NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Matahari pagi menyusup melalui jendela kaca besar di lantai dua Rumah Sakit Medika Sentosa.

Cahaya putih itu memantulkan kilau lantai keramik yang baru saja dipel bersih oleh Arka.

Suara gesekan alas sepatu para pengunjung beradu dengan suara pengeras suara rumah sakit yang memanggil nama pasien.

Arka berdiri di dekat pilar besar sambil memegang gagang kain pel dengan kedua tangannya.

Wajahnya tampak kosong, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang menyiratkan kebosanan tingkat tinggi.

Beberapa orang yang berlalu-lalang sama sekali tidak meliriknya, menganggapnya hanya sebagai bagian dari inventaris rumah sakit.

Tiba-tiba, telinga Arka menangkap suara langkah kaki yang terdengar sangat tidak biasa dari arah koridor poliklinik.

Bruk... seret... bruk... seret...

Bunyi itu berirama ganjil, tidak seimbang, seperti seseorang yang menyeret kaki kanannya dengan sisa tenaga terakhir.

Arka mengalihkan pandangannya secara perlahan ke arah sumber suara tersebut.

Seorang pria paruh baya tampak berjalan sempoyongan sambil memegang pinggiran dinding putih rumah sakit.

Wajah pria itu terlihat pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi seluruh keningnya.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya yang diduga istrinya berjalan sambil menangis sesenggukan membawakan tas kecil.

"Bertahanlah sebentar, Pak, kita sudah sampai di depan ruangan dokter umum," bujuk sang istri dengan suara bergetar.

Pria itu mengangguk lemah, namun tubuhnya tiba-tiba bergeser miring ke arah kiri sebelum kembali menyeret kakinya.

Arka menyipitkan matanya tajam sepersekian detik di balik tatapan sayunya yang tampak bodoh.

Di dalam otaknya yang bekerja bagai komputer super, data anatomi dan pola gerakan motorik langsung berproses secara kilat.

Asimetri pada gaya berjalan itu, koordinasi motorik halus yang terganggu, serta tremor di jari tangan kanan.

"Ataksia serebelar progresif yang disertai kompresi arteri vertebralis," gumam Arka sangat pelan di dalam hatinya.

"Jika dokter umum di sini mendiagnosisnya sebagai kelelahan otot biasa, pria itu tidak akan bertahan melewati malam ini."

Pria paruh baya itu dan istrinya langsung memasuki ruang pemeriksaan umum nomor empat.

Pintu putih ruangan itu tertutup rapat, menyisakan keheningan di koridor luar.

Arka kembali mendorong trolinya dengan langkah lambat, seolah-olah tidak ada hal menarik yang baru saja ia lihat.

Ia melangkah mendekati pintu ruang pemeriksaan nomor empat untuk sekadar memastikan dugaannya.

Di dalam ruangan tersebut, Dr. Budi, seorang dokter umum senior yang terkenal arogan, sedang duduk bersandar di kursi kerjanya.

Ia melirik sekilas ke arah hasil rekam medis singkat yang diserahkan oleh wanita paruh baya tadi.

"Suami ibu ini cuma kecapekan biasa karena terlalu banyak lembur di kantor," ucap Dr. Budi dengan nada meremehkan.

"Tapi, Dok, suami saya tadi hampir pingsan di koridor dan jalannya aneh sekali," sanggah sang istri dengan nada cemas.

Dr. Budi mendengus malas sambil melambaikan tangannya mengusir kekhawatiran wanita itu.

"Zaman sekarang banyak orang kurang piknik jadi gampang masuk angin dan stres ringan," jawab Dr. Budi santai.

"Nih, saya resepkan vitamin B kompleks dan obat pereda pegal linu saja, silakan tebus di apotek depan."

Pria paruh baya itu menerima secarik kertas resep dengan tangan yang bergetar hebat.

"Terima kasih banyak, Dok," ucap pria itu lemah sambil memaksakan diri berdiri.

