NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 22 anomali 0.90

Veric kecil terbangun ia membuka matanya perlahan. Ia menengok kekanan dan kekiri dengan pandangan yang buram melihat tembok putih bersih, banyak sekali alat medis di setiap sudut ruangan banyak sekali selang-selang Medis yang terhubung di tubuhnya, Bahkan suara alat medis di sekitar terdengar jelas.

Veric tersadar bahwa dirinya terbaring di ranjang sebuah kamar laboratorium banyak sekali kabel-kabel yang terhubung di tubuhnya. Veric sekarang mulai tidak bisa menggerakkan tubuhnya seluruh tubuhnya seperti lumpuh dan mati rasa kini ia hanya bisa menggerakkan kepalanya saja. rasa dingin mulai menjalar di seluruh tubuhnya veric hanya bisa berpasrah terhadap dirinya kini ia tidak apa yang terjadi sebenarnya.

krekk...

suara seseorang membuka pintu.

Ternyata seorang dokter yang memasuki ruangan tersebut yaitu dokter haris. Dokter Haris berjalan mendekati veric yang terbaring tak berdaya di ranjang.

Veric tidak mampu melihat jelas wajah sesosok itu karena ia tidak memakai kacamatanya, veric segera menyipitkan matanya untuk melihatnya lebih jelas. Perlahan-lahan veric mulai bisa mengenali wajah dokter haris.

"apakah kamu dokter?" (tanya veric)

"iya. Saya dokter.... adik veric apakah masih merasakan sakit di kepalanya?"

Saat dokter haris menanyakan kondisinya kepalanya tiba-tiba veric teringat pada moment dirinya tertembak di kepala bagian belakangnya. Namun aneh nya veric tidak bisa merasakan apa-apa

"tidak."

"baguslah"

"dokter kenapa veric. tidak bisa menggerakkan tubuh veric cuman kepalanya aja yang bisa di gerakan?"

"karena adik veric masih masa pemulihan"

Dokter harus tersenyum kepada veric kemudian ia mengelus-elus kepala veric dengan lembut. kemudian ia mengambil sebuah suntikan yang berisi obat bius lalu dokter harus mengsuntikkan ke selang infus yang terhubung oleh tubuh veric.

Obat bius berhasil di masukkan segera dokter haris meletakkan suntik itu ke meja yang tidak jauh oleh veric. Veric menoleh ke arah suntikan yang di letakkan oleh dokter harus segera veric menyipitkan matanya untuk melihat apa yang diletakkan oleh dokter Haris saat pandangan terfokuskan, veric nampak jelas melihat sebuah suntikan segera ia menanyakan apa yang dilakukan oleh dokter haris.

"dokter kenapa. Dokter menaruh suntikan di situ... Dokter mau mengsuntik veric?" (tanya veric dengan polosnya)

"tidak adik veric"

"terus kenapa dokter taruh itu suntikkan?"

"dokter cuman menaruh suntikan itu di meja. Kalau adik veric ngantuk tidur aja tidak apa-apa..."

Dokter haris langsung pergi menuju pintu untuk segera keluar meninggalkan veric sendirian di atas ranjang.

Krekk...

dokter haris pergi keluar.

Saat veric menyadari bahwa dokter veric telah pergi meninggalkannya veric kembali menoleh ke atas melihat langit-langit kamar. Entah mengapa saat veric melihat langit-langit kamar rasa ngantuk mulai tersebar cepat. Matanya mulai tampak berat veric yang tidak kuat menahan rasa ngantuk yang begitu kuat, akhirnya perlahan-lahan mata Veric mulai terpejam dengan sendirinya, veric akhirnya tertidur pulas akibat dari obat bius yang berhasil di suntikkan oleh dokter harus melalui selang infusnya.

tiga jam berlalu....

Veric kembali terbangun dari tidurnya akibat obat biusnya. Namun dirinya tidak berada di ranjang, tidak ada selang-selang yang terhubung di tubuhnya kini dirinya berada di sebuah ruang yang begitu gelap.

veric tidak bisa melihat apa-apa di ruangan ini hanya terdapat kegelapan yang ia lihat ia menoleh ke kanan-kiri namun ia hanya melihat kegelapan.

