Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Hari Penentuan di Rumah Sakit
Pada jam ketiga operasi berlangsung, langkah kaki berirama cepat bergema di sepanjang koridor. Dania mendongak dan terkejut saat melihat Arvin berjalan mendekat. Pria itu masih mengenakan setelan jas kerjanya yang rapi, namun dasinya sedikit dilonggarkan dan tatapannya terlihat tajam dan waspada.
"Arvin?" Dania berdiri spontan. "Kenapa Anda ke sini? Bukannya Anda ada rapat audit?"
Arvin berhenti dua langkah di depan Dania, menjaga jarak tegas di antara mereka. Wajahnya tetap datar dan tidak memperlihatkan simpati yang berlebihan.
"Rapat skorsing selama satu jam," jawab Arvin dingin seraya mengecek jam tangannya. "Aku ke sini bukan untuk menemanimu berduka atau cemas, Dania. Aku perlu memastikan adikmu selamat."
Dania mengernyit, merasa terganggu dengan pilihan kata pria itu. "Adik saya bukan sekadar objek yang perlu Anda pastikan batas kelayakannya."
"Adikmu adalah alasan utama kamu menandatangani kontrak denganku," potong Arvin cepat, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Jika terjadi hal buruk padanya, fokusmu akan hancur, dan Dion akan menggunakan celah emosional itu untuk menyerang keabsahan pernikahan kita saat audit hari Senin."
Dania mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap Arvin dengan kemarahan yang tertahan. Pria ini benar-benar tidak punya hati. Bahkan di depan ruang operasi pun, yang ada di kepalanya cuma kalkulasi bisnis dan ancaman Dion.
"Terima kasih atas keprihatinan bisnis Anda yang sangat dingin, Tuan Arvin," balas Dania menusuk. "Anda boleh kembali ke kantor sekarang. Saya tidak butuh pengawas di sini."
Arvin menatap Dania dalam-dalam tanpa mengedipkan mata, mengabaikan nada benci di suara wanita itu.
"Aku akan tetap di sini sampai lampu operasi itu padam," tegas Arvin seraya duduk di kursi paling ujung koridor, membuka dokumen di ponselnya tanpa memedulikan Dania lagi.
Dania menghembuskan napas kasar dan kembali duduk di ujung lainnya. Mereka duduk berjarak, terpisah oleh hening yang dingin dan kaku, masing-masing bertahan dengan caranya sendiri di tengah badai yang mengintai.
Dua jam berikutnya berlalu dalam hening yang makin menghimpit. Arvin tetap duduk kaku di kursi besi ujung koridor, jemarinya tak berhenti menari di atas layar ponsel—memeriksa setiap draf audit dari tim legal. Di ujung lainnya, Dania duduk mematung dengan mata yang tak pernah lepas dari pintu ruang operasi.
Tidak ada percakapan, tidak ada tatapan hangat. Hanya ada dinding tak kasat mata yang tebal dan dingin di antara mereka.
Ting.
Suara bel berdenting pelan. Lampu merah di atas pintu ruang operasi mendadak padam, berganti menjadi warna hijau.
Dania seketika berdiri. Langkah kakinya gemetar saat melangkah mendekati pintu steril yang perlahan terbuka. Arvin pun ikut berdiri, mengantongi ponselnya dan melangkah tegap dua langkah di belakang Dania—tetap menjaga jarak profesionalnya.
Dokter Gunawan keluar seraya melepas masker medisnya. Wajah dokter senior itu tampak letih, dengan raut yang sulit dibaca.
"Dokter..." suara Dania tercekat di tenggorokan. "Bagaimana adik saya? Operasinya..."
Dokter Gunawan menatap Dania, lalu melirik Arvin yang berdiri menjulang di belakang wanita itu dengan tatapan tajam mengawasi.
"Tindakan operasi bypass berjalan lancar secara teknis, Dania," ujar Dokter Gunawan pelan.
Dania menghela napas lega, namun kalimat sang dokter berikutnya langsung membekukan darah di tubuhnya.
"Tapi..." Dokter Gunawan menggantung suaranya, menatap rekam medis di tangannya dengan dahi berkerut dalam. "Terjadi respons penolakan jaringan yang cukup intensif saat proses penutupan rongga dada. Kondisi Rehan mendadak kritis. Dua belas jam ke depan adalah masa krusial yang akan menentukan apakah tubuhnya sanggup bertahan atau tidak."
Dania membeku di tempatnya. Dunia seolah berputar hebat di sekelilingnya. Lututnya melemas seketika, membuat tubuhnya limbung ke belakang.
Greb.
Sepasang tangan yang kokoh menahan kedua bahu Dania dari belakang sebelum tubuh wanita itu menyentuh lantai dingin marmer. Arvin menahan tubuh Dania yang gemetar hebat, namun ekspresi wajah Arvin sendiri tetap mengeras bagai cadas.
"Koreksi tindakan medisnya sekarang, Dokter," perintah Arvin dengan suara bariton yang dingin, memotong kepanikan di koridor itu dengan keputusan mutlak. "Gunakan seluruh fasilitas dan obat-obatan impor terbaik yang dimiliki rumah sakit ini. Soal biaya, langsung tagihkan ke akun perwalian Dirgantara."
"Baik, Tuan Arvin. Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan intensif khusus," jawab Dokter Gunawan cepat sebelum berbalik kembali ke dalam.
Dania menepis tangan Arvin dari bahunya, berusaha berdiri dengan kakinya sendiri meski tubuhnya masih gemetaran. Ia menoleh, menatap Arvin dengan mata yang memerah menahan tangis.
"Jangan gunakan gaya memerintah Anda di depan dokter adik saya," bisik Dania dengan suara bergetar penuh kemarahan dan keputusasaan.
Arvin menatap Dania dari atas ke bawah. Tidak ada belas kasihan atau kelembutan di matanya, hanya ketegasan yang rasional.
"Aku tidak peduli dengan perasaanmu saat ini, Dania," balas Arvin datar dan tajam. "Yang penting adikmu harus tetap bernapas sampai audit hari Senin selesai. Jika kondisi adikmu memburuk dan memecah fokusmu saat berhadapan dengan dewan komisaris... kita berdua kalah."
Dania mengepalkan tangannya rapat-raptap hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rasa benci dan cemas beradu menjadi satu di dalam dadanya.
Arvin membalikkan badan secara penuh, merapikan jasnya, lalu menatap Rian yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Rian, tetap di sini," perintah Arvin dingin. "Laporkan padaku setiap jam perkembangan kondisi adiknya."
Tanpa menguncapkan sepatah kata pun lagi pada Dania, Arvin berbalik dan melangkah lebar meninggalkan koridor rumah sakit. Langkah kakinya yang tegas bergema dingin, meninggalkan Dania yang berdiri sendirian di depan pintu ICU yang kembali tertutup rapat.