Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Arvin memegangi pelipisnya di balik meja kerja, memejamkan mata rapat-rapat. Pernikahannya dengan Nadia bahkan belum genap seminggu, tetapi ia sudah main tangan.
Bukan maksud Arvin membela Jovan. Ia hanya tidak ingin Nadia ikut campur mengurus dua anaknya yang sudah besar, cukup Kenzo saja. Namun, caranya meluapkan emosi jelas salah besar.
Arvin menghela napas berat, lalu menelpon anak tengahnya. "Jovan, ke ruang kerja Papa sekarang."
Tak berapa lama, Jovan melangkah masuk dan berdiri di hadapan meja Arvin.
"Serahkan kunci motor dan kartu ATM kamu," perintah Arvin tegas tanpa basa-basi.
Jovan seketika mendongak dengan mata membelalak. "Maksud Papa apa?! Kunci motor sama ATM aku?!"
"Papa tidak menerima bantahan, Jovan," tekan Arvin dengan suara berat. "Serahkan sekarang."
"Gak bisa gitu dong, Pa!" protes Jovan dengan nada tidak terima.
"Aku salah apa?! Tadi Papa sendiri yang bilang kalau Papa percaya sama aku! Kenapa sekarang malah fasilitas aku yang dicabut?!"
"Papa memang tidak suka Nadia ikut campur urusan kamu," potong Arvin tajam, menatap Jovan lurus-lurus.
"Tapi Papa juga tidak akan pernah membiarkan kamu jadi anak pembangkang yang tega mencelakai adikmu sendiri! Kamu pikir Papa bodoh, Jovan? Papa tahu kamu bohong soal Kenzo!"
Dengan wajah bersungut-sungut, Jovan merogoh saku celananya. Ia membanting kunci motor dan kartu ATM miliknya ke atas meja kerja Arvin.
"Mulai besok kamu tidak boleh keluyuran. Habis sekolah langsung pulang ke rumah. Pak Adam yang akan antar jemput kamu," tegas Arvin dingin.
Jovan langsung menolak keras. "Nggak mau! Aku nggak mau satu mobil sama anak itu!"
Mata Arvin memicing tajam. "Jangan panggil adikmu anak itu. Namanya Kenzo, Jovan. Dia adik kandungmu!"
Arvin menatap anak tengahnya itu tanpa kompromi. "Kalau kamu tidak mau diantar Pak Adam, artinya kamu mau Papa yang antar jemput. Papa bisa luangkan waktu buat mengawasi kamu setiap hari."
Setelah berdiam diri cukup lama di ruang kerjanya, Arvin akhirnya bangkit dan melangkah masuk ke dalam kamar utama. Namun, ia tidak menemukan Nadia di mana pun, bahkan tidak juga di atas sofa tempat biasanya.
Arvin menghela napas, lalu keluar menuju kamar Kenzo. Saat pintu dibuka perlahan, terlihat Nadia tertidur lelap di atas tempat tidur sambil memeluk tubuh kecil Kenzo dengan erat.
Dengan ragu, Arvin mendekat dan menggoyangkan bahu Nadia pelan. "Nadia... bangun. Pindah ke kamar."
Nadia mengerjap pelan, lalu menggeleng tanpa membuka matanya secara penuh. "Nggak mau. Saya tidur di sini."
"Ini perintah, Nadia. Pindah ke kamar kita," tegas Arvin dengan nada yang tak menerima bantahan.
"Atau mau saya gendong?"
Nadia langsung mendudukkan tubuhnya. Ia menatap Arvin lurus-lurus dengan sorot mata dingin yang dipenuhi rasa benci.
Nadia bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar Kenzo tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah Nadia pergi, Arvin memilih melangkah mendekat ke sisi tempat tidur untuk melihat keadaan anak bungsunya. Tadi ia memang belum sempat melihat kondisi Kenzo secara langsung.
Hatinya seketika teriris saat matanya menangkap luka lebam yang memerah di siku dan dahi Kenzo. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu keras.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Arvin mengulurkan tangan lalu mengusap lembut kepala anak kecil itu.
Namun, sentuhan itu membuat Kenzo meringis pelan. Mata bulatnya perlahan terbuka, sedikit linglung saat mendapati sosok ayahnya berdiri di samping tempat tidur.
"Papa..." bisik Kenzo lirih dengan suara serak, refleks menarik tangannya sedikit menjauh karena takut.
"Sakit? Maafkan Papa, ya..." bisik Arvin.
Kenzo mengangguk pelan, matanya kembali berkaca-kaca. "Pusing, Pa. Siku Kenzo juga sakit."
"Tapi sudah diobati Bunda, kan? Nanti pasti sembuh," bujuk Arvin seraya mengusap rambut Kenzo dengan sangat hati-hati. "Papa juga sudah marahi Bang Jovan biar nggak jahat lagi sama Kenzo."
Namun, Kenzo justru menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan marahi Bang Jovan, Pa..."
Arvin terdiam sejenak, tersentuh oleh kebaikan hati anak bungsunya. "Iya, Papa nggak marahi."
