Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Pertengkaran Pertama
**
Bukkk
"Ah, berat banget. Bisa-bisanya dia mabuk perjalanan dan gak bisa dibangunin!"
Reyhan melihat gadis yang baru saja dijatuhkan di tempat tidur yang harus dia gendong dari mobil ke kosannya. Sedang barang-barang mereka dibawa oleh kedua temannya yang ternyata hati nuraninya masih ada, kalau tidak ada, bisa-bisa ngesot dia bawa gadis itu bersama barang bersamaan. Walaupun kosannya berada di pinggir jalan, tapi tetap saja dia ini termasuk remaja jompo yang terlalu cepat menua. Pinggang dan tangannya saja ini sudah sakit.
"Bersih-bersih dulu, deh."
Setelah selesai bersih-bersih dan mengganti baju, Reyhan mulai kebingungan untuk tidur. Pasalnya, kamar kosannya ini hanya terdiri dari dua petak yaitu kamar utama dan kamar mandi. Di dalam kamar utama yang merangkap ruang utama alias ruang serbaguna ini hanya ada satu kasur kecil, sisanya beralas karpet tipis. Dia masih punya akal sehat, membiarkan gadis itu tidur di kasurnya, lalu mungkin kah, dia harus tidur beralaskan karpet tipis?
"Belum semalam aja, udah bikin susah," keluh Reyhan terpaksa membaringkan tubuhnya di atas karpet tipis dengan berbantal handuk yang digulung karena memang hanya ada satu bantal yang juga sudah dipakai gadis itu.
Saat melihat jam weker, waktu sudah menunjukkan jam 2 dinihari. Reyhan sudah sangat lelah hari ini, baik berupa fisik ataupun mental. Kejadian ini benar-benar membuatnya tak habis pikir, kenapa hidup bisa sesial ini.
*
"Akh ... siapa kamu?"
Reyhan yang sangat mengantuk tidak memperdulikan jeritan itu, pikirnya itu mungkin tetangga kosannya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada guling.
"Lepas mesum, siapa kamu? Tolong!"
Reyhan merasa aneh, kenapa guling yang dia peluk seakan berontak. Aneh memang, tapi mungkin dia masih terbawa suasana mimpi soalnya dia mimpi sedang dikejar pohon karena mencuri buahnya.
"Tolong! Lepas, gak?"
Sejak kapan juga sih, Reyhan mempunyai guling bar-bar seperti ini? Eh tunggu, sepertinya dia tidak pernah mempunyai guling. Lalu, apa yang sedang dipeluknya ini?
"Lepas, mesum!"
Mana mungkin juga, guling bisa berteriak seperti ini? Reyhan menelan ludah gugup. Perlahan, dia mulai membuka paksa matanya yang masih sangat mengantuk.
Reyhan meneliti ke atas, mencoba mencerna kenapa ada seorang gadis yang tidur di kamarnya? Kenapa juga dia bisa memeluk gadis itu?
"Akh ... sakit, sialan!" Reyhan meringis saat merasakan pinggangnya dicubit keras. "Apa yang lo lakuin?"
"Harusnya, aku yang ngomong gitu. Apa yang kamu lakuin? Kenapa kamu masuk ke kamar aku? Kenapa juga sembarangan peluk aku?" teriak gadis itu mengamuk. Dia terduduk dengan memeluk kedua lututnya ketakutan.
"Tunggu, kamar lo?" Reyhan melihat sekeliling yang diikuti oleh gadis itu, dia sangat yakin ini kamarnya. "Lo lihat sendiri kan, ini kamar gue bukan kamar lo!"
Gadis itu tanpa sadar mengangguk, setelahnya buru-buru menggeleng. "Iya, berarti kamu yang culik aku ke kamar kamu. Kamu mau berbuat mesum, yah?"
Reyhan terkekeh meledek. "Hal berguna apa dari tubuh lo yang harus gue culik? Lagian, kalau mau mesum juga gue pilih-pilih, gak modelan kecil kaya gitu."