 Veric kemudian berdiri. Saat ia berdiri tiba-tiba lampu di setiap sisi di nyalakan, cahaya lampu langsung mengsorot veric. Teryata dirinya berada di sebuah ruang pengetesan mahluk eksperimen yang di ciptakan oleh para dokter dan Professor dinding tebal dan besar seperti mengurungnya.

dari atas terdapat empat kaca anti peluru yang mengelilingi veric. di balik kaca tersebut seluruh dokter, satu profesor yang duduk di kursi roda mengelilinginya untuk melihat veric dari luar ruangan pengetesan, dan di salah satu dari dokter tersebut ada dokter haris yang ikut melihat veric juga.

Para dokter melihati veric seperti seekor beruang yang berada di dalam kebun binatang. Veric tidak mampu melihat wajah-wajah orang-orang yang melihatnya dari balik kaca karena silindernya, veric sangatlah kebingungan apa yang terjadi pada semua ini.

Tiba-tiba salah satu dokter di samping dokter haris bertanya kepadanya.

"Hei Haris"

Dokter haris menoleh

"apakah kamu yakin anak berumur sepuluh tahun itu bisa melawan seekor sapi besar yang mengamuk?" (tanya salah satu dokter yang tidak percaya)

"aku yakin. karena anak tersebut sudah bukan menjadi manusia lagi"

Ucapan dokter Haris seolah-olah dirinya yakin akan bahwa veric bisa mengalahkannya. dokter tersebut yang bertanya kepadanya mulai meyakininya

Tiba-tiba pengeras suara yang berada di dalam ruang pengetesan berbunyi

"anomali 0.90 akan segera di uji"

Veric mendengar suara tersebut dirinya begitu kebingungan apa yang terjadi sebenarnya.

Tiba-tiba sebuah pintu besar yang di dalam ruang pengetesan terbuka lebar. Seekor sapi jantan bertubuh besar, kekar, berwarna hitam pekat, memiliki tanduk yang cukup besar serta lancip. keluar dari pintu tersebut.

Greet....

Pintu terbuka

Sapi tersebut tampak terlihat cukup tenang. tidak lama kemudian seorang wanita perawat membawa sebuah jarum suntik berjalan menuju sapi tersebut, kemudian perawat tersebut menepuk-nepuk pantat sapi sebanyak tiga kali lalu segera ia menancapkan jarum suntik ke pantat sapi tersebut, segera ia mengsuntikkan hormon Testosteron yang berlebihan ke dalam tubuh sapi tersebut.

setelah berhasil menyuntikkan sapi perawat itu segera mengcabut suntikkan tersebut lalu berajalan keluar melalui pintu besar, saat perawat kembali masuk segera pintu besar itu tertutup rapat

BRAKK!!!

pintu kembali tertutup rapat.

Kini hanya tertinggal veric dan sapi saja di dalam ruang pengetesan.

dalam beberapa detik berlalu sapi jantan itu tampak menggeliat terlihat tidak nyaman, sapi tersebut terus menggeleng-gelengkan kepalanya terus menurus

"MOOOO...!!!!"

Tiba-tiba pandang sapi tersebut mengarah ke veric. sapi itu yang awalnya terlihat tenang kini tiba-tiba terlihat tampak tidak nyaman serta ingin mengamuk akibat efek dari penyuntikkan hormon Testosteron yang berlebih.

sapi itu segera berlari menuju veric sambil mengarahkan tanduknya yang lancip serta besar itu untuk mengseruduk ke arah veric. Veric yang menyadari bahwa tersebut akan mengseruduknya segera berlari untuk menghindarinya.

BRUKK!!!

Sapi menabrak dinding dengan keras. Benturan yang begitu keras membuat tembok itu retak.

Sekali lagi sapi itu menatap veric dengan tatapan intimidasi dari sapi tersebut. Lagi-lagi sapi tersebut berlari menuju Veric sambil mengarahkan tanduknya ke veric untuk mengseruduknya lagi

namun sayangnya saat veric akan berlari menghindari sapi itu tiba-tiba ia tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh.

Bruk...

Veric terjatuh.

sapi itu langsung mengseruduk veric yang terjatuh. kemudian sapi tersebut melempar veric hingga terbang.

Veric pun terjatuh menghantam lantai dengan keras bahkan benturan itu terdengar keras seperti tulang yang patah

BRAKK!!!

sapi yang mengamuk itu sekali lagi mengseruduk veric lalu menerbangkannya lagi.

