"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Cerita Masa Lalu
Xiao Zhen duduk di paviliun dengan tangan terlipat di pangkuan, menatap permukaan kolam koi yang tenang. Suyin menunggu dengan sabar—tidak menyela, tidak mendesak. Membiarkan Xiao Zhen mengumpulkan keberanian untuk membuka luka lama yang mungkin belum sepenuhnya sembuh.
"Delapan tahun lalu," Xiao Zhen akhirnya mulai bicara, suaranya pelan tapi jelas, "aku bertemu seorang wanita bernama Xiu Lan."
Suyin mendengarkan dengan sepenuh hati, tidak bergerak.
"Dia adalah kultivator dari Klan yang lebih kecil—Klan Yun. Bukan klan besar seperti Klan Xiao, tapi punya tradisi kultivasi yang kuat." Xiao Zhen tersenyum tipis—senyum yang penuh kenangan. "Pertama kali aku bertemu dia di turnamen kultivator antar klan. Dia bertarung melawan salah satu anggota klan kami dan menang dengan mudah. Gerakannya seperti air—mengalir, tidak bisa ditebak, sangat indah."
Suyin bisa membayangkan pemandangan itu—seorang wanita bertarung dengan elegan dan kuat.
"Setelah turnamen, aku mendekatinya. Awalnya dia cuek saja—bahkan agak dingin. Tapi aku gigih." Xiao Zhen tertawa kecil, suara yang jarang Suyin dengar. "Butuh waktu enam bulan sebelum dia akhirnya setuju untuk minum teh denganku. Dan sejak itu... kami jadi dekat."
"Kalian jatuh cinta," ucap Suyin pelan.
"Iya. Sangat cepat dan sangat dalam." Xiao Zhen menatap langit malam. "Xiu Lan berbeda dari siapapun yang pernah aku kenal. Dia kuat tapi lembut, serius tapi bisa tertawa lepas, independen tapi tidak takut meminta bantuan. Dia... sempurna bagiku."
Suyin merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—bukan cemburu, tapi lebih seperti sedih untuk Xiao Zhen yang suaranya mulai bergetar sedikit.
"Kami berencana menikah. Keluargaku mendukung—walau Klan Yun jauh lebih kecil dari Klan Xiao, mereka menghormati Xiu Lan karena kemampuan kultivasi dan karakternya. Pernikahan dijadwalkan tiga bulan setelah pertunangan."
Xiao Zhen berhenti. Tangannya mengepal di pangkuan.
Suyin menunggu—tahu bahwa bagian tersulit dari cerita ini akan datang.
"Tapi sebelum pernikahan itu terjadi..." Xiao Zhen menarik napas panjang. "...Organisasi Bayangan menyerang Klan Yun."
Hati Suyin mencelos.
"Mereka mengincar artefak kuno yang dimiliki Klan Yun—sebuah pedang spiritual tingkat tinggi yang sudah turun temurun berabad-abad. Serangan terjadi tengah malam, saat sebagian besar anggota klan sedang tidur." Suara Xiao Zhen menjadi lebih datar—seperti dia memaksa dirinya untuk tidak merasakan emosi saat bercerita. "Xiu Lan berusaha melindungi keluarganya. Dia bertarung melawan lima kultivator Organisasi Bayangan sendirian untuk memberi waktu yang lain kabur."
"Oh tidak..." bisik Suyin.
"Saat aku tahu ada serangan dan sampai ke lokasi—sudah terlambat. Klan Yun hancur. Separuh anggota terbunuh. Dan Xiu Lan..." Xiao Zhen menutup mata. "...Xiu Lan tergeletak di halaman depan rumah keluarganya. Masih bernapas, tapi sekarat. Lukanya terlalu parah."
Air mata mulai mengalir di pipi Suyin tanpa dia sadari.
"Aku menggendongnya. Mencoba menyembuhkannya dengan semua ramuan yang kami punya. Tapi..." Xiao Zhen membuka mata, menatap Suyin dengan tatapan yang sangat dalam dan menyakitkan. "...dia meninggal di pelukanku. Kata-kata terakhirnya adalah 'jangan biarkan kebencian menguasaimu'. Lalu dia pergi."
Suyin tidak bisa menahan lagi—dia berdiri dan duduk di samping Xiao Zhen, meraih tangannya yang mengepal dan menggenggamnya dengan lembut.
"Maafkan aku," bisik Suyin. "Maafkan aku karena kamu harus mengalami itu."
