Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cerai?
"Lalu kenapa?!" jerit Freya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keangkuhannya meski suaranya bergetar hebat. "Bukankah itu memang tugasnya?! Dia memegang kendali bisnis keluarga ini, sudah kewajibannya membereskan masalahku!"
Zela menatap Freya dengan mata yang semakin menyipit tajam. Tanpa rasa ragu sedikit pun, ia makin memajukan pisaunya hingga jarak mata pisau itu hanya berjarak beberapa milimeter dari permukaan kulit leher Freya.
"Dengar baik-baik," desis Zela penuh penekanan, suarasa begitu dingin hingga sanggup meremangkan bulu kuduk siapa pun yang mendengar. "Aku tidak peduli kau ini kakaknya atau siapapun. Persetan dengan itu semua. Jika kau mencoba menghina suamiku lagi... pisau ini benar-benar akan menancap di lehermu. Paham?!"
Napas Freya memburu, matanya melotot menatap ujung besi tajam yang berkilat di depan tenggorokannya. Melawan Zela dalam mode nekat seperti ini jelas merupakan tindakan bunuh diri. Dengan wajah merah padam bercampur takut dan murka yang meluap-luap, Freya menyentak langkahnya ke belakang.
"Gila! Kau sudah benar-benar gila, Zelara!" umpat Freya setengah berteriak.
Tanpa berani menoleh lagi, Freya berbalik dan melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang makan. Suara ketukan heels-nya yang terburu-buru menghilang perlahan di sepanjang koridor, meninggalkan suasana hening yang begitu pekat di area ruang makan utama.
Zela melempar pisau di tangannya ke atas meja makan hingga menimbulkan denting nyaring yang memecah kesunyian. Para pelayan yang berada di sekitar sana diam-diam mengundurkan diri secara perlahan, menyisakan Zela dan Bashkar berdua saja di ruangan megah tersebut.
Zela membalikkan badannya, menatap Bashkar yang masih duduk tenang. Rasa amarah yang tadi membakar dadanya perlahan mereda, berganti dengan rasa kasihan yang mendalam. Ia melangkah mendekati suaminya, lalu menunjuk pipi Bashkar yang sedikit memerah akibat tamparan Freya.
"Kenapa kamu membiarkannya menamparmu?" tanyanya dengan suara yang jauh lebih lembut, matanya menatap Bashkar penuh keheranan. "Kamu punya kekuasaan, kamu punya pengawal, kenapa cuma diam aja digituin?"
Bashkar tidak langsung menjawab. Pria itu mengalihkan pandangannya, menatap Zela dengan manik mata kelabu yang tajam dan pekat. Tatapannya seolah ingin menembus ke dalam jiwa Zela untuk mencari tahu sandiwara apa lagi yang sedang dimainkan oleh istrinya ini.
"Bukan urusanmu," jawab Bashkar singkat, suarasa berat, datar, dan dingin tanpa celah.
Zela berkacak pinggang, menatap Bashkar dengan raut wajah tidak setuju. "Tentu saja ini juga urusanku! Dia baru saja menyentuh suamiku! Mana bisa aku diam saja melihat orang lain main tangan sama kamu?"
Mendengar kata 'suamiku' diucapkan dengan begitu alami oleh Zela, kening Bashkar berkerut tipis. Pria itu menghentikan gerakannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Aura intimidasi menguar kuat dari tubuhnya.
"Zelara Sabiru," panggil Bashkar menyebut nama lengkapnya dengan suara rendah yang penuh ketegangan.
"Iya?" sahut Zela refleks.
"Aku sudah menyiapkan dokumen perceraian... seperti yang kau minta," ucap Bashkar tenang.
Pria itu meraih selembar amplop cokelat tebal yang diletakkan pengawalnya di sudut meja sejak tadi, lalu menggesernya pelan ke arah Zela.
Zela membeku di tempat. Matanya membelalak lebar, memandangi amplop cokelat itu lalu bergantian menatap wajah tampan suaminya.
"Hah?! Cerai?!" seru Zela melongo kaget.
Seketika itu juga, ingatan dari pemilik tubuh asli membanjiri otaknya. Aduh, mampus! batin Zela menepuk jidatnya sendiri. Ia baru teringat bahwa beberapa hari yang lalu, Zelara yang asli sempat mengamuk hebat, merusak vas bunga di ruang kerja Bashkar, dan berteriak-teriak menuntut surat perceraian agar bisa bebas dari pernikahan ini.
Bashkar menatap reaksi kaget itu dengan tatapan sinis. "Kau yang berteriak meminta ini minggu lalu. Bukankah ini yang kau tunggu-tunggu selama dua tahun?"
Zela buru-buru menyambar amplop cokelat itu dan memeluknya erat-erat di dada, seolah takut ada yang mengambilnya kembali, lalu dengan cepat menggelengkan kepala dengan kuat.
"Ahh... cerai?!" desak Zela dengan nada panik bercampur mengelak, menyunggingkan senyum canggung yang dipaksakan. "Siapa yang mau cerai?! Nggak ya! Nggak ada perceraian di antara kita!"
"Berhenti berulah, Zelara," potong Bashkar dengan suara rendah yang amat menakutkan. Suaranya penuh penekanan, seolah kesabarannya menghadapi tingkah aneh istrinya sudah berada di ambang batas. "Jangan bermain-main denganku."
Zela menatap iris mata kelabu milik suaminya tanpa rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyum lebar, memegang dokumen perceraian di tangannya, lalu mengangkatnya tepat di depan wajah Bashkar.