Kenzo lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sepi. "Bunda mana, Pa? Bunda tadi tidur di sini sama Kenzo."
Arvin menelan ludah, menahan rasa bersalah di dadanya. "Bunda ada di kamar. Bunda capek, Nak. Sekarang Kenzo tidur lagi ya, Papa temani di sini."
Kenzo menggeleng tegas, bibirnya mulai cemberut. "Nggak mau... Kenzo mau tidur sama Bunda."
"Sama Papa dulu ya malam ini? Bunda lagi istirahat," bujuk Arvin pelan.
"Nggak mau, Pa! Mau Bunda!" rengek Kenzo, mata bulatnya mulai berkaca-kaca lagi hendak menangis.
Melihat kondisi Kenzo yang masih lebam dan tidak ingin membuat anak itu makin rewel, Arvin akhirnya mengalah.
"Iya, iya... Kalau begitu, Kenzo tidur di kamar Papa saja, ya? Sama Bunda, sama Papa juga. Mau?" ucap Arvin.
Kenzo mengangguk pelan, menyapu air mata di pipinya. "Mau, Pa... tapi Kenzo digendong."
Arvin tersenyum tipis, merawat anak bungsunya dengan hati-hati. Ia mengangkat tubuh kecil Kenzo ke dalam pelukannya, berhati-hati agar tidak menyenggol bagian tubuhnya yang lebam, lalu membawanya menuju kamar utama.
Saat pintu terdorong pelan, terlihat Nadia sudah berbaring tertidur di atas sofa.
Kenzo mengerutkan keningnya bingung. "Kok Bunda tidurnya di sana, Pa? Nanti badan Bunda sakit..."
"Bunda cuma ketiduran di sana, Nak," jawab Arvin pelan. "Papa suruh Bunda pindah ke ranjang dulu, ya."
Arvin mendudukkan Kenzo di tepi tempat tidur, lalu melangkah mendekati sofa dan menggoyangkan bahu Nadia.
Arvin mendudukkan Kenzo di tepi tempat tidur, lalu melangkah mendekati sofa dan menggoyangkan bahu Nadia.
Nadia terbangun dengan raut wajah terusik dan penuh kejengkelan. "Apalagi sih? Mau nampar saya lagi? Mau marahi saya lagi? Besok saja, saya capek mau istirahat!"
"Tidak," potong Arvin tegas. "Pindah ke ranjang."
Nadia terkehil sinis. "Ngapain? Bukannya di sini tempat tidur saya? Mau bujuk-bujuk saya lagi?"
"Bisa nurut sama saya, Nadia?!" tekan Arvin menahan emosi seraya mengarahkan pandangan ke ranjang. "Kenzo ada di sana. Dia ingin tidur dengan kita."
Nadia mendadak bungkam. Ia mendudukkan tubuhnya dan menoleh ke arah tempat tidur, mendapati Kenzo sedang menatap mereka berdua dengan mata bulatnya yang polos.
"Bunda kok marah-marah sama Papa?" tanya Kenzo.
Arvin menatap Nadia lurus-lurus. "Cepat pindah."
Nadia tak berniat memperpanjang perdebatan di depan anak kecil yang sedang trauma itu. Ia bangkit dari sofa, melangkah ke ranjang, lalu duduk di samping Kenzo dan merengkuh tubuh kecil itu erat-erat.
Nadia mengelus lembut rambut Kenzo, mengabaikan tatapan Arvin yang masih berdiri di samping tempat tidur.
"Bunda nggak marah kok, Sayang. Bunda cuma kaget aja," bisik Nadia lembut pada Kenzo, berusaha mengulas senyum tipis di wajahnya yang masih terasa hangat bekas tamparan.
Kenzo mengangguk pelan, lalu menarik ujung baju Nadia. "Bunda tidur di sebelah Kenzo ya... jangan tidur di sofa lagi."
"Iya, Sayang. Bunda tidur di sini sama Kenzo," jawab Nadia seraya merebahkan dirinya di samping anak itu, memeluknya dari samping.
Arvin menghela napas panjang melihat kehangatan Nadia pada Kenzo, meski wanita itu sama sekali tak mau meliriknya. Arvin kemudian memutari tempat tidur dan ikut berbaring di sisi lain Kenzo.
Kini Kenzo berada tepat di tengah-tengah mereka. Suasana kamar terasa sangat canggung.
"Papa..." panggil Kenzo pelan.
"Iya, sayang?" sahut Arvin menatap bungsunya.
"Puk-puk Kenzo juga..." pinta Kenzo polos, mengulurkan tangan kecilnya ke arah Arvin.
Arvin mengangguk, lalu mengulurkan tangannya mengusap-usap pelan punggung Kenzo. Di saat yang sama, tangan Nadia juga berada di sana. Jemari Arvin tak sengaja menyentuh punggung tangan Nadia, namun Nadia dengan cepat menarik tangannya menjauh seolah tersengat listrik.
Arvin terdiam, menatap punggung Nadia yang kini sengaja membelakanginya, benar-benar menutup pintu komunikasi dengannya.