Mereka berdua berjalan keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang masih diliputi keraguan besar.

Arka yang berdiri di dekat dinding koridor menatap pasangan suami istri itu saat mereka melangkah keluar.

Pria itu kembali menyeret kaki kanannya dengan pola yang semakin memburuk.

"Bodoh sekali," batin Arka dengan nada dingin.

Tanpa sadar, Arka menggumamkan kalimat itu cukup keras hingga terdengar oleh orang di sekitarnya.

"Hei, tukang pel! Apa yang kamu bilang barusan?!" bentak suara ketus dari arah pintu ruang pemeriksaan.

Dr. Budi sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam menatap tajam ke arah Arka.

Ia rupanya mendengar gumaman Arka saat keluar untuk memanggil pasien berikutnya.

Arka langsung memasang kembali ekspresi wajah bodohnya, mengerjap-nerjap lambat dengan mulut sedikit terbuka.

"Maaf, Dok... saya tidak ngomong apa-apa," cicit Arka dengan suara pelan dan gemetar.

"Jangan berani-beraninya kamu ikut campur urusan medis di rumah sakit ini!" geram Dr. Budi sambil melangkah mendekat.

"Kamu itu cuma pesuruh rendahan yang kerjaannya ngepel lantai, tahu apa kamu soal penyakit pasien?!" lanjut Dr. Budi dengan nada tinggi.

Beberapa pasien yang duduk di kursi tunggu koridor langsung menoleh dan berbisik-bisik melihat keributan itu.

"Ada apa sih? Kenapa dokter itu memarahi petugas kebersihan?" tanya seorang pengunjung kepada pengunjung lainnya.

"Mana kutau, sepertinya si petugas kebersihan itu ngomong sembarangan," jawab yang lain.

Arka menundukkan kepalanya dalam-dalam, pura-pura merasa ketakutan dan bersalah.

"Saya cuma ngomong sendiri kok, Dok. Tidak ada maksud apa-apa," alasan Arka dengan nada gugup yang dibuat-buat.

"Alasan! Kalau kamu berani ngelantur lagi di depan ruanganku, aku adukan kamu ke kepala bagian supaya langsung dipecat!" ancam Dr. Budi tajam.

"Iya, Dok. Saya minta maaf. Saya permisi dulu mau ngepel di ujung sana," kata Arka penurut.

Arka berbalik badan dan mendorong trolinya menjauh dari hadapan Dr. Budi yang masih mendengus kesal.

Dr. Budi meludah ke lantai pelan sebagai bentuk penghinaan terakhir sebelum masuk kembali ke ruangannya.

"Dokter-dokter zaman sekarang lebih suka menebar resep vitamin daripada menggunakan otak mereka," batin Arka dingin di dalam hatinya.

Namun, belum sampai Arka mendorong trolinya jauh dari area poliklinik, suara teriakan histeris mendadak pecah dari arah depan toilet umum.

"Tolong! Suami saya pingsan di sini!" jerit wanita paruh baya tadi dengan suara melengking penuh kepanikan.

Suasana koridor poliklinik seketika langsung berubah menjadi kacau balau.

Para pengunjung berhamburan menjauh, sementara beberapa perawat berlari mendekati sumber suara.

Dr. Budi keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa sambil mengenakan stetoskop di lehernya.

"Ada apa ini?!" tanya Dr. Budi dengan nada panik saat melihat pasien yang baru saja ia periksa terkapar di lantai.

Pria paruh baya itu tergeletak tidak sadarkan diri dengan mata mendelik ke atas dan kejang-kejang kecil di sekujur tubuhnya.

Buih putih mulai keluar dari sudut bibirnya yang membiru.

"D-Dokter! Suami saya tiba-tiba ambruk saat mau berjalan ke apotek!" tangis sang istri histeris sambil memegang tangan suaminya.

Dr. Budi langsung berlutut di samping pasien dan menempelkan stetoskop ke dada pria tersebut.

Wajah Dr. Budi yang tadinya sombong seketika berubah menjadi pucat pasi dalam hitungan detik.

