NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Srak!

Suara lembaran buku tebal yang dibalik memecah kesunyian ruang perpustakaan sekolah.

Sore itu, matahari sudah mulai condong ke barat memancarkan cahaya jingga dari balik jendela kaca.

Pak Darmawan duduk di ujung meja bundar dengan setumpuk modul Olimpiade Sains tingkat kota.

Di sisi kiri meja, Nadin sedang fokus membaca sambil memutar pulpen di sela jarinya dengan cepat.

Sementara di sisi kanan, Tommy menopang dagunya dengan mata setengah tertutup menahan kantuk.

"Tom, lo tidur lagi ya?" tegur Nadin dengan suara ketus memecah keheningan.

Tommy tersentak kaget dan buru-buru menegakkan posisi duduknya.

"Enggak, Din, aku cuma merem biar materinya cepat masuk ke otak," jawab Tommy dengan senyum polos.

Nadin mendengus kasar mendengar alasan yang sangat tidak masuk akal itu.

"Alasan aja lo, dari tadi bapaknya ngejelasin lo malah ngorok pelan," cibir Nadin kesal.

Pak Darmawan hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan murid laki-lakinya itu.

Guru matematika itu sebenarnya tahu betul bahwa Tommy tidak sedang tertidur karena bodoh atau malas.

Anak ini pasti sudah menghafal seluruh isi buku tebal itu hanya dalam sekali lihat.

"Sudah, Nadin, jangan terlalu menekan temanmu," lerai Pak Darmawan dengan nada sabar.

"Habisnya saya kesal, Pak," keluh Nadin sambil menunjuk buku di depan Tommy.

"Olimpiade tingkat kota tinggal dua minggu lagi, dan dia belum bisa menjawab satu soal pun dengan benar."

Tommy menggaruk belakang kepalanya dengan gaya canggung seperti biasa.

"Maaf ya, Din, otakku memang lambat kalau disuruh mikir yang berat-berat," ucap Tommy merendah.

Nadin menyipitkan matanya menatap lekat-lekat ke arah wajah Tommy.

Gadis pintar itu mengambil selembar kertas buram dan menggesernya ke depan Tommy.

"Kalau gitu coba lo kerjain soal mekanika fluida nomor delapan ini sekarang," tantang Nadin tegas.

"Gue mau lihat gimana cara lo berpikir sampai lo bisa menang seleksi kemarin."

Tommy menatap soal yang tertulis di kertas itu dengan ekspresi wajah kebingungan.

Otaknya yang kini memiliki IQ seratus tujuh belas memproses soal itu dalam waktu kurang dari satu detik.

"Kecepatan aliran air pada pipa penampang kecil adalah empat puluh lima meter per sekon," batin Tommy menjawab soal itu di kepalanya.

Namun tentu saja ia tidak akan menuliskan cara penyelesaian yang benar menggunakan rumus kontinuitas Bernoulli.

Ia mengambil pulpen dan mulai menggambar sebuah tabung besar yang terhubung dengan selang kecil.

"Ini gambar toren air di rumahku, Din," ucap Tommy sambil terus menggambar.

Nadin memijat pelipisnya perlahan menahan emosi yang mulai memuncak.

"Gue nyuruh lo ngitung kecepatannya, Tom, bukan nyuruh lo ngegambar toren air!" bentak Nadin pelan.

"Iya, sabar dong," balas Tommy dengan wajah inosen.

Ia lalu mencoretkan angka empat puluh lima di sebelah gambar selang air tersebut.

"Nah, jawabannya empat puluh lima," ucap Tommy sambil meletakkan pulpennya.

Mata Nadin seketika melebar melihat angka akhir yang ditulis oleh Tommy.

Itu adalah jawaban yang seratus persen tepat dan akurat tanpa meleset satu desimal pun.

"Dari mana lo dapat angka empat puluh lima ini?!" tanya Nadin dengan nada setengah berteriak.

"Tadi pagi waktu aku pakai sepatu, aku lihat nomor ukuran sepatuku empat puluh lima," jawab Tommy santai.

"Terus karena ukuran pipanya kecil kayak kakiku, ya aku tebak aja angkanya empat puluh lima."

Hening.

Nadin menatap kertas itu dengan mulut sedikit terbuka dan napas tertahan.

Alasan yang keluar dari mulut Tommy sangat konyol dan menghina logika matematika.

Namun entah bagaimana, tebakan bodoh itu selalu menghasilkan jawaban yang sempurna.

"Bapak lihat sendiri kan, Pak?" Nadin menoleh ke arah Pak Darmawan dengan pandangan putus asa.

"Dia selalu menebak dengan cara yang aneh dan selalu benar!"

Pak Darmawan berdeham pelan mencoba menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya.

Ia benar-benar kagum dengan kemampuan Tommy dalam merangkai kebohongan yang terlihat natural.

"Mungkin Tommy memang memiliki intuisi khusus yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus biasa, Nadin," ucap Pak Darmawan menengahi.

"Dalam olimpiade nanti, kadang intuisi seperti ini bisa menyelamatkan tim saat kehabisan waktu."

Nadin menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah lelah dan frustrasi.

"Terserah bapak saja, saya sudah capek mikirin jalan pikiran anak ini," keluh Nadin menyerah.

"Baiklah, bimbingan sore ini kita sudahi sampai di sini," putus Pak Darmawan sambil merapikan buku-bukunya.

"Kalian boleh pulang dan jangan lupa istirahat yang cukup."

"Terima kasih, Pak," ucap Tommy dan Nadin hampir bersamaan.

Mereka berdua berjalan keluar dari perpustakaan berdampingan menuju gerbang sekolah.

Suasana sekolah sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa anak ekstrakurikuler di lapangan.

"Tom," panggil Nadin saat mereka melewati pos satpam.

"Iya, Din?" jawab Tommy tanpa menoleh.

"Gue gak tahu ilmu hitam apa yang lo pakai buat nebak semua soal itu," ucap Nadin dengan nada dingin.

"Tapi saat olimpiade nanti, gue larang lo nyentuh bel kalau lo belum yakin seratus persen."

Tommy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ketua kelasnya itu.

"Tenang aja, Din, aku bakal jadi patung kok di sana," jawab Tommy tersenyum lebar.

"Gue serius, Tom, ini bawa nama baik sekolah," tegas Nadin menatap mata Tommy.

"Kalau sampai lo bikin ulah pakai alasan kucing atau sepatu lo lagi, gue sendiri yang bakal seret lo turun dari panggung."

"Iya, Din, aku ngerti kok," balas Tommy berpura-pura takut.

Nadin mendengus pelan lalu membalikkan badannya berjalan menjauh menuju halte bus.

Tommy menatap kepergian gadis itu dengan tatapan yang kembali berubah tajam dan dingin.

"Gadis yang keras kepala," gumam Tommy pelan.

"Tapi sayangnya, di kompetisi nanti, kau justru akan sangat membutuhkan tebakan konyolku ini."

Tommy melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah dengan langkah santai.

Malam harinya, suasana di dalam kamar Tommy terasa sedikit berbeda dari biasanya.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!