Xiao Zhen membalas genggaman tangan Suyin—sangat erat, seperti mencari jangkar di tengah badai kenangan.
"Setelah itu... aku berubah. Aku memburu Organisasi Bayangan dengan sangat agresif. Menangkap puluhan anggota mereka. Bahkan membunuh beberapa yang paling bertanggung jawab atas serangan ke Klan Yun." Suaranya menjadi lebih gelap. "Keluargaku harus menghentikanku sebelum aku terlalu jauh dan jatuh ke jalan yang salah. Mereka bilang Xiu Lan tidak akan mau aku jadi pembunuh demi membalaskan dia."
"Mereka benar," ucap Suyin lembut.
"Aku tahu. Tapi butuh waktu lama untuk aku terima itu." Xiao Zhen menatap tangan mereka yang saling menggenggam. "Sejak itu, aku menutup hatiku. Fokus hanya pada kultivasi dan kewajiban klan. Tidak ada ruang untuk perasaan. Tidak ada ruang untuk cinta. Karena aku tidak mau merasakan sakit seperti itu lagi."
"Selama delapan tahun," ucap Suyin dengan suara lembut.
"Selama delapan tahun." Xiao Zhen mengangguk. "Sampai tiga minggu lalu, saat aku bertemu seorang wanita muda dengan gelang giok di tangannya dan mata yang penuh dengan tekad walau dia ketakutan. Seorang wanita yang seharusnya jadi tanggung jawab kewajiban klan semata—tapi entah kenapa, dia mulai mengisi ruang di hatiku yang aku pikir sudah mati."
Suyin merasakan jantungnya berhenti sebentar.
"Awalnya aku tolak perasaan itu. Aku pikir ini hanya efek resonansi spiritual—bukan perasaan sungguhan. Tapi makin lama..." Xiao Zhen berbalik, menatap Suyin dengan mata yang basah. "...makin lama aku menyadari ini bukan hanya resonansi spiritual. Ini adalah perasaan yang nyata. Perasaan yang membuat aku ingin melindungimu bukan karena kewajiban—tapi karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu."
Air mata Suyin jatuh lebih deras.
"Kemarin, saat aku merasakan kamu dalam bahaya dan tidak ada di sisimu—rasanya seperti delapan tahun lalu terulang lagi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Xiao Zhen mengangkat tangan, mengusap air mata di pipi Suyin dengan lembut. "Aku tidak akan kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Orang yang aku cintai.
"Xiao Zhen..." Suyin tidak tahu harus berkata apa. Terlalu banyak emosi yang berkecamuk di dadanya.
"Aku tahu ini terlalu cepat," lanjut Xiao Zhen dengan cepat. "Kita baru kenal tiga minggu. Dan aku punya beban masa lalu yang berat. Aku tidak mengharapkan kamu untuk—"
Suyin memotong kata-katanya dengan cara yang paling efektif.
Dia menarik Xiao Zhen dan menciumnya.
Ciuman yang penuh dengan perasaan—semua yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kesedihan untuk kehilangan Xiu Lan. Kebahagiaan karena Xiao Zhen akhirnya membuka hatinya. Perasaan yang sudah Suyin simpan sendiri selama ini.
Xiao Zhen terkejut sebentar, tapi kemudian membalas ciuman itu—lebih dalam, lebih intens dari ciuman pertama mereka yang singkat di ruang latihan.
Saat akhirnya berpisah, keduanya terengah-engah. Kening bertemu, napas bercampur.
"Aku tidak peduli kalau ini cepat," bisik Suyin dengan suara bergetar. "Aku tidak peduli kalau kamu punya masa lalu yang berat. Semua orang punya masa lalu. Yang penting adalah sekarang—dan sekarang, aku merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan."
"Suyin..."
"Aku juga mencintaimu." Kata-kata itu keluar dengan mudah, tanpa ragu. "Mungkin aku sudah mencintaimu sejak kamu datang menyelamatkanku dari Organisasi Bayangan pertama kali. Atau mungkin sejak kamu dengan sabar melatihku kultivasi. Atau mungkin sejak kamu memasakkan telur dadar untukku." Suyin tertawa kecil di antara air mata. "Aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi aku tahu—aku mencintaimu."
Xiao Zhen menarik Suyin ke dalam pelukan yang sangat erat—seperti takut dia akan menghilang kalau tidak dipegang dengan kuat.
"Terima kasih," bisiknya di rambut Suyin. "Terima kasih sudah membuka hatiku lagi."