Reyhan melirik dada gadis itu yang dilihat juga oleh pemiliknya. Gadis itu langsung menghambur memukuli Reyhan, dia sudah duduk di atas tubuh Reyhan yang sudah berbaring dengan menjambak rambut lelaki itu.
"Lepasin, dasar cewek gila! Sakit, woi!" Reyhan berusaha melepas tangan gadis itu dari rambutnya yang sepertinya mungkin sebentar lagi akan lepas dari kepalanya.
Akhirnya, Reyhan berhasil membalikkan keadaan dengan dia yang sudah berada di atas tubuh gadis itu. Kedua tangan gadis itu dia tahan ke atas dengan sebelah tangan, sedang satu tangannya menahan tubuhnya agar tidak langsung menimpa gadis yang sedang berbaring di bawahnya.
"Lepas gak, cowok mesum!" Gadis itu masih berontak di bawah Reyhan.
"Gue gak mesum!" Reyhan menatap gadis itu kesal. Pagi-pagi sudah ada yang membuat rusuh di kamarnya, siapa sih gadis ini?
"Kalau gak mesum, apa dong ini namanya? Lepas, gak! Aku bukan cewek murahan yang bisa kamu macem-macemin sesuka hati. Hanya suami aku yang boleh sentuh aku!" Gadis itu berteriak kesal, masih berusaha melepaskan diri.
"Dih ... sorry, lagian lo juga bukan tipe yang bisa buat gue berbuat macem-macem. Sebagai cowok, gue gak ada tuh nafsu buat ngapa-ngapain lo." Reyhan tersenyum sinis. "Kasian banget calon suami lo nanti, dapat modelan yang kaya gini."
"Yang harusnya kasian tuh, calon istri kamu harus punya suami kaya kamu. Udah mesum, gak ada otak terus gak ada akhlak!"
"Gue yakin yah, gak ada cowok yang mau nikahin cewek kaya lo. Udah dada rata, cerewet, suaranya berisik, tukang fitnah. Terus yah, dilihat dari sisi manapun gak ada menariknya," cibir Reyhan tak mau kalah. Dia tahu itu sudah termasuk penghinaan, tapi gadis itu juga menyebalkan sudah menghina dia.
Jujur, sebenarnya gadis itu cantik terus dadanya tidak benar-benar kecil. Sepertinya pas lah jika digenggaman dia. Eh, ini nih akibat berteman dengan Dion pemuja dada bokep membuat dia juga tercemari mesum.
"Cowok kurang ajar! Kamu pikir kamu udah ok, gitu?"
Reyhan dengan cepat mengangguk. "Iya, gue emang udah ok. Kenapa emang?"
Gadis itu mendengus kesal. "Sungguh, kepedean yang sangat luar biasa. Ini lepas, gak?"
Reyhan yang melihat tangan gadis itu yang masih digenggam ke atas, sejenak dia salah fokus saat melihat bibir gadis itu. Dia buru-buru menggeleng, cowok dan otak mesumnya di pagi hari sungguh sialan. Dia buru-buru melepaskan genggaman, dengan tergesa-gesa bangun. Gadis itu juga ikut bangun dengan pandangan yang terlihat was-was terhadap Reyhan.
Reyhan berdehem, berusaha menghilangkan sesuatu yang mengganggu bagi lelaki di pagi hari. "Sekarang jelasin, kenapa lo ada di kamar gue?"
"Kamu yang jelaskan, kenapa aku ada di kamar kamu?" Gadis itu malah menuduh Reyhan.
"Mana gue tahu!" Reyhan sudah frustrasi.
"Aku juga mana tahu. Perasaan, semalam aku masih di kamar tercintaku di Bandung. Terus, kenapa sekarang aku malah bisa tidur di kamar cowok gak ada akhlak kaya kamu. Pa--"
"Tunggu!" Reyhan sepertinya mengingat sesuatu. "Lo dari Bandung?" Gadis itu mengangguk.
