Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pernyataan terakhir dari Pak Gunawan itu langsung membuat mata Bima melirik ke arah butik mode Prancis di sebelahnya.
"Menarik sekali," gumam Bima dengan suara pelan yang memancarkan bahaya.
Bima menunjuk ke arah pintu butik yang tertutup rapat tersebut.
"Teman saya ini tadi sore dilarang masuk ke butik itu oleh pelayannya karena dia seorang pembuat konten."
Bima menatap mata Pak Gunawan dengan tajam.
"Apakah itu juga termasuk dalam standar pelayanan mal ini, Pak Direktur?"
Wajah Pak Gunawan langsung berubah pucat pasi mendengar laporan tersebut.
Dia tahu persis bahwa membuat seorang Member Diamond marah sama saja dengan mengusir dewa rezeki dari mal mereka.
"T-tentu saja tidak, Tuan Bima!" bantah Pak Gunawan dengan panik.
"Mal kami sangat menghargai semua pengunjung, apalagi teman dari seorang pelanggan VVIP seperti Anda."
Pak Gunawan langsung membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju pintu butik mode Prancis tersebut.
Dia mendorong pintu kaca itu dengan kasar hingga membuat lonceng di atasnya berbunyi nyaring.
Beberapa pelayan butik yang sedang bersantai langsung melompat kaget melihat kedatangan rombongan direktur mal.
Manajer butik wanita itu buru-buru berlari menghampiri Pak Gunawan.
"Selamat malam Pak Gunawan, ada inspeksi mendadak kah malam ini?" sapa manajer itu dengan ramah.
"Panggil pelayan yang menjaga pintu depan sore tadi ke sini sekarang juga!" bentak Pak Gunawan tanpa basa-basi.
Suara bentakan direktur mal itu membuat seluruh pelayan butik gemetar ketakutan.
Seorang pelayan wanita muda maju dengan langkah ragu dan wajah menunduk ketakutan.
"S-saya Pak," cicit pelayan itu pelan.
Pak Gunawan langsung menarik kerah seragam manajer butik tersebut dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Pelayanmu ini baru saja mengusir teman dari Tuan Bima Aditama, Member Diamond mal kita!"
"Kalian pikir toko kalian ini sehebat apa sampai berani merendahkan tamu kehormatan dari manajemen pusat?!"
Manajer butik itu merasa nyawanya nyaris melayang mendengar nama Member Diamond disebut.
Dia langsung menatap tajam ke arah pelayannya yang kini sudah menangis tersedu-sedu.
"Kamu sudah gila ya! Kenapa kamu mengusir pengunjung sembarangan!" maki manajer itu pada bawahannya sendiri.
Pak Gunawan menghela napas panjang untuk meredakan emosinya.
"Aku beri kalian waktu lima menit untuk meminta maaf secara langsung di luar sana."
"Kalau Tuan Bima tidak memaafkan kalian, aku akan memutus kontrak sewa toko ini besok pagi juga!"
Ancaman itu membuat manajer dan pelayan tersebut langsung berlari keluar butik menuju tempat Bima berdiri.
Mereka berdua membungkuk sangat dalam berkali-kali di hadapan Siska.
"Mbak, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan bodoh staf kami sore tadi," isak manajer butik itu memohon.
"Tolong maafkan kami, tolong jangan suruh mal memutus kontrak sewa kami."
Siska merasa sangat canggung namun sekaligus merasakan kepuasan batin yang luar biasa.
Dendamnya karena diusir sore tadi akhirnya terbayar lunas tanpa dia perlu marah-marah sedikit pun.
Ini semua berkat pengaruh absolut dari pria berkemeja flanel yang berdiri di sebelahnya ini.
"Sudahlah, aku maafkan," jawab Siska dengan nada berwibawa layaknya seorang wanita kelas atas.
"Lain kali jangan menilai orang hanya dari penampilannya atau pekerjaannya."
Manajer dan pelayan butik itu terus mengucapkan terima kasih berulang kali sebelum mundur dengan wajah pucat.
Pak Gunawan kembali menghampiri Bima dengan senyum ramah yang berusaha ditata kembali.
"Apakah Anda ingin berbelanja di butik itu sekarang, Tuan Bima?" tawar Pak Gunawan.
"Kami bisa mengosongkan tokonya khusus untuk Anda dan teman Anda."
Bima menggelengkan kepalanya pelan sambil memasukkan kartu hitam logam itu ke dalam sakunya.
"Tidak perlu, barang di sana tidak ada yang sesuai dengan seleraku."
Bima menoleh ke arah Siska dan memberinya isyarat untuk pergi.
"Ayo Siska, kita pulang sekarang, ini sudah terlalu malam."
Siska mengangguk patuh dan mematikan siaran langsungnya setelah berpamitan dengan puluhan ribu penontonnya.
Bima berjalan meninggalkan lorong mal tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi.
Pak Gunawan dan rombongan manajemennya hanya bisa membungkuk hormat mengiringi kepergian Bima hingga sosoknya menghilang di balik lift.
Di dalam lift yang meluncur turun menuju area parkir, Siska tidak bisa berhenti menatap Bima.
"Kak Bima, hari ini rasanya seperti mimpi panjang yang paling gila dalam hidupku," ucap Siska memecah keheningan.
Bima tertawa pelan dan menatap pantulan dirinya di pintu lift kaca.
"Dunia ini memang gila, Siska."
"Kalau kamu tidak punya kekuatan, kamu yang akan digilas oleh kegilaan itu."
Pintu lift terbuka dan mereka berjalan menuju Lamborghini Urus hitam yang menunggu dengan setia.
Bima membukakan pintu untuk Siska lalu masuk ke kursi pengemudi.
Perjalanan mengantar Siska kembali ke area asrama kampusnya berlangsung dengan sangat tenang.
Siska turun dari mobil dan melambaikan tangannya dengan senyum manis yang akan sulit dia lupakan seumur hidupnya.
"Terima kasih untuk semuanya, Kak Bima," panggil Siska sebelum mobil itu berlalu.
Bima membalas lambaian tangan itu dan melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang mulai sepi.
Akhir pekan yang sangat panjang dan penuh kejutan ini akhirnya benar-benar telah usai.
Bima memacu kendaraannya kembali menuju kenyamanan kamar Presidential Suite di Hotel Grand Cakrawala miliknya.
Besok adalah hari yang baru, dan kampus elit itu masih menunggunya dengan berbagai macam teka-teki akademis yang harus dia selesaikan.