Mereka bertahan dalam pelukan itu untuk waktu yang lama—tidak bicara, hanya merasakan kehadiran satu sama lain.
Di atas mereka, bintang-bintang bersinar terang di langit malam yang jernih. Angin malam bertiup lembut, membawa aroma bunga dari taman.
Suyin merasa seperti berada dalam mimpi—mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Tiga minggu lalu, hidupnya hambar dan penuh dengan kesedihan kehilangan nenek. Sekarang, dia punya bisnis yang berkembang, kemampuan kultivasi, ruang dimensi yang ajaib, dan... pria yang mencintainya dengan sepenuh hati.
"Aku janji akan melindungimu," ucap Xiao Zhen tiba-tiba. "Apapun yang terjadi. Organisasi Bayangan atau ancaman lain—aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
"Dan aku janji akan terus berkembang jadi lebih kuat," balas Suyin. "Agar kamu tidak harus melindungiku sendirian. Agar kita bisa melindungi satu sama lain."
Xiao Zhen tersenyum—senyum yang tulus dan hangat. "Kesepakatan yang baik."
Mereka akhirnya melepas pelukan, tapi tangan masih saling menggenggam—tidak mau berpisah sepenuhnya.
"Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu," ucap Xiao Zhen serius.
"Apa?"
"Xiu Lan... sebelum dia meninggal, dia sempat bilang sesuatu yang aku baru mengerti sekarang." Xiao Zhen menatap mata Suyin. "Dia bilang 'suatu hari nanti, kamu akan bertemu seseorang yang akan membuatmu hidup lagi. Jangan takut untuk mencintainya'. Waktu itu aku tidak percaya. Tapi sekarang..."
"Sekarang kamu percaya," selesaikan Suyin.
"Sekarang aku percaya." Xiao Zhen mengangkat tangan Suyin yang menggenggam tangannya, menciumnya dengan lembut. "Dan aku rasa Xiu Lan akan suka kamu. Kalian punya banyak kesamaan—kuat, berani, tidak menyerah walau situasi sulit."
"Aku harap dia akan merestui kita," ucap Suyin tulus.
"Aku yakin dia merestui. Dia tidak akan pernah mau aku hidup sendirian selamanya dalam kesedihan."
Mereka duduk di paviliun sampai larut malam—berbincang tentang berbagai hal. Xiao Zhen bercerita lebih banyak tentang Xiu Lan—kenangan indah yang dia punya, bukan hanya kenangan menyakitkan. Suyin bercerita tentang neneknya, tentang masa kecil yang dia lalui setelah kehilangan orangtua.
Berbagi luka lama. Berbagi kenangan. Berbagi harapan untuk masa depan.
Saat akhirnya mereka memutuskan untuk masuk karena udara malam mulai dingin, keduanya merasa lebih ringan—seperti beban yang sudah lama dipikul akhirnya dibagi dengan orang lain.
Di depan pintu kamar Suyin, mereka berhenti.
"Selamat malam," ucap Xiao Zhen sambil menyentuh pipi Suyin dengan lembut.
"Selamat malam." Suyin berdiri berjingkat, mencium pipi Xiao Zhen dengan cepat—lalu langsung masuk ke kamar sebelum dia kehilangan keberanian dan melakukan sesuatu yang lebih.
Xiao Zhen berdiri di depan pintu yang tertutup dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajahnya.
Di dalam kamar, Suyin bersandar pada pintu dengan jantung berdebar keras.
"Aku mencintaimu, Xiao Zhen," bisiknya pada pintu tertutup—terlalu malu untuk mengatakannya dengan lebih keras tapi tetap ingin mengucapkannya.
Di luar, Xiao Zhen yang masih berdiri di sana mendengar bisikan itu—dan senyumnya melebar.
"Aku juga mencintaimu, Suyin," bisiknya balik—walau dia tahu Suyin mungkin tidak mendengar.
Malam itu, keduanya tidur dengan senyum di wajah dan hati yang penuh dengan perasaan baru—perasaan yang indah, menakutkan, dan sangat berharga.
Senin pagi, Suyin bangun dengan perasaan berbeda dari biasanya.
Lebih ringan. Lebih bahagia. Seperti ada sesuatu yang berubah secara fundamental dalam hidupnya.
Oh tunggu—memang ada yang berubah.
Dia sekarang punya... pacar? Kekasih? Pasangan?
