Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Hari ini bu Meri baru saja pulang dari pasar, dia membawa beberapa kantong plastik berisi berbagai jenis buah - buahan. Tapi ketika melintasi gang sebelah, tidak sengaja dia menangkap siluet seseorang yang dia kenal.
Bu Meri melihat suami nya sedang berjalan sambil bergandengan tangan mesra dengan seorang wanita, wanita itu tidak lain adalah bu Siti. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari kehadiran bu Meri di belakang mereka.
'Mau kemana mereka?' Batin bu Meri di dalam hati.
Bu Meri yang merasa penasaran, mengikuti langkah kaki mereka secara diam - diam. Kedua nya berjalan menuju ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari komplek perumahan itu.
Di bangku taman, tampak seorang laki - laki dengan setelan kemeja yang rapi sudah menunggu mereka. Pak Burhan dan bu Siti berjabat tangan dengan laki - lak itu. Tidak ingin ketahuan, bu Meri bersembunyi di balik bunga yang rimbun, tapi dia masih bisa mendengar dengan jelas semua pembicaraan ketiga orang itu.
"Pak Anton, maaf membuat bapak menunggu lama!" Terdengar suara pak Burhan menyapa laki - laki itu.
"Tidak papa pak Burhan, saya juga baru tiba!" Jawab Laki - laki yang bernama pak Anton.
"Pak Anton, saya dan suami saya ingin membayar uang muka rumah seperti yang sudah kami janjikan kemarin!" Bu Siti ikut berkata.
"Itu memang harus pak, tadi pagi sudah ada 2 orang yang menemui saya. Mereka ingin membayar uang muka nya, tapi saya menolak nya karena saya sudah janji dengan pak Burhan dan bu Meri!" Jawab pak Anton.
"Terima kasih pak Anton, bapak sudah menolak nya. Rumah itu adalah impian istri saya, dan sekarang kami akan melunasi uang muka nya!" Ucap Pak Burhan.
Dari balik cela bunga yang rimbun, bu Meri melihat bu Siti mengeluarkan setumpuk uang dan dia memberikan nya pada laki - laki yang bernama pak Anton.
'Benar - benar laki - laki yang tidak tahu malu, hidup dari uang ku. Tapi berani nya dia mencuri harta ku dan memberikan nya pada wanita jalan itu! Awas saja kau pak, aku pastikan aku akan menendang mu dari hidup ku tanpa membawa apapun!' Batin Bu Meri di dalam hati dengan geram.
"Terima kasih bu Meri, pak Burhan. Rumah itu sudah resmi menjadi milik kalian, bulan depan kalian mulai cicilan nya!" Pak Anton kembali berkata.
"Kapan kami bisa pindah ke rumah itu pak Anton?" Tanya Bu Siti dengan tidak sabar.
"Besok, kalian sudah bisa pindah ke rumah itu!" Jawab Pak Anton.
"Baik lah, terima kasih banyak pak Anton!" Ucap Pak Burhan.
"Sama - sama pak Burhan, bu Meri. Saya permisi dulu!" Pak Anton pun menjabat tangan mereka.
Dari balik bunga yang rimbun, bu Meri melihat pak Anton pergi dari sana. Tinggal lah pak Burhan dan bu Siti di sana.
"Mas, aku bahagia sekali. Akhir nya kita bisa memiliki rumah sendiri, tidak perlu tinggal di kontrakan sempit itu lagi!" Bu Siti berkata pada pak Burhan.
"Iya sayang, mas juga bahagia sekali!" Jawab pak Burhan sambil memeluk tubuh bu Siti.
"Mas, kapan mas akan mengumumkan pernikahan kita? Aku udah muak sembunyi - sembunyi seperti ini!" Bu Siti berkata dengan wajah cemberut.
"Sayang, setelah aku dan Gibran berhasil mendapatkan uang nya Meri. Aku akan segera menceraikan nya, dan langsung mengumumkan pernikahan kita!" Jawab Pak Burhan.
"Mas, aku sudah tidak sabar lagi menunggu nya!" Jawab Bu Siti.
