NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Lentera

Gadis Pembawa Lentera

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Cintamanis / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:389
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Baru

"Pulang" kata Fang memaksa.

"Tidak" kataku membantah.

"Kalau begitu aku tidur di sini saja" katanya tanpa izin berbaring di kasur ku yang cukup untuk sendiri.

Melepaskan jasnya, dengan santai menutup mata.

"Fang, pulang lah sendiri" kataku.

Aku duduk di lantai atas karpet berwarna putih.

"Kenapa mengusirku, aku mau tidur di sini dulu capek" katanya.

Aku menggeleng kepala, bingung apa yang harus kulakukan dengan pria ini.

Tidak perduli, lalu datang tidak diundang dengan tingkah yang aneh mencari perhatian seolah akrab.

Perjanjian pernikahan sudah di tulis kami berdua hanya menjalankan perjodohan dan menjalani pernikahan pura-pura selama setahun itupun kalau bisa bertahan setahun, sebulan saja aku kabur.

Memang belum genap setahun.

Aku membiarkan dia sendirian, memasak di dapur kecilku.

Membuat sup ayam dan telur dadar untuk makan siang.

Fang masih tertidur pulas aku tidak berniat membangunkannya.

Pelan-pelan kubuka kembali lemari di bawah laci paling bawah ada baju dan satu buah lentera yang mati di sana.

Usianya sudah ribuan tahun, jika tidak kubawa pergi saat itu,

Aku menyentuh kotak lentera antik itu, kain baju yang indah itu perlahan rapuh saat di sentuh berwarna putih dengan corak bunga merah, hiasan rambut yang masih cantik dengan kristal asli.

"Apa itu?" kata Fang mendekat di belakangku ikut berjongkok, melihat apa yang kubuka.

"Barang antik lagi" katanya lalu duduk bersandar di lemari.

"Baru bangun?" tanyaku melihat wajahnya yang masih mengantuk.

Fang mengangguk, menggosok mata seperti anak kecil.

"Tidurmu nyeyak sekali" kataku.

"Aku lama tidak tidur nyenyak" kata Fang.

"Kau menyia-nyiakan tidurmu, aku tidur nyenyak sebulan ini" kataku tertawa.

Tangannya menyentuh rambutku memberikan tepukan hangat.

Aku menutup laci, bangkit berdiri.

"Ayo bangun, aku lapar" kataku.

Aku mengulurkan tangan pada Fang yang duduk masih bersandar di lemari,

Fang menyambut tanganku.

Bangkit berdiri, karena tubuhnya lebih berat aku malah jatuh ke pelukannya.

Beberapa menit kami berdua terdiam, aku sadar.

Jantungku berdegup kencang.

"Ayo, kita makan" kataku bangkit berdiri sendiri, sementara Fang wajahnya memerah menyusul aku ke meja makan kecilku.

"Makanlah.." kataku menyendokkan nasi dan telur dadar.

Aku menunggu pendapatnya, "Lumayan..." katanya setelah mencicipi makananku.

Aku bisa bernafas lega.

"Boleh aku bertanya? Tapi kalau kau tidak mau menjawab jangan di jawab" kataku

"Ya..." kata Fang setelah memasukan nasi ke mulutnya dengan sumpit.

"Siapa wanita di foto bersamamu di kamar?" tanyaku.

"Mantan Pacarku" jawabnya santai.

"Oh..." kataku.

"Kau mau tanya apa lagi?" katanya, meraih tanganku membelainya dengan ibu jari.

"Kenapa kau berubah baik begini denganku?" tanyaku.

"Dari awal kita mengenal memang terasa aneh, tapi aku suka orang jujur" kata Fang

"Nah kan...kau menyindirku lagi" kataku

"Apa kau begini juga dengan mantan pacarmu?" tanyaku.

".Lupakan, itu masa lalu dia juga sudah menikah dan meninggalkan aku begitu mendengar kabar aku lumpuh, padahal aku tidak lumpuh, hanya keseleo" kata Fang.

"Ya ampun, keseleo pakai kursi roda, dan kedua orang tuamu percaya kau lumpuh? hebat" kataku.

"hebat berbohong" katanya, kami berdua sama-sama tertawa.

"Pulang ya...aku rindu..." kata Fang.

"Jangan-jangan ini juga bohong" kataku beranjak mencuci tangan dan mengambil piring mencucinya ke washtafel.

"Tidak... ini benar" kata Fang mendekatiku dari belakang.

"Huh...bukannya kau lantang bilang pernikahan kita hanya pura-pura tidak ada perasaan" kataku mengingatkan.

"Aku boleh ingkar kan, lagipula kau juga suka padaku" kata Fang percaya diri.