BRAKK!!!!

veric kembali terjatuh dan menghantam ke lantai dengan keras. veric yang tidak berdaya saat dirinya mencoba berdiri kembali, Kini sapi jantan itu kembali menghampirinya lagi namun sapi itu tidak mengseruduknya melainkan menginjak-injaknya secara brutal.

para dokter yang melihat kengerian itu semua merasa tidak tega. segera satu per satu dokter meminta kepada profesor untuk menghentikannya

"Professor Gareth kumohon cepat hentikan! lihat anak kecil itu tidak bisa di biarkan lama-lama dia akan mati!!" (ujar dokter jane)

"iya benar. apa yang di harapkan dari eksperimen anak di umur sepuluh tahun!!!" (ujar dokter Melia)

"Professor Gareth. ini eksperimen pertama kita yang cukup menyiksa anak kecil!!!" (ujar dokter Rendi)

Professor Gareth merespon tanggapan dengan santai seolah-olah bahwa ini adalah hal yang biasa

"tenang saja anak itu pasti akan bertahan cuman ini butuh waktu saja. tidak akan mati tenang saja"

Dokter haris melihat kengerian yang terjadi pada veric. ia menatapnya dengan rasa penyesalan.

Segara membentak Professor Gareth.

"APA?! APAKAH PROFESSOR GARETH SUDAH GILA?!"

Seluruh dokter menoleh kearah dokter Haris.

"Anak sekecil itu harus bertahan dari monster pemakan rumput seberat dua ton? Lihat saja anak itu tampak mulai mendekati ajalnya. aku memang sering bertugas dan melihat ini semua namun ini cukup kejam terutama pada anak kecil"

Professor Gareth segera merespon dokter haris dengan santai tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

"Haris. Kenapa dirimu begitu ketakutan saat melihat anak kecil itu? Apakah rasa empatimu telah mengendalikanmu?"

dokter harus diam.

Dokter haris tidak menjawab ia menundukkan kepalanya dari hadapan Professor Gareth.

Dokter haris kembali melihat veric. Namun kondisi veric di dalam ruang tersebut terlihat Veric sudah tidak bernyawa, dokter Haris menatap Veric dengan rasa penyesalan bahkan tatapannya seperti orang depresi, saat sapi yang mengamuk itu terus-menerus menginjak-injak veric.

Sebuah keajaiban muncul tiba-tiba membuka kedua matanya namun kedua bola matanya telah berubah menjadi merah layaknya anomali.

Veric segera memegang kedua kaki sapi tersebut lalu mendorong sapi tersebut hingga tubuhnya terguling. Segera sapi itu terbangun kembali sapi itu tampak semakin marah, hidung nya terus mendengus.

Veric yang tidak sadarkan dirinya tiba-tiba sesuatu keluar dari balik punggungnya. Veric menjerit kesakitan

"AAHHHHH...!!! SAKITTT...!!!"

veric menderita kesakitan

sebuah tangan putih pucat besar keluar dari balik punggung veric tangan itu terlihat mirip seperti tangan manusia raksasa dengan kuku hitamnya yang panjang. Seketika gigi veric berubah menjadi taring besar serta tajam.

"HAHAHAHAHA!!!"

Veric tertawa

Veric yang tidak tersadarkan dirinya segera menyerang sapi tersebut. Veric langsung menangkap sapi tersebut ke atasnya menggunakan tangan raksasa putih dari punggungnya langsung meremas sapi dalam sekali remasan, darah milik sapi mulai merembes lalu menghujani Veric.

"MOOOO!!!"

Suara jeritan sapi yang kesakitan

Veric begitu bahagia ketika mendengar sapi tersebut merintih kesakitan. Segera veric membuka mulutnya lalu meminum darah milik sapi tersebut yang menghujaninya, kemudian veric membanting-banting sapi tersebut secara brutal

BRUK!!! BRUK!!!

Darah milik sapi tersebut berceceran kemana-mana, area pengetesan tersebut seketika berubah menjadi arena tempat pembunuhan massal.

Saat sapi itu sudah tampak mati segera veric menyantapnya.

Seketika para dokter yang yang melihat moment itu terdiam menatap kagum yang awalnya mereka merasa ini akan gagal ternyata yang dikatakan oleh Professor Gareth itu benar.

dokter haris yang awalnya menatap veric penuh dengan penyesalan sekarang menatapnya bangga dalam diamnya

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!