"Sayang, ayo kita pulang dan kamu tunggu di rumah. Hari ini aku dan Gibran akan pergi ke rumah nya Meri, kami akan menanyakan tentang uang itu!" Pak Burhan berkata pada bu Siti.
"Iya sayang, ayo!" Jawab bu Siti.
Setelah kedua orang itu pergi dari taman, baru lah bu Meri keluar dari tempat persembunyian nya.
"Sifat suka selingkuh Gibran, rupa nya di wariskan dari ayah nya. Selama puluhan tahun ini aku memelihara ular di rumah ku sendiri, ternyata dia lah yang selama ini mencuri uang dan juga perhiasan ku!" Guman Bu Meri dengan geram.
Bu Meri langsung pulang ke rumah nya, dia akan menunggu anak dan suami nya di rumah. Saat ini Sarah juga sedang tidak ada di rumah, Sarah sedang pergi bekerja.
Ceklek.
Pintu pun di buka dari luar, pak Burhan dan Gibran masuk tanpa basa - basi. Bu Meri duduk santai di sofa ruang tamu, sambil menyesap teh hangat nya.
"Ibu, kebetulan sekali ibu ada di rumah!" Gibran berkata dengan binar bahagia.
"Bu, bagai mana dengan uang penjualan tanah itu? Apa uang nya sudah cair?" Tanya pak Burhan.
"Sudah!" Jawab Bu Meri dengan singkat.
"Kalau begitu, mana uang nya bu? Kenapa ibu belum mentransfer nya pada ku?" Tanya Gibran dengan tidak sabar.
"Ibu sudah mentransfer semua uang itu ke rekening mu, cek saja semua nya sendiri!" Jawab Bu Meri.
"Benarkah itu bu?" Tanya Pak Burhan dengan nada tidak percaya.
"Benar!" Jawab Bu Meri lagi.
Pak Burhan dan Gibran langsung tersenyum puas, kedua nya saling melemparkan pandangan satu sama lain. Bu Meri bisa menangkap kode yang di sampaikan oleh ayah dan anak itu.
"Bu, aku juga ingin bicara hal yang penting pada mu!" Pak Burhan mulai berkata.
"Katakan saja pak!" Jawab Bu Meri.
"Bu, aku ingin kau menanda tangani surat ini!" Pak Burhan mengeluarkan sesuatu dari balik baju nya.
Bu Meri menerima kertas itu dan dia mulai membaca nya, sebuah senyuman muncul di sudut bibir nya. Rupa nya pak Burhan memang sudah menyiapkan segala nya jauh - jauh hari sebelum nya.
"Apa bapak yakin mau bercerai dengan ku?" Tanya Bu Meri dengan sinis.
"Aku yakin sudah sejak lama, dan aku sudah menyiapkan pengganti diri mu!" Pak Burhan berkata dengan nada bangga.
"Sayang, ayo masuk!" Panggil pak Burhan.
Bu Siti masuk dari luar, dia langsung memeluk tangan pak Burhan dengan bangga di hadapan bu Meri.
"Aku dan mas Burhan sudah lama menjalin hubungan, jadi sekarang kami tidak akan sembunyi - sembunyi lagi. Silahkan tanda tangani persetujuan perceraian itu, dan sekarang mas Burhan menjadi milik ku!" Bu Siti berkata dengan bangga.
"Benar - benar tidak tahu malu, selama ini kalian hidup dari uang ku. Dan sekarang dengan berani nya membawa wanita jalang ini memasuki rumah ku!" Bu Meri berkata dengan ketus.
"Sudah lah, terima saja semua ini. Aku sendiri sudah muak dengan mu, dan sekarang aku ingin hidup bahagia dengan Siti!" Ujar pak Burhan lagi.
"Baik lah, aku tanda tangani semua nya sekarang. Dan silahkan pergi dari rumah ku, dan jangan pernah menginjak kan kaki lagi di rumah ku!" Bu Meri mengusir mereka semua.
klo g pngen hidup susah..... krja dunk santi....
wloupun g bikin kaya.... stidknya klo krja punya uang untuk mnyambung hidup.... bisa beli mkanan untuk ankmu...