"Bagaimana kau tau?" aku bertanya.

"Bisa kulihat dari matamu" kata Fang, aku memercikan air washtafel ke wajahnya.

"Gombal" kataku.

"Aku menyesal selalu membentakmu" kata Fang.

'Serius?" tanyaku.

"Tidak..." kata Fang berpura-pura meninggalkan ku ke sofa belakang.

Aku berlari memeluknya dari belakang, "Kita mulai hidup baru ya..." kataku memeluk erat Fang.

Mataku terarah kembali memandang lemari di belakang, biarlah yang berlalu di masa lalu, aku akan menjalani masa depan dengan orang yang mencintai aku juga, atau mungkin Fang Ren adalah titisan Pangeran Fang.

Mungkin saja...

**

Aku dan Fang di kamar yang sama di kamar rumah hadiah pernikahan,

Dengan bujuk rayu akhirnya aku kembali, tapi bukan bujukan proyek delapan puluh miliyar.

Fang sibuk mengelola bisnisnya, dan aku sibuk mengetik buku karanganku di aplikasi Novel seperti biasa menjadi penulis lepas sebagai hobby dan menguntungkan memberi bayaran selain perkerjaanku di kampus.

"Kau belum mengantuk?" tanya Fang mengulurkan tangan kanannya ke belakang rambutku.

Kepalaku bersandar di tangannya yang kuat sebagai bantal.

"Belum, sedikit lagi perkerjaanku selesai" jawabku, aku menguap.

"Kau sudah mau tidur?" tanyaku menoleh pada Fang.

Fang menggeleng...

Aku bersandar di bahunya, "Tadi kau bilang sebentar lagi selesai, kenapa jadi bersandar begini" kata Fang.

Aku tertawa, dia benar..kapan selesainya tulisanku kalau aku bersandar terus.

"Baiklah...aku semangat...sebentar lagi kita tidur" kataku duduk tegak.

Fang mengelus kepalaku, "Semangat!"

**

Malam perayaan ulang tahun kampus,

Aku termasuk panitia perayaan.

Hari ini kami membagi-bagikan lampion gratis untuk mahasiswa dan pengunjung kampus.

Nanti malam lampion akan di nyalakan bersama.

"Terima kasih sudah mau datang" kataku pada Fang yang datang dengan pakaian tradisional yang sudah kusiapkan tadi sebelum berangkat, hari sudah mulai gelap.

Kami berkeliling dulu berbelanja makanan di beberapa Bazzar mahasiswa.

"Sebenarnya aku malas datang" kata Fang.

"Jadi ini demi aku?" kataku.

Fang mengangguk, aku menggandeng tangannya erat.

"Kau cantik, jepit rambutmu cantik" kata Fang memujiku,

Wajahku memerah, "sepertinya kau fokus pada pita rambutku saja" kataku.

Fang mengeleng-geleng kepala malas berdebat,

Ibu dan Ayah Fang datang dari kejauhan kulihat mereka bersama pejabat kampus.

"Kita sembunyi saja" kata Fang.

"Apa-apa'an ibumu sudah melihat kita dari tadi" kataku

"Aku lupa membawa tongkat" kata Fang.

Aku tertawa geli. "Berpegangan tangan saja...biar seperti di tuntun" kataku

"Itu memang maumu dari tadi kan?" tanya Fang.

Aku berpura-pura merengut,

"Baiklah jangan marah...hanya bercanda" kata Fang.

"Memang kalau aku marah kenapa?" tanyaku.

"Kau kabur lama" kata Fang.

Aku memeluk lengannya.

Hari sudah malam kami menyalakan lentera kami masing-masing di lapangan kampus,

Tanganku dan Fang tertaut erat.

Aku melirik jam memperhatikan orang-orang di sekeliling memegang lenteraku bersama Fang.

"Fang, Lee, kau lihat ayahmu?" tanya Bibi Sara.

"Tidak..." kataku dan Fang nyaris bersamaan.

"Hah, kemana dia...Ibu sudah mencari dari tadi di lapangan, ibu sudah bilang jangan pakai lentera antik itu, tapi dia gunakan" kata Ibu

"Apa? lentera antik?" kataku.

"Ya...lentera yang dia temukan di tempat penelitian" kata Bibi Sara.

Aku mendongak ke atas, kembang api bertaburan di angkasa, Fang juga melihatnya.

"Ayah pasti kembali, Ibu tenang saja" kata Fang sambil melihat langit yang indah dengan warna-warni kembang api.

Aku pikir ayah akan berjalan menuju Kerajaan Fang impiannya...

1
Novita Tory
Sampai saat ini berharap happy ending
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!