Suyin tidak tahu istilah yang tepat untuk hubungannya dengan Xiao Zhen. Tapi apa pentingnya label? Yang penting, mereka saling mencintai.
Dia mandi dengan senyum yang tidak bisa hilang, berpakaian dengan lebih hati-hati dari biasanya—memilih dress biru muda yang paling bagus—dan bahkan memakai sedikit makeup.
Saat turun ke ruang makan, Zhao Mei sudah ada di sana—sudah siap dengan tas untuk pulang hari ini.
"Pagi, Suyin! Kamu terlihat... bercahaya hari ini," ucap Zhao Mei dengan senyum yang tahu.
"Oh, terima kasih," Suyin merasa pipinya panas. Apa semua orang bisa lihat perasaannya di wajah?
Xiao Zhen masuk beberapa menit kemudian—dan saat mata mereka bertemu, ada momen di mana waktu seperti berhenti sebentar.
"Pagi," sapa Xiao Zhen dengan suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Pagi," balas Suyin, tidak bisa menahan senyum.
Zhao Mei menatap mereka berdua bergantian—lalu tersenyum lebar.
"Akhirnya," ucapnya dengan nada puas. "Aku sudah bertaruh dengan Liu Peng bahwa kalian akan bersama sebelum akhir bulan. Aku menang!"
"Kalian bertaruh tentang kami?!" Suyin tidak tahu harus tertawa atau tersinggung.
"Tentu saja. Semua orang di tim sudah tahu kalian saling suka sejak hari pertama. Hanya kalian berdua yang masih denial." Zhao Mei tertawa. "Tapi aku senang kalian akhirnya jujur satu sama lain."
Xiao Zhen hanya menggeleng dengan senyum tipis—tidak menyangkal apa yang dikatakan Zhao Mei.
Sarapan berlangsung dengan suasana yang sangat hangat. Zhao Mei bercerita tentang rencana perjalanannya ke Klan cabang di Surabaya untuk mengajar pembuatan ramuan pada anggota junior.
"Oh ya, Suyin," Zhao Mei mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. "Ini buku catatan ramuan tambahan. Ada beberapa resep tingkat menengah yang mungkin berguna untukmu. Pelajari dengan baik—tapi jangan coba yang bertanda merah sebelum aku pulang dan bisa mengawasi. Ramuan itu berbahaya kalau salah membuat."
"Terima kasih, Zhao Mei!" Suyin menerima buku itu dengan excited. "Aku akan belajar dengan serius."
"Aku tahu kamu akan." Zhao Mei tersenyum. "Kamu murid yang baik—cepat belajar dan tidak takut bertanya. Itu kombinasi yang sempurna."
Setelah sarapan, Suyin dan Xiao Zhen mengantarkan Zhao Mei ke mobil.
"Jaga dirimu baik-baik," pesan Zhao Mei sambil memeluk Suyin. "Dan jaga dia juga." Dia menunjuk Xiao Zhen dengan dagu.
"Akan kulakukan," janji Suyin.
Zhao Mei memeluk Xiao Zhen dengan cepat—tidak biasa untuk wanita yang biasanya formal itu. "Aku senang kamu akhirnya bahagia lagi, Tuan Muda. Xiu Lan pasti tersenyum dari surga sana."
Xiao Zhen mengangguk dengan mata yang sedikit basah. "Terima kasih, Mei."
Setelah Zhao Mei pergi, Suyin dan Xiao Zhen berdiri di halaman depan villa dalam keheningan yang nyaman.
"Jadi..." Suyin melirik Xiao Zhen. "Apa yang akan kita lakukan hari ini? Latihan kultivasi?"
"Tidak hari ini." Xiao Zhen meraih tangan Suyin—dengan natural, seperti sudah kebiasaan. "Hari ini, kita libur dari semua yang berat. Kita pantas istirahat setelah minggu yang sangat melelahkan."
"Libur? Kita mau ngapain?"
Xiao Zhen tersenyum—senyum yang jarang dan sangat berharga.
"Apa kamu mau jalan-jalan denganku? Kencan pertama kita yang sebenarnya?"
Hati Suyin melompat senang. "Aku mau!"
"Bagus. Bersiaplah. Kita berangkat dalam tiga puluh menit."
Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak bertemu, mereka tidak bicara tentang kultivasi, Organisasi Bayangan, atau bisnis.
Mereka hanya jadi dua orang yang baru jatuh cinta—menikmati waktu bersama, tertawa, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan baru yang indah.
Kenangan yang akan mereka simpan selamanya.