"Aku tidak berulah! Surat ini?" Zela menatap amplop tebal di tangannya, lalu dengan gerakan cepat dan tanpa ragu—
SRAKKK! SRAKKK!
Ia merobek kertas-kertas tebal itu menjadi dua, empat, hingga berkeping-keping pecahan kecil.
"Aku tidak butuh!" tegas Zela seraya melempar serpihan kertas putih itu ke udara hingga berhamburan jatuh melayang di atas meja makan dan lantai marmer.
Manik mata Bashkar seketika menyipit tajam. Pandangannya menggelap, memancarkan aura membunuh yang luar biasa pekat. Rahangnya mengatup rapat, menahan amarah atas tindakan impulsif wanita di depannya. Pria itu berdiri dari kursinya, membuat tubuh tingginya menjulang mengintimidasi Zela.
"Enggak! Pokoknya enggak ada kata cerai!" seru Zela cepat sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bashkar memutar tubuhnya. Pria itu melangkah pergi begitu saja meninggalkan Zela di ruang makan, mengabaikan kehadiran wanita itu seolah ia hanya angin lalu. Langkah kakinya yang lebar dan tegas membelah koridor menuju area privatnya.
Zela terdiam di tempat, memandangi punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik belokan tangga. Ia menggigit bibir bawahnya, memutar otak dengan cepat.
"Duh, gimana nih? Dia makin curiga dan makin dingin lagi," gumam Zela panik pada diri sendiri. Namun, matanya mendadak berbinar saat sebuah ide terlintas di kepalanya. "Aah... aku tahu! Di novel kan disebutkan kalau dia paling benci kalau ruang pribadinya diusik. Kalau begitu, tempat terbaik buat mendekat ya kamar dia!"
Tanpa mengulur waktu, Zela mengendap-endap menyusuri tangga, mengikuti jejak Bashkar menuju lantai tiga. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati hitam berukir mewah kamar pribadi milik Bashkar yang selama dua tahun pernikahan ini haram untuk dimasuki oleh siapapun, termasuk Zelara.
Zela memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci, lalu mendorongnya perlahan.
Cklek.
Di dalam kamar berkertas dinding gelap yang dominan dengan warna hitam dan abu-abu itu, Bashkar sedang berdiri di dekat meja kerjanya, baru saja melepas dua kancing teratas kemeja hitamnya. Mendengar pintu kamarnya terbuka, pria itu berbalik cepat. Begitu melihat Zela melangkah masuk dengan santai, tatapan matanya berubah begitu dingin dan berbahaya.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruangan ini? Keluar," usir Bashkar dengan suara berat yang menembus keheningan.
Bukannya takut atau mundur, Zela justru menutup pintu di belakangnya dan menguncinya dari dalam. Ia berjalan mendekati Bashkar dengan langkah yang dibuat-buat anggun, mengikis jarak di antara mereka. Wajahnya memasang raut manja yang menggemaskan, jauh dari kesan antagonis yang biasa disandangnya.
"Suami sendiri kok galak banget, sih?" goda Zela dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan.
Ia sengaja memiringkan kepalanya, menatap Bashkar dari bawah dengan binar mata polos. Zela memajukan langkahnya hingga berdiri sangat dekat di depan dada bidang Bashkar. Bau harum mint dan parfum kayu yang mahal dari tubuh pria itu mendadak memenuhi indra penciumannya, membuat jantung Zela kembali berdesir hebat.
Zela mengulurkan tangan lentiknya, mencoba menyentuh kerah kemeja Bashkar yang terbuka, berpura-pura ingin merapikannya. "Lagian, masa istri nggak boleh masuk ke kamar suaminya sendiri? Kita kan udah menikah dua tahun, Mas..."
SRAK!
Sebelum jemari Zela sempat menyentuh kain kemejanya, cengkeraman kuat dan dingin hinggap di pergelangan tangan Zela. Bashkar menahan tangan wanita itu di udara dengan mudah. Cengkeramannya tidak sampai menyakiti, namun cukup kuat hingga Zela tidak bisa bergerak.
Bashkar menunduk, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Tatapan matanya begitu tajam, menusuk, dan tanpa emosi sedikit pun.
"Jangan bertingkah menjijikkan, Zelara," desis Bashkar dengan suara rendah yang teramat dingin dan menusuk hingga ke tulang. "Trik murah apa lagi yang sedang kau rencanakan? Uang? Kekuasaan? Atau kau sedang bekerja sama dengan musuhku untuk menjebakku lagi?"
Zela tersentak pelan. Hatinya sedikit mencelos mendengar kalimat menusuk itu. Namun, mengingat betapa dalamnya luka pengkhianatan yang pernah dialami Bashkar seumur hidupnya, Zela sadar bahwa pria ini hanya sedang membangun benteng pertahanan yang sangat tebal.
Zela tidak menarik tangannya. Malah, ia sengaja memajukan wajahnya sedikit lagi, menatap tepat ke dalam manik mata kelabu yang kelam itu dengan senyuman tipis penuh keberanian.
"Aku nggak lagi ngerencanain apa-apa, Bashkar," bisik Zela lembut, tidak lagi berakting manja, melainkan bicara dari lubuk hatinya. "Aku cuma mau ada di sini. Di samping kamu."
Bashkar membeku sejenak, terkejut oleh kejujuran yang terpancar dari mata istrinya. Namun dengan cepat, ia menguasai diri kembali. Pria itu menyentak pelan tangan Zela hingga terlepas, lalu berbalik membelakanginya dengan nada suara yang semakin membeku.
"Keluar dari kamarku sebelum aku menyuruh pengawal menyeretmu keluar secara paksa."