memancarkan pendar hijau samar yang menenangkan.
"Kalian aman," bisik Sekar pada tanaman-tanaman kecil itu.
Dia menutup brankas kembali, lalu menatap jendela tempat pencuri tadi masuk.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Hukum Newton ketiga, Mas Rangga," bisik Sekar pada keheningan malam.
"Untuk setiap aksi, ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah."
Sekar membayangkan apa yang akan terjadi besok pagi.
Rangga pasti akan membuka kotak itu dengan penuh kemenangan, mungkin sambil meminum wine mahalnya, ingin memamerkan 'kemenangan' itu pada GKR Dhaning.
Dia akan menyentuh tabung itu. Atau mungkin, saking serakahnya, dia akan membuka tutup tabung untuk memastikan isinya asli.
Dan saat kulit halusnya yang terawat itu bersentuhan dengan trichomes Daun Gatal Gajah...
"Sains itu kejam jika kau tidak menghormatinya," tutup Sekar.
Dia mematikan tablet, lalu kembali ke tempat tidur.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