Sesaat, mereka berdua sama-sama terdiam seolah seperti mengingat sesuatu. Mereka sama-sama saling melirik, kemudian meringis saat mengingat detail kejadian kemarin.
Ternyata, aku cewek sial yang udah jadi istri cowok kampret ini.
Ternyata, gue cowok sial yang udah nikah sama cewek tukang fitnah. Berarti gue bukan mesum yah, kita kan udah halal.
"Kita udah nikah?" tanya mereka bersamaan, kemudian saling memalingkan muka dan merinding geli.
"Gue kira itu mimpi buruk, ternyata itu kenyataan."
"Aku pikir saking traumanya otakku, otomatis lupa jadi secara tanpa sadar dianggap mimpi buruk padahal ini itu nyata."
Mereka sama-sama menghela napas berat, sesekali mencuri lirik satu sama lain untuk waktu yang lama. Tidak ada lagi perdebatan, yang ada keduanya seakan kembali mendapatkan beban berat di pundaknya.
Tiba-tiba mereka sama-sama berdiri, saling melirik dengan pandangan penuh permusuhan. Mereka juga sama-sama melangkahkan kaki dengan masih saling melirik sinis.
Ternyata, semakin lama mereka tahu jika tujuan mereka yaitu ke tempat yang sama. Makin lama, langkah mereka semakin kencang dan berusaha saling mendahului. Tepat saat di depan pintu kamar mandi, mereka juga sama-sama memegang gagang pintu.
"Aku dulu!" teriak gadis itu tidak mau kalah.
"Ini kosan gue, jadi gue dulu!" teriak Reyhan tentu saja tidak mau kalah.
"Aku istri kamu. Jadi barang suami punya istri juga!" Setelahnya dia meringis geli setelah mengatakan itu.
Tapi mau bagaimana lagi, ini penentuan ego hidup dan matinya.
"Seorang istri harus nurut sama suami. Gue perintahkan sebagai suami, gue duluan. Nurut!"
"Seorang suami harus ngalah sama istri. Jadi, aku dulu!"
"Istri nurut!"
"Suami ngalah!"
"Suami nurut!"
"Istri ngalah!"
"Eh?" ucap mereka bersamaan. Sepertinya ada yang salah dari ucapan mereka barusan. Seperti tertukar.
Mereka sama-sama melepaskan tangan dari gagang pintu, terus sama-sama menyandarkan tubuhnya ke pintu.
"Udah ah ... gak usah main suami istri, geli tahu," kata gadis itu merinding.
"Iya, ini juga bulu kuduk gue berdiri saking gelinya ngomong gitu," ujar Reyhan setuju dengan gadis itu.
"Terus gimana, siapa yang masuk duluan?"
Reyhan tiba-tiba tersenyum. "Main gunting batu kertas, mau?"
Gadis itu mengangguk setuju. "Ayo, siapa takut?"
*
"Silahkan Baginda, sekarang giliran anda buat mandi!" kata gadis itu setelah keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh kemenangan.
"Lihat aja, lain kali gue yang bakal menang," balas Reyhan kesal karena tadi dia memang kalah dalam bermain gunting batu kertas.
"Ayo, siapa takut." Gadis itu balik menantang Reyhan dengan sangat percaya diri.
Reyhan hanya menatap sinis, kemudian langsung masuk dengan membanting pintu agak kasar membuat gadis itu semakin tertawa senang.
Tok tok tok
"Permisi, go-food!" teriak seseorang dari luar pintu.
"Eh, dia pesan makan?" Gadis itu yang sedang bermain ponsel melirik pintu luar dan kamar mandi bergantian. "Kasih tahu dia gak yah, pesanannya datang?"
"Permisi!" Suara panggilan lagi dari orang dibalik pintu.
Merasa kasihan karena pengantarnya menunggu lama, gadis itu memilih menuju pintu depan untuk mengambilnya.
"Pesanan atas nama Kak Reyhan, apa benar?"
