Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Srak!
Suara lembaran buku tebal yang dibalik memecah kesunyian ruang perpustakaan sekolah.
Sore itu, matahari sudah mulai condong ke barat memancarkan cahaya jingga dari balik jendela kaca.
Pak Darmawan duduk di ujung meja bundar dengan setumpuk modul Olimpiade Sains tingkat kota.
Di sisi kiri meja, Nadin sedang fokus membaca sambil memutar pulpen di sela jarinya dengan cepat.
Sementara di sisi kanan, Tommy menopang dagunya dengan mata setengah tertutup menahan kantuk.
"Tom, lo tidur lagi ya?" tegur Nadin dengan suara ketus memecah keheningan.
Tommy tersentak kaget dan buru-buru menegakkan posisi duduknya.
"Enggak, Din, aku cuma merem biar materinya cepat masuk ke otak," jawab Tommy dengan senyum polos.
Nadin mendengus kasar mendengar alasan yang sangat tidak masuk akal itu.
"Alasan aja lo, dari tadi bapaknya ngejelasin lo malah ngorok pelan," cibir Nadin kesal.
Pak Darmawan hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan murid laki-lakinya itu.
Guru matematika itu sebenarnya tahu betul bahwa Tommy tidak sedang tertidur karena bodoh atau malas.
Anak ini pasti sudah menghafal seluruh isi buku tebal itu hanya dalam sekali lihat.
"Sudah, Nadin, jangan terlalu menekan temanmu," lerai Pak Darmawan dengan nada sabar.
"Habisnya saya kesal, Pak," keluh Nadin sambil menunjuk buku di depan Tommy.
"Olimpiade tingkat kota tinggal dua minggu lagi, dan dia belum bisa menjawab satu soal pun dengan benar."
Tommy menggaruk belakang kepalanya dengan gaya canggung seperti biasa.
"Maaf ya, Din, otakku memang lambat kalau disuruh mikir yang berat-berat," ucap Tommy merendah.
Nadin menyipitkan matanya menatap lekat-lekat ke arah wajah Tommy.
Gadis pintar itu mengambil selembar kertas buram dan menggesernya ke depan Tommy.
"Kalau gitu coba lo kerjain soal mekanika fluida nomor delapan ini sekarang," tantang Nadin tegas.
"Gue mau lihat gimana cara lo berpikir sampai lo bisa menang seleksi kemarin."
Tommy menatap soal yang tertulis di kertas itu dengan ekspresi wajah kebingungan.
Otaknya yang kini memiliki IQ seratus tujuh belas memproses soal itu dalam waktu kurang dari satu detik.
"Kecepatan aliran air pada pipa penampang kecil adalah empat puluh lima meter per sekon," batin Tommy menjawab soal itu di kepalanya.
Namun tentu saja ia tidak akan menuliskan cara penyelesaian yang benar menggunakan rumus kontinuitas Bernoulli.
Ia mengambil pulpen dan mulai menggambar sebuah tabung besar yang terhubung dengan selang kecil.
"Ini gambar toren air di rumahku, Din," ucap Tommy sambil terus menggambar.
Nadin memijat pelipisnya perlahan menahan emosi yang mulai memuncak.
"Gue nyuruh lo ngitung kecepatannya, Tom, bukan nyuruh lo ngegambar toren air!" bentak Nadin pelan.
"Iya, sabar dong," balas Tommy dengan wajah inosen.
Ia lalu mencoretkan angka empat puluh lima di sebelah gambar selang air tersebut.
"Nah, jawabannya empat puluh lima," ucap Tommy sambil meletakkan pulpennya.
Mata Nadin seketika melebar melihat angka akhir yang ditulis oleh Tommy.
Itu adalah jawaban yang seratus persen tepat dan akurat tanpa meleset satu desimal pun.
"Dari mana lo dapat angka empat puluh lima ini?!" tanya Nadin dengan nada setengah berteriak.
"Tadi pagi waktu aku pakai sepatu, aku lihat nomor ukuran sepatuku empat puluh lima," jawab Tommy santai.
"Terus karena ukuran pipanya kecil kayak kakiku, ya aku tebak aja angkanya empat puluh lima."
Hening.
Nadin menatap kertas itu dengan mulut sedikit terbuka dan napas tertahan.
Alasan yang keluar dari mulut Tommy sangat konyol dan menghina logika matematika.
Namun entah bagaimana, tebakan bodoh itu selalu menghasilkan jawaban yang sempurna.
"Bapak lihat sendiri kan, Pak?" Nadin menoleh ke arah Pak Darmawan dengan pandangan putus asa.
"Dia selalu menebak dengan cara yang aneh dan selalu benar!"
Pak Darmawan berdeham pelan mencoba menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya.
Ia benar-benar kagum dengan kemampuan Tommy dalam merangkai kebohongan yang terlihat natural.
"Mungkin Tommy memang memiliki intuisi khusus yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus biasa, Nadin," ucap Pak Darmawan menengahi.
"Dalam olimpiade nanti, kadang intuisi seperti ini bisa menyelamatkan tim saat kehabisan waktu."
Nadin menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah lelah dan frustrasi.
"Terserah bapak saja, saya sudah capek mikirin jalan pikiran anak ini," keluh Nadin menyerah.
"Baiklah, bimbingan sore ini kita sudahi sampai di sini," putus Pak Darmawan sambil merapikan buku-bukunya.
"Kalian boleh pulang dan jangan lupa istirahat yang cukup."
"Terima kasih, Pak," ucap Tommy dan Nadin hampir bersamaan.
Mereka berdua berjalan keluar dari perpustakaan berdampingan menuju gerbang sekolah.
Suasana sekolah sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa anak ekstrakurikuler di lapangan.
"Tom," panggil Nadin saat mereka melewati pos satpam.
"Iya, Din?" jawab Tommy tanpa menoleh.
"Gue gak tahu ilmu hitam apa yang lo pakai buat nebak semua soal itu," ucap Nadin dengan nada dingin.
"Tapi saat olimpiade nanti, gue larang lo nyentuh bel kalau lo belum yakin seratus persen."
Tommy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ketua kelasnya itu.
"Tenang aja, Din, aku bakal jadi patung kok di sana," jawab Tommy tersenyum lebar.
"Gue serius, Tom, ini bawa nama baik sekolah," tegas Nadin menatap mata Tommy.
"Kalau sampai lo bikin ulah pakai alasan kucing atau sepatu lo lagi, gue sendiri yang bakal seret lo turun dari panggung."
"Iya, Din, aku ngerti kok," balas Tommy berpura-pura takut.
Nadin mendengus pelan lalu membalikkan badannya berjalan menjauh menuju halte bus.
Tommy menatap kepergian gadis itu dengan tatapan yang kembali berubah tajam dan dingin.
"Gadis yang keras kepala," gumam Tommy pelan.
"Tapi sayangnya, di kompetisi nanti, kau justru akan sangat membutuhkan tebakan konyolku ini."
Tommy melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah dengan langkah santai.
Malam harinya, suasana di dalam kamar Tommy terasa sedikit berbeda dari biasanya.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