Denyut nadi di leher pasien melemah drastis, nyaris tidak terasa sama sekali.

"Sial... kenapa tekanan intrakranialnya melonjak naik secara mendadak?!" maki Dr. Budi dengan suara bergetar hebat.

Ia mencoba melakukan pijatan dada darurat, namun kondisi pasien tidak menunjukkan perubahan positif sedikit pun.

"Cepat ambilkan alat pacu jantung dan tabung oksigen portabel dari IGD sekarang juga!" perintah Dr. Budi kepada perawat yang berdiri di dekatnya.

Perawat itu berlari terbirit-birit meninggalkan tempat kejadian karena ketakutan.

Para pengunjung rumah sakit berkerumun menyaksikan kejadian itu dengan wajah tegang.

Arka berdiri di balik kerumunan orang, memperhatikan kepanikan Dr. Budi dengan tatapan datar tanpa emosi.

"Sudah kubilang, diagnosamu salah besar dari awal," batin Arka tenang.

"Penyakit kompresi pembuluh darah itu tidak akan pernah bisa disembuhkan cuma dengan vitamin B kompleks."

Dr. Budi semakin basah oleh keringat dingin karena napas pasien di depannya mulai berhenti satu persatu.

Jika pasien ini mati di hadapan puluhan pengunjung poliklinik, izin praktiknya di rumah sakit ini dipastikan akan dicabut secara permanen.

"Bertahanlah! Jangan mati di sini!" teriak Dr. Budi frustrasi sambil terus menekan dada pasien dengan panik.

Tidak ada satupun tindakan medis amatir yang dilakukannya membuahkan hasil.

Layar monitor darurat portabel yang dibawa perawat memperlihatkan garis yang mulai melambat menuju kematian.

Beep......... beep......... beeep.........

"Dokter Budi, denyut nadinya sudah hampir hilang!" lapor perawat dengan suara menangis ketakutan.

Suasana di koridor poliklinik menjadi sangat mencekam dan penuh keputusasaan.

Arka melangkah pelan menerobos kerumunan orang yang sedang menutup mulut karena ngeri.

Ia berdiri tepat di belakang Dr. Budi yang sedang kebingungan setengah mati.

"Kalau kau terus menekan dadanya seperti orang kesurupan begitu, tulangnya yang akan patah, bukan penyakitnya yang sembuh," ucap Arka dengan nada suara datar tanpa beban.

Dr. Budi mendongakkan kepalanya dengan mata melotot merah penuh amarah.

"Pergi kamu dari sini, sialan! Jangan ikut campur!" bentak Dr. Budi dengan urat leher menonjol.

Arka mengabaikan bentakan itu, tangannya tiba-tiba bergerak sangat cepat menotok titik akupunktur darurat di leher belakang pasien.

Pluk!

Pasien yang tadinya kejang-kejang mendadak menghentikan gerakannya dan kembali bernapas meskipun tersengal-sengal.

Seluruh orang yang melihat kejadian itu terperangah kaget karena tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan mata mereka.

"Apa... apa yang baru saja kamu lakukan pada pasienku?!" seru Dr. Budi histeris sambil menunjuk wajah Arka.

Arka menarik tangannya kembali ke dalam saku celananya dengan ekspresi wajah yang kembali terlihat bodoh dan linglung.

"Aduh... tanganku tidak sengaja kepeleset lagi," ucap Arka dengan nada canggung sambil nyengir dungu.

1
nadymaddy
hebat🥰
Cherlly: makasih kaka😍
total 1 replies
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Cherlly: makasih kaka/Kiss/
total 1 replies
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Cherlly: trimakasih kaka😊
total 1 replies
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Cherlly: trimakasih kaka ku🙏
total 1 replies
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
Cherlly: makasih kaka😊
total 1 replies
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Cherlly: motivasi hidup sesungguh nya kak
total 1 replies
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
Cherlly: trimakasih kaka🙏
total 1 replies
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!