Gadis itu terdiam sejenak, dia lupa nama cowok itu siapa. Akhirnya, dia memilih mengangguk saja.
"Totalnya 45 ribu, belum bayar yah, Kak," ujar petugas antar itu.
"Sebentar, Mas."
Gadis itu masuk lagi untuk mengambil uang tapi saat memegang dompet, dia langsung menyimpannya kembali.
"Enak aja, dia yang pesan tapi aku yang bayar," gerutu gadis itu tidak terima.
Tok tok tok
"Apaan? Gue belum selesai mandi, jangan ganggu!" teriak Reyhan dari dalam kamar mandi.
"Ada go-food, kamu belum bayar. Gimana?"
"Oh iya, dompet gue ada di saku celana yang digantung di depan pintu. Bayarin, tanggung gue udah telanjang!" teriak Reyhan membuat gadis itu mendengus malas.
Tanpa mengatakan apapun, gadis itu mengambil celana jins itu, kemudian mengambil dompetnya yang ternyata isinya hanya ada uang satu lembar 50 ribu.
"Mungkin, dia tipe orang yang suka simpan uang di ATM."
Gadis itu mengedikan bahu tidak peduli. Lagipula ini bukan urusannya dan tidak ada hak untuk lancang. Ini dia saja sudah merasa tidak sopan karena membuka dompet orang sembarangan, jika tadi tidak disuruh mana berani dia.
Setelah membayar go-food, gadis itu kembali bermain ponsel. Menyimpan makanan itu di atas lemari bersama sisa uang kembaliannya.
Ceklek
"Kenapa gak makan?" tanya Reyhan saat keluar kamar mandi sudah berpakaian lengkap dengan handuk menggosok-gosok rambutnya.
"Hah, apa?" Gadis itu mendongak, menatap Reyhan tidak paham.
Reyhan tidak menjawab, memilih mengambil plastik makanan tadi dan membukanya.
Aroma makanan seketika membuat perut gadis itu lapar. Dia lupa kapan terakhir makan? Sejak kejadian di hutan saat hampir dilecehkan membuatnya hampir trauma dan tidak menjadi berselera makan. Ditambah kemarin sibuk dengan urusan menikah dadakannya.
Tapi sekarang dia merasa lapar, meneguk ludah saat melihat Reyhan membuka dua bungkus nasi padang.
Cowok itu serius, mau makan dua bungkus sendiri?
"Ayo, makan!" ajak Reyhan menyimpan satu bungkus nasi padang di depan gadis itu.
"Kamu beli buat aku juga?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri belum percaya, takut kena prank.
"Ya iya lah, yakali gue membiarkan lo kelaparan."
"Tumben, tiba-tiba menjadi baik?" Gadis itu masih menatap Reyhan tak yakin.
"Seenggak mau apapun gue sama pernikahan ini, lo tetap istri gue dan gue tetep suami lo. Kita udah sah menikah secara hukum dan agama, walaupun surat nikah kita datang sebulan lagi dan di dibayarin paman lo. Tapi lo udah menjadi tanggung jawab gue," balas Reyhan sudah menyuapkan nasi ke mulutnya .
Gadis itu menatap Reyhan sejenak, tidak menyangka jika cowok itu masih memiliki pemikiran waras tentang pernikahan ini. "Makasih."
Reyhan terkekeh, kemudian menatap Ayana. "Lo tahu, sisa uang kembalian uang tadi itu adalah uang terakhir yang gue punya. Di ATM dan dimanapun, gue gak ada uang lagi. Jadi setelah menjadi istri gue, harus mau hidup susah kaya gini. Berani lo?"
Gadis itu sebenarnya terkejut, padahal tadi sudah berpikiran baik terhadap Reyhan.
"Memang aku bisa mundur setelah berada ditahap ini? Cukup lah jadi nikah muda, masa mau menjadi janda muda juga?"
Reyhan terkekeh. "Baik, selamat datang di hidup melarat Reyhan!"
**